logo text
เพิ่มลงในห้องสมุด
logo
logo-text

ดาวน์โหลดหนังสือเล่มนี้ภายในแอพ

บทที่ 4 First Kiss

Aruna menghela berat saat menginjakkan kakinya di sekolah. Bukan pelajaran ataupun suasana sekolah yang membuatnya malas, melainkan pertemuannya dengan Aryasa dan teman-temannya.
Bruk!!
Sebuah tas dilemparkan ke Aruna dengan kasar. “Nih bawain ke kelas,” perintah seseorang yang tak lain adalah Aryasa.
Panjang umur dan sehat selalu untuk Aryasa yang tiba-tiba datang di waktu yang tidak tepat.
Aruna mendengus kesal, lagi-lagi paginya dirusak oleh pria yang beberapa hari ini masuk ke dalam kehidupannya.
“Ih, Kalau datang tuh ngucap salam atau ucapin selamat pagi kek! Jangan tiba-tiba muncul kayak kuyang!” decaknya.
“Oke ulang. Selamat pagi tengil,” ucap Aryasa.
“Nggak usah, nggak perlu!” sahut Aruna sinis.
Satria, Nio dan Qausar yang melihat Aryasa dan Aruna dari kejauhan nampak heran, Aryasa tidak seperti biasanya, apalagi sampai rela menunggu seseorang, karena biasanya saat mengerjai mangsa baru, Aryasa hanya terima beres untuk mengeksekusi mangsanya. “Niat banget tuh anak jadiin si tengil pembantu, sampai ditungguin di gerbang,” ucap Nio.
Sedangkan Laura, Ezlin dan Ansel yang melihat dari sisi lain tampak kesal dengan perlakuan Aryasa yang mereka anggap tidak normal. Aryasa yang mereka kenal adalah sosok pria yang cuek dan tidak ingin banyak komunikasi dengan seorang gadis, namun sekarang berbanding terbalik. Semenjak insiden pagi itu, Aryasa jadi berubah.
“Tuh anak harus dikasih pelajaran apa ya biar nggak deketin Aryasa lagi?” tanya Laura.
“Kasih pelajaran matematika aja, soalnya matematika itu agak bikin bingung, jadi pasti dia kesusahan,” ucap Ansel enteng.
Laura menatap Ansel seolah ingin membunuh sahabatnya itu. Jika ia tidak mengingat Ansel adalah sahabatnya mungkin saat ini ia sudah mejambak rambut gadis itu.
“Kayaknya bukan tuh cewek deh yang deketin Aryasa,” ucap Ezlin.
Terlintas sebuah ide jahanam dipikiran Laura. Gadis itu tersenyum penuh arti. “ Gue punya ide. Gue akan bikin hidup tuh cewek berantakan!” ucap Laura.
“Ide apa?” tanya Ansel.
“Nanti lo juga tau,” jawab Laura.
“Ide lo aman kan, Ra? Jangan macem-macem. Apalagi kalau ide lo sampai bahayain orang lain,” ucap Ezlin yang sudah sangat hapal dengan tabiat Laura yang rela melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.
*****
Dengan sangat terpaksa Aruna harus menuruti ucapan Aryasa dan membawa tas pria itu dengan bibir yang maju beberapa sentimeter. Bahkan beberapa juga ia terlihat ingin melempar tas pria itu.
"Inget ya, cuma satu minggu gue jadi pembantu lo, selepas itu lo nggak usah ganggu hidup gue," ucap Aruna.
"Tergantung, perlu diperpanjang apa nggak," ucap Aryasa seraya tersenyum miring.
Kedua mata Aruna membulat. "Jangan-jangan lo mau ngerjain gue sampai kelulusan, cuma berkedok dicicil per minggu? Iya kan?" oceh Aruna.
Aryasa tidak menjawab ucapan Aruna, ia tetap jalan diikuti gadis itu di belakangnya. 
“Lo jangan diam aja! Iya kan lo senang ngerjain gue?” ucap Aruna dengan sedikit nada tinggi.
Aryasa membalikkan tubuhnya, membuat tubuh Aruna menabrak dada bidang milik Aryasa.
Aruna memukul tubuh Aryasa pelan. Ia sedikit terkejut dengan Aryasa yang tiba-tiba membalikkan tubuhnya tanpa memberitahunya.“Lo tuh kalau mau putar balik bilang dulu, untung aja gue nggak..” ucap Aruna menggantung.
Aryasa tersenyum penuh makna. Sikap dingin yang ada pada diri Aryasa seketika menghilang tanpa jejak saat melihat wajah Aruna yang sangat dekat dengannya. “Apa? Lo takut kalau lo nggak sengaja nyium gue?”
Kedua mata Aruna membulat, mengapa Aryasa bisa tau isi dalam pikirannya? Apa pria itu bisa membaca pikirannya?
Aruna berusaha untuk berpura-pura menghilangkan rasa gugupnya dan seolah tidak salah tingkah di depan pria itu.
“Lo pikir gue takut nyium lo?”
Aryasa memajukan beberapa langkahnya lalu menunjuk bibir tipisnya seolah menantang gadis itu.
“Nih kalau berani.”
Aruna berjinjit, lalu mendaratkan bibir mungilnya diatas bibir Aryasa dengan lembut.
Aryasa merasakan sebuah sentuhan hangat yang menyentuh bibirnya. Sebenarnya ucapan Aryasa hanya untuk mempermainkan gadis itu, tapi Aruna benar-benar menciumnya.
Terkejut? Tentu saja. Aryasa tidak menduga jika Aruna benar-benar akan melakukannya.  Ia pikir gadis itu akan takut, namun dugaannya salah, gadis itu berani menciumnya disaksikan oleh para murid yang berada di lapangan.
Kembali tertulis dalam sejarah. Selain Aryasa yang mengandeng tangan Aruna, kini Aruna berani mencium sosok pria yang mendapat gelar pacarable itu didepan murid lainnya. Sungguh Aruna mempunyai ilmu yang mantap!
"Ya ampun kesucian Aryasa udah diambil!"
"Huaa mau juga nyium Aryasa."
"Ahh! Iri banget!"
Setelah beberapa detik Aruna menjauhkan bibirnya dari bibir pria itu, lalu memundurkan langkahnya.
Satria hanya terdiam saat melihat Aryasa dan Aruna dari kejauhan. Sedangkan Nio dan Qausar sangat heboh melihat temannya dicium oleh seorang gadis yang jelas-jelas saat ini sedang menjadi mangsanya.
“Gila tuh cewek berani nyium Aryasa,” ucap Nio.
“Kok Aryasa nggak ngamuk ya? Nggak ada penolakan sama sekali lagi” tanya Qausar.
Kedua sudut bibir Aruna mengembang dengan sangat lebar saat melihat Aryasa mematung. Perlahan Aruna menepuk pundak Aryasa. “Santai aja, jangan grogi,” ucapnya menyeringai tak berdosa.
****
Aruna merutuki dirinya yang bodoh. Kenapa bisa dengan entengnya ia mencium Aryasa di depan murid-murid? Ia menyembunyikan wajahnya di dalam tas sembari menarik napasnya dalam. Ia sekarang benar-benar merasa malu.  Nasi sudah jadi bubur, tidak akan bisa berubah menjadi nasi lagi. Para murid sudah melihat tingkah bodohnya.
“Lo udah gila nyium cowok bergelar pacarable di sekolah ini?” teriak seorang gadis bernama Lula.
Aruna mengangkat kepalanya saat mendengar suara Lula yang memekakkan telinga.
"Fix! Lo gila! Aruna lo benar-benar gila! Lo udah siap emang berurusan sama Laura dan teman-temannya?" teriak Lula lebih heboh.
Beberapa murid yang berada di kelas menoleh ke arah mereka berdua.  "Berisik, nyet!" oceh salah satu murid.
Lula menoleh, menatap murid tersebut dengan sinis. "Bacot! Berisik itu hak semua orang!" ucap Lula tak mau kalah.
Aruna tersenyum kaku dan meminta maaf karena suara cempreng Lula yang mengganggu.
"Kok bisa sih lo nyium tuh cowok?" tanya Lula dengan volume suara yang merendah.
"Aduh, sebenarnya tuh nggak gitu," ucap Aruna seraya ingin menjelaskan yang sebenarnya.
"Nggak gitu gimana? Jelas-jelas gue lihat pakai mata kepala, mati hati, mata kaki dan mata batin gue kalau lo nyium dia. Lo masih mau ngelak?" ucap Lula kembali heboh.
"Gue tau sih dia itu ganteng, keren, pacarable banget. Tapi gue benar-benar nggak nyangka aja kalau lo berani nyium dia.”
Aruna merasa frustasi. Ia semakin bingung bagaimana menjelaskan yang sebenarnya pada Lula.
“Lo tuh anak baru disini, jangan macem-macem Aruna, hidup lo masih panjang di sekolah ini,” ucap Lula yang sudah tau dampak buruk dari perbuatan Aruna.
Mungkin jika waktu bisa diputar kembali, Aruna lebih memilih untuk tidak mencium pria itu. Jika diingat-ingat kembali, Aruna masih bisa merasakan jantungnya yang berdetak lebih cepat dari biasanya saat ia mendaratkan bibirnya diatas bibir pria itu.

หนังสือแสดงความคิดเห็น (265)

  • avatar
    Aura cantikaPasya

    bagusss banget aku sukaa bacanyaa

    17/09

      0
  • avatar
    Montekchou

    kereb

    31/07

      0
  • avatar
    WahyudiImam

    bagus

    09/06/2025

      0
  • ดูทั้งหมด

บทที่เกี่ยวข้อง

บทล่าสุด