logo text
เพิ่มลงในห้องสมุด
logo
logo-text

ดาวน์โหลดหนังสือเล่มนี้ภายในแอพ

DKJ 03

Sorak gembira anak-anak panti memenuhi ruangan aula yang berukuran sedang ini. Setelah membagikan makanan yang ia dan omnya bawa, Jesna mengambil tempat duduk tak jauh dari kumpulan anak-anak yang sedang tertawa bahagia sembari memakan makanannya.
Minggu pagi ini, ia dan Om Putra berkunjung ke salah satu panti asuhan yang berada di pinggiran kota. Kegiatan ini selalu ia lakukan mengingat Om Putra merupakan salah satu donator di panti asuhan ini.

Melihat kebahagiaan yang dipancarkan oleh anak-anak panti, membuat Jesna merasa terharu. Meski tidak bersama dengan orang tua atau pun keluarga, mereka tetap bisa tertawa seolah-olah itu bukanlah hal yang serius. Di sini, Jesna selalu merasa bersyukur atas kesempatan dan takdir yang telah Allah berikan kepadanya. Sebab, ia masih memiliki om dan tante yang sangat menyayanginya dan menjadi pengganti orang tuanya.
“Terima kasih, ya, Pak, anak-anak panti senang dengan kehadiran Bapak dan Nak Jesna ke tempat ini. Dibawain makanan lagi,” ucap Ibu panti kepada Om Putra.
“Tidak apa-apa. Melihat senyum bahagia mereka membuat saya merasa senang, lihat saja Jesna yang gak berhenti tersenyum mandangin anak-anak itu lagi makan.”
Ibu panti tersenyum melihat Jesna memperhatikan anak-anak yang begitu antusias.
Kemudian beliau berkata, “melihat Jesna, saya teringat sama salah satu donator di sini juga, beliau baru beberapa minggu ini selalu menyumbang ke panti ini.”
“Oh ya? Alhamdulillah masih ada orang di luar sana yang perduli dengan hal seperti ini. Semoga beliau diberi kesehatan dan selalu dilancarkan rezekinya.”
“Tapi, kenapa Bu Manda jadi teringat orang itu saat melihat Jesna?” tanya Om Putra penasaran.
“Ah tidak. Saya hanya teringat bahwa walau ia masih muda tapi ia tidak lupa menyisihkan rezekinya untuk berbagi. Sangat jarang di masa sekarang ini dimana para muda-mudi yang sudah bepenghasilan masih mengingat untuk berbagi. Sudahlah tampan, baik, sopan pula,” tutur Bu Manda.
Om Putra hanya mengangguk saja. Ia juga salut mendengar masih ada anak muda yang dermawan seperti itu, apalagi laki-laki.
“Nanti saya kenalkan Bapak dengan Nak Fathan, biasanya beliau ke sini ba’da Ashar.”
Om Putra sedikit heran melihat Bu Manda bersemangat menceritakan sosok Fathan ini, tidak seperti biasanya. Ia jadi penasaran, tapi ia tidak bisa bertemu karena ia masih ada urusan setelah ini.
Tak lama Om Putra menghampiri Jesna yang sedang bercerita dengan anak-anak panti.
“Jes, sudah yuk, kita pulang sekarang. Tante udah nungguin di rumah,” ucap Om Putra menginterupsi percakapan Jesna.
“Yah Kakak udah mau balik, ya? Gak seru, dong,” ucap salah satu anak panti.
Jesna tersenyum kemudian berkata, “iya Kakak pulang dulu, ya. InsyaAllah, nanti kalau ada kesempatan lagi Kakak bakal kunjungi kalian. Kalian jangan nakal-nakal, ya, patuh sama Bu Manda dan yang lain,” ucap Jesna.
“Padahal kita mau kenalin Kakak sama Abang Fathan,” ucap anak panti lainnya.
“Maaf, ya, tapi Kakak janji bakal ke sini lagi dan kenalan sama Abang Fathan yang kalian bilang. Kalau begitu Kakak pulang dulu, ya. Assalamu’alaikum.” Jesna sedikit berat meninggalkan anak-anak panti ini. Setiap kali ke sini, ia merasa enggan untuk pulang.
“Om juga pamit dulu ya. Ingat semua pesan Kak Jesna, oke?” ucap Om Putra.
“Oke, Om.” Semua anak-anak panti menyalami Om Putra dan Jesna. Kemudian Jesna berpamitan dengan Bu Manda dan pengurus panti lainnya lalu beranjak menuju tempat mobil Om Putra diparkirkan.
Kini mereka telah berada di mobil dengan Pak Jaka yang duduk di kursi kemudi. Mereka akan kembali ke rumah untuk menjemput Tante Anya. Mereka berencana untuk mengunjungi rumah singgah yang belum lama ini Jesna dirikan.
“Om, tadi anak-anak bilang bakal kenalin Jesna ke Abang Fathan, Om tahu siapa Fathan itu? Anak panti baru, ya? Kok Jesna gak lihat dia tadi?” tanya Jesna kepada Om Putra.
“Oh itu, tadi Bu Manda bilang ada donatur baru di panti dan namanya Fathan. Tadi dia belum datang karena biasanya selalu ke panti setelah Ashar,” jelas Om Putra.
Jesna mengangguk paham. Ia bersyukur masih ada orang yang memiliki hati yang baik yang mau menyisihkan sebagian uangnya untuk anak-anak panti. Apalagi telah menjadi donator tetap, itu merupakan kabar yang membahagiakan.
Mobil yang membawa Jesna dan Om Putra telah tiba di rumah. Jesna keluar mobil untuk memanggil Tante Anya dan membantu membawa sedikit barang karena mereka akan langsung berangkat ke rumah singgah.
Mereka pun segera menuju ke rumah singgah tersebut. Rumah singgah yang Jesna dirikan untuk anak-anak jalanan ini berlokasi lumayan jauh dari kota. Ia sengaja memilih tempat ini agar anak-anak jalanan ini tidak bisa ditemukan oleh preman-preman yang memaksa mereka untuk menjadi pengamen dan juga tempat ini sangat tenang, jauh dari keramaian kota.
Dulu, saat Jesna sedang berada di lampu merah untuk menyebrang jalan, terdapat dua orang anak kecil yang mendekatinya dan meminta pertolongannya. Awalnya Jesna merasa ragu dan sedikit takut, takut jikalau ini hanyalah akal-akalan preman-preman setempat yang menyuruh anak-anak ini. Namun, melihat kesungguhan mereka dan raut wajah takut dari mereka, membuat Jesna merasa khawatir akan apa yang terjadi. Kemudian, ia mengikuti kemana anak-anak tersebut membawanya. Hingga tak disangka, di tempat yang kumuh ini terdapat seorang anak yang tergeletak tak berdaya.
“Astaghfirullahal‘adzim … Ini kenapa? Kenapa dia bisa kaya gini?” tanya Jesna seketika melihat anak tersebut dan beberapa anak-anak lainnya yang mengerubunginya. Jesna segera merangkul anak tersebut.
“Gak tahu, Kak, dari kemarin dia udah lemas begini terus malam tadi dia selalu kedinginan padahal kita udah selimutin pakai kain-kain ini,” jawab salah satu anak yang membawanya kemari.
“Yaudah kalau begitu bantu Kakak angkat dia. Kita bawa dia ke rumah sakit.”
Setelah saat itu, Jesna merawat anak-anak jalanan itu. Ia selalu memberikan makanan kepada mereka tanpa sepengetahuan preman-preman yang memaksa mereka. Hingga pada akhirnya, Jesna memutuskan untuk membawa anak-anak itu pergi dan membangun sebuah rumah singgah untuk anak-anak itu bernaung.
Perjuangan Jesna menempatkan anak-anak jalanan di rumah singgah sungguh berat. Sebab, ia harus membawa anak-anak itu satu per satu pada malam hari. Hal ini ia lakukan agar para preman yang biasa memaksa mereka tidak mengetahui hal ini. Ditambah lagi, Om dan Tante yang awalnya belum mengizinkan, membuat ia harus ekstra berusaha.
Dan kini, semua perjuangannya itu berbuahkan hasil. Ia mampu merawat anak-anak tersebut meski di bantu oleh beberapa orang yang bekerja dan mengajar di rumah singgah tersebut. Jesna sungguh bersyukur akan hal itu.
“Jesna, kamu baik-baik saja?” tanya Tante Anya. Melihat Jesna yang hanya diam selama perjalanan membuat Tante dan Om Putra khawatir.
“Ah, ya, Tante, Jesna baik-baik aja.”
“Lalu, kenapa kamu melamun seperti itu? Kalau kamu ada masalah, kamu bisa cerita ke Om dan Tante. Jangan dipendam sendiri,” balas Tante Anya. Beliau mengelus pundak Jesna dengan sayang.
Jesna meraih tangan Tante Anya, menggenggamnya, kemudian berkata, “Jesna gak apa-apa, Tante. Jesna hanya teringat masa-masa Jesna bertemu anak-anak dan membawa mereka ke rumah singgah dulu. Dan sampai sekarang, Jesna masih belum percaya bahwa Jesna bisa melakukannya.”
“Kalau untuk kebaikan, InsyaAllah, Allah beri jalan. Yang penting sekarang kamu tetap semangat dan terus berusaha biar kamu bisa merawat dan menjaga mereka.”
Obrolan mereka terhenti karena mereka telah tiba di rumah singgah tersebut. Di sana telah berkumpul anak-anak Jannah, Jesna menyebutnya seperti itu, menyambut kedatangan mereka.
“Assalamu’alaikum, semuanya,” sapa Jesna ketika ia telah keluar dari mobil.
“Wa’alaikumsalam, Kak Jesna.” Mereka begitu gembira dengan kedatangan Jesna ke rumah singgah ini. Hampir lebih 2 minggu Jesna tidak mengunjungi mereka dikarenakan pekerjaan Jesna yang lumayan padat.
“Apa kabar adik-adik Kakak?” tanya Jesna.
“Alhamdulillah kami semua baik, Kak, ini semua berkat Kak Jesna,” Jawab Raihan, salah satu anak yang lebih tua usia nya dibandingkan dengan yang lain.
“Ini semua berkat Allah, kalau Allah gak nuntun kalian buat minta tolong sama Kakak dulu, mungkin kita gak bakal ketemu,” sahut Jesna.
Jesna mengarahkan mereka semua untuk berkumpul di taman bermain samping rumah. Kemudian Jesna meminta Raihan dan Ikram untuk mengambil barang bawaan Jesna di mobil.
“Nah, ini Om dan Tante nya Kakak bawa oleh-oleh buat kalian. Ikram tolong dibagiin ya,” ucap Jesna setelah ia menerima barang yang ia minta.
Ikram membagikan bungkusan yang diberikan Jesna kepada teman-teman dan adik-adik nya di rumah singgah ini. Ia dibantu oleh Raihan dan juga Naina. Mereka bertiga adalah kakak tertua di rumah ini sehingga Jesna mempercayakan anak-anak yang lainnya kepada mereka bertiga.
Setelah mendapatkan bungkusan masing-masing, Jesna meminta mereka untuk membukanya di kamar masing-masing karena Jesna ingin menyampaikan sesuatu. Ia ingin mereka mendengarkan karena ini adalah kabar gembira untuk mereka.
“Kak Jesna ingin menyampaikan sesuatu, yaitu mulai senin besok, akan ada seorang guru baru untuk kalian yang akan mengajarkan kalian memanah. Hayo siapa yang ingin diajarin memanah?”
Anak-anak itu menjawab, “kami mau, Kak, kami ingin belajar memanah biar kayak Nabi dan para sahabat dulu.” Mereka sangat gembira mendengar berita ini karena inilah yang mereka inginkan sejak awal mereka dikenalkan dengan sejarah Islam.
“Alhamdulillah semuanya mau belajar memanah. Nah, jadi besok kakak mau kalian semua bangun pagi. Jangan ada yang ketiduran karena belajar memanah akan dimulai jam 6 sebelum kalian setoran hafalan pukul 9. Semua siap?”
“Siap, Kak Jesna,” jawab mereka serempak.
Setelah menyampaikan kabar gembira itu, Jesna menyuruh anak-anak tersebut masuk ke kamar mereka masing-masing untuk bersiap-siap. Karena sebentar lagi akan masuk waktu Ashar dan mereka akan melaksanakan sholat berjama’ah di mushola kecil di halaman belakang.
Semua fasilitas yang tersedia merupakan ide dari Jesna. Ia ingin anak-anak ini bisa mengerjakan ibadah dan juga kegiatan lainnya tanpa harus berjalan jauh untuk mencapai tempat tertentu.
Om dan Tante Jesna terharu melihat semua yang terjadi hari ini. Mereka tidak menyangka akan membesarkan anak yang memiliki hati yang begitu tulus dan mulia seperti Jesna. Ini merupakan sebuah anugerah terindah dari Allah karena Jesna membawa kehidupan mereka menjadi lebih baik dari sebelumnya.
“Jesna itu anak yang baik. Semoga Bagas yang nantinya akan menjadi pendamping Jesna mampu melindungi Jesna dan tidak menjauhkan Jesna dari hal yang baik seperti ini,” ucap Om Putra.
“Benar, Mas. Semoga Bagas bisa menerima Jesna yang memiliki anak asuh dan tidak memisahkan mereka. Sebab, aku tahu, anak-anak ini adalah separuh kebahagiaan Jesna,” tambah Tante Anya.
“Kita berdua mendoakan yang terbaik untuk Jesna. Dan nanti sekiranya Bagas bukanlah jodoh Jesna, Mas yang akan memisahkan mereka karena Mas yang bertanggung jawab atas ini semua.”
“Iya, kita doakan yang terbaik dan semoga Bagas adalah jodoh yang terbaik dari Allah untuk Jesna.”
“Aamiin …” Om Putra mengaminkan dan berharap doa-doanya terkabul.
Kemudian mereka berdua ikut masuk ke dalam rumah dan menyapa para pekerja di sini. Mereka berdua juga selalu memberikan sedikit bantuan berupa uang atau yang lainnya agar setidaknya meringankan beban Jesna meski Jesna sendiri tidak merasa ini sebuah beban.
Ya, satu-satunya donator di rumah singgah ini ialah Om dan Tante Jesna. Jesna bersyukur Om dan Tantenya menerima keputusan Jesna dulu dan ikut membantu Jesna dalam merawat dan membimbing anak-anak di rumah singgah ini. Sungguh, anak-anak ini adalah obat bagi Jesna saat ia merasa dalam keadaan tidak baik.
***

หนังสือแสดงความคิดเห็น (81)

  • avatar
    MentariYunna

    suka sama ceritanya, tulisannya juga keren, penulis membawakan ceritanya dengan rapih dan bisa membuat aku sebagai pembaca terhanyut dalam cerita dan terkagum sama sifat jesna... keren! sering-sering update yaa kak, penasaran soalnya dgn ceritanya 😁

    18/01/2022

      1
  • avatar
    Stay madIf you mad

    bagus banget ceritanya..alurnya bagus menarik bikin greget tapi seru semangat

    16/01/2022

      0
  • avatar
    NurulAfiqah

    Jalan penceritaan Yang bagus 👍🏻👍🏻👍🏻 & menarik. Secara tidak langsung boleh dijadikan iktibar dan pengajaran.

    16/01/2022

      0
  • ดูทั้งหมด

บทที่เกี่ยวข้อง

บทล่าสุด