“Sedang apa kau di sini, Liu?!” tanyaku pada Liu. Mungkin pertanyaanku lebih mirip dengan rasa tak suka. Bayangkan saja, ini masih pagi buta! Untuk apa dia ke sini?! “Menurutmu aku sedang apa?” Liu menjawab seraya membetulkan letak kacamatanya yang melorot. Aku melirik gading-gading pada genggamannya. Untuk apa lagi dia membawanya? Oh ... aku ingat! Waktu pertama kali kami bertemu, dia belum mengatakan untuk apa sebenarnya gading itu. Sepertinya dia lebih tahu tentang Pantai Gading daripada aku. “Mengumpulkan gading, seperti waktu pertama kali kita bertemu? Ehm—maksudku ... apa ini pekerjaanmu?” Aku menunjuk gading itu dengan daguku. “Yah ... seperti yang kau lihat. Aku mencintai gading-gading ini, Sam. Seperti ...,” Liu menghentikan perkataannya. Aku menunggunya berbicara lagi, tapi dia tetap saja membisu. Angin berembus pelan di sela-sela kebisuan kami. Ada apa dengan Liu? Mengapa wajahnya tiba-tiba murung? Apakah ada cerita di balik gading itu? Ya, cerita yang membuatnya begitu terluka? Aku mendekat padanya. “Seperti apa, Liu? Maksudku ... jika kau ingin bercerita, aku siap mendengarkannya.” “Bagaimana luka tusukanmu, Sam?” kata Liu mengalihkan pembicaraan. Aku melotot padanya, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakannya. “Bagaimana kau bisa tahu tentang insiden penusukan itu, Liu? Apakah kau yang membawaku ke rumah sakit?” tanyaku padanya. Sungguh ... aku sangat penasaran. Liu melangkah menuju bibir pantai. Kupandang sekilas tubuh rentanya. Mengapa dia terlihat masih kuat sekali, ya? Bukankah waktu itu dia mengatakan bahwa dia lebih pantas menjadi kakekku? Sebenarnya berapa usianya? Ombak sekali lagi mengguyur pasir, membuat kakinya basah. Aku pun menjejerinya, berharap mendapatkan penjelasan lebih lengkap. “Rumahku dekat dengan Pelabuhan Tanjung Perunggu. Bahkan sangat dekat. Aku tinggal di sebuah gubuk tua yang letaknya tersembunyi di belakang pelabuhan. Malam itu aku tak bisa tidur. Akhirnya kuputuskan untuk jalan-jalan sebentar. Maaf, aku terlambat datang untuk menyelamatkanmu dari penusukan itu. Sungguh ... aku minta maaf, Sam.” Liu memaparkan penjelasannya sambil menatapku dengan iba. “Jadi benar kau yang telah membawaku ke rumah sakit?! Tak perlu minta maaf, Liu. Justru aku yang seharusnya berterima kasih padamu. Kau telah menyelamatkan nyawaku! Terima kasih, Liu. Terima kasih ....” Aku memeluknya dengan erat diiringi mata yang tiba-tiba mengembun. Mengapa aku cengeng sekali? Aku kan laki-laki? “Tak usah berlebihan seperti itu. Hanya kebetulan saja, Sam.” Aku hanya tertawa menanggapinya seraya mengacungkan dua jempol di hadapannya. Mengapa Liu berubah-ubah? Untuk sesaat dia begitu rapuh, kali ini dia terlihat sangat kuat seperti saat pertama kali kami bertemu. Kau benar-benar membuatku kagum, Liu! “Jadi ... mengapa orang itu menusukmu? Apa kau telah berbuat salah padanya?” tanyanya kemudian. Aku menelan ludah mendengar pertanyaannya. Haruskah kuceritakan semuanya? Apa dia akan percaya padaku? Bagaimana kalau tidak? “Ehm—aku tak pernah berbuat salah padanya, Liu. Hanya saja, dia masih tak dapat menerima kenyataan bahwa istrinya telah meninggal karena kecelakaan. Bukan karena aku.” Liu menatapku dengan tatapan yang sama. Ya, caranya memandang dari atas kacamata yang melorot itulah yang membuatku selalu mengingatnya. Menurutku ... gayanya sangat khas. “Kau yakin kalau kau tak melakukan kesalahan padanya?” tanya Liu kemudian. “Maksudmu?” “Sam, tidak semua yang kita lakukan itu benar di mata orang lain. Bisa jadi kau tak melakukan kesalahan, tapi orang lain yang melihat belum tentu sama menilainya ...,” jelasnya padaku di antara deru angin. Sekali lagi aku berusaha mencerna apa yang dikatakan Liu. Sejenak kutatap lautan. Kini tak ada lagi KM. Dharma Ferry VIII yang mengapung di sana. Aku menghela napas panjang. Mengapa Liu selalu membuatku bertanya-tanya? Entahlah, kali ini aku sengaja menahan diri untuk berbincang lebih banyak dengannya. Ya, setidaknya aku juga ingin meminta pendapatnya perihal masalahku dengan Anggita dan Amar. Tapi, benarkah kami sedang dalam masalah? “Aku ... sungguh aku tak melakukan kesalahan apa pun terhadapnya, Liu.” “Bisakah kau menceritakannya padaku?” “Orang yang menusukku adalah atasanku sendiri—Pak Nahar. Yah ... waktu itu tepatnya lima tahun yang lalu—saat aku sedang mengangkut barang-barang dari salah satu penumpang kapal. Kejadiannya sangat cepat, aku tak seimbang karena ada seorang penumpang yang mendorongku dari belakang. Untuk waktu yang bersamaan, istri Pak Nahar berjalan dari arah berlawanan. Tubuhku ambruk ke depan dan barang-barang yang kuangkut menimpanya. Lalu ...,” Aku tak sanggup melanjutkannya. Tiba-tiba tanganku berkeringat dingin. Entahlah, tak biasanya aku gugup seperti ini. “Lalu?” Liu memintaku melanjutkan semuanya. Aku merasa kerongkonganku begitu kering. Haruskah aku melanjutkannya? “Lalu ... dia terjatuh dari sisi pintu kapal setinggi 17 m itu, Liu. Anehnya, saat aku berhasil membawanya ke daratan, dia sudah tak bernyawa lagi. Aku ... sungguh aku tak membunuhnya. Itu hanya sebuah kecelakaan. Kau harus percaya padaku, Liu.” Aku memohon padanya. Untuk beberapa saat kuusap wajah untuk menutupi rasa gugup yang kian menjalar. Liu mengangguk-anggukkan kepalanya. Terlihat dia mencoba untuk memercayaiku. Tapi sejurus kemudian, dia masih ingin menyelidikiku. “Tak ada saksi mata?” Aku menggeleng lemah. “Ada beberapa saksi mata, Liu. Semuanya mengatakan bahwa aku yang telah mendorong istri Pak Nahar. Saat itu aku sudah mencoba menjelaskan dan membela diri. Tapi aku tetap kalah. Aku pun pasrah jika memang harus dipenjara. Tapi semua itu tidak terjadi, Pak Nahar lebih memilih diam dan tak mempermasalahkannya. Sampai akhirnya ... dia membalas dendam. Dia menusukku, Liu.” “Tak ada yang bisa disalahkan dalam insiden itu, Sam. Aku juga tak sepenuhnya memercayaimu karena aku tak melihatnya secara langsung. Bisa saja kau berbohong, kan?” “Liu ... aku mohon. Apa untungnya aku membunuh istri Pak Nahar sedangkan dia begitu baik padaku? Aku sangat menghormatinya sebagai atasanku.” Liu beranjak dari tempatnya berdiri dan membelakangiku. Mungkin hendak pulang. Tapi aku masih ingin berbicara dengannya. “Aku percaya padamu, Sam. Aku tahu kau anak yang baik.” “Terima kasih sudah mau memercayaiku, Liu.” *** Ang, lihatlah mentari pagi telah muncul. Di mana pun kau berada, apa kau juga melihatnya? Maaf jika perasaan rinduku padamu tak pernah habis. Aku telah lancang membiarkannya tumbuh kian subur di dalam hati. Meski perlahan aku mulai melupakanmu. Tapi apa aku salah jika merindukan sahabat sendiri? Sampai sekarang kau masih sahabatku, kan? Atau kau sudah tak menganggapku ada? Bodoh! Mengapa aku tak jadi membicarakan tentangmu pada Liu? Dia pasti memiliki solusi yang tepat. KM. Dharma Kencana II sebentar lagi akan berangkat. Aku memilih untuk tak terlalu banyak mengambil job setelah kepulihanku dari luka tusukan. Biarlah perut ini beradaptasi dulu. Di kejauhan, terlihat Nunok masih begitu asyik melayani penumpang. Maklumlah, penumpangnya seorang wanita muda yang cantik. Aku tertawa renyah melihat tingkah konyolnya. Sudahlah, lebih baik aku menunggunya sambil memandang sunrise yang akan segera muncul. Tepat pukul 06.00, KM. Dharma Kencana II akhirnya meninggalkan pelabuhan. Seperti biasa, para penumpang melambai-lambaikan tangan. Pemandangan seperti itu tak bosan-bosannya kulihat. Di mana Nunok? Mengapa dia lama sekali? Aku pun akhirnya memutuskan untuk menunggunya di warung Bu Tien—warung yang biasa kukunjungi. Namun, saat hendak menuju warung, langkahku terhenti seketika saat seseorang tiba-tiba berdiri di hadapanku. Tanpa melihat wajahnya, aku tahu bahwa dia seorang wanita. Gaya berpakaiannya mirip sekali dengan .... “Sam, bisakah kita bicara?” Suara itu terdengar begitu lembut tapi penuh dengan keseriusan. Aku menelan ludah mendengarnya. Suara itu ... ya, suara itu adalah suara yang sangat kurindukan selama ini. Aku memberanikan diri untuk melihat wanita itu. Deg! “Ang ....” Aku merasakan suaraku tercekat. Mengapa kau datang lagi di saat aku mulai mencoba berdamai dengan hati? Meskipun aku tahu, cintaku masih sama. Seperti pagi yang selama ini sama, tanpa adanya dirimu di sisiku. Anggita, mengapa kau kembali?
sangat menarik untuk dibaca dan isinya juga seru banget menghibur diwaktu senggang
03/02/2022
5sangat menarik
11/06/2025
0cerita yang bagus
14/05/2025
0ดูทั้งหมด