logo text
เพิ่มลงในห้องสมุด
logo
logo-text

ดาวน์โหลดหนังสือเล่มนี้ภายในแอพ

DKJ 18

“Gimana, Mas?” tanya Jesna.

Saat ini mereka baru saja tiba di rumah.

“Gimana apanya?”

“Ya rumah singgah itu. Gimana menurut kamu?” Bagas terdiam.

“Kamu mau aku jawab jujur atau gimana?”

“Ya jujur lah, Mas. Masak aku nyuruh kamu bohong,” ucap Jesna.

Bagas menghela napas pelan, “aku nggak suka,” jawab Bagas.

Kini, giliran Jesna yang terdiam. Ia tidak menyangka bahwa respon Bagas tidak sesuai dengan ekspetasinya.

“T-tapi kenapa, Mas?” tanya Jesna.

“Y-ya aku nggak suka aja. Nggak pake alasan.”

Jesna mengangguk dan tidak mau memperpanjang lagi.

“Ya sudah, aku ke kamar dulu, ya, Mas.” Jesna pergi ke kamarnya.
Ia ingin marah tapi tidak tau karena apa. Jujur, ia sedikit kecewa karena Bagas tidak menyukai dirinya yang memilik rumah singgah. Lalu, ia harus apa?
***

Hari ini, Jesna sedang berada di rumah sang Tante. Rasanya sudah lama sekali ia tidak mengunjungi Om dan Tantenya.

Kunjungan Jesna kali ini tidak bersama dengan Bagas karena Bagas sedang ada pekerjaan di luar kota. Maka dari itu, ia memutuskan untuk mengunjungi rumah Om dan Tantenya dan berencana untuk menginap. Tentu semua itu telah mendapat persetujuan dari Bagas.

“Jesna, tolong kamu ambilin kecap di sana, ya,” pinta sang Tante.

Saat ini mereka sedang memasak untuk makan siang.

Setelah pengadukan terakhir, Tante Anya mematikan kompor. Ia kemudian berbalik dan melihat Jesna yang termenung di kursi dekat meja makan.

“Ada apa, Sayang?” tanya Tante Anya.

Jesna sedikit tersentak saat Tante Anya memegang bahunya.

“Enggak ada apa-apa, Tante. Jesna cuma mikirin masalah di kampus,” jawab Jesna.

Tante Anya menghela napas pelan kemudian mengambil tempat duduk di sebelah Jesna.

“Kamu nggak usah bohong sama Tante. Jujur, ada masalah apa? Kamu bisa cerita ke Tante.”

Kini, giliran Jesna yang menghela napas.

“Tante, Mas Bagas udah tahu tentang rumah singgah,” ujar Jesna.

“Hem, lalu?”

Pandangan Jesna mengarah ke depan. Ia kembali terbayang raut wajah dan respon Bagas saat dirinya bertanya mengenai pendapat Bagas tentang rumah singgah.

Jesna menggeleng. Wajahnya ia tundukkan.

“Bagas … nggak suka?” tebak Tante Anya.

“Iya, Tante.”

Tante Anya meraih pundak Jesna untuk menghadap kepadanya.

“Sayang, kamu udah jelasin semuanya ke Bagas tentang rumah singgah itu?”

“Sudah, Tante. Bahkan kita udah ke sana hari Minggu kemarin,” jawab Jesna.

“Tan, kalau begini, Jesna harus gimana? Di satu sisi, suami Jesna nggak suka. Di sisi lain, rumah singgah itu udah jadi bagian dalam hidup Jesna. Jesna nggak tahu harus gimana, Tante,” adu Jesna. Dirinya sudah pusing memikirkan hal ini.

“Jesna, Bagas hanya bilang dia nggak suka, bukan berarti dia ngelarang kamu untuk terus ke sana, kan? Jadi, apa yang kamu takutkan?”

“Tante, Bagas memang bilang nggak suka, tapi apa Jesna boleh terus ngelanjuti sesuatu yang suami Jesna sendiri nggak suka. Jesna takut durhaka sama suami.”

“Setahu Tante, yang dinamakan durhaka sama suami itu kalau seorang istri ngebantah apa yang suaminya larang. Misal, kamu ingin pergi ke rumah Tante, tapi suami kamu nggak mengizinkan dan meminta kamu untuk tetap di rumah. Kalau kamu tetap pergi ke rumah Tante itu baru nggak boleh, Sayang. Kamu udah durhaka karena melanggar amanah suami kamu.”

“Menurut Tante, dalam hal ini, Bagas nggak mengucapkan kata larangannya. Dia hanya bilang nggak suka. Itu berarti kamu masih bisa untuk terus ke rumah singgah,” jelas Tante Anya.

“Begitu, ya, Tante? Jesna cuma takut dosa karena udah ngebantah ucapan suami.”

Tante Anya mengangguk, “udah, sekarang kamu nggak boleh mikirin ini lagi. Untuk ke depannya, nanti kita pikirin sama-sama. Yang terpenting sekarang, kamu tetap ngejalani kegiatan kamu seperti biasa.”

“Iya, Tante. Makasih, Tante, udah buat Jesna ngerasa lega sekarang. Nanti Jesna bakal bicarain hal ini lagi sama Bagas.”

“Harus. Kamu harus ngebahas ini lagi sama Bagas. Biar nanti ke depannya nggak ada perselisihan lagi.”

Jesna benar-benar merasa lebih lega sekarang setelah mendengar nasihat Tantenya. Kini, yang perlu ia lakukan adalah menunggu Bagas kembali dari pekerjaannya dan membicarakan masalah ini. Ia berharap, Bagas masih memperbolehkannya untuk pergi ke rumah singgah dan mengurus anak- anak Jannah.

Waktu makan siang pun tiba. Usai mengerjakan sholat Dzuhur bersama, Jesna dan Tante Anya menyiapkan makanan yang sudah mereka masak untuk dihidangkan di meja makan. Sebentar lagi, Om Putra akan pulang. Mereka akan makan siang bersama.

Saat tengah menyiapkan makanan, suara Om Putra terdengar dari ruang tengah.

“Assalamu’alaikum. Sayang, Mas pulang nih,” ucap Om Putra sedikit berteriak.

“Tuh Jes, Om kamu pulang,” ucap Tante Anya.

“Wa’alaikumsalam, Mas. Langsung ke dapur aja,” sahut Tante Anya.

Tak lama kemudian, muncullah Om Putra di dapur. Hal tersebut sontak saja membuatnya terkejut karena melihat keponakannya sedang berada di rumahnya.

“Jesna? Maa Syaa Allah, kamu di sini? Kenapa nggak ngasih tau, Om, sih?”

Om Putra langsung memeluk Jesna begitu erat. Ia benar-benar merindukan keponakannya ini.

“Kejutan dong, Om. Gimana, Jesna berhasil, kan?” tanya Jesna bercanda.

“Kamu ini, bisa aja. Gimana-gimana, kamu sama Bagas baik-baik aja, kan?” tanya Om Putra.

Om Putra dan Jesna telah duduk di kursi meja makan.

“Alhamdulillah, kita baik-baik aja, Om,” ujar Jesna pelan. Ia teringat kembali dengan keadaan rumah tangganya yang sempat ada masalah kemarin.

Om Putra tersenyum mendengar jawaban Jesna.

“Bagus kalau begitu. Om gak mau ada terjadi apa-apa antara kamu dan Bagas. Kamu harus menjaga rumah tangga kamu, jangan buat Om kecewa.”

Jesna terdiam. Ia tidak menyahuti ucapan Omnya tersebut.

Melihat raut wajah Jesna yang tidak mengenakan, Tante Anya mengintrupsi obrolan antara Om dan keponakan ini.

“Sudah-sudah, ngobrolnya dilanjut nanti. Kita makan dulu, ya.” Setelahnya, mereka sibuk dengan makanan masing-masing.

Tiga hari telah berlalu. Bagas juga sudah kembali dari luar kota, itu berarti Jesna tidak menginap di rumah Om dan Tantenya lagi. Jesna kembali dengan rutinitas seperti biasa saat ada di rumah. Sedangkan Bagas, ia terlihat lebih bersemangat untuk membantu sang istri dalam pekerjaan rumah.

Pelukan hangat dirasakan Jesna di pinggangnya. Ia tersenyum melihat sang suami yang kembali bersikap seperti dulu lagi.

“Mas? Kamu udah selesai bersihin halaman depannya?” tanya Jesna dan hanya dibalas dengan anggukan oleh Bagas.

“Oh iya, Mas, hari ini aku boleh gak ke rumah singgah? Kemarin pengasuh mereka bilang kalau ada yang mau jadi donatur di sana. Aku diminta untuk ke sana dan bertemu langsung dengan calon donatur itu. Gimana, Mas?” tanya Jesna.

Bagas melepas pelukannya dan beralih menggenggam tangan Jesna.

“Kalau aku bilang aku pengennya kamu di rumah, gimana? Aku pengen ngabisin hari ini berdua sama kamu aja.”

“Tapi, Mas, ini penting banget. Dengan adanya donatur di rumah singgah, itu akan buat rumah singgah lebih maju dan berkembang lagi. Aku sebagai pemilik rumah singgah itu harus ada di sana, Mas,” ucap Jesna. Perasaannya sudah tidak enak saat melihat raut wajah Bagas yang berubah.

“Gak boleh Jesna,” ucap Bagas telak.

“Aku gak izinin kamu ke sana. Apa susahnya sih, kan di sana ada pengurusnya. Lagian tanggung jawab kamu udah selesai, Jesna. Dengan fasilitas yang kamu berikan itu udah lebih dari cukup.”

Jesna terdiam. Benar-benar diam dan tidak tahu harus merespon bagaimana. Ia ingin berbicara, tapi ia takut kelepasan dan berakhir dengan melawan suaminya.

Jesna menghela napas pasrah, “baiklah, Mas, aku nggak jadi ke sana. Nanti biar aku hubungi pengurusnya buat nangani semuanya.”

Bagas tersenyum mendengar ucapan Jesna, “bagus. Aku bangga punya istri seperti kamu.”

Meski wajahnya menampilkan senyuman untuk sang suami, tapi hatinya benar-benar bergejolak. Ia tidak bisa menerima keputusan sang suami. Namun, apa daya. Ia tidak bisa membantah karena itu sama saja ia durhaka kepada suaminya. Ia tidak mau itu terjadi.
***

หนังสือแสดงความคิดเห็น (81)

  • avatar
    MentariYunna

    suka sama ceritanya, tulisannya juga keren, penulis membawakan ceritanya dengan rapih dan bisa membuat aku sebagai pembaca terhanyut dalam cerita dan terkagum sama sifat jesna... keren! sering-sering update yaa kak, penasaran soalnya dgn ceritanya 😁

    18/01/2022

      1
  • avatar
    Stay madIf you mad

    bagus banget ceritanya..alurnya bagus menarik bikin greget tapi seru semangat

    16/01/2022

      0
  • avatar
    NurulAfiqah

    Jalan penceritaan Yang bagus 👍🏻👍🏻👍🏻 & menarik. Secara tidak langsung boleh dijadikan iktibar dan pengajaran.

    16/01/2022

      0
  • ดูทั้งหมด

บทที่เกี่ยวข้อง

บทล่าสุด