Sam, kau masih ingat saat pertama kali kita bertemu?Tubuh mungilmu yang masih berseragam putih biru, tengah duduk di tepi pantai sambil menikmati angin pagi. Sesekali kakimu membelah pasir, membuat genangan air semakin dalam.Kau pandangi burung-burung dari kejauhan seraya melambai-lambaikan tangan, mirip tingkah seorang anak yang sedang melihat pesawat terbang. Aku menahan tawa saat kau melakukannya. Lalu mataku dan matamu tiba-tiba bertemu dan kau hampir jatuh karena melompat terlalu tinggi. Aku memejamkan mata, tak kuasa melihat tubuhmu berdebum di atas pasir. Tapi saat kembali kubuka mata ... kau sudah berdiri di hadapanku. Begitu kikuknya sampai-sampai aku ingin menjerit! Perlahan tapi pasti, kau bertanya padaku seraya mengulurkan tangan. “Aku Sammy. Kau siapa?” Aku tak kuasa menjawab pertanyaanmu yang begitu mengejutkan. Dapat kurasakan pipiku bersemu merah. Tatapan matamu yang begitu teduh ... sungguh membuatku merasa nyaman. “Kau mau bersepeda denganku mengelilingi pantai?” Kau masih bertanya, sedangkan aku hanya pasrahmenerima ajakanmu. Sam, ternyata kau sangat tampan jika dilihat dari dekat. Ada sesuatu yang berbeda ... bulu matamu lentik sekali seperti anak perempuan. Bahkan bulu mataku tak selentik itu. Dalam sekejap, aku dan kau bagaikan sepasang sahabat karib. Ah ... masa-masa itu begitu kurindukan, Sam. Tidakkah kau juga merindukannya? Sampai saat ini, aku tak pernah menyangka kita bisa bertahan selama enam belas tahun. Ya, bertahan dalam hubungan persahabatan yang begitu erat. Menikmati embun di pagi buta adalah hal yang tak pernah kita lewatkan setiap hari. Kau tahu, itulah yang teristimewa selama aku mengenalmu. Kau mengajariku betapa tak peduli suka maupun duka, jangan pernah abaikan pagi. Katamu, pagi adalah waktu yang paling tepat untuk menyegarkan segalanya. Sekalipun itu adalah kondisi hati, kau mampu mengubahnya, Sam. Seiring berjalannya waktu, kau tumbuh menjadi sosok lelaki tampan yang gagah dan selalu berada di sisiku. Bulu matamu masih lentik, tapi itu malah semakin membuatmu terlihat begitu memesona. Apa lagi saat merasakan rangkulanmu di bahuku sambil menunggu detik-detik munculnya sunrise. Itu semakin menguatkan bahwa kau adalah malaikat pelindungku. Terima kasih, Sam. Terima kasih atas persahabatan yang sangat indah ini. Kita akan bersahabat untuk selamanya, kan? Yang teristimewa, -Anggita-
Pantai Gading, 25 Agustus 2016
Aku termenung menatap tulisan-tulisan di dalam kertas—yang perlahan mengabur itu. Ya, itulah surat yang pernah Anggita tulis selama bersahabat denganku. Surat pertama dan mungkin adalah surat terakhir sebagai satu-satunya kenangan sehari sebelum insiden terselipnya setangkai mawar putih di atas telinganya. Ah ... aku merasa semakin ciut jika suatu saat bertemu dengannya lagi. Apa dia mau bertemu denganku lagi? Tidak, mana mungkin itu terjadi! Cukuplah aku tahu saat Rama mengenalkan istrinya lewat foto itu. Ya, kau sudah menikah dengan Amar. Tapi kau tak sedikit pun menceritakan perihal itu padaku. Kau anggap aku ini apa, Ang?! Kutatap langit-langit kamar dengan sendu. Dia adalah salah satu saksi bisu atas menghindarnya diriku dari Rama. Sejak kejadian foto itu, aku berpura-pura lemah di rumah sakit ini. Setiap kali dia ingin bertemu, aku selalu mengatakan bahwa sedang tak bisa ditemui oleh siapa pun. Aku tahu, sikapku ini menimbulkan pertanyaan dalam benaknya. Tapi apa daya, biarlah semua itu kulakukan. Jujur saja, aku takkan sanggup bertemu dengan Anggita. Ingat, Sam. Anggita adalah istri Rama! “Sampai kapan kau akan melamun, Sam?” Suara seseorang sedikit menyadarkanku. Kulirik dia. Ah ... Nunok. “Sudah berapa lama kau di sini, Nok?” tanyaku padanya. “Sam, kau tak bisa seperti ini terus. Kau harus bangkit dan menghadapi kenyataan!” Nunok tak menjawab pertanyaanku. Dia justru merangkul bahuku dengan mantap. Mata kami beradu. Saat itulah aku merasa mataku mulai mengembun. Jangan jatuh lagi. Kumohon ... “Aku sedang berusaha, Nok,” kataku akhirnya. Aku menatap langit-langit lagi. Tak ingin membiarkan air mataku jatuh. Terlebih ada Nunok di sini, jangan sampai dia tahu. Aku tak ingin terlihat begitu lemah di depannya. “Kalau kau ingin menangis, menangislah. Lelaki juga manusia, Sam. Aku tak akan mengejekmu.” Nunok berjalan menuju jendela lantas dibukalah tirainya. Aku menimpuknya dengan bantal dan tertawa kecil. “Itu sama saja kau sudah mengejekku, Nok!” “Hahaha ... aku senang akhirnya kau bisa tertawa lagi. Sekarang simpanlah surat itu, Sam. Lekaslah mandi dan bersiap-siap! Bukankah kau sudah boleh pulang hari ini?” Aku menggaruk-garuk kepala yang tak gatal. Ah ... kau memang pandai memperbaiki suasana hati, Nok. *** Hari ini adalah hari pertama setelah kepulanganku dari rumah sakit. Akhirnya aku bisa kembali menyibukkan diri dan menikmati embun di pagi buta. Ya, sekarang masih pukul 02.30. Pagi ini sangat sejuk, tak kurasakan angin yang dingin pertanda akan turun hujan. Entahlah ... cuaca tiba-tiba berubah, tak seperti saat di rumah sakit. Aku menghela napas pendek. Semoga hari-hari berlalu sangat cepat agar aku juga semakin cepat melupakanmu, Ang. Kukayuh sepeda perlahan dengan ritme seperti biasa. Aku selalu menikmati sensasinya meskipun tak jarang orang-orang yang melihat seolah mengejekku. Pernah suatu ketika saat hendak menuju pelabuhan, ada seorang lelaki yang mengejekku dari atas motornya. “Ingin adu balap denganku?” katanya. Aku tak menghiraukan ejekannya. Tapi saat dia hendak berbelok, tiba-tiba motornya oleng. Bruk! Dia terjatuh! Aku pun berinisiatif menolong dan membawanya ke tepi jalan. Saat hendak pergi meninggalkannya, aku berkata padanya. “Setidaknya aku tak terjatuh.” Dia terenyak mendengar perkataanku. Saat aku sudah melenggang pergi, sayup-sayup kudengar dia berkata. “Terima kasih.” Ah ... kejadian itu, aku tersenyum demi mengingatnya. Sampai kapan pun, aku akan tetap bersepeda! Kutengok jam tangan sekilas, sudah pukul 02.50, sepuluh menit lagi aku akan sampai di Pantai Gading. Seandainya mampu, akan kupeluk dia karena sudah menyebabkan rindu ini bersarang di dalam hati. Ya, aku rindu membasahi telapak tangan dengan embun dan memainkan pasir lembutnya di tengah-tengah pagi buta. Tapi apa daya, yang ada hanya pagi yang sama seperti sebelum-sebelumnya. Pagi tanpa Anggita. Setelah berkutat dengan lamunan yang selalu saja berujung dengan nama Anggita, sampai juga aku di Pantai Gading. Segera kusandarkan sepeda di bawah pohon. Angin bertiup lembut menyentuh pelipisku. Dari kejauhan terlihat sebuah kapal berupa titik—tengah mengapung di laut lepas. Mungkin itu adalah KM. Dharma Ferry VIII yang berlayar tiga jam lalu. Sejenak aku teringat akan insiden penusukan itu. Pak Nahar, bagaimana kabarnya? Sejak dia dipenjara, aku belum sempat menengoknya. Kejadian itu bukan sepenuhnya kesalahannya. Ya, aku teramat paham dengan kondisinya saat itu. Whuu ... byurrr ... Ombak kali ini tak terlalu tinggi. Hanya saja kurasa suaranya lebih keras daripada biasanya. Untuk beberapa saat kakiku terseret mendekat ke bibir pantai. Ah ... airnya sangat sejuk! Srek ... srek ... srek ... Suara apa itu yang ada di balik pohon? Jangan-jangan ada yang ingin berbuat jahat lagi padaku? Aku mencoba mendekat ke arah sumber suara. Ya Tuhan ... jangan lagi .... Srek ... srek ... srek ... Sepedaku! Jangan-jangan ada yang ingin mencurinya! Tidak! Aku harus bertindak cepat. Berpikir, Sammy. Ayo! Aku memejamkan mata dan siap menyerbu. “Hei, mengapa kau menghancurkan gading-gadingku? Bisakah kau memindahkan sepedamu?” Hah, ternyata dia manusia? Kupikir semacam hewan buas. Ah ... mana mungkin di pantai ada hewan buas? Aku memicingkan mata agar dapat melihat siapa orang itu. Sepertinya aku tak asing dengan suaranya? Orang itu perlahan muncul dari balik pohon. “Liu?!” Aku membelalak tak percaya. “Sammy?” Aku dan Liu saling berpandangan. Akhirnya kita bertemu lagi!
sangat menarik untuk dibaca dan isinya juga seru banget menghibur diwaktu senggang
03/02/2022
5sangat menarik
11/06/2025
0cerita yang bagus
14/05/2025
0ดูทั้งหมด