logo text
เพิ่มลงในห้องสมุด
logo
logo-text

ดาวน์โหลดหนังสือเล่มนี้ภายในแอพ

บทที่ 6 Dua Sisi Yang Berbeda

Aryasa membuka akses apartemennya, lalu masuk. Ia sedikit terkejut dengan kehadiran seorang wanita paruh baya yang tengah duduk di sofa seraya menunggu kepulangannya.
"Mama ngapain disini?" tanya Aryasa dengan raut wajah dingin.
Bu Hanum menghela, lalu berjalan mendekati Aryasa."Kamu marah karena Mama nggak mau bantu kamu cari tau keberadaan Aruna?" tanyanya lembut.
Aryasa mengalihkan pandangannya, ia enggan untuk melihat Bu Hanum. "Kalau mama nggak ada kepentingan disini, mama pulang aja, Aryasa mau istirahat."
Bu Hanum menatap sedih anak laki-lakinya itu. Aryasa terlihat sangat marah padanya, tapi ia berusaha untuk meluluhkan anak laki-lakinya itu. Bu Hanum mengambil tangan Aryasa dan menggenggamnya. "Se- marah ini kamu sama mama?"
Aryasa melepaskan tangan Bu Hanum. Terlihat jelas dari sorot mata dan rahang pria itu yang mengeras kalau ia sangat emosi. "Mama masih bisa tanya? Ma, Aruna itu juga anak mama, kembaran aku, tapi mama nggak ada effort untuk cari dia," ujar Aryasa dengan nada tinggi.
"Mama punya alesan kenapa mama nggak mau cari Aruna," ucap Bu Hanum melakukan pembelaan.
"Udah ya Ma, Aryasa nggak mau debat sama mama, lebih baik mama pulang."
"Dengerin mama dulu, Yas."
"Keluar sekarang, Ma."
"Aryasa, dengerin mama dulu."
"CEPAT KELUAR, MA!" bentak Aryasa.
Bu Hanum menundukkan kepalanya seraya menahan rasa sedihnya. Ia tidak menyangka jika Aryasa akan se-marah ini padanya.
"Baik, mama akan pulang," ucapnya sedih.
"Tunggu ma," suara dingin Aryasa kembali terdengar.
Bu Hanum menoleh seraya tersenyum, berharap Aryasa berubah pikiran dan tidak marah lagi padanya.
"Lain kali kalau mama mau masuk apartemen aku bilang dulu, jangan asal masuk aja."
Senyum di bibir Bu Hanum memudar, kemarahan anak laki-lakinya itu sepertinya sudah berada dipuncak kemarahan.
*****
Aruna merebahkan tubuhnya ditempat tidur sembari memainkan ponselnya. Aruna mendengar tanda akses apartemennya berhasil terbuka. Ia segera bangkit dan membuka pintu kamarnya perlahan.
Kedua mata Aruna membulat serta senyumnya yang mengembang dengan sangat lebar saat melihat seseorang yang berada di depannya saat ini.
"Papa.." ucap Aruna seraya memeluk tubuh pak Damar.
"Aruna kangen banget sama papa," tambahnya seraya mengeratkan pelukannya.
"Papa juga kangen banget sama kamu, bahkan saat papa di Belanda, papa mikirin anak papa yang cantik ini udah makan belum ya?" ucap Pak Damar terkekeh pelan.
Aruna melepaskan pelukannya lalu memukul tubuh pak Damar pelan. "Ih, papa hiperbola banget."
"Kok hiperbola sih? Beneran papa mikir kayak gitu," ucap pak Damar.
Aruna mendonggakkan kepalanya dan melihat pak Damar. "Aruna kangen dipakein masker sama papa," ucapnya manja.
Pak Damar tersenyum, lalu menuntun Aruna untuk duduk di sofa. "Kamu tunggu sini," ucapnya lembut.
Aruna mengerutkan keningnya.
Pak Damar berjalan mengambil mangkok kecil lalu masuk ke kamar Aruna. Membuat gadis itu semakin heran.
Beberapa menit kemudian pak Damar kembali dengan senyum yang terlihat sangat hangat.
"Taraaa..." ucap Pak Damar seraya menunjukkan mangkok berisi masker.
"Kamu nyender, biar papa pakein kamu masker," tambah pak Damar.
Aruna tersenyum dan menyandarkan tubuhnya di sofa.
Dengan lembut pak Damar mengoleskan masker berwarna hijau ke wajah Aruna. "Abis pakai ini, anak papa jadi tambah cantik," ucapnya.
"Jadi sekarang aku belum cantik?" tanya Aruna.
Pak Damar terkekeh, "Anak papa tuh selalu cantik, apalagi kalau abis pakai masker, cantik banget."
Aruna melihat pak Damar lekat. Betapa beruntungnya ia memiliki papa seperti pak Damar, walaupun Aruna tidak merasakan kasih sayang dari seorang ibu, tapi pak Damar selalu memberikan hal kecil yang membuat Aruna tak pernah merasakan kekurangan kasih sayang.
"Pa, sebelah sini kayaknya belum kena deh," ucap Aruna menunjuk keningnya.
"Oke siap tuan putri," pak Damar mengoleskan masker tersebut di kening Aruna dengan senyum yang tidak memudar sedikitpun.
Lelah yang dirasakan pak Damar hilang seketika saat bertemu dan melihat senyum yang terlukis di wajah gadis kecilnya yang sekarang beranjak remaja.
Pak Damar sangat menyayangi Aruna, bahkan jika harus mengorbankan dirinya untuk Aruna, ia akan bersedia, karena baginya, Aruna adalah dunianya, jika dunianya hancur, semua tidak akan berarti lagi, begitupun juga sebaliknya.
******
Jam pelajaran olahraga di kelas XII IPA III telah usai. Kini Aruna beranjak ke lokernya untuk mengganti seragamnya.
Aruna mematung sejenak saat melihat lokernya yang kosong tidak menyisakan apapun di dalamnya. Padahal jelas-jelas sebelum olahraga ia menaruh seragamnya di dalam loker.
"Kok malah bengong, ayo cepetan ganti seragam," ucap Lula yang berada di belakang Aruna.
"Seragam gue hilang," lirih Aruna.
Kedua mata Lula membulat saat mendengar ucapan Aruna. Bagaimana bisa sebuah seragam hilang begitu saja di dalam loker. Apa mungkin seragam Aruna bisa kelayapan?
"Jangan becanda Runa, tadi gue lihat lo naruh seragam kok," ucap Lula.
"Beneran nggak ada, La," ucap Aruna.
"Mampus! Bisa dihukum lo sama Bu Dame," ucap Lula seraya mengingat Bu Dame selalu tidak suka adanya perbedaan, apalagi masalah seragam
"Lula jangan nakut-nakutin dong," ucap Aruna.
"Siapa yang nakutin? emang faktanya Bu Dame hobi ngehukum orang," sahut Lula.
Aruna terdiam seraya memikirkan nasibnya ke depan. Apa yang harus ia lakukan? tetap masuk ke kelas dan siap dihukum Bu Dame atau bolos dari kelas tanpa keterangan. Sungguh membuat kepala gadis itu hampir meledak!

หนังสือแสดงความคิดเห็น (265)

  • avatar
    Aura cantikaPasya

    bagusss banget aku sukaa bacanyaa

    17/09

      0
  • avatar
    Montekchou

    kereb

    31/07

      0
  • avatar
    WahyudiImam

    bagus

    09/06/2025

      0
  • ดูทั้งหมด

บทที่เกี่ยวข้อง

บทล่าสุด