logo text
เพิ่มลงในห้องสมุด
logo
logo-text

ดาวน์โหลดหนังสือเล่มนี้ภายในแอพ

Bab 4

"Hei ngapain di situ?! Sini!"
Mendengar ada yang memanggilnya, Krystal sontak membelalakan mata saking terkejutnya. Dirinya tidak menyangka akan ketahuan secepat ini. Padahal ia berencana menyelinap ke dalam kelas.
"Matilah gue..." kata Krystal dengan lirih tidak berani mengalihkan pandangannya. Hingga setelah beberapa detik tak didengar suara langkah kaki mendekat, akhirnya Krystal memutuskan untuk mengedarkan pandangannya.
"Hei.... Disini!"
Setelah beberapa kali mengedarkan pandangannya menyusuri sekolah, Krystal akhirnya menemukan asal suara yang memanggilnya tadi. Dirinya segera mengarahkan pandanganya ke arah yang menunjukan pertengahan antara kelas sepuluh IPA dan IPS. Ia menyipitkan matanya untuk memperjelas penglihatannya.
Sedangkan di tempat yang sedang dipandangi Krystal, terlihat pemuda tampan dengan rambut hitam dan seragam sekolah yang sama dengan yang dikenakan Krystal berdecak kesal karena merasa orang yang dipanggil diam di tempat. Pemuda tersebut segera berlari ke arah gadis itu dan segera menyeretnya untuk ke tempat persembunyiannya tadi.
"E.. eeh... kita mau kemana? Arah kelas gue bukan ke sini tapi lurus" kata Krystal saat merasa pergelangan tangannya di seret dengan paksa.
"Udah diem dulu" jawab pemuda tampan tersebut, masih dengan memegang pergelangan tangan Krystal erat.
Tidak lama setelah sampai di tempat persembunyiannya, pemuda tersebut melepaskan genggamannya. Dirinya juga tidak mau membuat masalah dengan murid yang belum ia ketahui namanya ini pada hari pertamanya. Itu akan menyusahkan.
"Udah, sekarang lo diem di sini dulu oke?" kata pemuda tersebut kemudian mengalihkan pandangannya, guna Kembali mengawasi setiap sudut sekolah jika saja penjaga hari ini lewat ataupun mengetahui keberadaan mereka.
"Tapi ngapain ke sini sih, kalau gue kesini, yang ada gue tambah telat tau nggak?" jawab Krystal kesal sembari memalingkan wajahnya, mengikuti arah pandang pemuda di sampingnya.
"Udah diem di sini dulu sampai penjaga hari ini masuk kelas" Krystal mengernyitkan dahinya heran, laki – laki di sebelahnya ini aneh.
"Emang kalau udah masuk kelas mau ngapain"
"Ya kita baru masuk ke kelas kita lah..." jawab pemuda itu dengan enteng, masih dengan pandangan siaga mengawasi sekeliling, dirinya bahkan tidak menyadari jika Krystal masih saja diam di tempat.
"Lo bicara sama siapa sih?" tanya Krystal heran, karena merasa dirinya tidak berkata apapun, dan pemuda di sampingnya ini berbicara sendiri dengan santai.
"Ya.. sama..." jawab pemuda tampan itu terpotong karena merasa ada yang janggal dengan pertanyaan Krystal. Bukankah yang bertanya padanya tadi gadis di sampingnya ini? Sadar akan suara yang menanyainya bukanlah suara perempuan, sontak ia dan Krystal pun segera memutar kepala ke arah belakang mereka.
Mereka berdua menahan napas detik itu juga saat mengetahui siapa yang berdiri di belakang mereka dengan tangan bersedekap memperlihatkan wajah garangnya. Krystal mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum memutuskan untuk berbicara terlebih dahulu, sebelum laki – laki di sampingnya ini berbicara sembarangan.
"Eh... hallo sir... haha... kami di sini hanya berteduh kok" kata Krystal mengelak saat tau bahwa tadi yang bertanya pada Gilang adalah pak Bagyo.
Ia lupa bahwa hari ini adalah jadwalnya guru lumayan killer ini yang bertugas untuk menjadi penjaga. Ya... meskipun itu kata anak bahasa sih, karena pak Bagyo itu tidak pernah mengajar kelas unggulan. Lebih tepatnya pak Bagyo mengambil alih kelas Bahasa dikarenakan kelas tersebut tidak ada yang mengurusi.
"Pssht... emang kenapa?" Krystal berdecak kesal saat laki – laki tampan di sampingnya ini masih saja tidak mengerti kondisi dan masih saja berbisik kepadanya dengan menyenggol lengan Krystal.
"Udah, mending lo diem aja" ungkap Krystal yang tidak bisa bersabar lagi dengan tingkah laki – laki di sampingnya ini, mulai dari dia yang menyeret Krystal begitu saja hingga kejadian kepergok saat ini pun terjadi. Entah kesialan apa lagi yang akan Krystal terima jika laki – laki di sampingnya ini masih saja bertingkah.
Setelah terjadi adegan bisik-bisikan, Krystal akhirnyapun menyuruh laki – laki di sampingnya itu untuk membiarkannya menyelesaikan masalah ini. Pemuda di sampingnya ini terlihat lebih bodoh dibandingkan dengan ketua kelasnya – Kelvin.
"Kalian telat delapan menit, jadi hukuman kalian adalah membersihkan lapangan basket indoor, lapangan basket luar, taman belakang sekolah dan juga taman utama sekolah. Sesuai peraturan, kalian akan diberi waktu sampai jam delapan, jika kalian lebih dari jam itu, maka kalian tidak boleh mengikuti pelajaran sampai jam istirahat. Kalian mengerti?"
"Y...ya sir..." jawab Krystal gagap, karena saking gugupnya. Dirinya tidak berpikir bisa menyelesaikan semua itu hanya dalam waktu satu jam kedepan. Dirinya memang jenius dalam hal akademik, namun jika menyangkut kegiatan fisik terlebih bersih – bersih, dirinya sangat tidak bisa diharapkan. Ia lebih memilih mengerjakan soal matematika satu paket penuh dalam waktu satu jam daripada membersihkan tempat – tempat yang di sebutkan pak Bagyo tadi.
"Tapi pak... saya tidak tau letak tempat yang bapak sebutkan tadi, jadi sekarang saya kekelas saya saja ya pak" kata laki – laki di samping Krystal berusaha lepas dari hukumannya. Sedangkan Krystal mendelik kesal ke arahnya, laki – laki di sampingnya ini sepertinya memang bodohnya melebihi Kelvin. Entah kenapa melihat itu membuat emosi Krystal naik.
"Oke, kalau kamu tidak tau, kamu boleh tanya ke bapak atau teman kamu itu" jawab pak Bagyo dengan santai.
"What?! Kenapa saya jadi disangkut pautkan pak?" kata Krystal saat mengerti arah pembicaraan pak Bagyo. Dirinya tidak mau berurusan lagi dengan laki – laki menyebalkan di sampingnya ini, terlebih direpotkan dengan menunjukkan tempat – tempat hukuman mereka kepada laki – laki itu. Krystal sungguh tidak bisa membayangkan kemalangan apa lagi yang akan ia terima jika masih saja berurusan dengan laki – laki menyebalkan itu.
"Lalu mau bagaimana lagi? Memangnya kamu mau dihukum sendirian?"
Belum sempat Krystal menjawab, laki – laki di sampingnya ini menyerobot berkata seenak jidatnya.
"Mau kok pak! Dia ini selalu rela menolong temannya yang sedang kesusahan. Hehe..." seru laki – laki tersebut dengan semangat, menghiraukan raut muka Krystal yang menatapnya kesal sembari mencibir perkataannya. Enak saja mengatai seseorang begitu saja. Mohon maaf, dirinya tidak sebaik itu.
"Benarkah? Baiklah kalau begitu ka-"
"NO Sir! Saya yang akan menunjukan tempatnya ke dia, jadi dia akan tetap melakukan hukumannya dengan saya" sergah Krystal dengan menggerakkan kedua tangannya membentuk gerakan menolak. Dirinya tidak terima diperlakukan seenaknya seperti itu. Belum pernah ada yang berani berbicara dan bertindak seperti itu kepadanya.
"Terserah kalian, yang terpenting tempat – tempat yang bapak sebut tadi harus bersih dan rapi sebelum jam delapan. Kalian mengerti?"
"Ooh? Baiklah sir, semuanya akan berlangsung sesuai keinginan anda" jawab Krystal sembari tersenyum singkat sebelum menyeret tangan laki – laki di sebelahnya dengan paksa menjauhi pak Bagyo.
Setelah dirasa cukup jauh dari jangkauan penglihatan dan pendengaran pak Bagyo, Krystal segera melepaskan tangannya dari pergelangan tangan kanan laki – laki menyebalkan di sampingnya. Namun apa yang terjadi di luar dugaan Krystal, saat Krystal sudah melepas genggamannya, pemuda tersebut justru berbalik menggenggam pergelangan tangannya.
"Apaan sih, lepasin nggak?!" kata Krystal dengan berusaha melepaskan pergelangan tangannya dari genggaman laki – laki menyebalkan yang sialnya tampan itu, namun semakin Krystal berusaha melepasnya, laki – laki di sampingnya ini justru lebih mengeratkan genggamannya. Sepertinya ia salah sudah menggenggam tangan pemuda menyebalkan ini.
"Ok fine! Apa mau lo sekarang huh?!" kata Krystal karena sudah muak dengan adegan genggam menggenggam itu. Namun laki – laki di sebelahnya ini malah menanggapinya dengan senyum kemenangannya. Hal itu membuat Krystal semakin kesal sendiri.
"Kan tadi lo yang bilang sendiri, kalau lo mau menunjukan tempat – tempat yang di sebutkan pak... pak siapa tadi?" jawab pemuda itu sembari berusaha mengingat nama guru yang berhasil memergokinya tadi.
"Pak Bagyo" jawab Krystal enggan.
"Nah itu, pak Bagyo! Jadi gue butuh tangan lo supaya gue nggak tersesat di sekolah ini. Kan nggak lucu kalau gue tersesatnya di sekolah, kalau di hutan gitu masih nggak apa – apa, itu masih elit. Nah ini?! Masa iya di sekolahan sampai tersesat" jawab laki – laki itu panjang kali lebar membuat Krystal memutar bola matanya jengah.
"huuft... serah lo! Sekarang waktu kita cuma empat puluh lima menit oke! Jadi kita akan bagi tugas, gue bersihin lapangan basket indoor sama lapangan basket luar. Sedangkan lo bersihin taman belakang sama taman utama sekolah. Nanti gue kasih tau tempatnya dimana" jawab Krystal lengkap dengan pembagian tugas mereka. biar bagaimanapun dirinya harus berlapang dada menerima hukumannya dan berbagi tugas dengan laki – laki menyebalkan di sampingnya ini.
"Nanti kalau lo udah selesai, susulin gue ke taman utama ya" kata laki – laki yang entah siapa namanya dengan penuh harap menatap Krystal.
"Huuft.. kalau waktu gue masih tersisa" jawab Krystal sebelum ia berlalu terlebih dulu untuk menunjukan taman belakang dan taman utama sekolah. Tidak lama kemudian akhirnya Krystal dan laki – laki yang sedari tadi mengikutinya sampai di taman belakang sekolah.
"Ini taman belakang sekolah, dan itu adalah lapangan basket luar"
"Oooo..."
"Udah tau kan?"
"He'em" jawab laki – laki tersebut dengan menganggukan kepalanya.
"Kalau lo udah tau, terus ngapain lo masih genggam tangan gue?!" tanya Krystal kesal sembari mengangkat tangannya yang masih digenggam oleh laki – laki menyebalkan di sampingnya ini.
"Hehe... kan lo belum ngasih tau gue taman utamanya" jawab yang diakhiri dengan senyum mani yang dapat meluluhkan hati kaum hawa itu membuat Krystal bergumam kesal. Krystal dapat menebak jika laki – laki di hadapannya itu perayu ulung.
"Huuuft... astaga... " Krystal hanya bisa menepuk jidatnya pelan dengan tangannya yang bebas.
Dan tanpa banyak kata lagi, akirnya Krystal menuruti permintaan pemuda menyebalkan itu. Juga tentu saja karena Krystal tidak ingin ketinggalan pelajaran lebih lama lagi karena hal bodoh seperti ini.
Berbeda dengan laki – laki yang masih sibuk menggenggam tangan Krystal, dia malah merasa senang bisa menggenggam tangan Krystal seperti ini, padahal ia sudah tau letak taman belakang dan taman utama sekolah ini, hanya saja ia mencari cari alasan supaya bisa lebih lama lagi bersama Krystal. Itu dikarena setelah ini mungkin ia tidak bisa lagi menggenggam tangan Krystal seperti ini, jangankan menggenggam menyentuh Krystal saja mungkin tidak bisa.
Karena kekesalan dan kesenangan yang berada dalam diri mereka masing – masing, mereka bahkan lupa jika mereka belum mengetahui nama satu sama lain. Melihat mereka yang sedari berdebat dan saling bergandengan tangan, setiap murid yang melihat pasti akan mengira jika mereka berdua merupakan sahabat dekat ataupun sepasang kekasih yang sedang bertengkar.

หนังสือแสดงความคิดเห็น (72)

  • avatar
    YulianaSanti

    bagus ceritanya

    04/06/2025

      0
  • avatar
    B.SAlbi

    novel nya keren pokonya wajib. baca📍📍📍

    29/05/2025

      0
  • avatar
    NadinKristina

    ceritanya baguss kakk, pembawaannya juga seru

    18/04/2025

      0
  • ดูทั้งหมด

บทที่เกี่ยวข้อง

บทล่าสุด