logo text
เพิ่มลงในห้องสมุด
logo
logo-text

ดาวน์โหลดหนังสือเล่มนี้ภายในแอพ

DKJ 05

Kembali dimana Jesna berada di kampus, ia melihat waktu telah menunjukkan pukul setengah 5. Jesna bergegas menuju mobilnya untuk segera berangkat ke tempat yang telah Bagas janjikan.
Perjalanan yang Jesna tempuh tidak begitu lama. Tepat pukul 5, Jesna telah tiba sesuai dengan alamat yang dikirim Bagas.
“Ini tempatnya? Gedung kosong?” pikir Jesna. Ia hanya bisa melihat gedung kosong yang sudah lama terbengkalai.
Tak mau berpikir yang tidak-tidak, Jesna memutuskan untuk menghubungi Bagas.
“Assalamu’alaikum, Bagas? Ini saya sudah sampai, tapi kenapa cuma ada gedung kosong ya. Posisi kamu dimana?” tanya Jesna setelah Bagas mengangkat panggilannya.
“Kamu jalan sedikit lagi, Jes. Ada taman di sebelah gedung itu. Aku udah di sini nungguin kamu,” balas Bagas.
“Oh, ya udah. Saya ke sana dulu. Di sana ada tempat parkir, kan?”
“Ada sih, tapi cuma bisa satu mobil, Jes. Dan mobil aku udah di sini.”
“Begitu, ya? Ya udah saya jalan kaki aja ke sana. Saya tutup dulu, ya. Assalamu’alaikum.” Jesna menyimpan ponselnya di dalam tas selempang yang ia bawa. Ia pun turun dari mobil dan berjalan menuju tempat yang dikatakan Bagas.
Sesaat setelah Jesna menelpon Bagas, Bagas menghubungi kedua temannya yang sudah standby di gedung kosong tersebut.
“Go!” Ucapnya singkat.
Jesna berjalan tanpa melihat sekelilingnya. Ia hanya fokus menatap taman yang dikatakan oleh Bagas. Namun, tanpa Jesna ketahui, terdapat dua orang lelaki yang mengikutinya.
Merasa ada yang mengikuti, Jesna pun berbalik arah menghadap dua lelaki tersebut.
“Maaf ada apa ya, Mas?” tanya Jesna. Ia mencoba untuk berpikir positif melihat kehadiran dua lelaki yang menggunakan hoodie dan kacamata hitam menutupi wajah mereka.
Salah satu lelaki mendekati Jesna dan mencoba untuk menggapai tangan Jesna. Jesna yang diperlakukan seperti itu secara reflek menjauhkan tangannya dan mundur.
“Mas jangan macam-macam, ya. Saya bisa teriak,” ucap Jesna memperingati.
“Teriak aja, Neng, gak ada yang denger juga. Dari pada jalan sendirian, yuk ikut abang. Kita senang-senang,” ucap temannya satu lagi.
Jesna masih mencoba untuk menghindar dari gapaian tangan dua orang lelaki di depannya ini. Ia merasa takut akan terjadi sesuatu dengannya.
Hingga kedua lelaki tersebut mendapatkan tangannya dan menariknya untuk dibawa ke gedung kosong tersebut. Jesna berteriak histeris dan terus memberontak. Ia meminta tolong sekuatnya agar siapapun orang yang lewat bisa mendengarnya.
Saat Jesna hampir masuk ke dalam gedung tersebut, seseorang menendang salah satu tubuh lelaki yang memegang Jesna. Pegangan itu pun terlepas. Kemudian, terjadilah perkelahian antara dua lelaki yang membawa Jesna dengan satu lelaki yang baru saja datang, ternyata dia adalah Bagas.
Melihat perkelahian antara Bagas dan dua orang lelaki tersebut, membuat Jesna merasa takut. Ia tidak henti-henti beristighfar dan memohon pertolongan kepada Allah.
Beberapa saat kemudian, dua orang lelaki tersebut berhasil kabur setelah dikalahkan oleh Bagas.
“Jesna, kamu gak papa?” tanya Bagas menghampiri Jesna yang menangis.
Jesna menoleh saat mendengar suara Bagas, “s-saya ... saya tidak apa-apa. T-tapi kamu, kamu t-terluka, Bagas,” ucap Jesna saat melihat sedikit robekan dibibir Bagas.
Bagas mengusap bibirnya, “tidak apa-apa. Ini tidak lebih penting dari pada keselamatan kamu.”
Hati Jesna menghangat. Ini menambah keyakinannya untuk menikah dengan Bagas karena perilaku Bagas yang lebih mengutamakan keselamatan Jesna daripada keselamatannya sendiri.
“Ya sudah, kita pulang saja. Aku antar kamu, ya. Kamu gak mungkin nyetir dalam kondisi seperti ini.” Jesna akhirnya mengangguk. Ia menerima tawaran Bagas karena dirinya sendiri memang belum sanggup menyetir. Ia masih sangat syok.
Setelah membukakan pintu mobil untuk Jesna dan memastikan ia telah duduk di dalam, Bagas memutari mobil untuk menuju ke kursi kemudi. Namun, ia menyempatkan untuk menghubungi teman-temannya yang telah membantu rencananya tadi.
“Good job, guys. Gue anter dia pulang dulu. Nanti malam kita ketemuan di tempat biasa.” Setelah mengatakan itu, Bagas memutuskan sambungan panggilannya dan bergegas untuk masuk ke mobil.
Selama perjalanan pulang, tidak terjadi satupun percakapan antara Jesna dan Bagas. Jesna masih syok akan kejadian yang menimpanya baru saja, sedangkan Bagas membiarkan Jesna merenungi kejadian tadi.
Terdapat senyum licik yang Bagas tampilkan. Semua rencana yang ia lakukan saat ini adalah agar pernikahannya dengan Jesna bisa dipercepat. Ia sudah tidak bisa lagi menunggu hingga dua bulan ke depan agar bisa menikahi Jesna, perempuan yang ia idam-idamkan.
Setibanya mereka di kediaman Jesna, Bagas membukakan pintu mobil untuk Jesna. Ia menuntun Jesna agar bisa masuk ke rumah tanpa terjatuh karena Jesna saat ini benar-benar lemas.
“Astaghfirullahal’adzim, Jesna? Kamu kenapa, sayang?” pekik Tante Anya saat melihat Jesna masuk ke rumah dipapah oleh Bagas.
Tante Anya pun mengambil alih Jesna dari Bagas dan mendudukkannya di sofa.
“Ini Jesna kenapa, Bagas?” tanyanya panik.
“Tante, maaf. Lebih baik Jesnanya diberikan minum dulu. Dia lemas banget, Tan, “usul Bagas.
“Ah i-iya iya, sebentar Tante ke belakang dulu.” Anya meninggalkan Jesna dan Bagas berdua di ruang keluarga.
Tak lama kemudian, Tante Anya datang dengan dua gelas air di tangannya. Ia memberikan satu gelas untuk Bagas dan satunya lagi untuk Jesna.
“Jesna, minum dulu sayang.” Tante Anya memberikan segelas air putih kepada Jesna.
Jesna meminum air putih tersebut. Kini ia merasa sedikit lega dan mulai tenang. Ia melihat ke arah Tante Anya dan memeluknya. Air matanya lolos begitu saja saat Tante Anya mencoba menenangkannya.
Melihat Tante dan keponakan yang sedang berpelukan itu, membuat hati Bagas sedikit merasa terenyuh. Ia seketika teringat dengan kebersamaannya bersama dengan mendiang ibunya dulu.
Bagas menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tidak boleh merasa iba melihat kedekatan mereka berdua.
“Em … Tante, kalau gitu Bagas pamit dulu ya. Biarin Jesna nya istirahat dulu.” Suara Bagas menginterupsi pelukan Tante dan keponakan itu.
“Ah iya, Nak Bagas. Terima kasih, ya, sudah membawa Jesna pulang.” Tante Anya mengantar Bagas hingga ke depan pintu.
“Kalau begitu, Bagas pergi dulu, Tante. Assalamu’alaikum,” pamit Bagas lalu menyalami tante Anya.
Saat Bagas akan menuju mobil yang dibawa oleh supirnya, ternyata Om Putra baru saja pulang dan keluar dari mobilnya.
“Loh, Bagas? Kamu ada apa malam-malam ke sini?” sapa Om Putra.
“Eh, Om?” Bagas menyalami Om Putra.
“Tadi Bagas abis nganterin Jesna, Om,” ucap Bagas.
“Nganterin? Kok bisa?” tanya Om Putra bingung.
“Begini Om, tadi sore Bagas ngajak Jesna ketemuan di taman karena ada yang ingin Bagas katakan mengenai pernikahan kita nanti. Tapi, saat menunggu Jesna, Bagas dengar suara orang minta tolong. Saat Bagas melihatnya ternyata Jesna akan dibawa oleh preman menuju gedung kosong, Om,” jelas Bagas.
“Jadi Bagas anterin Jesna pulang karena Bagas lihat Jesna masih syok banget,” lanjutnya.
Om Putra terkejut mendengar penjelasan Bagas. Namun, ia merasa lega karena Jesna baik-baik saja.
“Om … Om berterima kasih sama kamu, Bagas. Om gak tahu kalau kamu enggak datang tepat waktu, entah apa yang akan terjadi sama Jesna.” Om Putra menatap Bagas tulus.
“Om, ini udah jadi kewajiban Bagas untuk menjaga Jesna karena Jesna nantinya akan jadi istri Bagas. Jadi, Om gak perlu khawatir lagi,” ucap Bagas.
Om Bagas tersenyum dan mengangguk seraya menepuk pundak Bagas pelan.
“Kalau begitu Bagas pamit dulu ya, Om.”
“Kamu pulang dengan apa?”
“Ini tadi Bagas udah telfon supir. Itu mobilnya udah datang, Om.”
Kemudian Bagas memasuki mobilnya dan pergi dari kediaman Om Putra.
Om Putra memasuki rumahnya setelah kepergian Bagas. Ia mendapati istrinya sedang memeluk dan mengelus sayang Jesna.
“Assalamu’alaikum,” ucap Om Putra ketika mendekati keberadaan istri dan keponakannya.
“Wa’alaikumsalam,” sahut keduanya.
Om Putra duduk di single sofa, ia menatap kedua tante dan keponakan itu satu per satu.
“Jesna, kamu mau cerita?” tanya Om Putra. Ia mendapati istrinya menggeleng karena belum mengetahui kejadian sebenarnya dari Jesna. Lalu, akhirnya ia menanyakan langsung kepada keponakannya itu.
“Katakan, Jes. Jangan kamu pendam sendiri. Om dan Tante harus tahu apa yang terjadi dengan kamu, Sayang,” ucap Om Putra menatap Jesna lembut.
Akhirnya Jesna berani melihat ke arah omnya. Ia menatap nanar Om Putra lalu air matanya jatuh kembali.
Melihat hal itu membuat Tante Anya merasa khawatir dengan Jesna. Ia kembali mengusap punggung Jesna guna menenangkan.
“Sudahlah, Mas. Jangan paksa Jesna dulu untuk cerita. Biarin dia tenang dulu. Bagas tadi bilang Jesna masih syok dengan kejadian tadi,” tutur Tante Anya.
Om Putra menghela napas. Ia akhirnya menyerah untuk memaksa Jesna bercerita perihal yang terjadi dengannya tadi sore.
Setelah menyuruh Jesna untuk istirahat di kamar, Om Putra termenung memikirkan sesuatu.
“Apa yang kamu pikirin, Mas? Ayo tidur,” ajak Tante Anya yang baru saja kembali setelah mengantarkan Jesna ke kamarnya.
Om Putra mengalihkan perhatiannya ke Tante Anya, “sepertinya kita majukan saja waktu pernikahan Jesna dengan Bagas,” ucap Om Putra.
“Kenapa dimajukan, Mas? Anya rasa waktu dua bulan ke depan sudah waktu yang tepat.”
“Seharusnya, iya. Tapi setelah kejadian tadi sore, Mas gak mau hal ini terjadi lagi dengan Jesna. Syukur saja tadi ada Bagas, kalau tidak, kita tidak tahu apa yang akan terjadi.” Om Putra menopang kepala dengan kedua tangannya di atas lutut.
“Tapi, kapan, Mas? Anya gak mau Jesna merasa keberatan dengan dimajukan waktu pernikahannya. Kita sudah cukup bersyukur karena Jesna menerima perjodohan ini, selebihnya kita lebih baik tidak memaksa Jesna lagi.” Tante Anya menyuarakan ketidaksetujuannya.
“Mas akan mencoba memberi paham Jesna. Kamu lihat kejadian tadi sore? Kalau dia menikah dengan Bagas, dia pasti akan terlindungi.”
“Mas akan hubungi Ramlan mengenai ini. Kalau bisa pernikahan mereka akan dilaksanakan tiga minggu lagi dari sekarang,” putus Om Putra. Ia beranjak menuju kamarnya dan meninggalkan Tante Anya yang masih tidak setuju dengan keputusan ini.
“Semoga keputusan kamu ini benar, Mas,” ucap Tante Anya lirih. Ia hanya bisa pasrah dan mengikuti keputusan yang suaminya buat.
***

หนังสือแสดงความคิดเห็น (81)

  • avatar
    MentariYunna

    suka sama ceritanya, tulisannya juga keren, penulis membawakan ceritanya dengan rapih dan bisa membuat aku sebagai pembaca terhanyut dalam cerita dan terkagum sama sifat jesna... keren! sering-sering update yaa kak, penasaran soalnya dgn ceritanya 😁

    18/01/2022

      1
  • avatar
    Stay madIf you mad

    bagus banget ceritanya..alurnya bagus menarik bikin greget tapi seru semangat

    16/01/2022

      0
  • avatar
    NurulAfiqah

    Jalan penceritaan Yang bagus 👍🏻👍🏻👍🏻 & menarik. Secara tidak langsung boleh dijadikan iktibar dan pengajaran.

    16/01/2022

      0
  • ดูทั้งหมด

บทที่เกี่ยวข้อง

บทล่าสุด