Bening menatap gamis pemberian Gara dengan perasaan gamang. Sudah dia duga pasti gamis itu sangat mahal. Bening tahu itu karena dia kerap kali melihat gamis model semacam itu dibeberapa butik. 'Sagara,' gumam Bening. Bening menghela napas panjang sambil menggumamkan kalimat istighfar berkali-kali karena pikirannya sempat mengarah pada pria yang baru saja dia temui. Sempat-sempatnya dia lancang memikirkan tentang pria itu. Wanita itu berjalan menuju ke arah jendela, entah apa yang sedang dia pikirkan. Tatapannya kosong, seperti sedang menyembunyikan kekecewaan. "Assalamualaikum." Bening tersenyum lebar ketika mendengar suara pria yang sangat dia kenali. "Waalaikumsalam," jawab Bening dengan malu-malu. Sakha, pria itu tersenyum kecil karena melihat calon istrinya menundukkan kepalanya. "Ayah sama Bunda ke mana?" tanya Sakha. "Ada kok di dalam. Bentar ya, aku panggilan dulu." "Tidak usah!" kata Sakha cepat. Langkah Bening terhenti, dia kembali membalikkan badannya untuk menatap calon suaminya. Bening mengerutkan keningnya karena melihat Sakha seperti ingin mengatakan sesuatu. "Ada apa, Mas? Kamu seperti mempunyai masalah," kata Bening. Sakha berdiri dengan gelisah, pria itu terlihat seperti kebingungan. "Dek, bisakah kamu ikut aku sebentar saja, aku ingin mengatakan sesuatu padamu," ucap Sakha dengan nada memohon. "Kenapa tidak di sini saja?" tanya Bening heran. "Tidak bisa, Dek. Ini tentang kita berdua." Bening menatap Sakha cukup lama. Batinnya bertanya-tanya ada apa sebenarnya dengan calon suaminya ini. Kenapa seperti sedang menyembunyikan sesuatu. "Baiklah, hanya sebentar saja ya," pinta Bening. "Iya, aku janji." *** Saat ini mereka berdua sedang berada di Taman Kota. Bening bingung karena ada wanita asing di tengah-tengah mereka berdua. Namun Bening tetap berpikir positif pada Sakha. "Jadi apa yang ingin kamu bicarakan, Mas?" tanya Bening. Bening menunggu Sakha berbicara, tapi Sakha diam saja, bibirnya terkatup rapat, membuat Bening semakin curiga pada Sakha. Pikiran buruk pun bermunculan di hati Bening. "Mas," panggil Bening. Sakha menatap Bening cukup lama, kemudian menghela napas berat. "Maafkan aku, Dek," ucap Sakha lirih. "Kenapa, Mas?" tanya Bening bingung. "Maaf, Maaf, Dek. Aku sungguh minta maaf," kata Sakha dengan kepala tertunduk. Bening semakin tak mengerti dengan ucapan Sakha. Bening menatap wanita yang ada di depannya. Wanita itu pun sama, kepalanya juga ikut menunduk. "Jelaskan padaku kenapa kamu minta maaf, kesalahan apa yang kamu perbuat, Mas?" Sakha mendesah panjang, bingung untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi. Sebenarnya dia tak ingin memberitahu Bening, namun dia juga tak ingin menyakiti perasaan wanita berhijab itu berlarut-larut. "Aku ingin membatalkan pernikahan kita." Deg! Tubuh Bening serasa membeku ketika mendengar ucapan Sakha, lidahnya pun terasa kelu. "Alasannya? Apa karena wanita itu?" tanya Bening dengan suara tercekat. "Kamu benar, aku kira aku sungguh menyukaimu, makanya aku mencoba untuk serius denganmu dan juga melamarmu. Namun ternyata aku salah, aku belum siap dengan pernikahan, dan juga aku rasa aku tidak pantas bila bersanding denganmu, Bening. Kamu terlalu baik untukku," terang Sakha. Bening mencoba untuk tidak menangis, wanita itu sebisa mungkin tersenyum lebar meskipun saat ini hatinya sedang sakit. Bening menatap wanita itu dengan lama, kemudian dia juga meneliti dirinya sendiri. Wajar saja Sakha menyukai wanita itu, wanita itu sangat cantik dan juga seksi, dibandingkan dengan dia, dia hanya wanita biasa yang selalu memakai gamis longgar, bahkan dia tak pernah berhias diri. "Wallahi, aku rela jika kamu memilihnya, Mas. Semoga kamu bahagia dengannya, Mas. Aku pamit, semoga tidak ada dendam di antara kita, assalamualaikum," ucap Bening sambil tersenyum tipis. Bening menggelengkan kepalanya ketika mengingat kejadian hal itu, gara-gara pertemuannya dengan Sakha membuat Bening masuk rumah sakit. Tidak! Bening tidak ingin menyalahkan siapapun, menurutnya ini sudah menjadi garis takdirnya. Mungkin Allah menegurnya karena dia terlalu berharap pada Sakha. "Semoga kamu bahagia, Sakha," lirih Bening. *** "Bunda tadi lihat ada gamis baru di kamarmu, dari Sakha ya?" tanya Bunda dengan suara lembut. Bening diam saja, wanita itu hanya menanggapi dengan senyum tipis. "Sakha baik banget ya, udah soleh, tampan lagi," puji bunda Bening yang bernama Maisarah. "Bunda!" tegur Bening. Maisarah menatap putrinya bingung, biasanya jika dia memuji calon suaminya, Bening akan tersenyum malu, namun kali ini tidak. Putrinya tampak murung. "Apa luka di kepalamu sudah mendingan, Nak? Atau masih sakit?" tanya Maisarah cemas. Bening menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Tidak usah khawatir, Bun. Aku udah sembuh kok." "Terus kenapa kamu terlihat sedih?" Bening menghela napas panjang, mau disembunyikan seperti apapun seorang ibu akan tahu kalau putrinya sedang tidak baik-baik saja. Mungkin itulah yang dinamakan naluri. "Bun, kalau aku tidak jadi menikah dengan Sakha, apakah Bunda akan marah?" tanya Bening tiba-tiba. Maisarah terdiam cukup lama, dia heran dengan pertanyaan putrinya. "Kalau kalian tidak berjodoh, kenapa harus dipaksakan. Sama saja Bunda menentang takdir. Jadi kenapa kamu bertanya seperti itu, apa kalian sedang bertengkar?" tanya Maisarah. Bening menggeleng pelan. "Lantas?" "Sakha mempunyai pilihan lain, Bun." Maisarah tersentak, dia menatap Bening dengan tajam. "Maksud kamu apa, Bening?" "Sakha membatalkan pernikahan kami, dia ...." Suara bening tercekat. "Dia memilih wanita lain," lirih Bening. "Astaghfirullah," gumam Maisarah, terdengar frustrasi. Mereka berdua sama-sama terdiam, saling menyelami pikirannya masing-masing. Padahal kedua orang tua Bening maupun Sakha sudah mengatur tanggal pernikahan mereka, lalu kenapa Sakha memutuskan hubungan itu secara sepihak. Bening mengusap punggung Maisarah dengan pelan, dia merasa bersalah karena telah mengecewakan orang tuanya. "Maafin aku, Bun," kata wanita itu lirih. Maisarah diam saja, entah apa yang dipikirkan oleh perempuan paruh baya itu. "Mungkin kami berdua tidak ditakdirkan untuk bersama," lanjut Bening lagi. Maisarah menatap Bening dengan tajam. "Ini bukan masalah kalian ditakdirkan bersama atau tidak. Tapi kenapa Sakha memutuskan hubungan ini secara sepihak, harusnya dia dan keluarganya datang secara baik-baik ke rumah. Bukan seperti lelaki pengecut!" sentak Maisarah. Bening tak berani menjawab ucapan bundanya, memang benar apa yang dikatakan bundanya. Harusnya Sakha membicarakan masalah ini baik-baik. "Harusnya dia ingat ketika waktu melamar kamu, dengan suara lantangnya mengatakan bahwa dia ingin meminangmu. Lalu apa sekarang?" "Bunda, yang sudah-sudah tidak perlu diingat lagi," erang Bening. "Bunda emosi, kok ada ya laki-laki macam dia," ucap Maisarah tak terima karena anaknya diperlakukan seperti itu. "Tidak apa-apa, Bunda. Aku sudah mengikhlaskannya." Maisarah tahu kalau Bening sedang berbohong, tapi dia menghargai keputusan anaknya. "Buang saja gamis yang dikasih Sakha, Bunda tak sudi melihat ada barang pemberian laki-laki itu," kata Maisarah dengan ketus. "Jangan!" "Kenapa? Kamu masih sayang dengan laki-laki itu? Bunda bisa membelikannya yang lain, cepat buang!" Bening menatap bundanya sambil nyengir. "Masalahnya gamis itu bukan pemberian Sakha, tapi dari Sagara."
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
bagusss
19/03
0mantap
10/01
0mantap
16/08
0Tingnan Lahat