Setiap manusia ujian dan jalan hidupnya berbeda-beda yang membedakan hanya penerimaan, ikhlas atau tidaknya. Vonis ini meruntuhkanku, membuatku terpuruk dan terpukul. Ya Allah haruskah aku? tidak bisakah aku memilih dan meminta? jangan aku, sungguh ini ujian terberat yang aku rasakan. (Adhelia)
***
Hasil laboratorium sudah keluar, pihak rumah sakit menghubungi Adhelia menginformasikan besok untuk bertemu dengan dokter Dedi. Adhelia dan suaminya mengiyakan akan datang ke rumah sakit untuk mendengarkan pemaparan dokter Dedi spesialis onkologi mengenai hasil laboratorium pasca biopsi terbuka minggu lalu. Adhelia masih bersikap santai, karena yang ada dipikirannya cuma biopsi. Besok tinggal mendengarkan pemaparan ahli onkologi kemudian melanjutkan pengobatan dengan obat-obatan sesuai anjuran dokter. "Siang Dok," sapa Adhelia dan suaminya lalu menganggukkan kepala dan memberikan senyuman kepada dokter. Adhelia dan suaminya memasuki ruang praktik dokter spesialis onkologi, yang akhir-akhir ini sering sekali dikunjunginya. Keduanya langsung duduk di depan meja dokter, tegang tapi mereka berusaha santai. "Selamat siang mba Adhelia dan Pak Riki. Silahkan duduk," jawab dokter ramah dan tersenyum simpul. "Terima kasih Dokter," jawab Adhelia. "Sudah siap? Mendengarkan pemaparan saya mba Adhelia dan Pak Riki?" ucap dokter bertanya dan memandang Adhelia kemudian memandangi suaminya, meminta jawaban akan kesiapan keduanya. "Insyaallah siap Dok," jawab Sang suami, lalu melihat istrinya dan tersenyum. Adhelia berusaha menarik napas dalam dan mengeluarkannya pelan untuk menenangkan diri dari ketegangan yang menghantui. "Baiklah, mba Adhelia menurut hasil laboratorium atau hasil patologi anatomi benar adanya benjolan itu suspeck kanker atau tumor ganas." papar dokter menghembuskan napas berat. "Kanker ganas Dok," ucap Adhelia langsung lemas, lututnya bergetar dan jantungnya terus berdetak kencang seolah berlari kencang di lapangan. Suaminya langsung menggenggam tangan Adhelia erat, mengirimkan isyarat bahwa dirinya akan selalu ada dan seolah berkata jangan panik. "Iya. Ini sudah pasti kanker payudara dan harus segera diangkat karena benjolannya berdiameter besar mba,” ujar dokter berempati kepada Adhelia. Tak ada jawaban, hanya ada tangisan Adhelia yang tertahan. “Payudara sebelah kanannya harus diangkat semua." "Apa! Diangkat semua? Maksudnya dokter?" Adhelia panik, diangkat semua apa maksudnya. "Iya payudaranya harus diangkat mba Adhelia, karena benjolannya berdiameter besar.” Dokter menjeda kata-katanya. "Lebih baik diangkat dari pada nanti tambah besar dan bengkak terus memerah, malah beresiko. Lebih baik dibuang lebih awal kalau saran saya," sambung dokter Dedi. "H UIarus ya Dok? Tidak ada pilihan lainkah?" Kata Adhelia meminta pilihan yang lain, seketika runtuh semua impianya. Adhelia terus berusaha menahan tangisnya. Keringat dingin mulai keluar, genggaman tangan suaminya tak pernah lepas. "Tidak ada pilihan lain.” “Ya Allah Mas,” Adhelia memeluk suaminya. “Mastektomi adalah pilihan terbaik saat ini. Kanker itu kaya benalu, kalau tidak diangkat atau dibuang akan menggerogoti tubuh kita. Lebih baik sekarang diangkat dari pada nanti tambah besar terus bengkak dan bernanah, malah akan tambah lama dan akan berbeda dalam treatment pengobatannya," terang dokter dengan sabar.
Dokter sadar mastektomi adalah keputusan berat yang harus diambil oleh penyintas kanker payudara. "Tapi Dok, Aku masih muda. Baru dua puluh sembilan tahun dan baru menikah. Ya Allah," teriak Adhelia tertahan, suaminya tak melepaskan pelukannya. Sesak napasnya, tak mampu menahan tangis, air mata tanpa bisa dibendung terus keluar. Rasanya ingin berteriak sekencangnya. "Ini yang terbaik mba Adhelia. Ingat selalu ada harapan," ungkap dokter pelan. Sebenarnya dokter pun selalu tak tega ketika mengutarakan dan mendiagnosis seseorang apalagi kanker penyakit yang menakutkan. "Mas Riki, Ini keputusan terbaik.” Dokter meyakinkan suaminya. “Iya Dok.” “Silahkan diskusikan, bicara dari hati ke hati, kalian masih muda tapi percayalah mastektomi adalah keputusan terbaik untuk saat ini," sambung dokter menghembuskan napas, mengajak suami Adhelia untuk mengambil keputusan yang tepat untuk saat ini. "Baik Dok, kami harus berdiskusi terlebih dahulu. Saat ini istri saya belum bisa terima, saya akan berusaha menyakinkannya untuk melakukan mastektomi Dok," ujar suami Adhelia. Riki pamit keluar ruangan dokter, sambil menggandeng Adhelia yang masih saja menangis. Mastektomi atau operasi pengangkatan payudara bagi kaum hawa adalah treatment paling berat. Karena payudara organ sangat penting bagi perempuan selain nilai estetika atau keindahan, juga akan berhubungan dengan ketika dia hamil dan memiliki anak besar harapan untuk bisa menyusui dan memberikan ASI. *** Ketika keluar ruangan Adhelia menangis tambah kencang, meraung, meski dipelukan suaminya tapi tangisan pilu membuat sesak napas yang mendengarnya. Seolah orang yang melihat itu yakin pasti ada keputusan berat yang tidak bisa diterimanya. Semua orang juga tahu, kalau keluar dari ruangan dokter spesialis onkologi dalam keadaan menangis-nangis sudah pasti diagnosanya kanker, penyakit yang menakutkan bagi semua orang. Adhelia terus menangis di lorong klinik, tak peduli semua orang melihatnya, tak peduli dengan pandangan aneh orang, Adhelia tetap menangis meraung hanya itu yang bisa dilakukan akan takdir Allah atas dirinya. Adhelia masih tak percaya akan semua ini. “Ya Allah terlalu berat, berat sekali,” raung Adhelia terduduk melorot di lantai, dipelukkan suaminya sambil menangis sesenggukan mengeluarkan sesak di dada, nyeri dan perih tapi tak berdarah. "Ya tidak apa-apa Dek. Mastektomi aja, toh ini demi kesehatanmu dan yang paling penting kamu sehat Dek," ujar suaminya sambil terus memeluk Adhelia. Riki suami Adhelia yakin ini yang terbaik untuk istrinya, dia menerima meski nanti istrinya harus kehilangan payudaranya. "Iya tapi..." jeda Adhelia disela tangisnya. "Kita kan baru nikah Mas, baru tiga bulan. Kita juga pengen punya anak. Aku pengennya ASI full kalau punya atu ‘kan kasian tidak bisa maksimal Asinya," ujar Adhelia menahan tangisnya, dan terus mengusap air mata. "Ya udah seh Dek, Nanti pake yang satunya ‘kan bisa. Ga papalah.” Adhelia tetep menangis dilantai lorong rumah sakit. Orang-orang melihatnya sangat iba. “Kalau nanti anaknya tanya, ko bunda cuma punya satu payudaranya. Biar Mas yang bilang, siapa bilang kamu punya satu tapi kamu tiga, satu punya bunda dan dua punya ayah," ucapan suaminnya. Meski ini kata-kata receh dari suaminya tapi saat didengar Adhelia sangat memberikan keyakinan bahwa suaminya mau menerima apapun keadaannya. "Yakin Mas, tidak apa-apa?" ucap Adhelia meyakinkan suaminya sambil terus mengusap air mata yang terus mengalir. "Insyaallah yakin Dek, tak perlu meragukanku!" ungkap suaminya terus memeluk Adhelia, supaya tangisnya berhenti. Suaminya mulai mengajak berdiri untuk melangkah keluar klinik. Riki sang suami mengusap air mata Adhelia yang masih mengalir, memandang dan meyakinkan dirinya. "Semua akan baik-baik saja, ayo kita pulang.” “Iya.” “Yuk. Malu dilihat orang, tadi kita melakukan drama Dek disini," kata suaminya bercanda. Mendengar itu Adhelia tersenyum simpul dan melangkah bersama meski rasa sesak masih saja ada.
Asal kalian tahu divonis atau terdiagnosis kanker aja itu berat, sakit, terpukul, terpuruk dan sekarang harus melakukan mastektomi juga berasa dunia runtuh. Kita hilang kendali yang ada hanya menyalahkan dan tak mampu menerima takdir. Meski kita sadar bahwa semua yang kita miliki adalah milik Allah dan akan kembali padanya, tapi menerima keputusan itu tak semudah membalikkan telapak tangan.
tegar. ini kisah pilu tetapi meninggalkan pesan moral yang berarti. sang pencipta memiliki janji yang lebih baik.
06/02/2022
1judulnya menarik, mengecoh pembaca saat membaca blurbnya... kisah yang pasti dipenuhi dengan bawang... semangat kakak...
06/02/2022
1Suku bangetttttt😍
01/09/2024
0ดูทั้งหมด