Kabuuan : 64Part 1 Merantau
Pagi yang cerah, matahari pun telah menyemburkan rona merah di atas langit biru. Alhamdulillah, hari
readmore Part 2 Keberangkatan
Waktu sudah menunjukkan pukul 12.00. Akupun telah selesai mandi. Ku lanjut untuk berpakaian di kamar
readmore Part 3 Kejadian di Atas Kapal #1
Bunyi peluit kapal, tanda kapal akan melaju meninggalkan dermaga. Dari atas aku lambaikan tangan pad
readmore Part 4 Kejadian di Atas Kapal #2
Tidak terlalu lama, paman sudah terlihat mengayunkan kakinya menuju tempat kami. Raut wajahnya seper
readmore Part 5 Bertemu Kawan Lama
Kapal ini sudah sandar di pelabuhan Bira Bulukumba setelah menempuh waktu kurang lebih dua jam. "Hal
readmore Part 6 Dilihat Sinis
Suara adzan subuh berkumandang. Aku terbangun dari lelahnya perjalanan semalam. 'Alhamdulillah, akhi
readmore Part 7 Hinaan Mereka
Sudah seminggu aku berada di sini. Namun, belum juga mendapatkan pekerjaan. Mas Doni satu-satunya or
readmore Part 8 PoV Pak Kakung
Aku duduk di teras menikmati secangkir kopi buatan istri tercinta. Seperti biasanya, aku menyiram bu
readmore Part 9 Tawaran Mas Doni
Pagi-pagi buta, aku ke luar mencari udara segar di sekitar komplek. Maklumlah, di kota besar seperti
readmore Part 10 Kehilangan Uang
Sore ini kulihat Mas Doni duduk di depan TV bersama Bibi dan paman sedang menonton berita tanah air.
readmore Part 11 Mencari Tahu Dalangnya
Tega sekali mereka menuduhku mencuri. Aku memang tak punya apa-apa, tapi aku masih punya harga diri.
readmore Part 12 PoV Doni
Aku sedang asyik memberi makan ikan di kolam teras depan, dekat dengan klinik isteri ku. Tiba-tiba F
readmore Part 13 Doni Mengadu (PoV Bu Anti)
Sebenarnya aku tidak terlalu menyukai menantuku. Dari awal pernikahannya dengan anakku Doni, aku dan
readmore Part 14 Hari Pertama Kerja
Setelah salat subuh, aku mulai menyetrika pakaian. Maklum, hari ini adalah hari pertama masuk kerja
readmore Part 15 Mulai Terbongkar
"Terima kasih pak" Ucapku pada pak Dirga. Iya hanya mengangguk tanpa melihatku. Lantas melangkah me
readmore Part 16 Mendengar Kabar Buruk
Kring... Kring... Kring... Terdengar bunyi handphone ku dari dalam tas. Segera ku ambil, siapa sih ya
readmore Part 17 Dilema
Malam ini aku tak bisa tidur dengan nyenyak. Sedari tadi air mataku mengalir tiada henti. Aku memiki
readmore Part 18 Bibi Ke Pulau, Bapak Masih Kritis?
Hari ini sangat berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Biasanya, perasaanku diliputi rasa semangat yan
readmore Part 19 Siapa Lelaki Itu?
Setelah mematikan komputer, aku segera menuju parkiran. Tak lupa pula kumasukkan dompet tadi ke dala
readmore Part 20 Bapak Sembuh, Membeli HP Baru Karena Ditegur
"Assalamualaikum pak?" "Walaikumsalam, Nak!" Terdengar jawaban bapak di balik ponselku. "Bagaimana kab
readmore Part 21 Pertengkaran
Di meja makan yang cukup untuk enam orang ini, kami menyantap masakan bibi. Hati ini senang kala bis
readmore Part 22 PoV Fira
Aku berlari menuju kamar untuk mengambil kunci mobil sembari menyeka kedua pipiku. Sebelumnya, akan
readmore Part 23 Terbongkar Sudah
"Sarah? Sini sebentar." Aku terperangah melihat mas Doni duduk di kursi kayu. Saat ini kami sedang di
readmore Part 24 PoV Jeni
Prak... Terdengar suara pintu ditendang. Aku gegas keluar kamar dan melihat ke pintu. Benar saja duga
readmore Part 25 Dipermalukan (PoV Jeni 2)
Saat ini, aku berdiri di depan klinik Fira. Kulihat situasi begitu sepi. Saatnya menjalankan aksi. M
readmore Part 26 Penjara atau Pecat? (PoV Fira)
"Tolong kak Fira, jangan penjarakan saya. Saya terpaksa melakukan ini semua. Saya benar-benar minta
readmore Part 27 Ancaman
Aku hanya duduk diam menyaksikan pengakuan mbak Jeni pada kami. Masih teringat kala ia begitu semang
readmore Part 28 Menolong
Saat motor itu telah hilang dari pandanganku, cepat aku melangkah menuju rumah. Karena posisiku seka
readmore Part 29 Menangis Histeris
"Paman betul. Biar aku yang turun mencari tahu. Apalagi wajahku tidak familiar di kelurga mbak Jeni.
readmore Part 30 Bersembunyi (PoV Tornado 1)
Sudah lebih dari dua minggu aku bersembunyi di sini. Entah bagaimana keadaan di luar. Untung aku pun
readmore Part 31 Jadi Buronan (PoV Tornado 2)
Ku lihat jam di pergelangan tanganku, sudah menunjukkan pukul 10.12 pagi. 'Mengapa si Tatang lama se
readmore Part 32 Rumah Baru
"Sara! Kamu sudah siap?" Ucap bibi melangkah masuk ke dalam kamarku. "Alhamdulillah, Bi. Semuanya sud
readmore Part 33 Menata Ulang
"InsyaAllah, bi! Sarah sangat suka, tempatnya bagus, nyaman, bersih, asri dan dekat sekolah." Sahutk
readmore part 34 Sarjana
Ramainya ibu kota yang biasanya, tak seberisik hari ini. Dari sekian purnama, mungkin ini yang palin
readmore Part 35 Rezeki Tukang Jahit
Purnama berganti setiap waktu. Umur pun ikut bertambah, tapi tidak dengan waktu hidup di sini. Maka
readmore Part 36 Siapa Dia?
"Ada yang naksir sama kamu. Doni tadi menelpon. Katanya sudah lama. Cuman nunggu kau wisuda dulu...
readmore Part 37 Dilamar
Pak Rahman dan laki-laki yang mengaku memiliki hati untuk diri ini benar-benar datang berkunjung. Me
readmore Part 38 Menikah
Akad nikah di depan mata. Dua Minggu lamanya persiapan. Aku dan mas Herman bolak-balik ke KUA untuk
readmore Part 39 Mandiri
Tiga hari berlalu setelah kepulangan bapak dan ibu ke pulau,mas Herman mengajak untuk pindahan. Beru
readmore Part 40 Perjuangan
Tidak terasa, sudah sebulan lamanya kami tinggal di sini. Alhamdulillah, cukup aman meskipun memang
readmore Part 41 Promil
Beberapa hari yang lalu mbak Sulastri dan suaminya datang melihat kontrakan di sebelah. Ada keluhan
readmore Part 42 Gosip
Selama tinggal bertetangga dengan mbak Sulastri di tempat ini, dia selalu datang tiap hari untuk ber
readmore Part 43 Rindu Masakan Paman
Beberapa hari ini, mbak Sulastri sudah jarang datang. Terakhir saat meminjam uang seratus ribu buat
readmore Part 44 Berisi
Duduk di teras rumah menikmati masakan Padang bikinan paman sambil bercerita dengan bibi membuat har
readmore Part 45 Hamil Besar
Delapan bulan telah dilalui dengan begitu berat. Di awal kehamilan, penciuman ini begitu tajam. Bahk
readmore Part 46 Lahiran
Bangun dan tiba-tiba berada dalam ruang serba putih dengan tangan ditusuk jarum. Tapi, tidak lebih p
readmore Part 47 Pulang
Pasca acara, ibu dan bibi tidak henti-hentinya membicarakan tentang mbak Sulastri. Mereka turut prih
readmore Part 48 Lega
Ibu sudah sampai di pulau. Alhamdulillah, bapak sudah melewati masa kritisnya. Beliau sementara pemu
readmore Part 49 Ditinggalkan
Rina yang tadinya menelpon tanpa suara, kini kembali lagi. "Assalamualaikum, Rina? Ada apa?" Jawab k
readmore Part 50 Duka
Rumah sudah dipenuhi tetangga dan beberapa keluarga yang tinggal di pulau seberang -keluarga dari ib
readmore Part 51 Antara Berkah Dan Ujuan
Di meja bundar dapur ini, kami mengelilingi ibu yang seakan berpidato tentang pesan yang bapak tingg
readmore Part 52 Berubah
Menidurkan Kaisar adalah waktu dimana aku dan mas Herman mengobrol. Kaisar masih menyusu meski umurn
readmore Part 53 Lahiran
Tidak ada yang bisa dihubungi karena ponsel tertinggal di rumah. Mbak Sulastri yang semalam diharapa
readmore Part 54 Rezeki Anak
Tujuh hari setelah melahirkan, Kanaya kembali di aqiqah. Dan bibi selalu meminta acara itu dilakukan
readmore Part 55 Curiga
Hari-hari terus berlanjut, aku menikmati hidup sebagai ibu rumah tangga dengan dua anak yang luar bi
readmore Part 56 Marah
Subuh yang sepi, biasanya kami sudah berjamaah. Tapi, sekarang benar-benar sepi. Mas Herman masih ti
readmore Part 57 Pengkhianatan
Bulan-bulan berlalu. Sebuah kabar menggembirakan dari rumah tangga mas Doni dan mbak Fira. Alhamduli
readmore Part 58 Kecewa
Setelah mendengar semua pembicaraan mereka, aku memilih pergi ke masjid untuk menenangkan pikiran in
readmore Part 59 Bicara
Bibi menyuruhku untuk beristirahat dan menenangkan pikiran setelah kami beberapa menit mengobrol. Be
readmore Part 60 Dilabrak
Aku menarik tanganku pelan. “Mas, aku tahu semuanya.” Dia membeku. Wajahnya berubah pucat dalam sekej
readmore Part 61 Pergi
Aku menatap layar ponsel dengan tatapan kosong. Pesan dari agen properti baru saja masuk: "Kontrakan
readmore Part 62 Cerai
Pagi ini, sinar matahari menyusup melalui tirai kamar lantai dua, membangunkan aku dari tidur yang g
readmore Part 63 Bangkit Lagi
Beberapa minggu setelah vonis cerai itu, aku merasa seperti berada diantara kelegaan dan kehancuran.
readmore Part 64 Sukses
Kembali ke kota setelah dua minggu di pulau, rasanya seperti memasuki medan perang baru. Rumah Bibi
readmore
cerita nya bagus banget 👍👍👍👍🥰
28/01
0Temui penulis ini di aplikasi Fiz*o... dengan nama pena yang sama. ada banyak tulisannya yang keren dibaca disana. 🥰🥰🥰🥰🙏
13/01
1bagus
05/11
0keren
28/09
0sangat Bagus cerita yg keren
13/09
0bagus
27/07
0cukup menarik untuk pembaca yang sedang berjuang untuk merantau
25/06
0bagus
10/06
0bagus
07/06
0coollll
30/05
0