Hari ini matahari terasa sangat menyengat. Namun kantin tetap saja ramai dipenuhi oleh murid-murid yang kelaparan sehabis mengikuti pelajaran. Bella dan Nanda berjalan diantara keramaian, mencari bangku kosong untuk menyantap makanan yang tersaji di atas nampan yang mereka bawa. Di saat Nanda sedang sibuk mencari bangku kosong di sekelilingnya, Bella akhirnya menemukan orang yang sedari tadi dicarinya dan mengajak Nanda untuk ke sana. "Nan, di sebelah Rena kosong tuh, ke sana aja, yuk!" ajak Bella. "Boleh, yuk." Mereka berdua pun berjalan ke arah Rena yang sedang asyik duduk menyantap jajanannya. "Eh… Ren! kami boleh makan di sini gak?" tanya Nanda dengan semangat. "Tentu, silakan," sahut Rena mempersilahkan mereka duduk. "Oh ya! kak Nanda, terima kasih soal yang kemarin ya! kakak benar-benar hebat!" puji Rena. "Kau ini... tidak perlu memuji segala, itu sudah jadi kebiasaanku hehehe...," balas Nanda merendah. "Memangnya apa yang terjadi kemarin?" tanya Bella penasaran. "Kemarin Rena dijahili sama anak-anak kelas 2 di toilet, untung aku sedang berada di sana," jelas Nanda dengan bangga. "Rena, apa benar kau tinggal di rumah Arya untuk sementara?" tanya Bella lagi. "Iya," "Kalau begitu... apa... kak Wulan ada di rumah?" "Tentu saja, dia sedang ambil cuti 2 minggu, ada perlu apa?" "Ada yang ingin kubicarakan secara langsung dengannya, apa nanti malam kau mau menemaniku, Rena?" "Ten-" "Aku juga!" ucap Nanda spontan. "Biarkan aku ikut menemanimu juga Bel, sudah lama aku tidak bertemu dengannya, sepertinya... yang terakhir itu setahun yang lalu, kalau tidak salah," lanjut Nanda sambil mengenang masa lalunya saat bersama Wulan. Setelah itu mereka bertiga pun tertawa kecil dan segera menghabiskan makanan mereka, karena mereka tahu bel akan segera berbunyi. <<<<<<>>>>>> Malam pun tiba, saat orang-orang berada di rumah mereka untuk bersantai sambil menikmati malam, Arya malah menyusup ke atap gedung sekolahnya secara diam-diam seorang diri. Sesampainya di sana, berdirilah sesosok pria yang dibencinya, Arya menyesal karena di pertemuan sebelumnya dia tidak mengenalinya. Sedikit demi sedikit amarah dan kekesalannya muncul saat melihat senyum licik pria itu. Tanpa menahan diri lagi, Arya langsung mengeluarkan energi spiritnya dan memunculkan sebilah pedang yang tersarung di pinggang sebelah kirinya. "Akhirnya kau datang juga, dimana gadis itu?" tanya Victor. "Maksudmu Rena? dia tidak akan datang karena kali ini akulah yang akan menghabisimu!" "Haaa…, stage pertama kususun untuk satu orang tapi yang datang malah tiga orang, dan sekarang stage kedua kususun untuk tiga orang tapi yang datang malah satu orang, aku tak mengerti bagaimana cara otak kalian bekerja," keluh Victor. "Cepat katakan saja apa peraturan di stage keduanya agar aku bisa cepat menghabisimu!" gertak Arya dengan nada menekan. "Waah…, kau antusias sekali, apa yang menyebabkanmu sebegitu benci kepadaku?" "Tidak perlu basa-basi lagi sialan! Karena kau... tahun ini aku dan Rian tidak bisa lulus. Menjadikan orang lain sebagai hiburan dan kambing hitam, orang sepertimu itu harus diberi pelajaran." Sriiiiingg…! Arya menarik pedangnya dan mengarahkan ujung pedangnya yang tajam itu ke arah Victor. "Baiklah, santai... akan kuberi tahu peraturannya. Tapi, sebelum itu...." Victor terdiam dan sesaat kemudian, butiran-butiran aneh berwarna hitam legam muncul di sekitar Victor bagaikan pasir. Butiran itu semakin banyak, bergerak, tebang, dan melayang dengan leluasa, bahkan sampai membentuk sesuatu. "Kau ingat pisau yang menyerangmu di stage pertama? inilah wujud asli pisau itu," jelasnya. Arya terkejut saat mendengar kebenaran tersebut, saking terkejutnya sampai-sampai dia pun melotot. Victor yang melihat reaksi tersebut pun tersenyum puas karena reaksi yang ditampilkan Arya sesuai dengan apa yang diharapkannya. "Inilah kekuatanku, aku menamakannya dengan nama 'velis'. Sesuai artinya, aku bisa membentuk butiran-butiran hitam ini menjadi apa saja yang kuinginkan, senjata ataupun pertahanan, keren kan?" jelasnya dengan senyuman licik. "Jadi, di stage kedua-" Drrrrttt...!!! Drrrrttt...!!! Victor melanjutkan penjelasannya, tetapi kata-katanya terpotong karena suara ponsel milik Arya yang berdering. "Maaf, silakan dilanjutkan," ucap Arya setelah mematikan ponselnya. "Jadi, di stage kedua ini-" Drrrrttt...!!! Drrrrttt...!!! Lagi-lagi ponsel Arya berdering dan memotong ucapan victor. "Hahahaha... maaf... maaf... silakan dilanjutkan." Arya tertawa terkekeh-kekeh dan mematikan ponselnya lagi. "Jad-" Drrrrttt...!!! Drrrrttt...!!! Untuk yang ketiga kalinya, ponsel Arya kembali berdering dan kali ini Victor merasa jengkel dan membentak Arya dengan keras. "KAU ANGKAT SAJA DASAR BODOH!!!" "Sabar..., tidak perlu marah," balasnya dengan tatapan sinis. "Halo," "Dasar kau Arya! kenapa kau baru mengangkatnya sekarang?" kata Wulan dari balik telepon. "Memangnya kenapa? sekarang aku sedang sibuk. Jadi tidak perlu menelponku," balas Arya acuh tak acuh. "Kau benar-benar tidak berubah ya? Perlu kau tahu, tadi baru saja ada sekelompok orang berpakaian hitam yang menerobos masuk dan menyerang kami. Aku dan Nanda terluka, Rena diculik, dan sekarang Bella kabur, jika kau peduli cari dan selamatkan Bella sebelum mereka menangkapnya!" Tuuut... Sambungan telepon diputus secara sepihak oleh Wulan. Kini, raut wajah Arya berubah menjadi pucat pasi. Victor yang melihat Arya yang tak banyak bergerak mulai tersenyum kembali. "Jadi... apa sekarang kita bisa melanjutkannya?" tanya Victor memastikan. "Maaf, sekarang aku ada urusan mendadak, kita lanjutkan lain kali saja," balas Arya. Arya kemudian berbalik dan melompat dengan kekuatannya ke satu gedung ke gedung lainnya dengan tergesa-gesa. "Wooii...!!! kau tidak bisa seenaknya pergi seperti itu!!" teriak Victor mencoba menghentikannya. Arya tidak menggubris teriakannya dan terus melompat menembus kegelapan malam. <<<<<<>>>>>> Di bawah puluhan cahaya lampu yang menyinari sepanjang jalanan, seorang gadis berlari sekuat tenaga dengan air matanya yang bercucuran. Dia terus berlari dan berlari tanpa memperdulikan orang-orang disekitarnya yang memperlihatkannya dengan keheranan. Tak lama berselang, akhirnya muncul seorang pria yang dikenalnya dari kejauhan. Pria tersebut melihat gadis itu yang tengah berlari ke arahnya dengan sekuat tenaga seperti sedang dikejar setan. Pria itu menatapnya selama beberapa saat. Setelah dia memastikannya, dia pun mulai berlari mendekati gadis itu agar jarak yang memisahkan mereka pun segera menghilang. Terkadang gadis itu sempat terjatuh saat berlari hingga berkali karena kakinya yang sudah terasa sakit. Namun, dengan cepat ia bangkit dan terus berlari kembali ke arah pria yang dikenalnya itu. Jarak diantara keduanya semakin mengecil dan untuk yang terakhir kalinya, gadis itu pun terjatuh tapi kali ini gadis itu berhasil ditangkap oleh pria yang berlari ke arahnya itu. Pria itu tidak lain dan tidak bukan adalah Rian yang baru pulang kerja. "Bella?! apa yang terjadi?" tanya Rian cemas. Bella tidak menjawab, napasnya terengah-engah, tubuhnya bergetar ketakutan, dan air matanya keluar dengan deras hingga membasahi baju Rian. Melihat keadaan Bella yang sekarang, membuat kecemasan Rian semakin bertambah. dia tak tahu harus berbuat apa dan segera menelepon Arya untuk meminta bantuan. "Arya! di mana kau?" tanya Rian begitu teleponnya terhubung. "Aku sedang sibuk, ada yang menyerang rumahku, Wulan dan Nanda terluka, dan Bella sekarang sedang dikejar, kau tolong cari dan selamatkan dia!" balas Arya dari balik telepon. "Ee… sekarang aku sedang bersamanya, tapi sepertinya kondisi Bella sedang tidak baik," "Kalau begitu, untuk saat ini itu sudah cukup bagus, tetaplah bersamanya dan jaga dia, aku akan segera ke sana setelah aku menyelamatkan orang-orang di rumahku," perintah Arya. "Baik." Arya menutup panggilan dan bergegas kembali melanjutkan perjalanan ke rumahnya, sambil berharap Wulan dan yang lainnya baik-baik saja. "Sebenarnya siapa mereka? apakah mereka demon hunter? kalau begitu siapa yang melaporkanku? kumohon...!! jangan terjadi hal buruk padanya! tolong... jangan rebut keluargaku lagi!" harap Arya dengan sepenuh hati. ================================== Dukung saya melalui karyakarsa.com/Wolfman3
mantap
14/01/2025
0Đc của nó
05/08/2024
0sloww ceritanya
29/06/2023
0ดูทั้งหมด