logo text
เพิ่มลงในห้องสมุด
logo
logo-text

ดาวน์โหลดหนังสือเล่มนี้ภายในแอพ

4

Kegiatan Jesna di kampus hari ini hanya sedikit. Jesna hanya mengajar dua kelas dan siangnya ia kosong. Jesna menggunakan waktu kosongnya ini untuk belajar. Ya, kini Jesna berada di perpustakaan kampusnya. Ia gemar membaca buku-buku mengenai peradaban Islam pada masa dulu. Entah kenapa ia begitu tertarik tentang itu.
Banyak orang mengatakan bahwa itu bukan hal menarik untuk dipelajari. Setidaknya kita sebagai umat Islam mengetahui tentang Islam saja itu sudah cukup. Buat apa mengetahui seluk beluknya jika itu tidak akan terpakai pada masa sekarang. Begitulah mereka selalu berkomentar jika melihat Jesna larut dalam bacaannya.

Namun, itu semua tidak berarti apa-apa bagi Jesna. Semakin banyak orang-orang mengingkarinya, maka semakin gencar pula Jesna mencari tahu. Semakin Jesna mengetahui sejarah Islam, ia semakin merasa bersyukur akan nikmat iman yang ia miliki saat ini.
Saat Jesna begitu serius membaca buku yang ia pegang saat ini, ia merasakan ponselnya bergetar di atas meja. Ia menghentikan bacaannya dan melihat siapa yang memanggilnya. Jesna langsung mengangkat begitu tahu orang tersebut.
“Assalamu’alaikum,” sapa Jesna kepada orang diseberang sana.
“Wa’alaikumsalam, Jesna. Kamu lagi di kampus ya hari ini?” tanya Bagas. Ya, Bagas lah yang menelfonnya.
“Iya, saya lagi di kampus. Ada apa ya, Bagas?”
“Eum … kamu pulang jam berapa? Nanti aku jemput ya, sekalian aku mau ngajak kamu ke suatu tempat.”
“Memangnya mau kemana?” tanya Jesna.
“Ada deh. Kamu jam 5 udah selesai mengajarkan?”
“Hem, iya sudah,” jawab Jesna. Ia tidak mau memberitahukan bahwa sebenarnya ia sudah selesai mengajar hari ini. Ia masih ingin membaca beberapa buku yang sudah ia list seminggu yang lalu.
“Oke, kalau gitu nanti aku jemput kamu di kampus, ya.”
“Eh gak usah, kita ketemuan di tempat yang kamu bilang aja. Saya bawa mobil soalnya.”
“Hm … yaudah kalau begitu. Nanti aku share lock, ya. See you.” Bagas mengakhiri percakapan mereka.
“Assalamu’alaikum,” ucap Jesna kemudian ia mengakhiri panggilannya.
Setelah itu, Jesna melanjutkan membaca bukunya. Ia akan mencoba mempelajari beberapa hal yang disajikan dalam buku ini. Sebab, jika suatu hari nanti ia terpanggil untuk wawancara dalam study tour religi ke tempat dua tanah suci tersebut, ia sudah mengetahui sedikit banyak hal mengenai Islam. Ia sudah mendapat beberapa bocoran dari teman-temannya yang sudah belajar di sana.
Di tempat yang berbeda, terdapat 3 orang yang sudah tertawa gembira karena mereka berhasil menjalankan salah satu rencana. Mereka adalah Bagas dan teman-temannya. Mereka berencana untuk menjebak Jesna. Entah bagaimana rencana mereka selanjutnya.
Namun, ada satu orang yang tidak menyetujui rencana yang mereka buat. Ia adalah El. Salah satu teman Bagas yang tidak pernah menyetujui perbuatan buruk yang akan dilakukan oleh Bagas dan teman-temannya yang lain. Bagi El, Bagas merupakan sosok yang memiliki jiwa penyayang dan baik hati, hanya saja semua itu berubah karena kejadian masa lalu yang begitu menyakitkan hingga membuat Bagas melupakan sifat alaminya.
“Gue harap kalian batalin rencana busuk itu. Apa kalian gak mikir kalau hal seperti itu bakal terjadi sama keluarga kalian. Ingat, kalian semua punya adik dan sepupu perempuan, dan jangan lupa nyokap kalian yang juga seorang perempuan. Harusnya lo mikir pake akal sehat lo,” ucap El begitu tenang namun perkataannya begitu tegas mengingatkan.
“Halah El … El. Udah deh, kalau lo gak mau ikut rencana kita ya lo diam aja. Lagian kita cuma main-main aja kok, ya gak?” ujar Bagas membantah perkataan El.
“Bener banget. Lo kenapa sih El, sensi bener dari tadi,” sahut Danil, salah satu teman Bagas dan El.
El menggeleng-menggelengkan kepalanya melihat kelakuan teman-temannya. Ia tidak habis pikir dengan kelakuan teman-temannya ini.
El pun memutuskan untuk pergi. Ia menuju mobilnya dan berencana mengunjungi tempat yang benar-benar membuat dirinya merasa hidup.
Saat El akan menjalankan mobilnya, ia kembali teringat dengan rencana yang dibuat oleh teman-temannya.

“Kenapa gak gue ikutin aja mereka, jadi gue bisa tahu apa yang mereka lakuin.”
Akhirnya El menunggu teman-temannya keluar dari kafe tempat mereka berkumpul tadi. Meski harus menunggu beberapa jam, itu semua tidak membuat El membatalkan niatnya untuk mengikuti teman-temannya.
Kini, mobil yang El kendarai berada tak jauh di belakang mobil teman-temannya. El mengikuti mereka hingga mereka tiba di sebuah gedung kosong yang terbengkalai. Hanya saja, di samping gedung tersebut terdapat sebuah taman yang cukup bersih, berlawanan dengan tempat di sebelahnya.
“Nah, di taman ini lo bakal nungguin cewek lo, Gas,” ucap salah satu teman Bagas.
Bagas menyeringai. Ia sudah memikirkan hal ini dan berharap rencananya ini akan berhasil.
“Nanti gue bakal pancing dia ke gedung ini sebelum dia temuin lo di taman. Lo tenang aja, rencana ini bakal berhasil,” ucap temannya yang lain.
Semua percakapan itu didengar dengan jelas oleh El. Dia masih memantau dari jarak yang tidak begitu jauh. Jika ia melihat hal yang begitu mencurigakan, baru ia akan keluar.
Dilihatnya Bagas dan dua teman lainnya berpisah. Bagas beranjak menuju taman sedangkan dua teman lainnya menuju gedung kosong tersebut.
Tak lama, tibalah sebuah mobil jazz putih dan berhenti tak jauh di depan mobil El. Seorang perempuan menggunakan kerudung abu-abu turun dari mobil tersebut.
Untuk sesaat, El terpana akan kecantikan yang dimiliki oleh perempuan tersebut. Namun, semua itu sirna saat perempuan tersebut berjalan menuju taman yang tak jauh dari tempatnya memarkirkan mobil.
El melihat itu semua. Bagaimana dua temannya datang dari arah gedung kosong dan menghadang Jesna. Merayu dan memaksa Jesna untuk mengikuti perkataan mereka. El benar-benar tidak menyangka temannya akan berbuat sebejat ini.
Saat El hendak turun dari mobil untuk menolong, tiba-tiba datang lah sosok Bagas yang pada awalnya menunggu di taman. Di sana, ia melihat bagaimana dramatisnya kejadian yang diciptakan oleh teman-temannya.
El tertawa tak habis pikir. Begini ternyata rencana yang mereka buat. Melihat Bagas yang datang bak pahlawan yang menolong, sungguh kejadian di depan matanya saat ini membuat ia geli.
“Gue kira rencana kalian benar-benar busuk, tapi…” El tak henti-hentinya menertawakan kelakuan teman-temannya. Namun, ia bersyukur bahwa teman-temannya tidak melakukan perbuatan yang jahat.
Akhirnya El memutuskan untuk pergi dari tempat itu saat ia melihat Bagas telah membawa perempuan tersebut ke mobilnya. Ya, terlihat jelas di sini Bagas benar-benar seperti malaikat penolong.
“Jadi itu calon istrinya Bagas. Cantik. Mudah-mudahan Bagas benar-benar tulus sama perempuan itu.” El bermonolog sendiri. Ia kini melajukan mobilnya ke tempat yang awalnya akan ia tuju setelah dari kafe, namun harus ia tunda karena penasaran dengan kelakuan konyol teman-temannya.
***

หนังสือแสดงความคิดเห็น (81)

  • avatar
    MentariYunna

    suka sama ceritanya, tulisannya juga keren, penulis membawakan ceritanya dengan rapih dan bisa membuat aku sebagai pembaca terhanyut dalam cerita dan terkagum sama sifat jesna... keren! sering-sering update yaa kak, penasaran soalnya dgn ceritanya 😁

    18/01/2022

      1
  • avatar
    Stay madIf you mad

    bagus banget ceritanya..alurnya bagus menarik bikin greget tapi seru semangat

    16/01/2022

      0
  • avatar
    NurulAfiqah

    Jalan penceritaan Yang bagus 👍🏻👍🏻👍🏻 & menarik. Secara tidak langsung boleh dijadikan iktibar dan pengajaran.

    16/01/2022

      0
  • ดูทั้งหมด

บทที่เกี่ยวข้อง

บทล่าสุด