MENGHIDUPI BENALU TAK TAHU DIRI Bab 3 Hampir satu bulan tidak direcoki keluarga rasanya tenang sekali. Tapi tidak baik jika terus seperti ini. Ibu juga pasti tidak akan membahas perjodohan itu lagi. Lebih baik blokiran nomor mereka di buka saja. Tok tok tok! Tangan ini masih melayang di udara belum sempat menggapai ponsel. Siapa sepagi ini yang bertamu? Ternyata Bapak yang datang, terlihat gurat kekhawatiran di wajah keriputnya. Masalah apa yang aku tidak tahu, sekarang? "Apa, Ibumu ada disini?" "Tidak. Ada apa ini, Pak?" tanyaku khawatir Bapak menghela napas berat. Mendudukan dirinya di depan pintu. "Hampir sebulan ini … Ibumu tidak di rumah dan tidak bisa di hubungi!" Bagaikan disambar petir saat mendengar penjelasan dari Bapak. Rasa sesak menyusup di dada ini. Merasa bersalah karena tidak tahu dari awal. Andai saja aku tidak egois, tidak kekanakan. Mungkin hal buruk ini tidak akan terjadi. Apakah Ibu pergi karena aku? *** Mendadak izin cuti kerja untuk hari ini. Aku tidak bisa diam saja. Ini masalah besar, aku ikut Bapak pulang ke rumah. "Coba aja kemarin kamu gak nolak dijodohin, gak bakalan begini jadinya. Mungkin ini juga karma karena kamu kemarin gak kasih pinjam uang!" Baru sampi pagar rumah, tante Rum 'si Kunti' menyambutku dengan omongannya yang tidak enak di hati dan tak penting tentunya. "Kamu sih ... bod*h banget udah di tawarin hidup enak sama si Joko gak mau!" "Kenapa tidak Tante saja yang menikah dengan Joko! Biar Tante gak nyusahin hidup orang lagi!" jawabku lantang sambil memicing menatap Tante Wina yang duduk santai di teras dengan cemilan di tangannya. "Kalau bisa bersuami dua, aku juga mau kok menikah lagi!" Tante Wina menyahut dengan santainya. Beginilah kalau bicara, mereka tidak pernah memakai otak, tapi dengkul! "Apa mungkin Ibumu kawin lari sama si Joko?" ucapan Tante Yuli sungguh tidak masuk akal. Aku malas menanggapi ocehan tak berguna mereka. Ibu memang masih muda, umurnya 37 tahun, tapi ucapan Tante Yuli benar-benar tidak bisa diterima. Keluarga apa yang aku punya ini, Ya Allah! *** Membuka aplikasi hijau dan mencari tahu. Apa, Ibu ada meninggalkan pesan atau menghubungiku. Baru ada waktu sekarang untuk melihat dan membuka nomor yang diblokir itu. Tadi aku terlalu panik. Benar saja, ada pesan masuk dari Ibuku. [Gak usah cari Ibu! Ibu sekarang mau berangkat kerja ke Arab, hutang Ibu akan semakin banyak jika tidak cepat di lunasi! Salah kamu, kenapa menolak menikah sama Si Joko!] Arab? Mata ini sontak melebar membaca pesan masuk dari Ibu. Dengan cepat aku mencoba menelponnya berharap semua yang Ibu ucapkan itu tidak benar. Ibu tidak mengangkat teleponnya. Bagaimana ini? [Nai, bagaimana ini? Ibuku gak ada di rumah. Apa mungkin Ibu kabur karena aku menolak dijodohkan? Ibu malah bilang mau kerja ke Arab, dia pasti bohong 'kan?] Send! [Berapa hari Ibumu gak di rumah? Coba kamu lapor polisi aja!] Aku berpikir dua kali saat membaca pesan dari Naira. Polisi? Tidak mungkin! Yang ada nanti masalahnya semakin rumit. Antara percaya dan tidak juga saat Ibu bilang akan pergi ke Arab. Ya Allah, ampuni aku! Apa ini buah dari keegoisanku? "Bapak!" Bapak langsung datang mendengar teriakanku. Sungguh aku tidak bisa menjelaskan apapun. Hanya bisa menyerahkan benda pipih itu kepada Bapak. Sesak rasanya. Meskipun Ibu kasar dan sering marah, sebagai seorang anak aku tidak rela Ibu pergi sejauh ini. "Kenapa Ibumu nekad sekali. Suruh Ibumu pulang, Bapak tidak mau terjadi apa-apa sama Ibumu!" ucap Bapak dengan suara parau. Aku bisa melihat kegelisahan dari sorot matanya. [Ibu pulang aja! Dinda masih sanggup bekerja, kasihan Rifki dan Amel. Dinda bakal secepatnya melunasi hutang Ibu!] Send! Ibu typing... Bersyukur Ibu mau membalas pesanku. [Tidak bisa! Ibu sudah tanda tangan kontrak!] Lututku lemas seketika. Anak macam apa aku ini yang membiarkan Ibunya banting tulang di negeri orang jadi TKW. Air mata ini tidak bisa dibendung lagi. Bapak hanya menatap nanar benda pipih di tanganku. Perasaannya pasti lebih hancur daripada aku. *** "Makanya ... kalau orangtua ngomong itu turutin! Mbak Sumi pergi karena kamu egois!" sungut Tante Rum. "Iya benar tuh!" timpal Tante Yuli. "Terima aja Si Joko, biar Ibumu bisa pulang!" tambah Tante Wina ikut. Bukannya menenangkanku, mereka malah membuatku makin kesal. "Lebih bagus Tante diam aja deh! Semua omongan kalian itu gak berguna!" sungutku dengan tegas. Aku sudah pusing karena masalah Ibu, ditambah lagi dengan ocehan mereka. Brug! Dengan keras aku membanting pintu kamar. Tidak ada kata sabar jika menghadapi ketiga Tanteku itu. "Kamu kurang aj*r banget. Gak punya sopan santun!" teriak Tante Yuli. Lebih bagus menutup telinga dengan bantal, malas sekali mendengar ocehannya yang membuat telinga ini panas. Masalah Ibu, aku angkat tangan. Ibu sangat keras kepala, dia pasti tidak akan mendengarkan siapa pun. Hanya bisa mendoakan, semoga Ibu baik-baik saja disana. *** "Do'akan aja, agar Ibu baik-baik disana. Pulanglah … tidak usah dimasukkan ke dalam hati perkataan mereka!" kata Bapak saat itu, sebelum aku memutuskan untuk pulang hari itu juga. Aku harus kembali bekerja. Lagi pula aku sudah tidak tahan dengan omongan mereka yang tidak berfaedah itu. Setelah lelah seharian bekerja bersyukur masih ada yang membuatku tersenyum. Pesan masuk lima menit lalu dari 'kesayanganku'. [Dek, Mas kangen banget. Adek gak bisa kalau ke Jakarta?] Singkat tapi membuat hati ini berbunga. [Aku kangen juga. Aku mau aja kesana, tapi bagaimana dengan pekerjaanku?] Mas Rian typing ... [Kerja disini aja! Nanti, Mas carikan kerja buat kamu deh. Untuk sementara kamu juga bisa tinggal di apartemen Mas.] [Kejauhan Mas! Lagian kontrak kerja disini juga masih lama.] Ingin rasanya pergi menemuinya. Menceritakan semua masalahku, ia adalah orang yang paling mengerti diri ini. Centang biru tanpa balasan. Mungkin ia kecewa, tapi bagaimana lagi. Orangtuaku juga tidak akan memberi izin jika aku ke Jakarta. *** Aku senang, ada yang bisa mendengarkan curahan hati ini. Naira memutuskan untuk menginap di kontrakanku, sekalian cari kerja katanya. Karena ia memutuskan untuk resign dari pekerjaannya di Kalimantan. "Mas Rian mengajakku buat kerja di Jakarta," jelasku. Aku ingin tahu bagaimana pendapatnya. Sebelah alis gadis itu terangkat seolah tidak percaya dengan apa yang aku bicarakan. "Terus kamu mau?" tanyanya. Aku menggeleng. "Kalau memang ada pekerjaannya yang bagus. Gajinya juga pas, lumayanlah menambah tabungan buat kamu nikah nanti," lanjut Naira. Sebenarnya kalau soal menikah sama sekali aku belum memikirkannya. Entahlah, aku masih belum siap. Apalagi di keluargaku banyak sekali masalah dan benalu. Apa kata Mas Rian jika ia mengetahui kondisi keluargaku saat ini. Mas Rian memang pernah datang ke rumah, tapi tidak tahu keadaan keluargaku yang sebenarnya. Bapak sedang sakit dan menjadi seorang pengangguran, Ibuku jadi TKW dan Tanteku semuanya benalu, hidup mereka hanya dengan belas kasih orang lain. Bersambung ….
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
kpn bab selanjutnya
21/05
0bagus
22/04
0ceria nya bagus
07/12
0Tingnan Lahat