Aruna melangkahkan kakinya menuju lapangan basket. Dari jarak beberapa meter, Aruna sudah bisa mendengar suara teriakan dari para murid perempuan yang bergerombol di pinggir lapangan untuk melihat Aryasa dan teman-temannya. "Nio sama Qausar cute banget sih kayak Upin Ipin." "Satria semangat!" "Ya ampun Aryasa ganteng banget" Aryasa nampak sangat mempesona dengan kaos putih yang ia kenakan, ditambah lagi dengan keringat yang membasahi keningnya yang perlahan turun ke bawah dagu. "Keringatnya Aryasa bikin berdamage banget." Langkah kaki Aruna terhenti saat mendengar nama Aryasa disebut. Apa Aryasa yang dimaksud adalah Aryasa kembarannya? Atau hanya kebetulan memiliki nama yang sama? Bum! Aryasa melempar bola ke arah ring dan masuk melewati ring dan jatuh ke tanah. Aryasa memutar tubuhnya, lalu tersenyum saat melihat Aruna yang berada dipinggir lapangan dengan membawa satu botol air mineral. Aruna tersadar dari lamunannya saat mendengar sorakan dari para murid yang sangat antusias melihat Aryasa berhasil memasukkan bola ke ring. Aryasa tersenyum kecil seraya berlari kecil menghampiri Aruna yang berada di pinggir lapangan. "Nah gini dong, disiplin," ucap Aryasa sembari mengambil botol air mineral dari tangan Aruna. "Lama-lama lihat si tengil sama Aryasa berasa kayak orang pacaran ya?" ucap Qausar dari jarak yang tidak jauh dari Aryasa dan Aruna. "Mana mungkin Aryasa mau sama si tengil?" sahut Nio. "Tapi kalau dilihat-lihat si tengil tuh sama Aryasa kayak punya kemiripan, iya nggak sih? Apa menurut gue aja ya?" tanya Qausar. "Mirip apanya? Kelingking?" sahut Nio. "Dih, lo mah batu!" decak Qausar. Nio dan Qausar menoleh ke Satria yang nampak memperhatikan Aryasa dan Aruna dari kejauhan dengan lekat. Satria nampak memperhatikan mereka berdua dengan tidak biasa. Nio menepuk pundak Satria keras. "Biasa aja dong ngelihatinnya," ucapnya. Satria menepis tangan Nio dari pundaknya, lalu berjalan meninggalkan kedua temannya yang sedari tadi asyik merumpi. "Ditinggalin terus, capek banget hati gue diginiin," ucap Qausar. "Lagi-lagi ditinggalin," sahut Nio. Aryasa menaikkan satu alisnya saat melihat Aruna yang jalan ditempat. "Lo kenapa?" Aruna berjalan ditempat, ia ingin sekali segera berlari ke toilet. . "Minumnya lo pegang aja ya, gue mau ke toilet, udah nggak tahan." Aryasa tersenyum miring, ia tidak akan membiarkan gadis itu pergi ke toilet dengan sangat gampang. "Sini dulu lah, temenin gue." "Sumpah gue udah nggak tahan banget." "Lo lupa? Lo masih jadi pembantu gue, jadi lo harus nurut sama gue." Aruna melihat pria yang berada dihadapannya dengan lirih, Aruna benar-benar ingin ke toilet sekarang, ia sudah tidak tahan lagi untuk membuang air kecil. "Gue mohon banget, sekali ini aja. Seterah lo deh nanti mau nyuruh gue apa aja, yang penting sekarang gue mau ke toilet," pinta Aruna. Aryasa menahan tawanya saat melihat wajah Aruna yang tampak menggemaskan, tapi ia berusaha agar tidak tertawa di depan gadis itu. "Pengen banget ke toilet?" "Banget." "Oke, gue ikut." Mata Aruna membulat saat mendengar ucapan Aryasa. Ia yang sangat yakin kalau pendengaran baik-baik saja dan tidak salah dengar. "Ikut kemana?" tanya Aruna memastikan. "Toilet." Aruna menggigit bibirnya seraya menahan rasa ingin buang air kecilnya, namun pria itu terus mengulur waktu agar Aruna tidak segampang itu untuk ke toilet. Aryasa melihat bibir Aruna dengan lekat. Ia masih ingat rasanya saat bibir mungil berwarna merah muda itu dengan lembut mendarat di atas bibirnya. Aryasa menggeleng kepalanya seraya tersadar dan langsung mengalihkan pandangannya dari wajah gadis itu. "Jangan gigit bibir gitu, mancing gue." "Mancing? Maksudnya?" Aryasa mendorong tubuh gadis itu pelan untuk menjauh darinya seraya mengalihkan pembicaraan agar Aruna tidak membahas hal itu lagi. "Udah lupain aja, sana ke toilet." ***** Aruna menarik napasnya panjang, ia merasa lega telah membuang air kecil yang sedari tadi ia tahan. Aruna terpelonjak kaget saat keluar dari toilet. Ia melihat sosok Aryasa yang berada depan toilet. Pria itu nampak asyik memainkan ponselnya seraya menyandarkan tubuhnya ke dinding. "Lo ngapain disini?" tanya Aruna. "Menurut lo?" tanya Aryasa dingin. "Oh, lo mau ke toilet, yaudah silahkan, tapi lo salah arah, toilet cowok tuh disana," ucap Aruna seraya menunjuk ke arah toilet pria yang benar. Aryasa memajukan langkahnya, membuat jarak yang sangat dekat diantara mereka berdua. "Lo- lo mau ngapain?" tanya Aruna sedikit gugup. Aruna memundurkan langkahnya, membuat gadis itu tersudut ke dinding di belakangnya. Aryasa menatap Aruna dengan sangat lekat. Perlahan sorot matanya turun melihat bibir mungil Aruna. Aruna merasakan detak jantungnya yang berdetak tidak semestinya. Ia merasa takut karena saat ini ia dan Aryasa berada di toilet, jika ada orang lain yang melihat dan melaporkannya ke guru, pasti mereka berdua akan dihukum, bahkan dikeluarkan dari sekolah. "Lo jangan macam-macam ya," ucap Aruna memperingatkan pria itu. Aryasa menarik tangan Aruna dan menghempaskan gadis itu ke sudut toilet. Pandangan tidak lepas sedikitpun dari gadis itu. Kaki Aruna terasa lemas saat Aryasa mencengkeram pergelangan tangannya, membuat gadis itu tidak bisa pergi. Aryasa tersenyum puas saat melihat wajah Aruna yang memucat, gadis itu sepertinya sangat takut, bahkan Aryasa dapat merasakan keringat dingin yang mengalir ditangan gadis itu. "Gue kira suhu, ternyata cupu!" Aruna mendengus kesal. Apa-apaan ini? apakah barusan ia dipermainkan oleh pria yang berada dihadapannya? Sial! Pria itu benar-benar manusia paling menyebalkan di bumi. Ia hampir saja pingsan karena merasa sangat takut. Aryasa menepuk bahu Aruna pelan, seraya mengikuti apa yang dilakukan Aruna tadi pagi ketika gadis itu berhasil menciumnya. "Santai aja, jangan panik," godanya.
bagusss banget aku sukaa bacanyaa
17/09
0kereb
31/07
0bagus
09/06/2025
0ดูทั้งหมด