“Assalamualaikum,” salam seorang perempuan yang ternyata adalah Ibu Ratna, istri Pak Rahmat, ketua RT di lingkungan rumah itu. Ibu Ratna juga lebih sering dipanggil Ibu RT oleh warga sekitar. “Walaikumsalam.” Alena beranjak dari duduknya dan menyambut Ratna ke depan rumah. “Ada apa Bu RT pagi-pagi begini?” tanya Alena. “Ini Bu, mumpung saya lewat rumah Bu Alena, mau kirim undangan,” ujar Ratna sembari menyerahkan selembar kertas tebal terbungkus plastik bening. Alena membaca undangan tersebut sekilas hanya untuk mengetahui siapa nama pengantinnya. “Itu loh Bu Alena, anaknya Bu Sarah, katanya sih dapat duda beranak dua,” jelas Ratna sedikit berbisik. Ibu RT memang suka mengghibah. Semua masalah orang pasti diketahuinya. Atau memang karena dia adalah Ibu RT jadi dia maha tahu? Ah, entahlah. Alena hanya membalas dengan senyum yang tipis. Dia tak ingin masuk kedalam lingkaran ghibah Ibu RT. Maklum saja, semua warga tahu watak dan karakternya. Di depan orang baik, tapi jika tidak ada orangnya, suka menjelekkan. Yah, semoga Ibu RT cepat sadar. Eits, tapi tidak semua Ibu RT seperti itu yah, hehehe. “Eh, Bu Alena, itu siapa? Saya baru lihat.” Ratna menggedikkan dagunya untuk menunjuk Shella yang ada di belakang Alena. Alena menoleh ke belakang. “Oh, ini asisten baru saya, baru datang pagi ini. Maaf ya Bu RT, belum sempat lapor,” jawab Alena dengan ramah. “Nggak salah, kok carinya yang lagi hamil?” tanya Ratna penuh selidik. “Anu, untuk tambah-tambah biaya lahiran, Bu RT.” Alena tersenyum kikuk karena takut dipertanyakan lebih jauh lagi. Ratna hanya ber-oh panjang. “Yaudah, Bu. Saya mau pergi lagi, ada urusan,” pamit Ratna. “Hati-hati, Bu, jaman sekarang banyak pelakor,” sambung Ratna sedikit berbisik. Seketika Mata Alena membulat sempurna mendengar ucapan Ratna. Darahnya berdesir hebat. Mencoba melawan kata hati dan pikirannya. Dia berniat menolong orang yang sedah kesusahan. Tidak mungkin Shella sekejam itu. Tidak! Alena menghela napasnya kasar. “Kenapa, Mbak?” tanya Shella yang kini mensejajarkan tubuhnya disamping Alena. Alena menoleh, mengukir senyum di bibirnya. “Nggak apa-apa kok. Oh ya maaf ya tadi saya bilang ke Bu RT kalau kamu asisten baru di rumah ini. Saya nggak mau banyak pertanyaan dari beliau.” Alena mencoba menjelaskan agar Shella tidak tersinggung. “Iya, Mbak, saya mengerti kok posisi Mbak,” ujar Shella pelan. Dalam hati siapa yang tahu, sebenarnya Shella tidak terima dengan pernyataan Alena. Dalam memainkan peran, harus cukup bersabar agar semua tetap berjalan sesuai harapannya. Andai saja Alena tahu isi hati Shella sebenarnya, maka sudah tentu dia akan mengusir Shella jauh-jauh dari keluarga kecilnya. “Ayo, ikut saya ke salon, kamu bisa temani Ralin bermain disana,” ajak Alena menyadarkan Shella dari lamunannya. “Baik, Mbak.” Shella menganggukkan ajakan Alena. *** Tak sampai setengah jam, Alena, Shella beserta Ralin sudah sampai di salon yang letaknya cukup strategis. Ada tiga karyawan yang dipekerjakan oleh Alena, ada Salsa, Merry dan Karin. Karin merupakan sepupu Alena. Bisa dikatakan Karin merupakan tangan kanan Alena di salon tersebut. Criiingggg Bunyi lonceng menandakan adanya seseorang masuk kedalam salon. Karin yang sedang duduk di meja kasir menengok siapa yang datang. “Halo, Ralin, udah makan belum?” Karin menyapa Ralin setiap datang kesalon itu agar Ralin tidak merasa bosan. Terkadang Karin suka memberikan hadiah-hadiah kecil agar Ralin betah dan nyaman di salon. “Udah, Tante,” jawab Ralin dengan senyum yang mengembang. Karin menyadari adanya orang asing didekat Alena. Feeling nya begitu kuat apalagi jika ada orang yang ingin berbuat jahat. “Mbak.” Karin menunjuk Shella dengan dagu lancipnya. Alena langsung mengenalkan Shella. “Shella, ini Karin, sepupu saya,” ujar Alena ramah. Raut wajah ketidak sukaan Karin kepada Shella nampak terlihat dari cara menyambutnya. Saat saling berjabat tangan, Karin tak memandang wajah Shella. Begitu pun dengan Shella, dia sadar akan kehadirannya tidak disukai oleh sepupu Alena. Baginya, Karin merupakan penghalang terbesar dalam berupaya merebut Iyus dari genggaman Alena. “Shel, ikut ke ruangan saya dulu,” titah Alena. “Iya, Mbak,” sahut Shella dan mulai mengekor Alena. Karin berdecih pelan, namun hal itu membuat Shella menoleh ke arahnya. Sorot mata tajam Karin membuat Shella tak berani menatapnya terlalu lama dan menghilang dibalik pintu ruangan Alena. “Duduk dulu, Shel.” Alena meletakkan tas dan ponsel di atas meja kerjanya. Shella duduk tepat didepan meja Alena. Matanya menyisir ruang kerja Alena. Tidak kecil dan tidak terlalu besar, cukup untuk Ralin bermain sehari penuh disana. Terlihat ada beberapa mainan di seberang meja kerja Alena. “Kamu bisa mengoperasikan laptop, Shel?” tanya Alena. “Bisa. Kenapa, Mbak?” Shella menatap Alena bingung. “Syukurlah, kalau begitu nanti kamu bantu saya untuk melakukan promosi-promosi di media sosial, bahan promosinya nanti saya yang berikan. Kamu hanya langsung update dan pantau saja aktifitas akun sosial media salon ini.” Alena menjabarkan dengan detil apa yang harus dikerjakan oleh Shella. Shella menatap lekat Alena. Tak menyangka masih ada orang sebaik Alena yang sama sekali tidak mencurigai orang asing seperti dirinya. Namun, itu semua tak bisa menggoyahkan niat Shella untuk mengambil Iyus dari sisi perempuan berhati malaikat itu. “Kenapa? Kamu mengerti kan dengan media sosial?” tanya Alena memastikan. “Bi ... bisa, Mbak. Makasih sudah beri saya kesempatan untuk bekerja di sini.” Shella tersenyum senang, lebih tepatnya tersenyum puas, karena dengan dia berada di tempat itu akan semakin leluasa untuk menguasai salon milik Alena. Perfect! Tok tok tok Suara ketukan pintu menyadarkan Shella dari lamunannya. Sesosok perempuan menyebalkan muncul kembali dihadapan Shella. Ya, dia lupa bahwa masih ada Karin, orang yang akan melindungi Alena dari niat buruknya. “Kenapa, Rin?” tanya Alena. “Ini, Mbak, mau kasih laporan bulanan,” jawab Karin. “Oh, sini masuk.” Karin melangkah pasti ke arah Alena dan menyerahkan berkas map berwarna bening. “Mbak, ada sesuatu yang perlu dibicarakan.” Karin melirik Shella yang duduk manis tak menghiraukannya. Shella sibuk membuka katalog model rambut dan riasan wajah para pengantin yang sepertinya hasil karya dari salon Alena. “Iya boleh, ngomong saja.” Mata Alena terpusat pada berkas laporan. “Empat mata, Mbak,” ucap Karin tegas. Alena berhenti membolak balik berkas laporan dan memandang Karin dengan penuh tanya. Dan detik kemudian, baru tahu apa maksud ucapan Karin. “Shel, maaf, bisa keluar sebentar? Ada hal penting yang harus kami bicarakan.” Alena mencoba berhati-hati dalam berucap ahar Shella tidak merasa sakit hati. Shella berdecak dalam hati. Tunggu tanggal mainnya Karin! “Iya, Mbak. Permisi,” pamit Shella. “Mbak, dapat dari mana orang macam dia?” tanya Karin setelah Shella sudah keluar ruangan. “Maksud kamu apa, Rin?” Alena masih bingung dengan pertanyaan Karin. Entah terbuat dari apa hati Alena hingga tidak berburuk sangka pada orang yang baru dikenalnya. “Mbak tahu asal usulnya? Kalau bisa, jangan jadikan dia pegawai disini. Apalagi sedang hamil seperti itu,” ungkap Karin. “Justru karena sedang hamil makanya Mbak pekerjakan dia disini. Kasihan dia, nggak ada suami,” jelas Alena iba. “Hamil diluar menikah?” tanya Karin dengan mata terbelalak. Alena mengangguk pelan. Karin memajukan tubuhnya, kedua tangan diletakkan diatas meja. “Perlu Karin ingatkan, jaga suami Mbak!” Ucapan Karin begitu menancap dihati Alena. Kenapa bisa dia berbicara demikian? Karin langsung pergi dan membuka knop pintu ruangan dengan keras. Bruggghhhh! *** Bersambung
ya bagus
12/05/2024
0lanjut Thor
19/12/2022
0mamtap
16/04/2022
0ดูทั้งหมด