Kehidupan terus berputar bagai roda. Kadang kita ada di atas kadang juga kita ada di bawah, dan kapan hal itu terjadi tidak ada yang tahu. Semua menjadi ketetapan Sang Pencipta yang bersifat rahasia. Setiap insan hanya menjalankan sesuai takdir yang telah digariskan. Setelah satu tahun lebih bekerja di tempat yang baru, Amaya mendapat kenaikan pangkat. Otomatis gaji dan fasilitas yang diterima juga bertambah. Mereka pindah ke rumah yang lebih besar meskipun jaraknya lebih jauh dari SMA Cahaya Kusuma. Sebuah motor pun menjadi sarana transportasi Rama setelah merayu sang ibu sejak kenaikan kelas yang lalu. Karena usia tujuh belas tahun masih 3 bulan lagi, Rama belum berani membawa motor tersebut melintasi jalan raya. Dia terpaksa melalui jalan tikus. Lagi-lagi langkahnya harus tersesat tiga kali sebelum akhirnya menemukan jalan cepat menuju sekolah. Istirahat pertama seperti biasa Rama dan Arda duduk di kantin. Arda masih melemparkan rayuan untuk menggaet hati para siswi, sedangkan Rama memilih menikmati semangkok mi ayam dan segelas es jeruk. Saat asyik menyeruput kuah panas dan pedas, tiba-tiba Arda datang mengagetkannya. Uhuk! Rama menepuk dada untuk meringankan sesak yang mendera usai tersedak. Dia langsung menenggak es jeruk hingga tandas lalu mengelap bulir bening di pelupuk mata. “Sialan lo, Da. Bisanya ngagetin gue aja.” “Sorry, Ram. Gue cuma mau ngasih tahu lo kalau ada cewek yang sejak tadi merhatiin lo terus.” “Anjir gue kira apaan. Bodo amatlah, makan tetep yang paling enak.” “Eits, lihat dulu orangnya. Kayaknya setiap kali lo makan, dia selalu ada buat lihatin lo. Duduknya aja di tempat yang sama.” “Dia lihatin lo kali, Da. Bukan gue.” “Lo ngeyel amat dikasih tahunya. Kalau enggak percaya lihat aja ke arah jam dua.” Rama spontan menoleh ke arah yang disebutkan Arda. Sesaat dia melihat gadis manis dengan rambut diikat sedang menatapnya. Mata mereka berserobok sekian detik lalu gadis itu menunduk, sedangkan Rama bersikap cuek dan kembali menikmati mi ayam yang tinggal sedikit. Habiskan sampai tidak bersisa adalah semboyan yang diusung Rama jika berhadapan dengan makanan. “Jutek banget muka lo, Ram. Dia kayaknya naksir, tuh.” “Buat lo aja sana. Gue males mikirin cinta-cintaan. Enggak ada enaknya? Enakan juga siomay, gado-gado, mi ayam, bakso, kupat sayur, nasi uduk, bubur ayam, es cam—“ “Vangke lo. Otak lo emang isinya makanan aja, ya? Herman gue. Cewek kece kayak dia aja lo enggak mau? Eh, jangan bilang lo hombreng, ya?” “Amit-amit jabang baby. Gue masih doyan kacang tahu. Rese lo.” Rama segera mengetuk kepala lalu melakukan hal yang sama ke meja berulang kali. Sikapnya itu sukses membuat suara tawa yang berasal dari mulut mungil gadis tadi. Remaja itu terkesiap kala memandang wajah manisnya yang tergelak sembari menutup mulut. Matanya makin menyipit seiring tawa yang berderai. “Katanya enggak demen, tapi lihat dia ketawa, kok, ada yang nyut-nyutan di sini, ya? Aw, jantungku ... aduh, jantungku masih amankah?” Arda tergelak di samping Rama yang menunduk untuk menyembunyikan rona merah di wajahnya. Remaja itu menunduk makin dalam kala Arda tidak henti menyinggungnya. Saat menoleh ternyata gadis itu sudah pergi dan sukses meninggalkan segudang tanya di benak Rama. Melihat hal tersebut, Arda langsung menepuk bahu Rama. “Namanya Vanya Oktarani, dia murid baru di sini. Anak seorang pengusaha properti terkenal. Anak tunggal dengan segudang prestasi. Pindah karena sekolah yang dulu banyak toxic-nya.” “Lo kayak detektif aja, Da. Lagian napa lo kasih tahu gue?” “Vangke lo, Ram. Emang gue kagak tahu kalau muka lo penasaran sama, tuh, cewek.” “Sialan lo!” “Ecieee ... ada yang bertalu tapi bukan genderang perang. Ahaaay, sahabat gue masih normal ternyata.” Rama mencebik lalu mengeloyor meninggalkan Arda yang masih tergelak sembari bertepuk tangan. Namun, jauh di relung jati remaja gempal itu semua ucapan sang sahabat benar adanya. Tanpa sadar Rama mengulas senyum. Langkah membawa dia menuju perpustakaan, tempat biasa dia menghabiskan waktu untuk memejamkan mata sejenak. Begitu sampai di pintu, hampir saja Rama menabrak seorang siswi. Refleks dia mundur selangkah. Kembali jantung remaja itu bertalu kala siswi yang hampir menabraknya adalah Vanya. “So-sorry, gue enggak senga ... Vanya?” “Eh, i-iya. Dari mana lo tahu nama gue? Lo Rama, kan?” “Hooh.” Mereka tersenyum malu-malu lalu saling menunduk. Vanya menyibakkan rambut ke belakang telinga lalu hendak berlalu, tetapi dihalangi Rama. Gadis itu bergeser ke kiri begitu juga dengan remaja gempal itu. Saat dia ke kanan spontan Rama mengikuti. Setelah capek bermain saling menghalangi, Vanya menyentuh lengan Rama dan menariknya ke kiri. “Lo mau masuk, kan? Gue mau ke toilet. Jadi ....” “Hehehe. Iya, gue kikuk lihat lo.” “Eh, bisaan lo, Ram.” Vanya terbirit-birit menuju toilet setelah sepuluh menit menahan berkemih gara-gara Rama. Remaja gempal itu pun berbalik dan tersenyum ketika melihat sikap Vanya yang menurutnya lucu. Rama berbalik dan langsung menabrak Narendra yang keluar perpustakaan. “Udahan baca bukunya? Gue belum molor padahal.” “Salah sendiri lelet. Udah jam masuk, balik ke kelas sekarang.” Rama hanya menurut saat Narendra menggiringnya menuju kelas. Impian untuk bisa menjemput mimpi sejenak lindap sudah gara-gara pesona seorang Vanya. Baru gadis itu yang membuat Rama merasa merinding, bukan ... bukan karena gadis itu makhluk tak kasatmata, tetapi senyum Vanya mampu menembus relung hati yang terdalam dan membuat Rama meriang, merindukan kasih sayang. Bukan sekali dua kali Rama dan Vanya bertemu secara tidak sengaja. Mereka juga sering saling tatap saat di kantin. Bahkan kala pelajaran berlangsung, remaja bertubuh gempal itu lebih banyak melamun dan tersenyum sehingga menimbulkan tanya di hati kedua sahabatnya. Oleh karena itu, Narendra berniat mempertanyakan perubahan sikap Rama kala mereka bermain basket di tempat biasa. “Ram, lo akhir-akhir ini gue perhatiin suka senyum-senyum sendiri. Kenapa?” “Masa, sih? Gue enggak kenapa-kenapa padahal.” “Yakin lo?” “Yakin.” Arda yang menyimak hanya melempar tawa. Satu long shoot berhasil dia torehkan lalu berlari memeluk kedua sahabatnya yang melongo melihat kelihaian remaja itu. “Jadi gimana perkembangan hubungan lo sama Vanya, Ram?” “Hubungan apaan, Da?” “Wait! Lo berdua ngomongin Vanya Oktarani, si anak baru itu.” “Yups, benul banget, Ren. Nih, anak kurang gercep. Gue udah gemes pengen duluin nembak, tuh, cewek.” “Maksud lo, Rama suka sama Vanya?” Rama segera membuang muka ketika kedua sahabatnya menatap lekat. Jika dia bertanya kepada segumpal daging yang bernama hati, entah jawaban apa yang akan diberikan. Remaja itu juga bingung tentang perasaan yang tiba-tiba menghadirkan senyum saat melihat Vanya. Benarkah dia sedang jatuh cinta? Namun, untuk memastikan perasaannya agar tidak sebelah-menyebelah bagaimana caranya? Rama sendiri belum ada keberanian untuk mengungkapkan. Sampai malam menjelang, Rama masih meraba dan mempertanyakan denyar aneh yang selama ini merajai hati. Dia memilih langsung berdiam diri di kamar setelah makan malam. Hal tak biasa itu menimbulkan tanya di hati Amaya. Namun, saat ingin menanyakan kepada si bungsu, dia mengurungkan karena Rama sudah terlelap. Wanita itu mendekat dan melihat senyum yang terukir di wajah remaja itu. Saat hendak beranjak, Rama mengigau sehingga membuat Amaya berbalik dan mendekat. “Vangke lo berdua, hem ....” Dasar ini bocah, bisa-bisanya ngigau pake ngatain lagi. Amaya mengusap kepala Rama sekilas sebelum beranjak meninggalkan kamar. Keesokan harinya, Rama berangkat dengan hati riang. Senyum selalu menghiasi wajahnya. Berkali-kali dia menebar senyum kepada para siswa yang ditemui di koridor. Namun, senyum itu lesap kala mendapati sepucuk surat berwarna merah jambu dengan wangi vanila yang menggoda. Gegas dia membuka dan membaca setiap untaian kata yang begitu indah. Namun, saat mencari nama pengirim dia tidak menemukan. “Siapa kira-kira yang kirim, ya?”
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
sangat sukaa
08/05
0bagus
17/06/2025
0bagussss banget
05/06/2025
0Tingnan Lahat