Keesokan harinya, Jesna kembali melakukan aktifitasnya seperti biasa, yaitu mengajar di universitas. Ia perlahan telah melupakan kejadian kemarin dan berusaha untuk tampil ceria lagi. Saat di meja makan untuk sarapan, Om dan Tantenya tidak menanyakan kejadian kemarin. Jesna bersyukur akan hal itu. Ia akan menceritakannya ketika ia sudah siap. Mungkin sebagian orang akan berpikir bahwa Jesna terlalu berlebihan mengenai hal ini, namun ia memiliki alasan mengapa ia begitu syok dengan kejadian yang menimpanya. Ia pernah mengalami hal seperti ini saat ia kecil. Dulu umurnya masih sekitar 11 atau 12 tahun. Jika kemarin ia masih bisa diselamatkan oleh Bagas, lain halnya dengan masa lalunya yang harus menunggu untuk diselamatkan setelah satu minggu lebih. Ya, Jesna pernah diculik saat masih berumur sekitar 11 atau 12 tahun dulu. Saat ia diculik, ia mendapati perlakuan kasar dari para penculiknya. Mulai dari dipukul, ditampar, hingga ditendang. Semua ia alami dan membuatnya trauma dengan kejadian itu. Beruntungnya, Jesna kecil tidak mendapatkan perlakuan yang tidak senonoh. Ia hanya diperlakukan dengan kasar dan ucapan kotor karena ia tidak menuruti perkataan sang penculik. Kini, ia telah tiba di kampus. Ia berkaca kembali pada kaca spion mobilnya untuk mengecek tampilannya. Pada saat akan memasuki ruangan kantornya, ia terhenti karena seseorang memanggil, lantas membuatnya menoleh. “Assalamu’alaikum, Kak Jes. Selamat pagi,” sapa Yeza dengan senyum lima jarinya. “Wa’alaikumsalam, selamat pagi Yeza,” sahut Jesna. “Kak, ini Yeza bawain makanan buat Kakak. Kebetulan tadi abang Yeza masak, jadi Yeza sisain buat Kakak.” Yeza menyerahkan kotak makanan yang ia bawa kepada Jesna. “Ini ceritanya kamu lagi deketin saya sama Abang kamu lewat makanan?” tanya Jesna menyelidik dibarengi dengan seulas senyum. Yeza menggaruk kepalanya, “Eee.. Eng-enggak, Kak. Ini memang mau Yeza kasih ke Kakak karena tadi abang masak banyak dan itu jarang banget terjadi,” ucap Yeza. “Tapi kalau Kakak nganggapnya gitu, gak papa deh. Siapa tahu Kakak beneran jadian sama abang Yeza,” sambung Yeza. Jesna menggelengkan kepalanya, “kamu ini ada-ada saja. Tapi makasih, ya, makanannya. Nanti saya makan.” “Harus, Kak. Yeza jamin Kakak bakalan suka dan ketagihan dengan masakan Abang.”
“Ya sudah, kalau begitu saya masuk dulu, ya. Kamu ada kelas pagi?” Yeza mengangguk menjawab pertanyaan Jesna. Kemudian ia pamit untuk pergi ke kelasnya. Jesna telah sibuk dengan kelas-kelas yang ia masuki hari ini, tetapi berbeda dengan seseorang di tempat yang berbeda. Orang itu adalah Bagas. Saat ini Bagas sedang berada di kantor ayahnya. Ia sengaja mendatangi kantor ayahnya karena ia ingin melancarkan rencana selanjutnya, yaitu meminta ayahnya untuk memajukan waktu pernikahan. “Kamu yakin mau dipercepat pernikahannya?” tanya Ramlan, Ayah Bagas. “Bagas yakin, Yah. Bagas gak mau hal seperti kemarin terjadi lagi dengan Jesna. Bagas mau melindungi Jesna seutuhnya, Yah,” jawab Bagas. Ramlan terdiam memikirkan permintaan Bagas. “Ayah coba tanyakan dulu dengan Putra. Kita gak bisa memutuskan secara sepihak begini, Gas,” putus Ramlan. “Bagas harap Ayah bisa membujuk Om Putra,” ucap Bagas lalu pamit untuk pergi dari kantor ayahnya. Kini Bagas telah berada di mobilnya. Ia menyeringai puas akan rencananya yang hampir berhasil. Bagas yakin, om Putra akan menyetujui permintaannya ini mengingat betapa khawatirnya om Putra kemarin. Bagas melajukan mobilnya menuju perusahaannya. Perusahaan advertising yang ia dirikan semenjak ia lulus pasca sarjana 5 tahun yang lalu. Berkat kegigihan dan kerja kerasnya, ia mampu mendirikan perusahaan sendiri tanpa campur tangan dari ayahnya. Setibanya ia di kantor, Bagas segera mengecek beberapa berkas di atas mejanya. Banyaknya permintaan permohonan kerja sama membuat Bagas sedikit sibuk untuk hari ini dan melupakan rencananya. Namun, ia tidak merasa khawatir, karena ia yakin rencananya akan berjalan sesuai rencana. Semua keinginan Bagas sepertinya terpenuhi. Tepat setelah kepergian Bagas dari kantor ayahnya, Putra mendatangi kantor Ramlan. Kedatangannya kali ini tidak terlepas dari dari keputusan yang ia pikirkan tadi malam. “Silakan duduk, Put. Wah ada apa ini, gak biasanya kamu datang ke kantor ku,” ucap Ramlan saat Putra meminta untuk bertemu di kantor. “Begini, aku ke sini ingin membicarakan mengenai pernikahan anak-anak kita. Aku rasa Bagas sudah menceritakan perihal kejadian kemarin,” ucap Putra to the point. Ramlan mengangguk-anggukkan kepalanya, “ya, Bagas sudah menceritakan segalanya. Sebelum kamu datang, dia tadi ke sini untuk bertemu dengan ku.” “Jadi Lan, aku ingin pernikahan anak-anak kita dimajukan. Aku gak mau nanti ke depannya hal seperti ini akan terjadi lagi dengan Jesna dan itu jauh dari pengawasanku,” terang Putra. Mendengar permintaan yang sama yang disebutkan oleh Bagas tadi, membuat Ramlan berpikir. Ia tidak mungkin menolak semua ini karena ia juga menginginkan pernikahan ini segera dilaksanakan. “Kamu sama dengan Bagas. Bagas juga mengatakan itu saat ia ke sini tadi. Ia juga minta pernikahannya dimajukan dari waktu yang ditentukan.” “Lalu bagaimana? Apa kamu setuju?” tanya Putra. “Sebenarnya aku sangat setuju dengan hal ini, apalagi kamu juga yang memintanya. Tetapi apa itu tidak ada masalah dengan Jesna? Aku khawatir ia akan merasa tertekan dengan pernikahan yang dimajukan ini.” “Untuk masalah Jesna, kamu serahkan saja padaku. Aku ingin Jesna memiliki pelindung yang akan melindunginya dari kejadian-kejadian buruk, salah satu contohnya seperti kejadian kemarin,” tutur Putra. Ia sedikit tertunduk mengkhawatirkan Jesna, keponakan yang sudah ia anggap sebagai anaknya. Ramlan berpikir sejenak lalu berkata, “ya sudah. Kalau memang kamu sudah menyetujuinya, kita akan memajukan waktu pernikahan Jesna dengan Bagas. Lalu kapan?” “Tiga minggu dari sekarang. Mereka akan menikah tiga minggu lagi. Aku rasa waktu segitu cukup untuk mempersiapkan segalanya,” ucap Putra. Kini, Ramlan yang terdiam. Ia sedikit ragu dengan waktu yang diputuskan oleh Putra. “Kamu yakin? Apa itu tidak terlalu cepat?” tanya Ramlan. Putra menggeleng, “tidak, itu waktu yang tepat. Aku rasa Bagas juga akan menyetujuinya.” “Ya sudah. Berarti mereka menikah tiga minggu lagi. Nanti akan aku sampaikan dengan Bagas mengenai keputusan ini,” ucap Ramlan. Setelahnya mereka tertawa bersama. Mereka masih tidak percaya bahwa mereka akan menjadi besanan. Sungguh ini kebahagiaan yang luar biasa yang mereka rasakan. Waktu menunjukkan pukul 8 malam. Kini, Jesna beserta om dan tantenya sedang menikmati makan malam di meja makan. Setelah menyantap hidangan penutup, Putra menghentikan Jesna yang akan beranjak menuju dapur. “Jes, kamu duduk dulu sebentar. Ada yang ingin Om sampaikan,” ucap Putra. Jesna kemudian duduk kembali. Ia sedikit penasaran dengan hal yang ingin Om Putra katakan. Sepertinya ini begitu penting karena melihat raut wajah Om Putra yang begitu serius. “Begini Jesna, sebelum Om mengatakannya, Om harap kamu tidak marah ataupun kecewa dengan keputusan Om,” ucap Om Putra seraya memandang Jesna. Di sampingnya, tante Anya sudah merasa khawatir dengan Jesna karena hal yang akan dikatakan suaminya. “Insya Allah Jesna tidak akan begitu, Om. Om ingin mengatakan apa?” sahut Jesna dengan tenang meski jantungnya sudah berdetak dengan keras. Entah kenapa, ia sedikit takut mendengar perkataan Om Putra selanjutnya. Om Putra menghela napas, kemudian menatap Jesna. “Mengingat kejadian yang menimpa kamu kemarin, Om … Om memutuskan untuk memajukan pernikahan kamu dengan Bagas.” Jesna tertegun mendengarnya. Ia tidak menyangka omnya akan mengatakan hal ini. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Jesna setelah perkataan om Putra tadi. Hal ini membuat Om Putra menghela napas kesekian kalinya. Ia tahu ini adalah keputusan berat yang diterima Jesna. “Jesna, Om melakukan ini semata-mata hanya ingin kamu terlindungi. Dengan adanya Bagas, Om tidak perlu lagi khawatir dengan keselamatan kamu. Om yakin, Bagas bisa menjaga kamu sebaik mungkin,” lanjut Om Putra. Ia mengatakan segala maksud dan tujuannya. Lama Jesna terdiam. Ia tidak tahu harus mengatakan apa kepada omnya ini. Di satu sisi, Jesna benar-benar mengerti dengan kekhawatiran yang om nya rasakan, tapi di sisi lain Jesna benar-benar belum siap untuk menikah secepat ini. Pada saat pengkhitbahan kemarin, Jesna merasa sedikit tenang karena waktu pernikahan yang telah ditentukan akan berlangsung dua bulan lagi. Tetapi ini, tiga minggu lagi. Jesna tidak pernah membayangkannya. “Om, Jesna belum bisa memutuskan apa-apa. Jesna minta waktu untuk memikirkan ini semua,” ucap Jesna pada akhirnya. Ia akan memutuskan akan memikirkan ini baik-baik. Om Putra mengangguk menyetujui, “ya sudah kalau begitu. Om akan tunggu jawaban kamu secepatnya Jesna.” Setelah itu, Jesna memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Ia merenungi segala hal yang terjadi dalam hidupnya akhir-akhir ini. “Ya Allah, apa yang harus aku lakukan? Ya Allah berilah aku petunjuk dalam memutuskan hal terbesar dalam hidupku ini,” pinta Jesna lirih. ***
suka sama ceritanya, tulisannya juga keren, penulis membawakan ceritanya dengan rapih dan bisa membuat aku sebagai pembaca terhanyut dalam cerita dan terkagum sama sifat jesna... keren! sering-sering update yaa kak, penasaran soalnya dgn ceritanya 😁
18/01/2022
1
Stay madIf you mad
bagus banget ceritanya..alurnya bagus menarik bikin greget tapi seru semangat
16/01/2022
0
NurulAfiqah
Jalan penceritaan Yang bagus 👍🏻👍🏻👍🏻 & menarik. Secara tidak langsung boleh dijadikan iktibar dan pengajaran.
suka sama ceritanya, tulisannya juga keren, penulis membawakan ceritanya dengan rapih dan bisa membuat aku sebagai pembaca terhanyut dalam cerita dan terkagum sama sifat jesna... keren! sering-sering update yaa kak, penasaran soalnya dgn ceritanya 😁
18/01/2022
1bagus banget ceritanya..alurnya bagus menarik bikin greget tapi seru semangat
16/01/2022
0Jalan penceritaan Yang bagus 👍🏻👍🏻👍🏻 & menarik. Secara tidak langsung boleh dijadikan iktibar dan pengajaran.
16/01/2022
0ดูทั้งหมด