logo text
เพิ่มลงในห้องสมุด
logo
logo-text

ดาวน์โหลดหนังสือเล่มนี้ภายในแอพ

Wanita yang Suka Bermain Api

Hasta mau tidak mau menerima permintaan Semmy tapi menolak makan siang di luar. Ia memilih makan siang di restoran yang ada di dalam gedung. Restoran ini memang biasa digunakan untuk menerima tamu-tamu baik secara resmi atau pun tidak. Siang ini tidak banyak tamu yang datang. Hasta membuka meja privat di lantai yang sama dengan kantornya untuk mereka bertiga.
Semmy menyambut dengan senang hati. Setidaknya ia bisa lebih mengenal Ruly.
“Oiya, Rul. Udah keliling Jakarta ke mana aja?” ucap Semmy membuka obrolan sambil memilih daftar menu yang ada di tangannya.
“Belum ke mana-mana. Saya baru sampai kemarin lusa.”
“Terus rencananya apa di Jakarta?”
“Belajar bisnis sama Hasta.”
“Wah, pilihan yang tepat. Hasta ini emang paling jago kalau urusan bisnis. Aku aja nih diem-diem pengen nyuri ilmu bisnisnya dia.”
Hasta tertawa mendengar omongan mereka.
“Oiya, denger-denger pemegang saham HWK Grup ada yang baru ya? Bener ga, Hasta?” tanya Semmy.
“Update banget kamu ya, Semm. Bukan baru sebenernya. Dari dulu. Dari awal berdirinya HWK Grup. Ahli waris sih tepatnya. Kenapa, Semm?”
“Kenalin dong, Has. Aku kan taunya kamu, Wida sama Pak Handi. Aku juga pengen tau lah sama pemilik saham yang satu itu.” Pinta Semmy dengan sedikit merengek.
“Tuh orangnya di depan kamu,” sahut Hasta.
Semmy menampakkan wajah seakan terkejut padahal dari awal ia sudah tahu dan Ruly adalah tujuan kedatangannya dari awal.
“Ya ampun, HWK Grup bener-bener juara yah. Bikin rekanan luluh tuh yang kaya begini ini nih,” ucap Semmy menampakkan wajah terkesima menatap Ruly.
“Jangan berlebihan. Ada juga kehadiran pebisnis seperti kamu yang mampu menaikkan harga saham sebuah perusahaan, Semm,” jawab Ruly membuat pipi Semmy merona seketika.
“Dahsyat nih ngelobinya, Has. Nggak kaya kamu. Datar.” Semmy berpaling mengejek Hasta. Hasta hanya tertawa kecil mendengarnya.
Semmy memang ahli dalam menghangatkan suasana. Tak sampai dua puluh empat jam, ia berhasil mengakrabkan diri dengan Ruly. Sedangkan Ruly? Jelas dia lebih mudah menghadapi wanita mana pun, selama wanita itu tidak membicarakan masalah pernikahan.
“Oiya, Rul. Itu lesung pipit kamu dapet dari mana?” tanya Semmy lagi.
“Dari almarhum Papa, beserta warna kulitnya.”
“Wah, kamu pasti banyak pacar di sana dong, Rul? Penampilan kamu unik gitu. Terus mata kamu? Dari pihak Mama kamu pastinya kan?”
Ruly tersenyum sambil mengangguk.
“Di sini pun kamu juga jadi unik karena warna mata itu.”
“Nggak sinkron yah, istilahnya bagi orang Jakarta,” ucap Ruly mengingat perkataan Wida membuat Hasta melirik ke arahnya.
Sepanjang pengamatan Hasta, Ruly sepertinya tidak tertarik pada Wida bahkan cenderung ilfil, begitu pun sebaliknya. Tapi ia masih belum tahu langkah apa yang harus ia ambil dengan tepat untuk menghadapi masalah ini.
“Siapa yang bilang? Justru itu yang bikin kamu kelihatan seksi di mata perempuan.”
Hasta masih mengamati tingkah dua orang di depannya. Walau pun sebenarnya ia merasa sedikit risih karena kedua orang ini saling menggoda secara terbuka di hadapannya tapi dengan begini, Hasta bisa mengetahui dan mengenal sifat orang lain.
“Kalau kamu mau keliling Jakarta, aku bisa lho nemenin. Kapan aja kamu butuh, jangan ragu telefon aku. Jangankan Jakarta, se-Indonesia juga aku bisa. Apalagi kalau kamu mau ke Kalimantan. Bakal aku temenin sampai ke sudut-sudut pulaunya. Jadi kamu bakal tau investasi yang tepat buat masa depan HWK Grup.”
“Pasti. Jangan bosan ya jika dapet telefon dan saya ajak ketemu tiba-tiba.”
Ruly menatap Semmy dengan pandangan mematikan. Dalam hati, Semmy mengutuk dirinya sendiri karena berani bermain api pada laki-laki itu. Bisa-bisa dia malah membahayakan dirinya sendiri karena pesona yang ditebar Ruly.
Hasta hanya menggeleng pelan. Dia tak tahu menilai siapa yang harus waspada di antara mereka. Ia sudah lama mengenal sepak terjang Semmy yang tak ragu memikat seseorang demi mencapai tujuannya. Itulah yang membuat Hasta menjaga sikapnya di depan wanita itu. Sedangkan Ruly? Dia belum mengenal sama sekali.
Sepintas Hasta melihat, Ruly adalah tipe laki-laki yang yang lihay dalam menghadapi perempuan. Bagi Hasta, Semmy memang wanita pemikat yang berbahaya, salah langkah bisa saja membuat orang yang terpikat memberikan segalanya dan mengikuti perintahnya. Batinnya bertanya apakah Ruly akan takluk terhadap Semmy? Lalu apakah itu akan menguntungkan baginya karena Ruly akan menjauhi Wida?
“Jam dua siang ini, saya ada meeting tentang pengembangan aplikasi wisata dengan rekanan dari Australia. Jadi kalau kalian mau lanjut, silakan,” ucap Hasta setelah selesai dengan makan siangnya.
“Hmm ... Kali ini kita belum bisa lanjut. Saya juga ada janji dengan Tante Asih dan Om Handi.”
“Nggak masalah. Makan siang ini cukup bagiku. Yang pasti proyek kita pasti jadi kan, Hasta? Ya... kita bisa obrolin itu nanti deh. Aku juga udah selesai. Makasih makan siangnya ya, guys.”
Mereka bertiga keluar dari restoran dan berjalan bersama. Sesampainya di depan kantor, Hasta pamit lebih dulu karena harus menyiapkan materi untuk meeting-nya nanti dan ia meminta Elok untuk mengantar kedua tamunya turun. Ruly dan Semmy berjalan menuju lift, dari kejauhan mereka melihat Wida yang jalan ke arah mereka.
Suasana hati Ruly berubah seketika saat melihat Wida. Rasa cemas mulai menghampirinya. Semmy menyadari kegelisahan yang Ruly hadapi.
“Kenapa, Rul?”
“Hmm... Perutku. Makanan tadi. Saya belum terlalu biasa dengan menu Indonesia. Kamu duluan saja. Saya perlu ke toilet,” ujar Ruly sebagai alasan padahal ia sering makan masakan Indonesia yang dibuat mamanya.
Ruly segera pergi meninggalkan Semmy dan Elok tepat saat Wida sampai di depan mereka. Wida menatap Ruly sekilas. Pandangannya yang tajam kini mengarah pada Semmy.
“Hai, Wid.”
Wida tak menjawab sapaan Semmy. Ia hanya memberikan senyum sambil menampakkan wajah angkuh. Semmy sudah mulai terbiasa dengan sikap yang Wida berikan padanya.
Elok menjadi kikuk berada di depan kedua wanita ini. Ia tahu bahwa kedua wanita ini memiliki persaingan yang tak tampak di depan orang lain. Jika di acara resmi, mereka bisa saling melempar senyum dan pujian ramah tamah. Tapi jangan harap hal itu terjadi dalam situasi seperti ini karena mereka telah siap dengan taringnya masing-masing.
Oh, Tuhan, Elok sangat berharap tidak akan terjadi peperangan di siang hari seperti ini.
“Mungkin urusanku dengan HWK Grup akan lebih mudah dengan pemilik saham yang baru nantinya,” lanjut Semmy.
Wida tetap diam, ia hanya mengangkat satu alisnya sebagai respon untuk ucapan Semmy. Elok kembali resah. Semoga saja lidah Wida tidak terpancing dengan sikap Semmy.
“Ya, kami sudah makan siang tadi. Berkenalan dan saling tertarik satu sama lain. Dia jauh lebih ramah darimu, Wida.”
Kali ini Wida tersenyum masam, membuang muka ke arah lain sambil memutar bola matanya. Ia sama sekali tidak tertarik dengan topik yang Semmy bicarakan.
“Silakan dekati lelaki nggak sinkron itu tapi jangan coba-coba mendekati Hasta,” batin Wida kemudian ia melangkah meninggalkan Semmy.

หนังสือแสดงความคิดเห็น (111)

  • avatar
    04Bunga

    seru

    31/05/2025

      0
  • avatar
    NOVA LAILA RAHMA D.S088_

    bagus banget

    20/04/2025

      0
  • avatar
    Srmrryn

    lumayan lah

    27/11/2024

      0
  • ดูทั้งหมด

บทที่เกี่ยวข้อง

บทล่าสุด