logo text
เพิ่มลงในห้องสมุด
logo
logo-text

ดาวน์โหลดหนังสือเล่มนี้ภายในแอพ

DKJ 17

Dering ponsel membangungkan Bagas yang tengah tertidur. Waktu baru menunjukkan pukul 2 malam. Entah siapa yang menelponnya selarut ini.
Tanpa melihat nama si penelpon, Bagas langsung mengangkat panggilan tersebut.
“Halo?” sapa Bagas dengan suara khas bangun tidur.

“Halo, Sayang, kamu dimana? Aku kangen, nih,” sahut seseorang di seberang sana.

Bagas terlonjat kaget begitu mendengar suara yang menelponnya. Ia pun melirik sekilas ke arah Jesna dan bangun dari tempat tidur setelah memastikan Jesna masih tidur nyenyak di tempatnya.

“Kamu ngapain telfon aku malam-malam begini?” tanya Bagas begitu ia telah berada di ruang kerjanya.

“Ih kamu kok jutek gitu, sih? Kamu ke sini, dong, aku kangen tau. Mumpung suami aku lagi ke luar kota.”

Bagas menggeram kesal, “udah cukup, San. Apa yang kita lakuin beberapa waktu yang lalu itu salah. Kita harus mengakhirinya. Jangan kamu hubungi bahkan temui aku lagi, aku udah bahagia sama istri aku.”

“Maksud kamu apa, sih, Gas? Kamu mau lupain kenangan kita gitu aja setelah kamu baikan sama istri kamu? Gas, aku ini bukan tempat pelarian,” protesnya.

Bagas memutuskan panggilan secara sepihak. Ia menggeram, menahan emosinya yang tak terbendung.

Di saat dirinya sudah bertekad untuk berubah, bayangan masa lalu kembali menghampirinya. Ia bahkan tidak bisa menolak dengan tegas masa lalu itu memasuki kehidupannya lagi.

Bagas kira, dengan menolak ajakan sang mantan bisa membuatnya tenang. Namun, hal itu berbeda dengan kenyataannya.

Dengan perasaan yang kacau, Bagas kembali menuju kamarnya. Ia tidak mau sang istri terbangun dan melihat dirinya tidak ada di kamar.

Seminggu setelah permasalahan antara Bagas dan Jesna selesai, kehidupan rumah tangga mereka kembali dihiasi dengan hal-hal yang harmonis. Jesna bahkan mensyukuri hal ini meski harus melewati ujian yang membuat rumah tangganya goyang.

Ia menganggap semua yang terjadi kemarin adalah sebuah pembelajaran dan ke depannya ia bisa mengatasinya lebih baik lagi. Ya, walaupun Jesna sendiri tidak menanyakan alasan dibalik itu semua, tapi ia bersyukur semuanya kembali seperti semula.

Seperti hari ini, Jesna yang akan berangkat mengajar harus sedikit menghadapi perdebatan kecil. Bukan masalah besar, hanya saja ini tentang Bagas yang memaksa untuk mengantar dan menjemput Jesna. Ia tidak mau Jesna mengendarai mobil sendirian.

“Mas, kamu nggak perlu lah ngantar aku ke kampus. kita nggak searah juga. Biar aku bawa mobil sendiri,” ucap Jesna membujuk Bagas.

“Kenapa? Emang salah kalau aku mau ngantar istri aku sendiri?”

“Pokoknya nggak ada penolakan,” ucap Bagas tegas.

Pada akhirnya, Jesna pun menurut. Ia juga senang dengan perhatian-perhatian kecil Bagas seperti ini.

Beberapa saat kemudian, mobil yang dikendarai Bagas telah tiba di depan gedung fakultas Jesna.

“Sudah sampai. Kalau kamu sudah selesai mengajar, langsung kabari aku biar aku jemput,” ucap Bagas.

“Hem … nggak usah, Mas. Biar aku naik taksi aja. Lagian kamu pasti sibuk banget, kan, di kantor?” tolak Jesna.

“Masih nolak juga?”

“Ya udah, deh, In Sya Allah nanti aku kabari. Aku keluar dulu, ya.” Jesna mengamit tangan Bagas dan menciumnya.

“Kamu hati-hati bawa mobilnya,” ujar Jesna.

Bagas mencium puncak kepala Jesna, “pasti. Aku bakal hati-hati.”

Jesna pun keluar dari mobil dan menatap mobil Bagas yang keluar dari gerbang gedung fakultas. Setelah itu, Jesna berjalan menuju ruangannya.

Saat Jesna sudah berada di depan ruangannya, seseorang meneriaki namanya dari jauh. Jesna pun berpaling ke belakang untuk melihat siapa yang memanggilnya.

“Tante Safira?” ucap Jesna.

“Maa Sya Allah, Tante nggak nyangka bakal ketemu kamu di sini,” ujar Tante Safira saat sudah berada di hadapan Jesna.

“Iya, Tante, saya juga nggak nyangka. Tante ada apa ke sini?” tanya Jesna seraya mengajak Tante Safira duduk di kursi panjang di depan ruangannya.

“Tante barusan ngantar anak Tante. Dia kuliah di sini. Kamu sendiri?”

“Saya mengajar di sini, Tante,” ucap Jesna.

“Wah … kamu ternyata dosen, ya? Pantesan sayang sama anak-anak.”

“Ah, Tante, bisa aja,” balas Jesna.

Setelah lama berbincang, Tante Safira pamit untuk pergi.

“Jesna, sepertinya obrolan kita harus terhenti. Tante ada arisan sama teman-teman Tante, nih,” ujar Tante Safira.

“Iya, Tante, nggak apa-apa. Lagian saya juga ada kelas setelah ini.”

“Baiklah, Tante pergi dulu. Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalam.”

Setelah kepergian Tante Safira, Jesna pun segera masuk ke ruangannya. Sebentar lagi ia akan masuk ke kelas mahasiswa baru dan mengumpulkan tugas study tour dua hari yang lalu.

Sementara, di sisi lain, Bagas baru saja tiba di kantornya. Ia segera masuk ke ruangannya dan langsung dihadapkan oleh setumpuk map yang berisi berkas-berkas penting. Semua berkas-berkas tersebut membutuhkan tanda tangan Bagas karena semua itu adalah berkas persetujuan kerja sama.

Sebenarnya, ini bisa ia selesaikan dengan cepat kemarin, tapi mengingat permasalahan rumah tangganya, ia sedikit mengabaikannya.

Saat Bagas sedang fokus dengan berkas-berkasnya, seseorang mengetuk pintu.

“Masuk,” perintah Bagas.

“Permisi, Pak, maaf mengganggu. Ini ada seorang wanita yang ingin bertemu dengan Bapak. Sekarang dia berada di lobi. Tapi, menurut catatan saya, Bapak tidak ada janji temu dengan wanita ini,” lapor sekretaris Bagas.

“Ciri-cirinya?” tanya Bagas.

“Wanita tersebut tinggi, putih, dan berpakaian sedikit terbuka. Saya rasa, ia seorang model.”

“Jadi, bagaimana, Pak? Apa saya biarkan dia masuk ke ruangan Bapak?” tanyanya.

“Sandra? Itu pasti Sandra,” pikir Bagas.

“Jangan biarkan dia masuk. Kamu bilang saja kalau saya tidak ada kantor. Bagaimana pun caranya, usahakan dia segera pergi dari kantor ini,” ucap Bagas tegas.

“Baik, Pak. Saya permisi dulu.”

Tidak lama kemudian, ponsel Bagas berbunyi. Ia yakin pasti Sandra akan segera menelponnya.

“Halo?” sapa Bagas.

“Gas, kamu apa-apaan, sih? Kenapa kamu bohong dan bilang kalau kamu nggak ada di kantor? Aku yakin kamu pasti lagi di kantor, kan, sekarang?” seru Sandra begitu Bagas mengangkat panggilannya.

“Sandra, sudah aku bilang, kamu jangan pernah hubungi dan temui aku lagi. Hubungan kita sudah selesai. Kamu lupai kejadian kemarin karena itu adalah kekhilafan aku. Kamu lebih baik kembali sama suami kamu dan hidup bahagia.”

“Apa kamu bilang? Kekhilafan kamu? Setelah kamu baikan sama istri kamu, aku kamu campakkan begitu aja dan bilang semua itu karna khilaf? Breng*ek kamu, Bagas,” ucap Sandra geram.

“San, udah. Jangan kamu perpanjang lagi. Mulai detik ini jangan pernah hubungi dan temui aku lagi. Kita sudah selesai.”
Usai mengucapkan itu, Bagas mematikan panggilannya secara sepihak. Hal tersebut sontak membuat amarah Sandra memuncak.
“Kamu yakin memutuskan aku begitu saja, Gas?” monolog Sandra. Ia tersenyum licik seraya mengotak-atik ponselnya.
Sebuah pesan masuk ke ponsel Bagas.
“Dari Sandra? Apa lagi maunya.” Bagas membuka pesan Sandra yang berisi beberapa foto.
Bagas menggeram marah melihat foto-foto yang baru saja dikirim oleh Sandra. Saat ini, sepertinya ia benar-benar belum bisa lepas dari jeratan Sandra.
“Aarrggghh … “ teriak Bagas.
***

Minggu pagi ini, Jesna berencana untuk mengajak Bagas mengunjungi rumah singgah setelah sarapan.

“Mas, nanti setelah sarapan, kita pergi ke rumah singgah, yuk. Aku mau ngenalin kamu sama anak-anak di sana.”

Bagas mengangguk setuju, “oke, nanti kita pergi.”

Dan, di sinilah mereka berada. Mobil yang membawa Bagas dan Jesna baru saja tiba di halaman depan rumah singgah. Namun, kedatangan Jesna kali ini tidak disambut seantusias biasanya oleh anak-anak Jannah.

Jesna mengulum senyum saat melihat wajah kebingungan dari anak-anak Jannah. Jesna paham dengan sikap mereka karena mereka baru pertama kali melihat mobil Bagas. Biasanya, mobil yang selalu mendatangi rumah ini adalah mobil dirinya dan Om Putra.

Begitu Jesna turun dari mobil, barulah anak-anak tersebut menyerbu Jesna. Mereka begitu senang karena ternyata Jesna lah yang datang.

“Kakak? Ternyata Kak Jesna yang datang, kami pikir siapa,” ucap Naina.

“Iya, Sayang, ini Kakak. Kenapa? Kalian takut, ya?” tanya Jesna.

“Bukan, kak. Kami cuma bingung mobil siapa yang datang,” jawab Ikram.

“Oh iya, ini mobil suami Kakak.”

"Suami Kakak? Kakak udah nikah?” tanya Naina.

Jesna mengangguk, “iya, kenalin ini suami Kakak, namanya Bagas.”

“Halo semuanya, salam kenal, ya,” sapa Bagas dan disahuti oleh anak-anak tersebut.
“Kakak minta maaf, ya, karena nggak ngundang kalian. Kakak khawatir sama keselamatan kalian kalau kalian datang.”

“Iya, Kak, nggak apa-apa. Kami senang kalau Kakak sudah menikah. Semoga Kakak bahagia, ya.”

Setelahnya Jesna mengajak Bagas untuk masuk ke rumah singgah dan berkeliling di sana.
***

หนังสือแสดงความคิดเห็น (81)

  • avatar
    MentariYunna

    suka sama ceritanya, tulisannya juga keren, penulis membawakan ceritanya dengan rapih dan bisa membuat aku sebagai pembaca terhanyut dalam cerita dan terkagum sama sifat jesna... keren! sering-sering update yaa kak, penasaran soalnya dgn ceritanya 😁

    18/01/2022

      1
  • avatar
    Stay madIf you mad

    bagus banget ceritanya..alurnya bagus menarik bikin greget tapi seru semangat

    16/01/2022

      0
  • avatar
    NurulAfiqah

    Jalan penceritaan Yang bagus 👍🏻👍🏻👍🏻 & menarik. Secara tidak langsung boleh dijadikan iktibar dan pengajaran.

    16/01/2022

      0
  • ดูทั้งหมด

บทที่เกี่ยวข้อง

บทล่าสุด