Bintang Pratama Raharja harus kehilangan calon istrinya Deffi Gisel Asrana. Karena kecelakaan hebat yang merenggut nyawa pujaan hatinya itu.
Pada detik-detik terakhir Deffi, Bintang diberi pesan yang harus dia ikuti. Yaitu menikah dengan Atisya Maharani---saudara Deffi.
Anak nomor tiga dari Keluarga Raharja, akhirnya menyetujui permintaan terakhir dari Deffi.
Lalu bagaimana hubungan Antara Bintang dan Tisya?
Pertama kali lihat judul emang udah tertarik, karna ya q pribadi suka yang genre seperti itu. Tapi, setelah baca ceritanya,,,,beuhhh dijamin yang awalnya nggak suka jadi suka
20/03/2025
0
NingsihRatih
bagus ceritanya
18/03/2025
0
RosmiatiElin
Bagus
25/02/2025
0
OctavianaZihan
baik
08/12/2024
0
Safira Rahma
bagus
10/11/2024
0
wulanSinta
👻🤟🏻👍🏻😍🤩
18/10/2024
0
Kabuuan: 74
Bab 1 - Pengantin Baru
"Ya, kalau Mas Arvin sama Mbak Kirana kan, nikah pakai cinta. Sedangkan aku, terpaksa gara-gara perm
Bab 2 - Pekara Sekolah
Tisya kaget, melihat Kirana tiba-tiba datang ke rumahnya dan menyaksikan Tisya sedang membersihkan t
Bab 3 - Gawai Usang Tisya
"Jadi, selama kalian menikah kemarin, kalian belum melakukan kewajiban sebagai sepasang suami istri?
Bab 4 - Makanan Kesukaan Bintang
Bintang baru saja pulang, jam menunjukan pukul enam malam lewat beberapa menit. Dia langsung menuju
Bab 5 - Tragedi Sebelum Subuh
Bintang berada di ruangan yang benar-benar gelap, hanya ada satu titik cahaya yang berada cukup jauh
Bab 6 - Mencoba
"Kok kamu sekarang pandai banget sih bicaranya?" ujar Bintang seraya menatap Tisya yang sibuk di was
Bab 7 - Sandiwara Bintang dan Tisya
Meja makan yang panjang, sudah penuh oleh anak, menantu dan para cucu Raharja dan Madinah, mereka se
Bab 8 - Akal Licik Bintang
Mobil bermerek Erlima berwarna putih ini membawa Bintang dan Tisya keluar dari gerbang utama Tulip T
Bab 9 - Aku Tisya, Bukan Deffi
Pukul delapan pagi. Pintu rumah keluarga Bintang diketuk oleh seseorang pagi ini, Bintang yang sedan
Bab 10 - Gaga Geram
"Mbak Tisya, Bintangnya ada?" ujar Gaga yang baru saja tiba pada kediaman Bintang dan Tisya. "Ada, Ma
Bab 11 - Ayya, Nadira dan Arav (1)
Bintang menghela napas panjang kemudian mengembusannya dengan kasar, laki-laki itu kemudian menatap
Bab 12 - Ayya, Nadira dan Arav (2)
"Om Bintang dan Tante Tisya, kapan punya dedek? Kan supaya bisa main sama Arav, Mbak Ayya sama Mbak
Bab 13 - Doa Istri Pembuka Rezeki Suami
Pagi ini Bintang baru saja pulang dari berolahraga---sekadar berlari mengelilingi Tulip Town House y
Bab 14 - Sya, You Ok?
Hanya 10 dari 25 karyawan yang datang ke rumah Bintang, karena memang bagaimana pun, operasional tok
Bab 15 - Khawatir
Tisya sedang duduk di sofa, sedangkan Bintang telah berbaring di ranjang. Ya, mereka berdua sangat l
Bab 16 - Pagi Hari di Rumah Mertua
Bintang: Mbak, sorry, aku gak bisa nganterin Arav ke sekolah. Karena aku menginap di rumah mertua de
Bab 17 - Semua Demi Atisya Maharani
"Sebenarnya tadi pagi apa sih yang kalian berdua omongkan?" tanya Tisya dengan nada penasaran. Mobil
Bab 18 - Konsultasi Kepada Gaga
"Maaf ya, Sya, aku gak jadi ke rumah kamu. Gak dibolehin sama suami," ujar Miftah sambil terus menat
Bab 19 - Kejanggalan Bintang
Inah tersenyum, saat melihat Tisya pagi ini sudah segar dengan rambut lurus yang masih basah dan ter
Bab 20 - Bintang Hilang Ingatan?
Sesuai pembicaraan dengan Agam tadi, sekarang Bintang sudah bertemu dengan Gaga. Kedua laki-laki ini
Bab 21 - Drama Sebelum ke Yogyakarta
"Terus ini soal Arav gimana, Tang? Sya? Dia masih maksa ikut, padahal udah aku jelaskan tadi," ujar
Bab 22 - Yogyakarta Hari Pertama (1)
Perjalanan melelahkan akhirnya terbayarkan sudah, Tisya dan Bintang. Juga, Kirana dan Agam telah sam
Bab 23 - Yogyakarta Hari Pertama (2)
Ini ide siapa? Kok ada hiasan-hiasan di ranjang, batin Bintang setelah sampai di kamar. Ya, mereka ha
Bab 24 - Yogyakarta Hari Kedua
Perjalanan menuju Candi Prambanan bagi Tisya sangat membosankan, terlebih lagi, Bintang tiba-tiba me
Bab 25 - Mendadak Malang
Tisya dia sedang berada di kamar, duduk di atas kasur setelah melaksanakan salat. Di depan Tisya sud
Bab 26 - Merasa Bersalah
Kereta yang dinaiki Bintang dan Tisya, pagi ini telah sampai di Malang. Bintang juga sebelumnya suda
Bab 27 - Bintang Pusing
"Kenapa ini selisih semua?" tanya Bintang setelah melihat buku semua cabang dengan teliti. Kelima per
Bab 28 - Inah Semakin Lucu
Tisya tampak merenung, setelah berbicara empat mata dengan Bintang. Dia dan suaminya sekarang masih
Bab 29 - Pulang ke Desa
"Kalian pokoknya harus menginap di sini yang lama, satu minggu," ujar Rani setelah melepaskan peluka
Bab 30 - Memasak untuk Suami
Rutinitas Tisya ketika berada di desa adalah membantu Rani masak di dapur, dia membiarkan suaminya t
Bab 31 - Mengunjungi Rumah Besan
Ketika matahari belum terbit, Bintang, Rani dan juga Tisya sudah melakukan perjalanan menuju ke pasa
Bab 32 - Foto Keluarga Bersama
Hutan pinus yang didatangi memiliki hawa yang sangat sejuk, terbukti tiga keponakan Tisya benar-bena
Bab 33 - Tamu yang Menjengkelkan
"Itu, Pak Dadang sama Ibu Rani sedang duduk bersama siapa ya, Tang?" tanya Raharja yang berada di sa
Bab 34 - Maafkan Aku, Mas
"Apa katamu Mas Abu? Kamu membiarkan istrimu berbicara seperti itu? Kamu salah kaprah, Mas! Kamu itu
Bab 35 - Rezeki Sepertiga Malam
Mendengar suara orang muntah, Bintang langsung terbangun dari tidurnya. tiga hari setelah ke desa, n
Bab 36 - Ke Pasar
"Inget, jangan terlalu lelah ya Mbak Tisya. Mengingat kandungan yang masih muda itu sedikit rawan,"
Bab 37 - Perdebatan Sengit
"Assalamualaikum," ujar Rani dan Dadang yang sudah masuk ke dalam area ruang tamu rumahnya. Acara mas
Bab 38 - Jangan Terlalu Dimanjakan
"Inget, dijaga kandungannya. Bintang, Ibu titip Tisya ya," ujar Rani yang sudah berada di dalam mobi
Bab 39 - Sebuah Pilihan untuk Gaga
Tok! Tok! Tok! Bintang sedang berada di kamar bersama Tisya, laki-laki itu hanya menemani istrinya un
Bab 40 - 100 Juta
Tisya melihat Gaga bungkam, laki-laki itu tidak bisa menjawab secara langsung omongan Bintang baru s
Bab 41 - Atasan Tegas
Bintang, selesai mandi dia langsung turun menuju halaman belakang. Setelah sarapan, dia hendak beran
Bab 42 - Obat Pusing Masa Kini
Mendadak pusing, itulah yang Tisya rasakan sekarang. Perempuan itu sedang berpegangan dengan sangat
Bab 43 - Sosok Masa Lalu
"Ayo buruan makan, ini masih panjang pembahasan kita," ujar Bintang dengan memberikan piring milik T
Bab 44 - Maafkan Aku Deffi
"Ya aku kangen sama kamu, Ca. Tapi kita sudah sama-sama dewasa. Gak sepantasnya kita di dalam kamar
Bab 45 - Minyak Wangi Siapa Ini, Mas?
Tisya berjalan meninggalkan kamar, menuju ke ruang mencuci yang ada di belakang. Letaknya sebelah ka
Bab 46 - Pergi tanpa Pesan
Arvin dan Anggun sedikit kebingungan karena ketika masuk ke dalam rumah Bintang tidak ada suara lain
Bab 47 - Foto yang Dihapus
"Perempuan? Perempuan mana?" tanya Bintang. Bintang tidak tahu, kalau suara Bianca benar-benar muncul
Bab 48 - Tisya cari Angin
Kembali ke rumah, Tisya menemukan Kirana dan juga Agam sedang duduk di ruang santai keluarganya. Ina
Bab 49 - Doa Tisya Pagi Hari
"Tante Tisya, Tante." Mendengar namanya disebut beberapa kali, Tisya segera meninggalkan posisi balko
Bab 50 - Menuju Rumah Mertua
"Pa, Ma. Tisya mau pamit ke kampung sebentar," Tisya menatap Raharja dan Mardina secara bergantian. "
Bab 51 - Amarah Bintang Meledak
"Nanti bisa Bintang kasih modal, kalau Ibu benar-benar pengin jualan gorengan," tawar Bintang dengan
Bab 52 - Pesan Mesra dari Suamiku
Tisya membuka mata, dia terkejut ketika mendapati tubuhnya telah terbaring di atas ranjang dengan di
Bab 53 - Kenyataan Surabaya
Malam hari sebelum melakukan perjalanan ke Surabaya, Bintang tidak bisa tidur. Terlebih lagi menging
Bab 54 - Bi Inah Pekerja Keras
Ketakutan Bintang tidak terwujud hingga tiga hari setelah pertemuan dia denga Bianca di Surabaya. Sa
Bab 55 - Ngidam Tengah Malam
Masih dengan mata yang sedikit mengantuk, Bintang membaca tulisan yang ada di secarik kertas---pembe
Bab 56 - Arvin Peduli ke Bintang
"Apa katamu? Kamu ke Surabaya kemarin tidak sendiri? Lantas bersama siapa?" tanya Arvin terkejut. Arv
Bab 57 - Menu Sehat ala Tisya
Akhirnya Tisya bisa merasakan bangun lebih awal lagi, dua hari setelah kepulangan Inah ke kampung. D
Bab 58 - Firasat
Hanya sepuluh hari berada di kampung, Inah akhirnya kembali ke rumah Bintang. Namun, kali ini dia ti
Bab 59 - Kabar Duka untuk Bintang
Dengan sedikit ketakutan Inah mencoba mengetuk pintu kamar sang majikan, jam baru saja menunjukkan p
Bab 60 - Penantian Panjang
Sepasang manusia tengah menjajaki area pemakaman, mereka berdua berjalan dengan sangat hati-hati kar
Bab 61 - Gagal Senam Gara-gara Bintang
Keluarga Raharja Mbak Kirana : Mama, Papa. Bintang ituloh Tisya mau kuajak senam ibu hamil malah g
Bab 62 - Debat Pagi Hari
"Kenapa sih harus mengundang semua karyawan kita? Otomatis kedai akan tutup kembali dong, Mas?" Tany
Bab 63 - Jebakan Untuk Bintang
"Bibi yakin Bintang suruh nunggu di sini saja?" Bintang memastikan kembali ucapan Inah. Inah mengangg
Bab 64 - Aku Dijebak, Sayang!
Sejak tadi, Tisya mondar-mandir di dekat pintu rumah yang tertutup rapat. Ya, dia tengah menunggu se
Bab 65 - Anggun Kaget
"Bi, Bintang dan Tisya kenapa? Kok di atas kayaknya bertengkar hebat gitu," ucap Anggun yang mengham
Bab 66 - Panik!
"Aku pengin pulang ke kampung, Mas, Mbak," ujar Tisya dengan jujur. Selepas menceritakan semuanya kep
Bab 67 - Bersimpuh di Kaki Mertua
"Lakukan yang terbaik, asal anak dan Istri saya selamat, Dok," Bintang menatap dokter perempuan deng
Bab 68 - Bernapas Lega
Dua jam berlalu, akhirnya pintu Instalasi Gawat Darurat sudah dibuka. Kini hanya tersisa Bintang, Ra
Bab 69 - Skin to Skin
Tisya sebenarnya tidak tega membangunkan Bintang yang tengah terlelap, dia tahu kalau Bintang tidur
Bab 70 - Bilal Haufanza Malazi
Bintang menggiring kembali ketiga keponakannya untuk berjalan ke luar ruangan Tisya. Ya, ketiga kepo
Bab 71 - Tisya Mulai Bosan
Di dalam kamar kosnya, seorang perempuan tengah berdecak kesal. Laki-laki idaman yang telah berhasil
Bab 72 - Kesempatan Terakhir Bintang
"Akhirnya, Cucu Oma tiba di rumah," ujar Mardina seraya melihat ke arah kotak inkubator yang berada
Bab 73 - Satu Bulan Fanza di Dunia
"Alhamdulillah, usia Fanza sekarang sudah satu bulan ya, Sayang. Cepat tumbuh dengan sehat ya, Nak,"
Bab 74 - Kado untuk Bianca
Tisya bertepuk tangan ketika melihat Gani sudah berganti pakaian. Laki-laki yang tadi hanya mengenak
baguss banget, seru alurnya
19/07
0bagus
11/07
0alurnya seru
02/06
0keren banget, alur ceritanya seru
26/04/2025
0Pertama kali lihat judul emang udah tertarik, karna ya q pribadi suka yang genre seperti itu. Tapi, setelah baca ceritanya,,,,beuhhh dijamin yang awalnya nggak suka jadi suka
20/03/2025
0bagus ceritanya
18/03/2025
0Bagus
25/02/2025
0baik
08/12/2024
0bagus
10/11/2024
0👻🤟🏻👍🏻😍🤩
18/10/2024
0