Sebuah maskapai penerbangan dari Amsterdam mendarat mulus di landasan Bandara Soekarno-Hatta. Para penumpang berjalan ke luar pesawat. Seorang pemuda dengan tinggi badan seratus delapan puluh lima sentimeter mendaratkan kaki di Bumi Pertiwi. Pemuda berwajah persegi, berdagu lancip dan berhidung mancung itu menarik napas panjang, menikmati udara tropis yang telah lama ia tinggalkan. Sebuah senyum tipis terlihat, menegaskan dua buah lesung pipi di wajahnya. Rambut hitam dengan bola mata berwarna biru terlihat sedikit kontras dengan warna cokelat kulit tubuhnya. Pemuda berdarah campuran Indonesia-Belanda itu segera berjalan menuju area taksi yang tersedia. Jakarta. Delapan belas tahun sudah ia meninggalkan kota ini. Sama sekali tak terpikir untuk kembali jika mamanya tidak memaksa, memintanya untuk menjenguk sahabat almarhum papanya. Ada satu pesan dari mamanya yang masih terngiang di telinganya. “Turuti dan hormatilah permintaan dari keluarga Kusuma.” Entah apa maksud dari pesan mamanya itu. Handi Kusuma dan Asih, pasangan suami istri yang biasa ia panggil Om dan Tante. Masih ada sebuah kenangan kecil tentang pasangan itu di ingatannya. Mereka berdua adalah sahabat kedua orangtuanya saat tinggal di Indonesia. Kemarin Asih memberi kabar bahwa Handi Kusuma masuk ke rumah sakit untuk ke sekian kali. Kini Asih memintanya untuk datang ke Jakarta, menjenguk sekaligus membahas masalah perusahaan yang dimiliki bersama keluarga mereka. “Rumah Sakit Pondok Indah Jakarta ya, Pak,” ujarnya dengan Bahasa Indonesia diwarnai dengan logat Belanda. Sopir taksi pun segera melajukan mobilnya menuju alamat yang diminta. **** Seorang gadis bertubuh mungil sedang berjalan cepat ke arah ruang rapat. Rambut ekor kudanya menari seiring dengan irama langkahnya. Kemeja sifon hijau muda bermotif bunga dipadu dengan rok polos menutupi lutut berbentuk a-line, membungkus rapi tubuhnya. Raut wajahnya terlihat gelisah. Tak lama ia tiba di depan ruang rapat. Seorang sekretaris yang berjaga di depan ruangan langsung berdiri dan ikut terlihat cemas. Sekretaris itu paham akan reputasi gadis manja yang berada di depannya. “Masih lama rapatnya ya, Elok?” “Sepertinya masih, Bu Wida.” Gadis berkulit kuning langsat itu merasa tidak sabar. Ia tahu hari ada rapat dengan klien untuk membuka resor baru di daerah Kalimantan. Itulah yang membuat kekasihnya tak bisa mengangkat telefon darinya. Kemudian ia pun maju dan membuka pintu ruangan yang ada di depannya. “Bu..., Bu Wida. Tunggu, Bu. Rapatnya belum selesai.” Suara sekretaris itu seakan tidak terdengar olehnya. “Hasta, kau harus cepat menemaniku.” Wida tanpa ragu merusak rapat yang sedang berlangsung. Tak peduli semua mata menatapnya. Ia segera menghampiri Hasta yang sedang mendengarkan presentasi dari salah seorang karyawannya. “Wid, ini aku masih rapat lho,” jawab Hasta menahan perasaan tidak enak di depan para koleganya. Bukan sekali dua kali Wida menerobos ruang rapat seperti ini. Dalam hati Hasta bergumam semoga kali ini Wida melakukannya untuk alasan yang jelas. Bukan karena suntuk dan minta ditemani pergi berbelanja. “Tante Asih tadi telefon. Tante bilang, pagi ini Om Handi masuk rumah sakit lagi.” Hasta terkejut. Handi Kusuma adalah Owner sekaligus CEO dari HWK Group tempatnya bekerja. Itu artinya ia harus segera meninggalkan rapat ini. “Kalian tolong teruskan rapatnya ya, nanti laporannya taruh di meja saya,” pinta Hasta kepada para stafnya. “Maaf, ya, Semmy. Saya tinggal. Ini benar-benar mendesak.” Kali ini Hasta berpamitan pada Semmy, seorang gadis muda yang cantik dan juga pengusaha dari Kalimantan yang sudah lama menjadi rekan bisnisnya. Tanpa menunggu jawaban, Hasta segera bangkit dari kursinya dan bergegas berjalan bersama Wida. Mobil Hasta segera meluncur, membawa mereka ke rumah sakit yang Wida sebutkan. Sesekali Hasta menatap wajah kekasih yang duduk di sampingnya. Raut penuh kecemasan bercampur kesedihan berada di sana. “Tenanglah, Wida.” Hasta berucap, mencoba menenangkan hati Wida. Ia paham bahwa Keluarga Kusuma telah mengambil posisi kedua orang tua Wida yang telah tiada sejak gadis itu remaja. “Mudah-mudahan Om Handi gapapa ya, Has. Duh ini pasti masalah jantungnya lagi deh. Harusnya aku tinggal di rumah mereka, bukan di apartemen. Jadi kan aku tidak update begini sama keadaannya Om Handi.” Sebuah penyesalan meluncur dari bibir tipis Wida. Mereka segera menuju ruang VVIP begitu sampai di tempat Handi dirawat. Wida membuka pintu ruang inap secara perlahan. Seorang wanita tua berpenampilan sahaja tersenyum menyambut kedatangan mereka. “Om Handi bagaimana keadaannya, Tante? Mau dibawa ke Singapura? Australia? Atau Amerika? Kapan berangkatnya? Aku ikut ya, Tante.” Wida tak bisa menyembunyikan kecemasannya, ia bertanya sambil menggenggam tangan Asih. “Tenang, Wida. Om Handi sudah ditangani dengan baik. Dia juga tidak akan ke mana-mana. Dokter bilang hanya kelelahan. Jadi hanya memintanya istirahat total.” Asih membawa Wida menuju sofa yang berada di dalam ruangan itu. “Syukurlah kalau Om baik-baik saja, Tante. Wida sampai gemeteran dapat telefon dari Tante tadi, pas di jalan.” Asih tersenyum kemudian mempersilakan Wida dan Hasta duduk bersamanya. “Dokter memang bilang keadaan Om Handi udah tidak perlu dikhawatirkan. Hanya saja ada hal lain yang perlu Tante katakan padamu, Wida.” Asih bertutur dengan halus di hadapan gadis yang sudah ia anggap putrinya sendiri. “Memangnya ada apa, Tante?” Wida menatap wajah Asih dengan serius. “Kamu tahu 'kan kalau kami ini tidak berada di usia muda lagi. Ditambah Om sekarang sudah harus rajin ke rumah sakit. Kami hanya memiliki saham sebanyak dua puluh persen di HWK Group. Karena saat itu kamu belum cukup umur, mau tidak mau, Om Handi mengambil posisi CEO di perusahaan.” Asih kembali menggenggam kedua tangan Wida. “Kami tidak punya anak, Wida. Kamu sebagai satu-satunya keturunan Hartono dan memiliki empat puluh persen saham di sini. Kami akan menyerahkan posisi CEO pada ahli waris agar kami bisa istirahat di hari tua kami. Tetapi ada syarat yang telah dibuat atas nama persahabatan orang tuamu dulu. Apakah kamu siap menjalankan keputusan yang telah lama dibuat oleh kedua orang tuamu?” “Apa syaratnya, Tante?” Wida sangat penasaran dengan penjelasan Asih. “Mudah atau tidak syarat ini, tergantung dari sudut pandang mana kamu menilai, Wida. Dulu ayahmu--Ridwan Hartono, Om Taruna Wijaya disaksikan oleh Om-mu Handi inilah yang membuat persyaratan di depan pengacara. Mereka meminta sebelum ahli waris mengambil alih perusahaan, ahli waris tersebut harus menikah dulu, Wida.” Wida termenung. Secara refleks melirik ke arah Hasta yang mengangguk pelan. “Wida siap, Tante. Wida juga tidak mau merepotkan Om dan Tante lagi.” Asih tersenyum mendengar jawaban Wida. Niatnya melanjutkan cerita terhenti saat melihat pintu ruangan itu kembali terbuka perlahan. “Baik kalau begitu, Wida. Kebetulan orang yang Tante tunggu juga sudah datang.” Asih berdiri dan melangkah menuju pintu. Seorang pemuda berkulit cokelat dan bermata biru melangkah masuk serta menyambut pelukan hangat dari Asih. “Wida, ini Ruly. Ruly Rama Wijaya. Pewaris empat puluh persen saham lainnya di HWK Group dan dia adalah calon suamimu.”
seru
31/05/2025
0bagus banget
20/04/2025
0lumayan lah
27/11/2024
0ดูทั้งหมด