logo text
เพิ่มลงในห้องสมุด
logo
logo-text

ดาวน์โหลดหนังสือเล่มนี้ภายในแอพ

Sebuah Kejadian di Kamar Mandi

Seorang gadis mungil membiarkan tubuhnya terjatuh pelan di atas ranjang empuknya. Bukan cuma kesal yang ia rasakan. Marah. Bisa-bisanya Asih mengatakan hal-hal yang tidak ia mengerti. Ia membenamkan wajahnya ke dalam sebuah bantal. Lebih baik dia istirahat terlebih dahulu malam ini. Pagi nanti ia akan kembali ke rumah sakit untuk meminta penjelasan dari kedua orang tua itu.
Wida Tiara Hartono pagi ini berdiri di depan cermin. Ia telah selesai mengoles riasan tipis pada wajah imutnya. Hari ini ia memilih tampilan casual dalam balutan celana jeans dan kaus lengan panjang berwarna biru muda. Mobilnya meluncur dengan santai kembali menuju rumah sakit.
Wida berdiri di depan pintu kamar Handi. Ia melihat Asih sedang mendampingi Handi sarapan. Dengan perlahan, Wida pun masuk dan menyapa keduanya.
“Pagi, Om, Tante,” sapa Wida sambil memberikan senyuman hangat.
“Ah, Wida. Kita ketemu lagi di sini ya, Wid. Kamu udah sarapan?”
“Udah, Om. Tadi sebelum kemari aku sempet sarapan di rumah. Om gimana sekarang?”
“Alhamdulillah, sepertinya mendingan. Sebenarnya tidak kenapa-napa kok, Wid. Tantemu aja yang panikan. Jadi nginep lagi 'kan di sini.”
“Iya, tidak kenapa-napa, Wid. Cuma sesak napas terus pingsan pas mau ngantor kemarin,” celetuk Asih.
Wida tersenyum lega melihat keadaan Handi yang mulai membaik. Ia sengaja menunda pertanyaan yang menumpuk dalam otaknya sampai Handi menyelesaikan sarapannya dan juga melalui pemeriksaan pagi hari.
“Wida, Tante bilang kamu sudah setuju ya tentang pernikahan itu?” tanya Handi saat mereka bertiga duduk di teras depan kamar rawat Handi.
“Hmm ... Pada dasarnya sih Wida memang sudah mau menikah, Om. Sudah umur dua puluh dua 'kan. Tidak ada niat juga buat menunda-nunda nikah. Tetapi itu, calonnya diganti, boleh, ya? Sama Hasta sajalah. Wida juga tidak nyaman sama siapa tuh namanya? Ruly ya? Ih, kayanya buat jadi teman saja tidak asyik tuh orang. Jadi pacar Wida juga tidak memenuhi syarat, Om. Terus jadi suami? Yang benar saja sih, Om?” Wida merengek sambil memainkan bibir tipisnya.
Handi dan Asih tersenyum melihat tingkah Wida.
“Bisa diganti kok, Wid. Apa sih yang tidak buat kamu?”
“Serius, Om? Tuh 'kan bisa, Tante. Ih Tante Asih nih kemarin benar-benar kaya ibu tiri, deh, Om. Sebel.” Wida memeluk Handi semringah tak peduli Asih cemberut mendengar ucapannya.
“Ya kalau kamu memang mau pilih Hasta, kamu harus merelakan kalau saham semua perusahaan jadi milik Ruly,” jawab Handi sambil membalas pelukan Wida.
“Eh? Gimana, Om?”
“Iya. Semua saham milik kamu, sepenuhnha jadi milik Ruly. Kamu kalau mau pilih Hasta dan masih mau jadi pemegang saham terbanyak, bisa patungan buat beli. Nanti bisa dijelaskan rinciannya sama pengacara.”
Wida menaikkan alisnya secara bergantian. Ia baru saja memikirkan kalimat yang terlontar dari Handi, membeli saham perusahaannya sendiri? Lalu hasil penjualannya buat siapa? Laki-laki tidak sinkron itu? Dih ... enak banget tuh orang!
Lalu uang dari mana untuk membeli saham-saham perusahaan agar tidak jatuh ke tangan orang itu?
“Itu bukan Om lho yang bikin peraturan, Wid. Tetapi almarhum papamu dan papanya Ruly. Awalnya mereka bercanda tetapi ternyata mereka benar-benar membawa rencana itu ke pengacara perusahaan,” sambung Handi sambil mengangkat bahu.
Wida mendengus sebal. Bercandaan orang zaman dulu sama sekali tidak lucu.
“Tenanglah, Wida. Ini tidak serumit yang kamu bayangkan sebenarnya. Lagipula Ruly juga tidak kalah ganteng dari Hasta 'kan?” ujar Asih. Wida hanya memberikan senyum datar sebagai jawaban.
“Oiya, Sayang. Aku belum sempat bertemu anak itu? Dia tinggal di mana sekarang?” Handi bertanya kepada Asih.
“Di Pondok Indah, Mas. Aku memberikan satu kunci apartemen untuk Ruly di sana. Dia bilang sih nanti mau telefon. Namun sampai sekarang belum tuh.”
Hari sudah menjelang siang. Wida memutuskan untuk pamit. Setelah semua percakapan yang dilalui, ia pikir tak akan ada yang dapat mengubah keputusan Handi dan Asih.
Sesampainya di apartemen yang ia tempati, Wida segera masuk ke sebuah kamar yang ia khususkan untuk menyimpan barang-barang kesayangannya. Koleksi tas-tas mahal bertengger manja di dalam sebuah lemari kaca, begitu pula sepatu-sepatu cantik dan pakaian brand terkenal.
Terlintas dalam otaknya jika ia harus menjual semuanya. Namun itu pun belum tentu mampu menutupi setengah harga yang diperlukan. Wida pun beralih ke kamar dan duduk terpaku di tepi ranjang. Pandangan matanya jatuh pada nakas di samping ranjang. Bibirnya mengerucut karena bisa jadi ia juga harus melepaskan berlian-berlian yang berada di dalam nakas itu. Memikirkan hal itu membuat perutnya mulas seketika.
Wida terus bersungut di dalam kamarnya. Berjalan mondar mandir, mengacak-acak rambut sekaligus menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Batin Wida bergejolak. Masalah ini tak bisa dianggap sepele, pikirnya. Wida berdiri sejenak di depan cermin, merapikan rambut sekedarnya kemudian mengambil kembali kunci mobil dan segera keluar dari apartemennya.
Di belakang kemudi, Wida terus berpikir tujuan mana yang akan dia pilih. Ke tempat Hasta? Tidak. Itu bukanlah pilihan yang tepat untuk saat ini. Wida terus meluncurkan mobilnya menuju kawasan apartemen di Pondok Indah. Ia ingat betul apa yang Asih katakan tadi. Ruly tinggal di sana. Tepat di apartemen yang pengelolaannya berada dalam tangannya.
Wida segera menuju kantor pengelola apartemen, ia meminta diantar ke kamar yang Ruly tempati. Seorang petugas yang kemarin mengantar Ruly, kini kembali mengantar Wida ke lantai sepuluh. Ketika pintu lift terbuka, mereka berpapasan dengan pasangan yang tinggal di lantai sepuluh lainnya dan mereka saling melemparkan senyum.
Wida menekan bel pintu unit apartemen Ruly tetapi tak ada jawaban. Ia pun mengulangi hingga lima kali, menekannya dengan kesal. Tak ada jawaban dari dalam. Wida mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya tetapi yang ada ia malah mendengus semakin kesal karena ia tak memiliki nomer telefon pemuda yang paling menjengkelkan sedunia kali ini.
Wida berjalan bolak-balik di depan pintu apartemen. Ia kembali merunut kejadian semalam.
“Kalau dipikir-pikir, semalam Ruly itu pulangnya juga mendekati larut malam. Ditambah lagi kondisi tubuhnya yang sedang letih. Kalau begitu ada kemungkinan dia belum mengubah kode keamanan pintu apartemennya,” ucap Wida pada dirinya sendiri.
Wida pun berhenti di depan pintu kemudian menekan kode kunci standar yang diatur oleh pihak pengelola dan taraaa ... pintu pun terbuka.
“Rul ... Ruly ... hellooow.”
Wida melangkah ke dalam apartemen Ruly.
“Sepi. Apa dia tidak tidur di sini ya? Rul ....”
Wida tetap berjalan memeriksa keadaan. Ia mendengar suara air mengalir tetapi kamar mandi di ruang utama kosong. Kemudian ia melangkah ke arah kamar yang pintunya terbuka. Ia melihat koper Ruly ada di sana, baju, sepatu tak beraturan letaknya dan juga sebuah kotak obat yang isinya berserakan. Pandangan Wida terpaku pada pintu kamar mandi kamar yang terbuka.
“Dia di kamar mandi? Pintu tidak ditutup begitu tetapi tidak dengar dari tadi ada yang memanggil? Jangan-jangan kupingnya tidak sinkron juga tuh orang,” ucap Wida lirih.
“Rul .... Ruly. Kamu di kamar mandi? Sorry ya aku menyelonong. Kamu juga sih tidak jawab dari tadi aku panggil. Sudah begitu kode pintunya tidak diganti. Badewe, banyak yang perlu kita bahas, Rul.”
Wida berbicara dengan suara lumayan keras, ia yakin Ruly dapat mendengarnya dari dalam kamar mandi.
“Rul, kamu dengar tidak sih?” tanya Wida lagi sambil kepalanya mengarah ke kamar mandi.
“Tidak mungkin kan aku liat ke dalam kamar mandi? Atau jangan-jangan dia keluar tetapi tidak mematikan keran air?” kembali Wida berucap lirih.
Karena penasaran akhirnya Wida memutuskan melangkah dan melihat ke dalam kamar mandi.
“Ruly!!! Astagaaa ... kenapa nih orang?”

หนังสือแสดงความคิดเห็น (111)

  • avatar
    04Bunga

    seru

    31/05/2025

      0
  • avatar
    NOVA LAILA RAHMA D.S088_

    bagus banget

    20/04/2025

      0
  • avatar
    Srmrryn

    lumayan lah

    27/11/2024

      0
  • ดูทั้งหมด

บทที่เกี่ยวข้อง

บทล่าสุด