logo text
เพิ่มลงในห้องสมุด
logo
logo-text

ดาวน์โหลดหนังสือเล่มนี้ภายในแอพ

บทที่ 6 S1 005 - Rantai Pertama

"Sejak aku masih kecil, kedua orang tuaku selalu saja sibuk mengurus perusahaan mereka. Meskipun begitu, kami sering menghabiskan waktu bersama-sama.
Setiap kali liburan semester, kami selalu pergi berlibur ke rumah kakek yang letaknya sangat jauh dari tempat tinggal kami.
Aku sangat senang setiap kali ke sana, karena rumah milik kakek sangat besar dan kami selalu melakukan berbagai hal di sana.
Saat berada di sana, ada satu hal yang paling kusukai, yaitu menikmati pemandangan dari balkon lantai paling atas."
Bella menghentikan ceritanya untuk sesaat, dia mengumpulkan tenaganya dan menghentikan air matanya yang mulai kembali berjatuhan agar dia bisa melanjutkan ceritanya.
"Sebaiknya minum dulu agar kau merasa lebih baik," saran Rian kepada Bella.
Bella mendengarkan sarannya dan meneguk minuman yang diberikan Rian kepadanya. Setelah itu, Bella menghirup napas panjang, kemudian melanjutkan ceritanya.
"Saat aku lulus SD, kami pergi berlibur ke rumah kakek seperti pada liburan kami yang biasanya. Pada beberapa hari pertama semua berjalan normal. Tapi, di hari selanjutnya... hiks... kakek... kakek tiba-tiba jatuh sakit.
Aku yang saat itu masih kecil merasa sangat panik dan tidak tahu harus berbuat apa. Tapi, di saat yang seperti itu… kakek malah memanggilku sambil berusaha untuk bertahan.
Aku pun mendekatinya perlahan dan kakek pun memberikanku sebuah liontin tua berwarna hijau yang merupakan liontin peninggalan nenek, hiks…."
Lagi-lagi air matanya kembali berlinang. Karena itu, dia pun berhenti sejenak sebelum akhirnya dia melanjutkannya kembali.
"Dia bilang liontin itu adalah liontin yang diwariskan secara turun-temurun dan menyuruhku untuk selalu menjaga liontin itu dengan baik.
Tak lama setelahnya, ayah pun datang dan melihat kakek yang sudah tak berdaya. Ayah pun segera membawa kakek ke rumah sakit terdekat. Namun sayang, hiks... kakek... tidak dapat diselamatkan...."
Akhirnya Air matanya pun keluar membasahi kedua pipinya dan Bella pun menangis tersedu-sedu untuk beberapa saat.
"Ee... sudah cukup, kau tidak perlu melanjutkannya lagi," ucap Rian.
"Tidak! hiks... aku masih ingin bercerita hiks...," ucapnya sambil berusaha menahan air matanya.
"Dokter bilang... kakek sudah mengidap penyakit parah sejak dulu, tapi tidak ada yang tahu selain paman Rei. Ayahku pun marah kepadanya dan sejak saat itu... kami tidak pernah kesana lagi, aku tidak pernah menyangka kalau itu akan menjadi liburan terakhir di rumah kakek.
Hari demi hari telah berlalu, semakin lama aku semakin dekat dengan hari ulang tahunku, tetapi semakin jauh dengan kedua orang tuaku.
Sejak liburan terakhir itu, mereka berdua menjadi semakin sibuk dengan urusan perusahaan sampai mereka berdua pun jarang pulang. Semakin hari perusahaan ayah semakin bangkrut, kebangkrutannya pun terus bertambah sampai akhirnya ayah pun harus berhutang kepada banyak perusahaan.
Sampai suatu ketika... hal aneh pun terjadi. Ibu yang awalnya mudah marah sejak perusahaan bangkrut, tiba-tiba berubah dan selalu membawa pulang barang-barang mahal ke rumah. Ayah pun begitu, yang awalnya selalu sibuk sampai lupa pulang, tiba-tiba berubah dan malah mengajakku untuk liburan ke luar negeri.
Aku pernah sekali bertanya pada mereka, dari mana mereka mendapat uang dan bagaimana keadaan perusahaan. Tapi, begitu aku selesai bertanya, mereka menatapku dengan tatapan aneh dan ayah berkata agar aku tidak perlu memikirkannya.
Saat itu aku merasa sedikit takut dan juga merasa ada yang tidak beres, karena hal itu belum pernah terjadi sebelumnya. Tapi aku tidak bisa berkata apa-apa lagi, aku terlalu takut untuk bertanya lebih jauh karena aku merasa itu tidak sopan."
Bella meneguk minumannya untuk yang terakhir kalinya, dan membuang kalengnya di tempat sampah, tepat di samping bangku panjang yang mereka duduki.
"Suatu hari, kedua orang tuaku pergi bekerja seperti biasanya dan berjanji pulang lebih awal untuk mempersiapkan liburan kami ke luar negeri.
Aku pun duduk di ruang tamu, menunggu kepulangan mereka dengan rasa cemas yang menghantuiku. Aku yang masih kecil tidak mengacuhkannya dan menganggap perasaan itu hanya sebatas rasa cemas.
Saat waktu kepulangan mereka tiba, suara pintu gerbang yang dibuka pun terdengar dan aku pun berlari ke arah pintu depan hendak menyambut kepulangan mereka berdua.
Namun, saat aku membuka pintu bukan orang tuaku yang ada di baliknya, melainkan beberapa pria misterius yang berpakaian hitam."
"Berpakaian hitam?!" ucap Rian terkejut.
Seketika bella pun menoleh ke arah Rian. Rian yang menyadari kesalahannya langsung memalingkan wajahnya ke arah lain dan minta maaf.
"Maaf, lanjutkan saja ceritanya,"
"Tidak apa-apa," balasnya dengan senyum.
"Mereka mengaku sebagai teman lama ayahku. Mereka bilang ayahku menyuruhnya untuk menjagaku, karena kedua orang tuaku mendadak harus ke luar negeri selama beberapa waktu karena ada urusan bisnis. Awalnya aku tidak percaya, tapi saat mereka menelpon ayah, aku pun mempercayainya.
Sekarang sudah lebih dari 4 tahun orang tuaku tidak pulang, bahkan sejak telepon hari itu, menghubungi mereka saja sudah tidak bisa.
Meskipun orang-orang itu merawat dan menjagaku dengan baik, tapi aku tetap saja merasa takut setiap kali berada di dekat mereka, rasanya… hal-hal buruk bisa saja terjadi padaku saat itu juga."
Bella menarik dan menghembuskan napas dengan lega sebagai tanda bahwa ceritanya kini telah berakhir.
Tak terasa... air matanya kembali menetes tanpa disadarinya. Rian yang mendengar seluruh kisahnya pun merasa sedikit bersimpati, karena dia merasakan ada sedikit kesamaan di antara mereka.
"Jadi... kau duduk malam-malam di sini sendirian karena kau rindu dan ingin bertemu dengan orang tuamu?" tanya Rian langsung.
Bella tak sanggup menjawabnya dan hanya bisa menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Kalau begitu pulanglah, sekarang sudah larut malam, tidak baik seorang gadis sepertimu sendirian malam-malam seperti ini,"
"Ta-tapi... aku takut bertemu mereka, aku takut... mungkin saja hal yang kutakutkan itu akan segera terjadi begitu aku pulang," ucap Bella gelisah.
Rian berdiri dan melirik ke arah bella selama beberapa saat.
"Tidak perlu takut, mereka tidak akan menyakitimu, jika itu terjadi... hubungi saja Nanda, aku, atau pun Arya, kami bertiga pasti akan membantumu karena kami bertiga adalah 'Penegak,'"
"Terima kasih, terima kasih sudah mau mendengar ceritaku," ucap Bella pelan sambil menundukkan kepalanya.
"Bella,"
"Iya?"
"Untuk malam ini maaf aku tak bisa mengantarmu pulang, karena kakakku pasti sudah lama menungguku di rumah," jelas Rian.
"Ti-tidak apa-apa, mungkin sebaiknya harus begitu,"
"Kalau begitu… sampai bertemu besok di sekolah."
Rian berlalu pergi menembus gelapnya malam meninggalkan Bella sendirian. Dalam waktu singkat, tubuh Rian pun hilang dari pandangan Bella.
Drrrrttt...!!! Drrrrttt...!!!
Ponsel bella berdering dan ternyata ada panggilan yang masuk. Ia melihat nomor yang tertera di sana, Bella tahu betul nomor siapa itu dan seketika keringat dinginnya pun bercucuran dari pori-pori kulitnya dengan ketakutan yang langsung menyelimutinya seluruh tubuhnya.
Sebenarnya bella tak mau mengangkatnya dan tak mau bicara dengan orang yang ada di baliknya. Namun, dia lebih memilih untuk mengangkatnya dari pada dia harus melihat sesuatu yang mengerikan.
"Ha-halo?"
"Aa... halo Bella, kau dimana? kau tahu kan besok adalah hari penting? pulanglah dan beristirahat untuk besok, apa aku perlu menjemputmu?" balas seorang pria dari balik telpon.
"Ti-tidak! aku akan segera pulang, ya... aku akan segera pulang," jawab Bella cepat dengan tubuh yang bergetar.
Setelah itu, Bella pun mengakhiri panggilan tersebut dan langsung berlari secepat mungkin menuju rumahnya yang berada jauh dari taman itu.
Secepatnya, secepat yang ia bisa agar dia bisa sampai dengan cepat dan mereka tidak menjemputnya.
==================================
Dukung saya melalui karyakarsa.com/Wolfman3

หนังสือแสดงความคิดเห็น (28)

  • avatar
    SetyawanApin

    mantap

    14/01/2025

      0
  • avatar
    Bảo Trần

    Đc của nó

    05/08/2024

      0
  • avatar
    FrenkiFrengki

    sloww ceritanya

    29/06/2023

      0
  • ดูทั้งหมด

บทที่เกี่ยวข้อง

บทล่าสุด