Ruly mulai menangkap cahaya saat ia mulai membuka sedikit matanya. Ia mendapati dirinya berada di dalam sebuah ruangan berwarna putih. Ia menarik napas lega. Bersyukur, ternyata dirinya masih hidup. “Kamu sudah sadar, Ruly?” Ruly menangkap wajah dari pemilik suara yang menyapanya. “Tante Asih, maaf ya. Jadi merepotkan,” ujar Ruly lirih. “Kamu pasti capek banget ya? Sampai pingsan begitu? Untung aja Wida datang ke apartemen kamu tepat waktu terus bawa kamu ke sini. Kalau tidak? Duh, Tante tidak tahu deh nanti mau ngomong apa sama mama kamu di Belanda.” Ruly memberi senyum tipis atas penjelasan Asih. “Sekarang apa yang kamu rasa?” “Cuma sedikit pusing, Tante.” “Dari kemarin lho kamu tidak sadar. Tante panggil dokter dulu, ya,” ujar Asih yang kemudian menekan bel di samping ranjang. Tak lama seorang dokter laki-laki berusia kurang dari lima puluh tahun datang ke kamar Ruly. “Sudah sadar rupanya pasien tampan kita ini,” sapa dokter membuat Asih tersenyum. “Ruly, ini Dokter Pram yang juga merawat Om Handi di sebelah. Ini Ruly, Dokter Pram. Anak sahabat saya yang tinggal di Belanda. Dia baru datang kemarin,” ucap Asih saling mengenalkan mereka berdua. “Wah, blasteran rupanya. Pantes ruang perawat tadi geger, Bu Asih. Antusias sekali mereka sama pasien VVIP yang satu ini,” lanjut Dokter Pram sambil memeriksa kondisi Ruly. Ruly kembali tersenyum. “Ganteng tetapi tukang galau ya?” Ruly menatap Dokter Pram sambil mencoba memahami ucapan dokter itu barusan. Galau adalah kosakata baru baginya. “Kalau minum obat penenang itu kira-kira dong. Kalau telat sedikit dibawa kemari, bisa-bisa kamu tenang selama-lamanya. Sayang 'kan? Masih muda dan fresh begini. Sudah lama ya mengkonsumsi obat itu? Tidak mungkin 'kan, kamu tidak tau dosisnya?” Ruly menarik napas sambil tersenyum malu mendengar perkataan Dokter Pram. “Udah tidak papa kok pasiennya, Bu Asih. Cuma suruh banyak-banyak piknik deh biar tidak perlu minum obat penenang lagi ya. Sore ini juga bisa pulang.” Setelah dirasa semua selesai, dokter Pram segera pamit dari kamar Ruly. “Tante sudah lama ya tunggu saya di sini? Om gimana keadaannya, Tante?” “Om baik-baik aja, Rul. Tadi juga baru dari sini. Kamarnya pas banget di sebelah kamu. Sore ini Om juga mau pulang. Kalau gitu, kamu pulang ke rumah kami aja ya, Ruly. Biar tidak sendirian kaya gini lagi.” “Tidak usah, Tante. Biar saya balik ke apartemen. Ini cuma kebetulan karena kondisi saya sedang tidak fit.” Ruly mengelak. Ia mendengar dengan jelas perintah dokter barusan. Jalan satu-satunya untuk mentaati perintah itu adalah menjauh dari Asih dan Handi karena mereka memiliki andil yang besar untuk kondisi mental dan fisiknya saat ini. “Ya sudah kalau maunya kamu begitu. Kalau perlu apa-apa jangan sungkan bilang sama Tante ya. Kalau kamu sudah sehat, kamu bisa datang ke kantor juga. Biar tahu perusahaan yang dirintis almarhum ayahmu. Jangan sungkan juga minta tolong sama Hasta, dia anak angkat kami. Pasti mau bantu kamu.” Ruly mengacungkan dua jempol sebagai jawaban untuk Asih. ~●~ Ruly benar-benar kembali ke apartemen pada sore harinya. Ia kembali menolak tawaran Asih dan memilih taksi untuk mengantarnya pulang. Namun ia tak bisa menolak saat Asih memasukkan berbagai jenis makanan ke dalam taksi untuk ia bawa pulang. Kamu adalah tanggung jawab kami di sini, ucap Asih kemarin. Makanan yang diberi oleh Asih cukup untuk hari ini dan juga esok. Hari sudah mulai malam. Ia menikmati cuaca cerah sambil menikmati minuman kaleng di teras balkon. Langkah apa yang harus ia ambil saat ini? Saat Esmee memintanya menikah kemarin, ia bisa dengan mudah pergi ke Jakarta karena ia yakin tingkahnya tak akan memberikan efek apa pun pada kehidupannya. Bukan berarti saat ini ia tak bisa melarikan diri, sungguh mudah baginya untuk tinggal di negara mana pun ... karena punya uang. Namun sekarang? Selama ini ia dan mamanya memang bergantung hidup dari keuntungan perusahaan yang terus mengalir. Keuangan yang ia miliki cukup untuk menopang gaya hidup yang ia pilih. Mamanya pun tak pernah memaksanya untuk bekarja atau mendirikan usaha selepas ia selesai kuliah. Mungkin di sinilah masalahnya. Ia bukanlah orang yang pintar memegang uang. Menabung atau investasi tak pernah ada dalam kamusnya. Jika ia menolak pernikahan ini dan saham perusahaan jatuh ke tangan Wida seperti yang Asih ceritakan itu benar maka ia pun harus memikirkan keadaan mamanya. Ruly pun membawa pikiran itu sampai ia pergi tidur. Pagi ini Ruly sudah merasa benar-benar sehat. Ia menggunakan stelan jas berwarna hitam dengan kombinasi berupa garis berwarna merah di ujung tangan dan saku. Ia memutuskan untuk datang ke kantor HWK Grup. Ruly tiba tanpa penyambutan. Tentu saja karena ia tidak memberitahu siapa pun tentang kedatangannya hari ini. Terdengarlah suara mendengung seperti sarang tawon dari dalam lobi saat Ruly memasuki ruangan itu. Penampilan Ruly menjadi pusat perhatian sehingga semua yang melihatnya berbisik, bertanya-tanya dan memberi komentar. Ruly menyadari hal itu. Maka ia pun memberi senyuman pada setiap orang yang kebetulan saling bertatap mata dengannya. Ruly menyapa dua orang resepsionis di belakang meja. “Selamat pagi, saya Ruly Rama Wijaya dan saya ingin bertemu dengan Bapak Hasta,” ucap Ruly lancar dengan logat Belanda yang kental. Ia memang sengaja menghindari Bahasa Inggris atau Bahasa Belanda selama di Jakarta. Ia ingin melatih lidahnya dan juga ia ingin agar lebih diterima oleh orang-orang di sekitarnya. Resepsionis yang harus mendongak saat melihat Ruly segera mengantar ke lift menuju ruangan Hasta. “Terima kasih, Cantik,” ucap Ruly membuat resepsionis itu tersipu. Ruly menyapa dan berkenalan dengan sekretaris Hasta. Elok namanya. Gadis itu memiliki wajah dan kulit yang eksotis bagi Ruly. Elok menyambut Ruly dengan sedikit kaku. Ia terpesona dengan wajah dan penampilan Ruly tetapi juga bingung karena baru saja Elok mendapatkan telefon dari resepsionis lainnya bahwa Ruly sedang menuju ke tempat Hasta. Namun, kini ia tak memiliki waktu untuk memberi kabar pada Hasta bahwa Ruly ingin menemuinya. Hasta sering berpesan bahwa ia tidak suka menerima tamu secara mendadak termasuk Wida. Hanya saja Elok tak pernah berhasil menghalau gadis itu. “Baik, Nona Elok. Di manakah ruangannya?” ucapan Ruly memotong lamunan Elok, ia hanya bisa menggerakkan jari telunjuknya ke arah ruangan Hasta. Tanpa menunggu jawaban, Ruly segera melangkah masuk ke dalam ruangan yang Elok tunjuk. “Pak ... Pak Ruly. Tunggu, Pak.” Ruly menghentikan langkah dan Elok segera menghampirinya. Dengan sedikit ragu, Elok membuka pintu ruangan Hasta. Hasta sedang sibuk membaca materi proyek terbaru di layar laptopnya. “Pagi, Pak Hasta. Ada tamu yang ingin menemui Bapak.” “Seingat saya, saya tidak punya janji hari ini, Lok.” “Hello, Hasta.” Hasta melirik dari balik laptop, ia tak menyangka bahwa Ruly yang muncul dari balik pintu.
seru
31/05/2025
0bagus banget
20/04/2025
0lumayan lah
27/11/2024
0ดูทั้งหมด