PRAKATA
Untuk hati yang sedihnya tak bertepi.
Untuk raga yang hidup hanya karena kewajiban.
Untuk cinta baru yang sulit dicerna.
Untukmu ... kekasih hati, yang hingga kini merajai hati.
Blurb:
Jika bukan karena urusan bisnis, Inggrid tidak akan pernah mau menurunkan egonya untuk menjalin satu ikatan sah bernama pernikahan. Baginya, ikatan itu demikian sakral. Tak boleh ada cacat sebagai syarat utama pada sang calon mempelai pria.
Disanggupi dengan amat, asalkan bersama Inggrid. Pikir sang pria dengan naifnya.
Hingga badai mulai datang. Perlahan menggerus serpih demi serpih yang mereka miliki. Di mana hubungan itu hanya bertopang pada kepentingan pribadi. Saling menguatkan dalam diam. Saling mendoakan dalam sujud. Dan saat menyadari jikalau mereka saling berkait, apakah semuanya terlambat?
Novelnya suda bagus dan menurut saya sebagai pembaca perlu lagi ditambahkan adegan seperti sangat romantis karna itu inti dari novel yang menceritakan tentang cinta yang kasmaran, tapi untuk waktu membaca juga jangan terlalu lama yaaa dan untuk novelnya menurut saya jangan terlalu panjang dan jangan berbelit-belit karna saya sebagai pembaca juga sedikit bosan dengan novel yang begitu amat sangat panjang. terimakasih suda menciptakan novel yang begitu bagus dan luar biasa bagi kami kaum pembacaa
02/08
0
Fhyna AN
bagus
04/07
0
SyafaLintang
bagus banget novel nyaa saya suka sama ceritanyaa
28/06
0
ilys.m
bagus banget kak
19/06
0
Fitri apriliani
Bagus bngettttt
01/06
0
Kabuuan: 48
Prolog dan Bab 1
Pengusaha muda bernama Nelson Abra Nugraha terlibat kecelakaan tunggal. Dari pantauan CCTV juga menu
SERPIH 2
“Kak,” panggil Rendra yang memecah lamunku. Sudut rumah yang paling kusuka adaah kolam renang. Di se
SERPIH 3
“Pa, bisa bujuk Kakek untuk hal-hal aneh yang nantinya beliau suarakan?” tanyaku dengan nada sedikit
SERPIH 4
“Bu,” panggil Anna tiba-tiba. Aku belum genap memasuki koridor tapi sudah mendengar suaranya dari ar
SERPIH 5
Mahreem. Siapa yang tak mengenal nama itu. Salah satu dari jajaran kabinet menteri yang bertugas hin
SERPIH 6
Ini merupakan kesialan tersendiri bagiku. Sejak awal kedatangannya di rumah orang tuaku, aku tau, ta
SERPIH 7
Bisnis dan cinta. Dua hal yang aku merasa, masih bisa dipisahkan. Hidup enam belas tahunku tanpa cin
SERPIH 8
Aku pernah kehilangan. Aku pernah seputus asa ingin terjun masuk dalam liang lahat. Memeluk tubuh ya
SERPIH 9
Kakek Willy membuka matanya. Rasa sesak di dadaku perlahan hilang. Terganti dengan senyum penuh kele
SERPIH 10
Aku pernah dilamar. Acaranya besar dan megah. Pria itu sungguh menjadikan aku gadis paling bersinar.
SERPIH 11
Genap seminggu aku menjadi istri Andrew. Tak ada yang berubah karena aku pun masih fokus pada pemuli
SERPIH 12
“Kek ...” Aku hampir putus asa karena Kakek sama sekali tak mau kuselimuti. Kami berjalan dan menikm
SERPIH 13
Sudah berlalu tiga hari Kakek dimakamkan. Rasa kehilangan yang menderaku masih ada. Walau aku sering
SERPIH 14
Kami disambut hangat Om Gu, tapi aku tak melihat Bu Puri. Aku pun enggan bertanya bukan karena tak m
SERPIH 15
Saat aku membuka mata, keadaan tak ada yang berubah. Biarpun agak sulit terpejam semalam, pada akhir
SERPIH 16
Saat aku membuka mata, keadaan tak ada yang berubah. Biarpun agak sulit terpejam semalam, pada akhir
SERPIH 17
Sepagian ini senyum Andrew sama sekali tak luntur. Aku yang mengenakan seat belt sampai bingung meng
SERPIH 18
Namanya Risna Arunika. Kupuji namanya dengan tulus yang disambut senyum sungkan. Aku tak masalah. Ur
SERPIH 19
Gedung biru yang menjulang sudah ada di depan mata. Kami sudah di lobby. Gegas Andrew turun dan memb
SERPIH 20
Kami benar-benar makan malam dengan obrolan santai. Walau tak bisa kuanggap santai lantaran karena b
SERPIH 21
Kutopang dagu dengan saah satu tangan sementara tangan lainnya sibuk membolak balik file yang baru s
SERPIH 22
Kuputar sekali lagi gelang berbentuk love di sekelilingnya. Jangan tanya betapa berkilaunya jika ter
SERPIH 23
Dibantu Bi Sum—padahal tak perlu, aku menyiapkan sarapan Andrew dengan menu berbeda. Nasi goreng tan
SERPIH 24
Konsentrasiku buyar entah ke mana. Bahkan hingga meeting selesai aku sama sekali tak mampu meresapi
SERPIH 25
“Kamu serius enggak butuh bantuan saya?” tanya Andrew sekali lagi. Memastikan padaku—mungkin—apa kir
SERPIH 26
“Belum tidur?” Aku menoleh dari layar ponsel. Dewi mengirim beberapa design undangan. Berhubung waktu
SERPIH 27
Andrew berulang kali memindaiku dengan tatapan khawatir. Kedua tangannya menahan bahuku agar netrany
SERPIH 28
Besok, kami pindah. Sebelumnya, sekali lagi aku mengunjungi apartement tempatku berpulang. Melepas p
SERPIH 29
“Ndrew, Ibu tanya apa nanti ada syukuran penempatan rumah baru? Undang tetangga kanan kiri?” tanyaku
SERPIH 30
“Gimana kantor?” tanya Papa sembari membolak balik majalah yang ada di meja. Kunjungannya pagi ini m
SERPIH 31
Seperti yang sudah menjadi kebiasaan baru bagi hidupku kini, Andrew sudah ada di lobby. Menungguku s
SERPIH 32
“Kenapa, Ndra?” Saat kulirik, nama Rendra muncul di sana. Beruntung, aku telah selesai melaksanakan
SERPIH 33
Pesta tadi cukup menguras tenaga sebenarnya. Walau hanya berdiri menerima tamu undangan, juga seseka
SERPIH 34
Aku tak tau berapa lama terpejam. Yang kurasa saat membuka kelopak mata, ada satu rasa asing yang ma
SERPIH 35
Jangan tanya bagaimana aku menormalkan semua anggota tubuh yang gemetar karena kejadian yang hampir
SERPIH 36
Serangkaian laporan Rendra beri padaku sebelum mengantarkan kami ke bandara. Bahkan di jalan, kami m
SERPIH 37
“Ai,” panggil Andrew pelan. Aku sudah menyadari keberadaannya di kamar yang kutempati selama berada
SERPIH 38
Tak ada yang bersuara sejak kedatangan kami di sini. Aku hanya menatap pigura besar yang masih terse
SERPIH 39
“Jadi ... apa yang bisa Om bantu, Nak?” Kami saling bersitatap. Dua hari sejak kepulangan kami ke Jak
SERPIH 40
“Masih sakit?” tanyaku pelan. Walau sudah kuberi salep untuk luka memar, tapi tetap saja noda biru i
SERPIH 41
Hari ini, rapat besar akan berlangsung jam sepuluh pagi. Gina sudah mempersiapkan semua yang Andrew
SERPIH 42
Hari-hariku kembali. Aktifitas berkantor juga sudah membuatku sibuk dengan aneka meeting dan membaha
SERPIH 43
“Mas, aku serius enggak apa. Ada Bi Inah dan Mami juga, kok.” Entah sudah berapa kali kukatakan pada
SERPIH 44
Mimpi semalam terlalu indah untuk aku abaikan. Bahkan aku masih bisa menghidu jejak wangi mawar di s
SERPIH 45
Keadaan Jaka juga tak kalah genting. Dua luka tembak yang ia peroleh cukup membuatnya banyak kehilan
SERPIH 46
Genap tiga hari Andrew belum mau membuka matanya. Kebalikan dengan Jaka di mana pria itu sudah sadar
SERPIH 47
Aku tak tau, kenapa menjalani hari bisa penuh semangat seperti ini. Padahal dokter sering memperinga
EPILOG
“Hai, Jagoan. Lagi apa?” Gerak saya bermain Mario Bros, terhenti. Mendongak sesaat dan mendapati seor
Aku baru baca prolog udah tersentuh kak
09/03
0happy ending
23/02
0bagus ih ceritanya
27/11
0Seruuuuuuu
25/11
0menarik
09/09
0Novelnya suda bagus dan menurut saya sebagai pembaca perlu lagi ditambahkan adegan seperti sangat romantis karna itu inti dari novel yang menceritakan tentang cinta yang kasmaran, tapi untuk waktu membaca juga jangan terlalu lama yaaa dan untuk novelnya menurut saya jangan terlalu panjang dan jangan berbelit-belit karna saya sebagai pembaca juga sedikit bosan dengan novel yang begitu amat sangat panjang. terimakasih suda menciptakan novel yang begitu bagus dan luar biasa bagi kami kaum pembacaa
02/08
0bagus
04/07
0bagus banget novel nyaa saya suka sama ceritanyaa
28/06
0bagus banget kak
19/06
0Bagus bngettttt
01/06
0