logo text
เพิ่มลงในห้องสมุด
logo
logo-text

ดาวน์โหลดหนังสือเล่มนี้ภายในแอพ

Dosa di Kehidupan Masa Lalu

Pemuda dua puluh lima tahun yang baru saja tiba itu memasang ekspresi entahlah pada wajahnya. Sayangnya diskusi mereka harus terpotong karena kedatangan dokter yang meminta mereka untuk keluar kecuali Asih. Dokter tak ingin istirahat Handi terganggu dan Asih pun berjanji akan menjelaskan semua secepatnya juga sedetail mungkin.
“Dengar, ya! Aku tidak minat nikah sama kamu. Huh! Kenal juga tidak, nikah?” serbu Wida sambil melentikkan jari telunjuknya ke wajah Ruly saat keluar dari ruangan Handi.
“Jangan-jangan ini akal-akalan kamu ya, Ruly? Kamu ingin memiliki semua saham perusahaan. Mengurusi, perusahaan juga tidak pernah 'kan? Cuma ambil keuntungan doang,” tambah Wida lagi.
Ruly menaikkan kedua alis kemudian memijat kening dengan tangan kanan sementara tangan kiri masih menggenggam gagang koper miliknya. Ia sendiri tidak paham dengan apa yang terjadi barusan. Bukankah mamanya bilang ini akan menjadi pembicaraan tentang perusahaan keluarga? Kenapa malah jadi urusan pernikahan? Ditambah lagi, aduh. Kenapa anak ini bicara terus sih?
Empat belas jam di pesawat bukanlah sebuah hal yang menyenangkan bagi Ruly. Ia butuh istirahat agar jetlagnya hilang. Namun, sekarang ia sadar bahwa menghilangkan gadis sombong dan cerewet ini dulu pasti akan jauh lebih menyenangkan.
“Saya juga tidak ada minat nikah sama kamu, tuh. Maaf ya, otak saya masih normal, bisa dipakai buat pilih-pilih perempuan.” Ruly membalas ucapan Wida tak kalah ketus.
Dua bola mata Wida melebar, bibirnya sedikit terbuka. Ia tak percaya dengan ucapan yang baru saja dia dengar dari Ruly. Hasta berdiri di samping Wida, tangan kanannya ia simpan di dalam saku celana. Hasta memandang Ruly, ia menilai dalam diam. Untuk sementara ia hanya bisa berpendapat bahwa Ruly berusia lebih muda darinya tetapi lebih tua dari Wida. Ruly tak peduli dengan tatapan itu. Tanpa kata, ia pergi meninggalkan Wida dan Hasta begitu saja.
“Cih. Ada ya orang menyebalkan seperti itu? Warna mata sama warna kulit tidak sinkron saja, belagu. Whaaa ... Haaa ... Hastaaa ... Bagaimana, nih?” rengek Wida sambil mengentakkan pelan kedua kakinya secara bergantian.
“Aku antar kamu pulang dulu. Lain kali kita bahas masalah ini.” Hasta mencoba menangkap masalah apa yang sedang ia hadapi.
Ruly terpaku di kursi belakang sebuah taksi yang sedang meluncur ke kawasan daerah Pondok Indah. Sebuah apartemen telah disiapkan oleh Asih untuk ia tempati selama tinggal di Jakarta. Ruly menatap keluar jendela, dosa apa yang telah ia lakukan di kehidupan masa lalunya hingga harus bertemu masalah seperti ini?
Getaran dari saku kemejanya yang dari tadi ia abaikan kini menyadarkan lamunannya. Tiga belas pesan dan dua puluh empat panggilan tak terjawab dari sebuah nama. Esmee Van Dijk. Tak perlu lagi Ruly menebak dosa di masa lalunya, bisa jadi ini adalah balasan atas dosa yang sedang ia lakukan pada gadis Belanda yang selama ini menemaninya.
Ruly kembali menyimpan ponselnya ke dalam saku. Ia menarik napas panjang. Kepalanya yang telah berdenyut dari tadi kini memberikan rasa nyeri hebat. Keningnya dipenuhi bulir-bulir keringat. Perutnya mulai bergejolak dan jantungnya berpacu dua kali lebih cepat.
“Pak. Bapak tidak kenapa-napa kan? Mukanya pucat sekali, Pak,” tegur sopir taksi.
“Oh ... Tidak. Saya baik-baik aja, Pak. Mungkin bisa lebih cepat sedikit. Saya perlu segera beristirahat,” jawab Ruly.
Sopir taksi menurut dan mobil pun melaju semakin cepat. Ruly berjalan cepat menuju lobi apartemen. Menunjukkan identitas dan juga memberikan informasi kepada petugas di lobi. Begitu mengetahui bahwa Ruly adalah salah satu orang penting yang ditunggu, seorang petugas pun segera mengantar Ruly ke unit apartemennya.
Petugas mengantar ke kamar Ruly yang terletak di lantai sepuluh. Kamar apartemen yang cukup luas dan sudah tersedia fasilitas lengkap. Dua buah kamar tidur, dua buah kamar mandi, dapur kecil, ruang santai sekaligus ruang tamu dan juga sebuah balkon. Sekilas Ruly menilai tempat ini cukup nyaman untuk ia tempati. Dekorasi yang Asih pilih adalah minimalis dengan nuansa hitam putih hingga memenuhi kesan manly sangat cocok untuk Ruly.
Ruly mengucapkan terima kasih pada petugas yang mengantarnya. Kemudian ia kembali menyeret koper menuju kamar. Ruly memilih kamar yang berukuran lebih besar yang memiliki satu buah kamar mandi kecil. Kamar itu telah terisi satu tempat tidur king size, satu buah sofa malas dengan meja kecil dan juga satu buah lemari di sana.
Ruly duduk di sofa dan mulai mencari kotak obatnya di dalam koper.
“Sial! Bukannya dapat uang warisan, malah dapat penyakit gara-gara itu perempuan.” Ruly menggerutu sendiri sambil meraba isi kopernya.
Ruly mengambil sebuah kotak obat dari dalam koper. Obat yang ia dapatkan dari sesi pertemuan dengan dokter sebelum ia terbang ke Jakarta. Ia pikir, berada di Jakarta ia akan terbebas dari permintaan Esmee yang membuatnya sakit kepala seperti ini. Namun, nyatanya tidak. Kondisi saat ini malah jauh lebih buruk.
Dalam otaknya, Esmee jauh lebih baik dari Wida. Esmee bukanlah perempuan yang sering merengek. Tingkah lakunya selalu terjaga terutama ucapannya. Ia adalah gadis yang anggun. Esmee juga tak kalah kaya dari Wida. Bahkan gadis itu telah sukses dengan bisnis fashion yang digeluti. Sedangkan Wida? Ruly yakin gadis itu tak ubahnya hanya penikmat keuntungan perusahaan. Sama seperti dirinya. Namun setidaknya, dirinya tak pernah meremehkan dan merendahkan orang lain.
Setelah menelan dua butir pil, Ruly melangkah ke tempat tidur. Ia melepaskan sepatu kemudian merebahkan diri dan menutup matanya. Tak sampai satu menit, Ruly kembali membuka mata. Ia memilih bangkit dan duduk.
Perasaan Ruly semakin gelisah. Ia membuka bajunya yang telah basah oleh keringat. Bukan karena gerah. Saat masuk ke kamar tadi ia telah menyalakan pendingin ruangan. Ruly menekan telapak tangannya secara bergantian kemudian mengusap wajah dengan baju lalu melemparnya sembarang.
Ruly bangkit dan pindah kembali ke sofa. Mengambil beberapa butir pil yang telah ia minum tadi. Dua butir tak akan berfungsi jika keadaannya sudah seperti ini.
“Arrghh ....” Ruly mengerang, saat ini tubuhnya mulai gemetar.
Rasa letih karena perjalanan ditambah lagi pertemuan dengan Wida menimbulkan reaksi hebat pada tubuhnya. Obat pemberian dokter yang ia bawa kali ini benar-benar tak berdaya.
Tubuh Ruly semakin gemetar. Kedua tangannya menekan perutnya yang semakin tak karuan. Ruly pun berlari ke wastafel di dalam kamar mandi. Mengeluarkan semua isi dalam perutnya. Ruly menyalakan keran. Membersihkan wastafel dan juga wajahnya.
Nyeri di kepalanya semakin hebat. Kini badannya mulai terasa demam. Pandangan matanya semakin berkunang. Ia tak sanggup lagi mengangkat kedua kakinya untuk kembali ke tempat tidur. Perlahan tubuhnya gontai, merosot ke lantai dan semuanya menjadi gelap.

หนังสือแสดงความคิดเห็น (111)

  • avatar
    04Bunga

    seru

    31/05/2025

      0
  • avatar
    NOVA LAILA RAHMA D.S088_

    bagus banget

    20/04/2025

      0
  • avatar
    Srmrryn

    lumayan lah

    27/11/2024

      0
  • ดูทั้งหมด

บทที่เกี่ยวข้อง

บทล่าสุด