Kini, Jesna telah berada di kampus tempat ia mengajar. Jadwalnya hari ini lumayan padat karena harus mengajar 3 kelas dalam sehari. Tiap kelas yang ia ajar, ia harus memenuhi 3 sampai 4 sks per mata kuliah.
Ia memasuki kelas pertamanya yang merupakan kelas para mahasiswa tingkat pertama. Ia begitu senang melihat wajah-wajah baru yang masih memiliki ambisi yang besar dalam kuliah. Tidak seperti mahasiswa tingkat 3 ke atas yang kini perlahan mulai lesu dalam perkuliahan. Mereka merasa terbebani oleh tugas-tugas para dosen ditiap mata kuliahnya. Beginilah dunia perkuliahan, tidak seperti cerita sinetron yang ditayangkan. Jesna memulai perkuliahannya dengan menyapa para mahasiswa barunya. Melihat semangat mereka yang begitu besar, membuat Jesna juga ikut bersemangat. “Selamat pagi, semuanya. Perkenalkan saya Jesna Az-zahra, kalian boleh panggil saya dengan sebutan Miss, Ibu, ataupun Kakak. Di sini saya sebagai pengampu mata kuliah Bahasa Inggris, jadi saya harap kalian semua tidak merasa jenuh ataupun bosan selama di kelas ini.” Jesna memperkenalkan dirinya di hadapan mahasiswa barunya. Tak lupa senyuman selalu ia tampilkan agar mahasiswanya tidak merasa takut ataupun enggan untuk berbicara dengannya. “Baiklah, sebelum kita membicarakan kontrak kuliah selama satu semester ini, apa ada yang ingin ditanyakan?” Jesna mempersilahkan mahasiswanya untuk bertanya kepadanya. Salah satu mahasiswa yang berada di sudut ruangan mengangkat tangannya kemudian berdiri, “Miss Jesna sudah menikah belum?” tanya nya. Jesna tertawa mendengarnya, ia sudah menduga pertanyaan ini tidak akan pernah ketinggalan dari masa perkenalannya dengan mahasiswa-mahasiswa baru. “Belum, saya belum menikah,” jawab Jesna. Kemudian mahasiswa lainnya menyahut, “Kak Jes, mau gak nikah sama Abang saya. Kak Jesna cantik, abang saya ganteng. Kalian pasti cocok.” Ia begitu semringah mengatakan hal tersebut. Lain hal dengan mahasiswa lainnya, mereka menyorakinya namun itu hanyalah sebagai candaan belaka. “Astaga kamu ini mau jadi mak comblang, ya.” Jesna terkekeh kemudian menggelengkan kepalanya. Bisa-bisanya mahasiswanya menjodohkan ia dengan abangnya. Beginilah hal yang ia suka mengajar di kelas mahasiswa baru. Celotehan-celotehan asal yang mereka lontarkan mampu membuat Jesna tertawa dan sedikit melupakan masalahnya. “Baiklah jika sudah tidak ada yang ingin ditanyakan lagi, saya akan memberi tahu sistem perkuliahan di kelas saya. Sama dengan dosen-dosen lainnya, saya tidak mentolerir keterlambatan jika telah lebih dari sepuluh menit, pakaian harus sopan dan rapi, serta selama perkuliahan kalian tidak diizinkan untuk menggunakan ponsel kecuali dalam hal darurat dan juga berhubungan dengan mata kuliah saya. Jika kalian ketahuan memainkan ponsel di mata kuliah saya, saya tidak akan segan-segan untuk menahan ponsel kalian selama tiga hari.” Jesna menjelaskan peraturan perkuliahan kepada mahasiswanya. Ia akan bersikap sangat tegas jika berhubungan dengan kuliah. “Tetapi untuk masalah tugas, saya berbeda dengan dosen lainnya. Jika dosen lainnya selalu memberikan tugas ditiap minggunya, maka saya akan memberikan kalian tugas per bulan. Jadi selama satu semester ini, kalian hanya mengumpul tugas dari saya sebanyak empat atau lima,” tambah Jesna. “Gue gak yakin nih yang beginian, meski tugasnya dikit pasti banyak praktek atau yang lainnya. Ya kali kuliah segampang ini apalagi matkul Inggris. Mau dapat nilai dari mana coba.” Salah satu mahasiswi mengutarakan pikirannya kepada teman di sebelahnya dan itu terdengar oleh Jesna. Ia tersenyum kemudian menyahut, “ya kamu benar, meski tugas yang saya berikan sedikit, tentu kalian harus menambah nilai kalian dengan berbagai praktek ataupun observasi lapangan. Tetapi, semua itu akan kita lakukan bersama-sama dengan melakukan beberapa perjalanan wisata.” Jesna melihat wajah para mahasiswanya sedikit kebingungan. Kemudian mahasiswanya kembali bertanya, “maksudnya kita bakal pergi study tour gitu?” “Yap, benar sekali. Setiap minggunya, tepatnya pada saat weekend, kita akan pergi study tour. Untuk tempatnya, saat ini kita hanya melakukannya di sekitaran kota ini, tapi, InsyaAllah, jika ada kesempatan, kita akan pergi ke daerah lain.” “Jadi, saat study tour nanti, kita bakal ngapain, Miss?” tanya mahasiswa lainnya. “Untuk tugas-tugasnya akan saya jelaskan nanti. Tapi yang pasti kalian akan selalu bertemu dengan bule-bule di daerah tersebut,” ucap Jesna. Para mahasiswanya begitu senang mendengarnya. Meski mereka tidak sepenuhnya menyukai bahasa Inggris ataupun mahir dalam mengucapkannya, tapi mereka begitu antusias dengan adanya study tour ini. Jesna selalu melakukan hal tersebut terhadap para mahasiswa barunya. Ia tidak ingin para mahasiswanya tidak menyukai mata kuliahnya dan merasa jenuh di kelas, serta enggan untuk aktif pada kelasnya.
Jesna melanjutkan perkenalan dengan para mahasiswa barunya. Di hari pertama ini, ia akan mencoba untuk mengenal mahasiswanya, baik dari karakter maupun wataknya. Dari sini ia akan tahu metode pengajaran seperti apa yang akan ia terapkan selama satu semester ke depan. Usai mata kuliahnya selesai, Jesna menuju ruangannya untuk beristirahat. Beberapa saat lagi ia akan menuju ke kelas berikutnya. Saat Jesna sedang meminum tehnya, ia mendengar suara pintu diketuk. Ia pun mempersilahkan tamunya untuk masuk. “Assalamu’alaikum, kak Jesna. Ini daftar nama mahasiswa kelas A sudah Yeza kumpulkan.” Yeza, mahasiswanya yang tadi mencoba menjodohkan Jesna dengan abangnya mendatangi Jesna untuk menyerahkan apa yang Jesna minta. Ia memilih Yeza sebagai koordinator kelas A karena Yeza sendiri yang bersedia dan mengajukan diri. Dan juga, ia memang tidak pernah meminta mahasiswa laki-laki untuk menjadi koordinator kelasnya. Ia memiliki alasan tersendiri untuk hal itu. “Wa’alaikumsalam, baik, terima kasih, ya, Yeza. Kamu bisa letakkan di situ,” ucap Jesna. Kemudian Yeza meletakkan daftar nama tersebut di meja Jesna. “Kalau begitu, Yeza permisi dulu, kak. Assalamu’alaikum.” “Sebentar, Yeza. Saya ingin meminta satu hal lagi, nanti saya akan berikan materi yang akan saya jelaskan minggu depan. Kamu tolong share ke teman-teman yang lainnya ya.” “Oke, kak. Nanti Yeza share ke grup kelas. Ada lagi, kak?” “Tidak, itu saja. Terima kasih sekali lagi, ya, Yeza.” “Tidak masalah, kak. Kalau begitu Yeza permisi dulu, Assalamu’alaikum,” pamit Yeza. “Wa’alaikumsalam,” jawab Jesna. Setelah itu, Jesna segera bersiap untuk masuk ke kelas selanjutnya. Ia akan sedikit sibuk hingga malam nanti, karena ia memiliki kelas terakhir setelah magrib. Namun begitu, ia tetap semangat untuk membagikan ilmu yang ia punya kepada para mahasiswanya. Malam pun tiba, ia telah menyelesaikan kelas terakhirnya. Kini, waktu menunjukkan pukul 9 malam, Jesna segera menuju parkiran untuk mengambil mobilnya. Saat ia akan menyalakan mesin mobil, ponselnya berdering. Ia kemudian melihat siapa yang memanggilnya. Ternyata di sana tertera Om Putra memanggil. “Assalamu’alaikum, Om?” sapa Jesna. “Wa’alaikumsalam, kamu masih di kampus?” “Iya nih, Om, tapi ini udah diparkiran kok mau pulang.” “Oh begitu. Jesna, Om bisa minta tolong sama kamu?” “Ya ampun Om, kenapa Om harus tanya dulu? Om bisa minta tolong apapun ke Jesna selagi Jesna mampu melakukannya,” sahut Jesna. “Haha iya-iya, kamu jangan kesal gitu, dong. Gini, tadi Om order beberapan makanan ringan di toko makanan Warmer dan belum Om ambil karena beberapa stoknya yang habis. Barusan pemilik tokonya telfon Om, bilang kalau semuanya udah ready. Jadi, Om minta tolong kamu ambil, ya, kalau gak salah tempat itu gak jauh dari kampus kamu,” jelas Om Putra. “Gitu, ya, Om? Oke, Jesna ke sana ambil makanannya. Ada lagi, Om? Om dan Tante udah makan belum? Biar Jesna sekalian beliin makanan,” tawar Jesna. “Gak usah, Jes. Om dan Tante udah makan. Kamu beli untuk kamu saja, kamu pasti belum makan malam, kan?” “Iya sih, Om. Yaudah kalau gitu Jesna jalan dulu, ya.” “Yaudah, kamu hati-hati. Om tutup dulu telfonya, Assalamu’alaikum.” “Wa’alaikumsalam.” Jesna menyimpan kembali ponselnya di tas, kemudian ia berangkat menuju toko yang disebutkan oleh omnya. Setelah mengambil barang dan membeli makanan untuknya, ia segera melaju menuju rumah. Setibanya ia di rumah, ia di sambut oleh Om Putra yang sudah menunggu di teras rumah. “Assalamu’alaikum, Om. Kok di luar? Dingin tau, Om.” Jesna menyalami Om Putra dan ikut duduk bersama di teras. “Om nungguin kamu. Udah jam segini kamu belum pulang juga, masih ramai ya di toko Warmer nya?” “Enggak, tadi Jesna lama di tempat nasi gorengnya, banyak yang antri.” “Oh begitu. Syukurlah kamu udah sampai rumah, kemarin kata tetangga sebelah lagi banyak begal di jalanan, Om takut kamu kenapa-napa. Lagian Om juga salah minta tolong kamu malam-malam begini,” sesal Om Putra. “Gak apa-apa, Om, InsyaAllah, Jesna gak kenapa-napa. Ada Allah yang akan melindungi kita. Yaudah kita masuk, yuk, Om. Nanti barangnya biar Jesna minta tolong pak Jaka yang bawa ke dalam.” Jesna dan Om Putra masuk ke rumah. Setibanya mereka di ruang tengah, di sana ada Tante Anya yang sedang menonton televisi. “Jesna, Alhamdulillah kamu sudah pulang. Liat Om kamu itu, tadi Om kamu yang nyuruh ngambil barang malam-malam begini, eh taunya dia yang panik sendiri. Padahal udah tante bilang ngambilnya besok aja.” Jesna duduk di sofa sebelah tantenya. Ia tersenyum mendengar omelan Tante Anya terhadap Om Putra. Ia begitu menyukai situasi seperti ini, di saat keluarga yang ia punya saling mengkhawatirkan satu sama lain. “Gak apa-apa, kok, Tante. Alhamdulillah Jesna sudah sampai rumah dengan selamat. Lagian kebetulan tokonya gak jauh dari kampus, jadi bisa sekalian.” “Iya-iya, Mas salah. Besok-besok Mas gak bakal nyuruh Jesna malam-malam lagi. Mas khilaf,” ucap Om Putra dengan sedikit bergurau saat mengatakan kalimat terakhirnya. “Dih Mas … Mas, dikit-dikit khilaf, dikit-dikit lupa. Tapi nanti dilakukan lagi. Untung aja cuma satu yang kayak kamu, Mas.” “Iya, untung aja cuma satu. Kalau tidak bisa-bisa Mas gak bisa jadi suami kamu.” Om Putra tertawa setelah menggoda Tante Anya. “Hem … kalau gini, Jesna ke kamar dulu deh. Gak mau jadi nyamuknya Om sama Tante,” ucap Jesna. Ia berjalan menuju tangga untuk ke kamarnya. Mereka bertiga tertawa gembira. Meski sederhana namun begitu indah bagi Jesna. Ia masih bisa merasakan kehangatan keluarga walau tidak bersama orang tua kandungnya. “Jes, jangan lupa makan dulu,” teriak Tante Anya saat Jesna sudah sampai di lantai atas. “Iya Tante, Jesna mau bersih-bersih dulu,” sahut Jesna. Setelah Jesna bersih-bersih dan makan malam, ia kembali menuju kamarnya. Kini pukul 11 malam dan Jesna belum bisa tidur. Ia masih memikirkan mimpinya dan juga pernikahan yang telah direncanakan. Kemudian, ia berjalan menuju bingkai foto yang terpajang besar di dinding kamarnya. Di sana terdapat foto ka’bah dan juga masjid Nabawi. Ia pandangi kedua bingkai foto tersebut kemudian berkata lirih, “ya Allah, entah bagaimana akhirnya, aku mohon izinkanlah aku agar bisa mengunjungi dua tempat suci ini dan mengais ilmu disana.” Begitulah harapan yang selalu Jesna doakan. Jesna memasrahkan segalanya kepada Allah Swt. Ia akan menerima jalan atau takdir apa yang akan ia terima. Ia yakin semua yang terjadi atas izin Allah. Itulah yang terbaik untuknya. Meski ia tidak diizinkan untuk mengunjungi dua tempat suci itu, ia akan ikhlas menerimanya. Ia yakin semua yang terjadi pasti ada hikmah dibaliknya. Pernikahan yang akan terjadi juga pasti atas kehendak Allah. Ia tidak mungkin berpaling dari itu semua. Bagaimana bisa ia melihat kesedihan di wajah om dan tantenya saat mengetahui Jesna menolak perjodohan itu. Ia tidak bisa melakukannya mengingat kebaikan yang diberikan keluarga ini kepadanya. Jika nanti saatnya tiba, ia pasti akan bisa memenuhi impiannya dan itu semua adalah rencana dan jalan terbaik dari Allah. Jesna akan menunggu sampai waktu itu tiba. ***
suka sama ceritanya, tulisannya juga keren, penulis membawakan ceritanya dengan rapih dan bisa membuat aku sebagai pembaca terhanyut dalam cerita dan terkagum sama sifat jesna... keren! sering-sering update yaa kak, penasaran soalnya dgn ceritanya 😁
18/01/2022
1
Stay madIf you mad
bagus banget ceritanya..alurnya bagus menarik bikin greget tapi seru semangat
16/01/2022
0
NurulAfiqah
Jalan penceritaan Yang bagus 👍🏻👍🏻👍🏻 & menarik. Secara tidak langsung boleh dijadikan iktibar dan pengajaran.
suka sama ceritanya, tulisannya juga keren, penulis membawakan ceritanya dengan rapih dan bisa membuat aku sebagai pembaca terhanyut dalam cerita dan terkagum sama sifat jesna... keren! sering-sering update yaa kak, penasaran soalnya dgn ceritanya 😁
18/01/2022
1bagus banget ceritanya..alurnya bagus menarik bikin greget tapi seru semangat
16/01/2022
0Jalan penceritaan Yang bagus 👍🏻👍🏻👍🏻 & menarik. Secara tidak langsung boleh dijadikan iktibar dan pengajaran.
16/01/2022
0ดูทั้งหมด