logo text
เพิ่มลงในห้องสมุด
logo
logo-text

ดาวน์โหลดหนังสือเล่มนี้ภายในแอพ

Bab 5

Krystal menghela napas lelah saat melihat hamparan taman dan lapangan basket di depan sana. Mana mungkin dirinya bisa menyelesaikan itu semua hanya dalam waktu satu jam. Hingga dirinya Kembali berdecak kesal saat menyadari ada yang memperhatikannya.
“Ngapain lo senyum – senyum nggak jelas begitu?” kata Krystal saat menyadari bahwa laki – laki di sampingnya ini sedang memperhatikannya sedari tadi sembari senyum – senyum tidak jelas. Lama – lama berada di dekat laki – laki di sampingnya ini membuat Krystal bergidik ngeri.
“Emang kenapa? Mulut mulut siapa? Jadi bebas dong kalau gue senyum” jawabnya enteng. Tidak memperdulikan raut wajah Krystal yang semakin tertekuk kesal.
“Tapi jangan kearah gue senyumnya! Mau gue robek mulut lo?”
“Hidih… siapa juga yang senyumin lo? Tingkat kePDan lo terlalu tinggi ternyata”
“Semerdeka lo lah! Itu taman utamanya. Udah tau kan? Sekarang gue mau balik ke lapangan basket luar, jadi lepasin tangan gue, oke!” kata Krystal saat sudah malas untuk beradu mulut lagi dengan laki – laki aneh plus menyebalkan di sampingnya ini. Entah mimpi apa ia semalam hingga bisa bertemu orang gila seperti di sampingnya ini. Dirinya bisa ikut gila jika terus saja menanggapi ucapan tidak masuk akal laki – laki gila itu.
“Terus lapangan basket indoornya dimana? Kenapa nggak sekalian di tunjukin ke gue?” kata laki – laki tersebut yang membuat Krystal semakin kesal, waktu mereka akan terbuang sia – sia jika seperti ini terus.
Sedangkan laki – laki yang masih setia di samping Krystal berusaha mengulur waktu dengan mengarahkan pandangannya ke sembarang arah untuk mencari lapangan basket indoor. Entah kenapa dirinya masih belum ikhlas jika harus berpisah dengan Krystal secepat ini.
“Haaiish… lo itu repot banget tau nggak! Udahlah gue mau pergi, jadi cepat selesaikan tugas lo!” kata Krystal dengan menghempaskan tangannya dari genggaman laki – laki tersebut. Dirinya sudah teramat kesal dengan semua tinggah pemuda menyebalkan di sampingnya ini.
Dan akhirnya tangan Krystal terbebas dari genggaman pemuda tersebut, namun hal itu tak berselang lama. Karena laki – laki yang Krystal sebut menyebalkan, gila dan bodoh itu dengan gesitnya menarik kembali tangan Krystal. Membuat Krystal memelototkan matanya tidak percaya. Hari ini wibawa dan aura dingin Krystal seakan lenyap begitu saja di hadapan laki – laki yang belum Krystal tau namanya ini. Jangan sampai Krystal bertemu lagi dengan orang gila di sampingnya itu. Jika tidak, dirinya benar – benar akan gila dengan semua tingkanya.
“Kita pergi sama sama” kata laki – laki tersebut, kemudian berjalan mendahului Krystal.
Krystal yang mendapat perlakuan seperti itu hanya melongo tak percaya, pasalnya selama ini tidak ada yang berani memperlakukan dan bersikap seperti ini padanya di sekolah ini. Ini termasuk tindakan semena – mena terhadapnya.
Kecuali satu orang yaitu Kelvin Jae Gacuthel. Karena sejak Krystal kelas sepuluh dulu, ia dengan Kelvin sudah biasa bersama dalam setiap olimpiade matematika, ya… meskipun akhirnya Kelvin tidak bisa sampai nasional.
Tapi karena hal itulah Kelvin menjadi berani untuk memanggil Krystal honey dan sebagainya. Tentu tidak sampai seperti laki – laki gila yang sedang menggenggam tangannya erat ini, yang dengan seenak jidatnya menyeret Krystal dan menyuruhnya, memang siapa dia. Namun anehnya, Krystal jarang sekali menolaknya, bahkan bisa dibilang Krystal menuruti semua perintah dari laki – laki menyebalkan itu.
Tidak lama setelah sampai di lapangan basket indoor, Krystal segera meletakkan tasnya di salah satu bangku di sana, kemudian segera mencari sapu untuk menyapu sisa makanan yang tumpah di sela – sela bangku. Untung saja tadi pagi dirinya sempat sarapan, jika tidak mungkin dirinya akan pingsan saat membersihkan ini semua.
Sedangkan pemuda tampan yang sedari tadi bersama Krystal masih sibuk memandang dan memperhatikan setiap gerakan yang dilakukan Krystal. Krystal sekali lagi menggeram kesal saat menyadari apa yang dilakukan laki – laki menyebalkan yang bersamanya tadi, kepalanya mendadak pusing saat melihat wajah tak berdosa yang sedang memandangnya itu.
“Ngapain lo disitu?! Seharusnya lo cepet keluar dan bersihin taman belakang, emang lo mau hukuman kita di perpanjang huh?!” kata Krystal yang sudah terlanjur emosi karena tingkah laku Gilang.
“Mau kok asal itu ama lo” jawab Gilang agak pelan.
“Apa?! Tadi lo bilang apa?!” Tanya Krystal karena tidak mendengar apa yang dikatakan laki – laki menyebalkan itu. Bukan karena dia tuli, tapi karena ia sedang berada di kursi paling atas di lapangan indoor.
Sedangkan laki – laki tampan itu yang mendengar perkataan Krystal tadi menjadi salah tingkah sendiri. Krystal berhasil membuatnya salah tingkah, padahal di sekolahnya dulu, justru ia yang membuat anak – anak perempuan salah tingkah karena pekataannya. Sepertinya karma memang ada.
“Eh.. oh.. nggak apa apa kok, ya udah kalau gitu gue ke taman belakang dulu ya. Fighting buat hukumannya” kata laki – laki tersebut sebelum ia melangkahkan kakinya menuju pintu keluar lapangan.
Sedangkan Krystal hanya melongo mendengar jawaban laki – laki menyebalkan itu yang menurutnya tidak masuk akal sama sekali. Dan ya… setelah di ingat ingat lagi, mereka berdua itu belum sempat kenalan dari awal. Tapi meskipun belum kenal mereka sudah bisa berinteraksi sampai seperti ini, apa lagi kalau sudah kenalan, pasti akan ribut terus. Semoga saja tidak akan bertemu lagi. Cukup hari ini saja Krystal darah tinggi karena laki – laki tidak jelas asal usulnya itu.
Setelah dirasa sudah bersih, Krystal kembali melanjutkan bersih bersih di lapangan basket indoor, dan pasti disana tidak akan sedikit sampah yang berserakan, mengingat bahwa lapangan itu lebih sering digunakan jika pertandingan.
“Hai… gue udah selesai, mau gue bantuin nggak?” Krystal sontak memegang dadanya kala mendengar suara yang entah dari mana asalnya. Pasalnya dirinya sedang menyapu bagian bawah kursi sehingga mengharuskan ia sedikit membungkuk guna melihat bagian mana yang masih kotor. Sedangkan sang sumber suara malah berdiri tenang di hadapan Krystal dengan senyum yang senantiasa terpantri di bibirnya.
“Lo apaan sih?! Udah tau gue lagi nyapu, ngapain lo muncul tiba – tiba?!” sentak Krystal setelah menatap tajam kearah depan, sedikit mendongakkan kepalanya, mengingat ia hanya sebahu laki – laki yang belum dikenalnya itu.
“Hehehe… ya sorry. Mau gue bantuin nggak?”
“Haha.. hehe… merdeka banget ya lo dapet hukuman kayak begini? Sampai sampai nggak ada ekspresi bete di muka astral lo itu”
“Ya merdekalah… kan dihukumnya sama lo, jadi ya gue merdeka. Eh iya, seharusnya lo itu makasih sama gue, karna waktu itu gue udah selamatin lo dari orang sinting yang main pegang tangan lo dengan kasar. Baik kan gue?”
“Iya lo bener, seharusnya gue itu nggak ngikutin lo, kalau gue nggak ngikutin lo tadi, gue pasti nggak bakal dihukum seberat ini!”
“Terserah lo lah, yang penting gue udah berusaha nolong lo loh ya”
Ditengah perseteruan mereka, tak sengaja pak Hendra wali kelas siswa unggulan sekaligus kepala sekolah SMA Ellatis melewati lapangan indoor, karena mendengar keributan di dalamnya, pak Hendra segera masuk ke sana untuk memastikan bahwa tidak terjadi apa – apa dengan muridnya juga dengan lapangannya. Namun mengingat ini masih jam pelajaran, dirinya menjadi semakin penasaran dengan suara gaduh di dalam ruangan tertutup itu.
“Ada apa ini? Kenapa ribut – rebut?” Tanya pak Hendra tanpa mengetahui bahwa itu adalah Krystal si emas sekolah dan sang murid baru yang kemarin baru saja menemuinya.
Krystal yang mendengar suara pak Hendra di belakangnya hanya membulatkan matanya kaget, sedangkan laki – laki di depan Krystal yang bertemu pandang dengan pak Hendra hanya memasang wajah bingungnya, seolah bertanya kepada Krystal, kenapa gadis tersebut terlihat terkejut dan takut? Krystal yang mendapat tatapan seperti itu hanya memejamkan matanya takut, meskipun takut, ia sedikit demi sedikit memutar tubuhnya untuk berhadapan dengan pak Hendra kepala sekolahnya. Kesialan lain yang terjadi hari ini padanya.
“Eh… maaf sir sudah membuat keributan, saya tidak akan mengulanginya lagi” kata Krystal takut-takut. Sedangkan laki – laki yang kini berada di belakang Krystal mulai mendekati Krystal untuk berbisik,
“Kenapa?”
“itu kepala sekolah” jawab Krystal berbisik, tidak ingin jika kepala sekolahnya mendengar apa yang ia katakan.
Laki – laki tampan tersebut yang mendapatkan jawaban dari Krystal hanya membulatkan mulutnya. Dirinya sudah tahu jika itu kepala sekolah, hanya saja dirinya masih penasaran kenapa Krystal begitu takut. Namun karena tidak ingin memperpanjang pembicaraan lagi dikarenakan Pak Hendra sudah mendekat kearah mereka.
“Krystal?!” Tanya pak hendra tak percaya.
“Eh.. iya sir” jawab Krystal sembari mendongakkan kepalanya.
“Kenapa kamu disini?! Bukannya ini masih jam pelajaran?!” Tanya pak Hendra dengan nada tak percaya.
“Em… sebelumnya maaf pak mengganggu perbincangan bapak, tapi waktu kami hanya tinggal seperempat jam lagi, jadi kami harus membersihkan ruangan ini dulu. Emang bapak mau menggantikan kita membersihkan tempat ini? Kalau memang mau, kami akan berterimakasih sekali karena bapak mau membantu kita” sela laki – laki yang kini berada di samping Krystal dengan senyumnya karena ia merasa dirinya tak dianggap di sini. Perasaan dari tadi yang diperhatikan hanya Krystal saja, memang dirinya di sini kasat mata?
“Apa?! Membersihkan ruangan ini?! Apa apaan ini ?!!” jawab pak Hendra yang hampir mengeluarkan emosinya.
“Kenapa pak? Ada apa? Kalau memang bapak nggak mau, nggak apa apa kok pak. Tapi nggak usah marah kayak gitu” jawab laki – laki tersebut khawatir. Sedangkan Krystal hanya mampu menundukan kepalanya takut dan khawatir akan nasibnya nanti.
“Siapa guru yang bertugas hari ini?” tanya kepala sekolah dengan nada yang mulai menurun.
'Anjir... gue dicuekin' batin laki – laki tampan di samping Krystal saat sadar bahwa dirinya memang benar – benar diacuhkan.
Namun meskipun diacuhkan seperti itu, tetap saja laki – laki tersebut menjawab perkataan kepala sekolah yang sebenarnya ditujukan untuk Krystal. Melihat Krystal yang hanya menunduk dan diam saja.
“Em… pak Bag… bag… bag siapa?” katanya tak ingat, namun kemudian ia bertanya kepada Krystal dengan menyenggol lengan Krystal. Namun yang disenggol hanya menunduk, tidak mau membuka suara.
“Bagyo?” Tanya pak Hendra.
“Nah… itu! Pak Bagyo! Memang ada apa ya pak?” tanya laki – laki yang diketahui pak Hendra murit baru itu dengan wajah bodohnya.
“Kalian berdua sekarang ikut saya!” kata pak Hendra dingin.
“Mati gue, habislah sudah” gumam Krystal.
“Mati kenapa?” Tanya laki – laki di samping Krystal dengan berbisik di telinganya, Krystal yang merasa merinding di dekat telinganya langsung menoyor kepala laki – laki tersebut agak keras.
Sadar kepalanya sudah ditoyor Krystal, laki – laki berparas tampan itu hanya bergumam tak jelas dengan Krystal yang sudah beberapa langkah di depannya.
Akhirnya merekapun segera mengikuti pak Hendra yang sudah jauh di depan mereka, sedangkan laki – laki yang sedari tadi di samping Krystal segera menyamakan langkahnya dengan Krystal. Dirinya tidak mau ditinggal sendirian. Enak saja!

หนังสือแสดงความคิดเห็น (72)

  • avatar
    YulianaSanti

    bagus ceritanya

    04/06/2025

      0
  • avatar
    B.SAlbi

    novel nya keren pokonya wajib. baca📍📍📍

    29/05/2025

      0
  • avatar
    NadinKristina

    ceritanya baguss kakk, pembawaannya juga seru

    18/04/2025

      0
  • ดูทั้งหมด

บทที่เกี่ยวข้อง

บทล่าสุด