logo text
เพิ่มลงในห้องสมุด
logo
logo-text

ดาวน์โหลดหนังสือเล่มนี้ภายในแอพ

Kau Membuatku Ingin Muntah

Elok berdiri mematung di samping Semmy kemudian memberikan senyum keterpaksaan saat Semmy melihatnya.
“Masih aja sombong boss kamu itu, Lok.” cibir Semmy.
Elok kemudian mengantar Semmy berjalan menuju lift. Kemudian menunggu hingga pintu lift tertutup dan ia tidak ikut turun.
Wida berdiri di depan meja resepsionis. Ia batal masuk ke ruangan Hasta karena lelaki itu lebih dulu keluar dari ruangannya.
“Kamu di sini, Wid? Ada apa?” tanya Hasta.
“Mau ketemu kamu aja,” jawab Wida kemudian meraih lengan Hasta.
“Aku ada meeting sama tamu dari Australia. Mau bahas fitur baru di aplikasi. Jangan diacak-acak yah meeting kali ini. Udah mendesak banget soalnya. Programnya udah harus jalan bulan depan,” pinta Hasta serius tetapi sambil tersenyum.
Wida memajukan bibirnya tanda kecewa, sebenarnya banyak yang ingin dia bahas hari ini dengan Hasta. Karena menurutnya, Hasta terlihat santai. Tidak terasa normal sebagai seorang laki-laki yang berada di posisi kekasihnya akan segera diambil orang.
“Selalu yah, bisnis itu lebih penting daripada aku,” ujar Wida merajuk.
Hasta tertawa kecil kemudian ia mengacak-acak poni Wida.
“Malu tuh diliatin sama Elok. Dia saksi hidup lho berapa banyak urusan kantor yang berantakan gara-gara kamu,” ujar Hasta tapi tetap membuat Wida merengut.
“Jadi sebenarnya kamu ada perlu apa? Mumpung meetingnya belum mulai, jadi mendingan ngomong deh.”
“Kangen.”
“Hmm ... Iya. Terus?”
“Udah.”
“Jadi aku udah boleh pergi meeting sekarang?”
“Hasta! Ih ... Kesel.”
Hasta tertawa lebar melihat Wida yang semakin marah. Wanita memang selalu penuh misteri. Ia tahu bahwa Wida sedang memikirkan masalah surat wasiat dari orang tuanya. Tapi apa daya, ia pun tidak memiliki solusi sama sekali untuk masalah ini. Belum.
Hanya saja Hasta adalah seorang laki-laki, ditambah lagi ia memiliki sifat pendiam. Jadi ia tak terlalu pandai mengekspresikan apa yang ada di dalam otaknya.
Hasta mengambil napas panjang kemudian mengajak Wida duduk di lobi depan ruangannya.
“Kamu udah makan siang?” tanya Hasta Wida mengangguk kecil. Masih ada waktu lebih dari tiga puluh menit sebelum meeting-nya dimulai, jadi Hasta mengajak Wida menuju sofa untuk berbincang.
“Elok, tolong bikinin teh jasmin buat Bu Wida ya.”
“Baik, Pak.”
“Tadi aku ketemu si nggak sinkron sama Semmy. Mereka dari sini?”
“Iya. Kami makan siang bareng tadi di resto.”
“Makan siang doang? Nggak ada yang dibahas?”
“Semmy minta dikenalin sama owner selain kamu dan Om Handi. Kebetulan Ruly dateng ke kantorku pagi tadi. Ya udah, mereka kenalan.”
“Semmy tuh ya, nama dia aja udah tabu gitu. Pantes, tau aja kalau lagi ada yang hot.”
“Kenapa? Oiya, aku lupa. Ruly itu kan calon suami kamu dari perjodohan almarhum orang tua kamu ya. Jadi wajarlah kalau kamu cemburu,” ujar Hasta dengan nada meledek.
“Hah?! Buat apa? Baguslah kalau si Semmy berhasil nempel sama si nggak sinkron itu. Kita nggak perlu repot lagi kan ngasih berbagai alasan ke Om dan Tante.”
Elok datang membawa secangkir teh untuk Wida.
“Makasih ya, Elok,” ucap Wida.
“Sama-sama, Bu Wida.”
Elok kembali ke meja kerjanya. Secara tidak langsung Elok meratapi nasibnya yang berbeda jauh dengan putri sultan yang ada di depannya. Wida saat ini sedang bingung memilih antara Hasta dengan Ruly sebagai calon suaminya. Sedangkan dia, selalu bingung kenapa penyakit jomlo menahun ini tak pernah hilang dari tubuhnya.
Hasta tersenyum datar mendengar jawaban Wida. Ia sedikit tidak yakin dengan apa yang Wida utarakan barusan.
“Itu artinya kamu siap melepaskan semua saham yang kamu punya?”
Wida menatap tajam ke arah Hasta.
“Sudahlah. Mungkin kamu benar. Jika dari kedua pihak menolak bisa saja Om dan Tante Asih membatalkan syarat itu kan?” lanjut Hasta sambil tersenyum.
“Sekarang aku udah boleh meeting? Sebentar lagi tamunya datang. Gimana kalau nanti kita dinner di luar?”
Wida mengangguk.
“Kamu mau bareng ke atas?” lanjut Hasta lagi.
“Nggak deh. Om Handi juga belum masuk hari ini. Nanti aku langsung turun aja, ke kantor,” jawab Wida.
Hasta mengangguk, berdiri dan merapikan jasnya kemudian melangkah menuju lift.
“Elok, nanti tolong antar berkas-berkas meeting-nya ke atas yah,” ucap Hasta sambil menunggu lift.
Wida masih menyesap teh hangat yang disuguhkan Elok. Pikirannya jauh melayang entah ke mana.
Sementara itu, Ruly berjalan bolak-balik di dalam toilet. Tak ada panggilan alam dalam tubuhnya. Hanya rasa cemas yang tak dapat ia bendung. Ruly menghentikan langkahnya, ia berdiri di depan cermin dengan kedua tangan bertumpu pada wastafel. Ia berusaha mengatur napasnya dengan susah payah. Ia tak menyangka melihat Wida dari kejauhan saja bisa memberikan efek seperti ini. Ingin rasanya ia menelan obat penenang yang ia bawa tetapi ia ingat kejadian fatal yang mengharuskan ia menginap satu hari di rumah sakit.
“Rustig aan, Ruly. Je moet gewoon wegblijven van het meisje,” bisik Ruly meyakinkan diri sendiri bahwa dia hanya perlu tenang dan menjauh dari gadis itu. Ruly membasuh wajahnya dengan sedikit air kemudian ia melangkah keluar dari toilet.
Ruly berjalan sambil terus meyakinkan diri sendiri dalam hati bahwa ia bisa melewati hal ini. Di lobi depan ruangan Hasta, ia melihat Elok dan menyapanya lagi.
“Hello, Elok. Terima kasih untuk hari ini,” sapa Ruly sambil melontarkan senyuman manisnya.
“Sama-sama, Pak Ruly,” jawab Elok di bibirnya sementara dalam hati ia bergumam, itu lesung pipit, manisnyaaaa.
“Sepertinya kita akan sering bertemu nantinya. Semoga kamu nggak keberatan.”
“Nggak. Nggak keberatan sama sekali kok, Pak. Kapan aja, call me.” Astaga, Elok? batin gadis itu terkejut dengan tingkahnya sendiri.
Ruly tertawa geli melihat wajah Elok yang merona.
“Hmm ... tawaran yang menarik. Semoga kamu nggak menyesal yah nanti,” ujar Ruly yang semakin membuat Elok salah tingkah.
“Wah, jadi begini ya kamu aslinya, Ruly. Nggak kaget juga sih aku,” sapa seorang gadis dari arah belakang Ruly.
Elok menahan napas. Hatinya ketar ketir. Ia lupa jika Wida masih berada di sofa ruangan itu.
Ruly menengok ke arah suara dan tatapannya bertemu dengan tatapan mata Wida.
“Begini? Maksud kamu apa?” jawab Ruly mencoba mencoba menutupi kegelisahan yang mulai menyerangnya.
“Kita belum bertegur sapa lagi ya sejak ... Hmm ... Kita awal ketemu di rumah sakit. Terakhir juga di rumah sakit. Aku lihat, kamu udah sehat sekarang.”
Raut wajah Ruly berubah melihat Wida berada di dekatnya. Ia memasukkan kedua tangannya yang mulai gemetar ke dalam saku celana.
“Lalu?” lanjut Ruly.
Wida hanya menatap Ruly, menunggu reaksi dari laki-laki itu.
“Jika nggak ada yang penting, saya permisi. Terima kasih sekali lagi ya, Elok,” ucap Ruly lagi. Kemudian ia berjalan menuju lift sambil menahan rasa di dalam perutnya yang kembali bergejolak bahkan lebih hebat dari sebelumnya.
Wida menatap punggung Ruly sampai laki-laki itu menghilang di dalam lift.
Apa sih yang ada di otak laki-laki ini? Wida tahu pasti, jika Asih telah bercerita pada Ruly bahwa dialah yang telah menyelamatkan Ruly saat di kamar mandi apartemen. Tapi sekarang? Ucapan terima kasih pun tak ia dapatkan dari Ruly.
“Tau gini, nggak usah pusing manggil ambulans kemaren. Biar isdet sekalian tuh orang,” ujar Wida tak bisa menutupi kekesalannya pada Ruly.

หนังสือแสดงความคิดเห็น (111)

  • avatar
    04Bunga

    seru

    31/05/2025

      0
  • avatar
    NOVA LAILA RAHMA D.S088_

    bagus banget

    20/04/2025

      0
  • avatar
    Srmrryn

    lumayan lah

    27/11/2024

      0
  • ดูทั้งหมด

บทที่เกี่ยวข้อง

บทล่าสุด