Sejak perkenalan hari itu, mereka bertiga makin akrab. Rama senang karena keberadaannya diterima baik oleh Narendra dan Arda. Mereka berbagi cerita dan saling melengkapi. Jika sedang tidak bersama, Narendra akan menekuri buku-buku di perpustakaan, sedangkan Arda memilih ke kantin sembari menebar pesona untuk memikat hati para siswi. Rama sendiri hanya akan mengekor Arda, tetapi dia sibuk memasukkan makanan ke mulutnya. Setelah perut terisi penuh, Rama akan meninggalkan Arda dan menemui Narendra. Waktu istirahat yang singkat tidak melunturkan niat remaja gembul itu untuk memejamkan mata barang sejenak. ‘Yang penting ilang ngantuknya. Lima menit merem, tapi pules juga enggak apa-apa’ begitu jawaban Rama ketika kedua sahabatnya bertanya bagaimana bisa tidur hanya sekejap. “Ren, biasa, ya? Bangunin kalau lo udin selesai baca.” “Hem.” Saat menoleh, Narendra mendapati Rama sudah terlelap. Kepala remaja itu tertelungkup di atas meja dengan napas yang teratur. Di depannya berdiri sebuah buku untuk mengelabui aksi tidur siangnya. Sepuluh menit berlalu, Rama menggeliat lalu membuka mata. Dia menoleh ke kiri, tetapi Narendra tidak dijumpai. Perpustakaan sudah sepi. Ketika melihat jam tangan di pergelangan tangan kirinya, Rama terlonjak kaget. Slompret, udah jam masuk lagi. Si Naren minta di hih beneran nanti. Awas lo, Ren! Disuruh bangunin malah ditinggalin. Rama merutuk dalam hati sembari mengembalikan buku yang dipakai untuk menutupi alibinya tidur di perpustakaan. Rama melangkah gontai menuju kelas sembari sesekali menguap. Saat membuka pintu, tampak suasana sepi dan semua murid khusyuk memandang papan tulis. Remaja gembul itu celingak-celinguk mencari guru yang mengajar, tetapi tidak ketemu. Akhirnya dengan santai, dia masuk dan berjalan menuju bangku. Namun, belum sempat mengempaskan pantat, ada suara yang tidak asing mengusik rungunya. “Dari mana kamu, Rama?” “Eh, anu ... itu, Pak. Perasaan enggak ada orangnya, kok, tiba-tiba muncul suara. Jadi merinding.” Rama mengedarkan pandangan, tetapi keberadaan Pak Imam, guru mata pelajaran Biologi tidak tampak. Lagi suara itu terdengar. “Kamu nyari apa, Rama. Cepetan duduk dan kerjakan soal di papan tulis itu.” “Eh, Bapak bisa telepati, ya? Belajar di mana, Pak?” “Dasar bocah gembelung, enggak lihat apa orang segede ini di sini?” “Pak, jangan nakutin saya, deh. Udah mulai merinding disko, nih.” “Ramaaa!” Tiba-tiba dari arah belakang sebuah tangan berhasil menjewer Rama. Refleks remaja itu menoleh lalu menunduk, tampak Pak Imam menggeram kesal dengan wajah merah menahan amarah. Rama langsung menangkupkan kedua tangan di depan dada lalu meminta maaf. Rupanya baju yang dipakai guru dengan tubuh mungil itu warnanya sama dengan seragam atasan siswa di sini sehingga ketika Rama mencari keberadaan Pak Imam yang duduk di sudut belakang tidak kelihatan. “Duduk! Cepat kerjakan soal itu lalu kumpulkan jika sudah selesai.” “I-iya, Pak.” Suara cekikikan terdengar saat Pak Imam kembali duduk di meja guru. Rama yang merasakan belaian lembut sang guru segera mengusap telinga kirinya yang memerah. Dia mengempaskan pantat kasar lalu menggerutu. Namun, tangannya tetap mengerjakan apa yang disuruh gurunya. “Sorry, Ram. Gue tadi tiba-tiba mules, jadi enggak sempet bangunin lo.” “Slompret lo, Ren. Keki gue jadinya. Kena omel pula.” “Lagi lo juga kagak peka amat gue kasih kode kedip-kedip mata.” “Gue kira lo kelilipan tadi, Ren. Atau sakit lo kambuh, makanya kagak ngeh gue.” “Sue lo, Ram. Lo kira gue apaan?” “Sorry, Ren. Gue gondog aja tadi waktu bangun lo ud—“ “Ramaaa!” pekik Pak Imam dari meja guru sembari melempar kertas yang dibentuk menyerupai bola. Rama yang tidak siap dengan serangan yang datang tiba-tiba hanya bisa pasrah kala benda itu melayang dan mengenai dahi. “Sekali lagi kamu bicara, berdiri di depan lalu hafalkan nama ilmiah semua tanaman yang kemarin sudah Bapak berikan.” Remaja gembul itu hanya mampu mengerucutkan bibir lalu kembali menekuri buku di depannya. Gegas dia menyelesaikan tugas dan menyerahkan kepada Pak Imam. “Besok jangan molor lagi di perpustakaan, ya?” Suara cekikikan kembali terdengar saat Pak Imam melangkah keluar setelah mengucapkan salam. Rama yang menjadi pusat perhatian teman-teman satu kelas hanya bisa mengusap tengkuk lalu kembali duduk. Pelajaran yang menguras tenaga dan pikiran akhirnya selesai pada pukul 15.30. Gegas mereka menghambur ketika bel pulang berbunyi. Namun, Rama dan kedua sahabatnya tidak segera pulang, tetapi memilih berkumpul di lapangan yang tidak jauh dari sekolah mereka. Narendra mengeluarkan bola basket lalu mereka bergantian bermain basket. Ternyata meskipun Rama bertubuh gempal, dia lincah saat bermain basket. Narendra dan Arda sempat kewalahan menghadapi remaja itu. Pukul 16.45 mereka selesai bermain basket dan saatnya berpisah. Rama memilih berlari menyusuri jalan tikus menuju kompleks perumahan. Ada untungnya juga remaja itu sempat tersesat sampai lima kali saat pulang sekolah. Dia jadi tahu jalan tercepat menuju rumah. Sampai di rumah dia melempar tas dan sepatu lalu mengganti baju untuk bergegas mengambil wudu dan melaksanakan salat Asar. Rama beristirahat sejenak lalu membersihkan diri. Saat keluar kamar dia mendapati sang kakak sudah duduk di meja makan sembari mengunyah mi rebus yang menggoda iman, terutama Rama pastinya. “Aa kapan dateng? Enggak denger suaranya tadi.” Rayyan hanya melirik sekilas dan terus mengunyah tanpa mengindahkan Rama yang menatap penuh selidik. “Wait! Ini bener Aa, kan? Bukan hantu, kan?” Pria yang lebih tua lima tahun dari Rama itu mendengkus kesal lalu menyodorkan mi rebus yang sudah separuh masuk ke perut ke hadapan sang adik. Rama berteriak kegirangan lalu menarik kursi dan duduk. Dia langsung menjejalkan mi yang masih hangat itu ke mulut dalam sekali suapan lalu menyeruput kuah hingga tandas tak bersisa. Dia mengelap mulut lalu mengeluarkan bunyi serdawa yang keras. Hal tersebut makin membuat Rayyan menggeram kesal. “Lo kayak enggak dikasih makan aja sama Mama.” “Sore ini emang belum makan, sih, A.” Rama segera mencuci mangkok bekas makan mi tadi lalu mengelap tangan hingga kering dan menyusul Rayyan duduk di sofa depan televisi. “Aa kapan dateng? Dari tadi nanya dicuekin mulu.” “Tadi siang. Terus tidur di kamar Mama sampai sore. Gue kira lo molor di kamar.” “Hehehe, gue baru pulang, A. Abis main basket tadi di lapangan sana.” “Beidewe, lo kayak kurusan, ya?” “Masa, sih, A? Kayaknya masih sama, kemarin nimbang aja naik sekilo. Emang apanya yang kurusan?” “Kelingking lo. Hahaha.” Rama langsung merangkul sang kakak lalu memiting pria itu sampai terdengar suara mengaduh kesakitan. Rayyan tidak kehilangan akal, dia langsung menggelitik pinggang sang adik hingga dia melepaskan kuncian. “Aa curang!” “Siapa suruh lo gelian. Hayo kalau berani sini!” Rayyan dan Rama langsung bermain gulat di ruang tengah sampai ke ruang tamu. Semua barang berserakan bagai kapal pecah. Tiba-tiba terdengar suara menggelegar diiringi tarikan kuat di telinga kakak beradik itu. Rupanya Amaya pulang dan kesal melihat mereka telah membuat isi rumah berantakan. “Cepat bereskan semua kekacauan ini atau Mama stop uang jajan kalian!”
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
sangat sukaa
08/05
0bagus
17/06/2025
0bagussss banget
05/06/2025
0Tingnan Lahat