logo text
เพิ่มลงในห้องสมุด
logo
logo-text

ดาวน์โหลดหนังสือเล่มนี้ภายในแอพ

บทที่ 4 Benjolan bertambah besar

Satu bulan buat Adhelia untuk meyakinkan diri dan menyiapkan mentalnya, bersiap dengan semua yang akan terjadi besok setelah pengecekan ke dokter.
Selama sebulan itu, banyak dialog antara dirinya dan suami, membahas akan segala kemungkinan-kemungkinan yang terjadi nanti.
Hari ini, akhirnya Adhelia memberanikan diri untuk cek ke dokter dan Adhelia merasa benjolan yang ditemukan bulan lalu, sekarang malah sering sakit.
Meski pikiran Adhelia menyatakan ini sakit karena haid, tetapi Adhelia sudah merasa kalau dirinya saat ini sedang tidak baik-baik saja, makanya setuju untuk cek ke dokter.
"Dek, jangan takut," ucap Riki, sebelum berangkat ke dokter.
“Aku takut mas.”
“Tenanglah, ada mas yang menemani.”
“Aku gugup dan takut,” keluh Adhelia.
“Bismillah. Ayo, kita cek ke dokter," ajak suaminya, langsung menyalakan sepeda motor.
"Iya. Ayo berangkat mas," ucap Adhelia meski gugup dan berdetak kencang jantungnya.
Baru berangkat saja dirinya sudah deg-degan dan merasa takut, kalau saja bukan karena suaminya, yang selalu mendesak dan meyakinkan akan selalu bersama, itu yang membuatnya yakin dan memberanikan diri untuk mengecek ke dokter.
"Jangan takut dek, mas tak akan meninggalkanmu.”
“Iya.” Adhelia menjawab pendek.
“Meski payudaramu diangkat, kepalamu mulai gundul dan kulitmu akan menghitam. Insyaallah aku akan selalu menemanimu, berjuang bersama."
Adhelia percaya dengan janji suaminya, selama diperjalanan menuju rumah sakit yang menjadi rujukan BPJS.
"Iya mas, terima kasih selalu mendukungku. Terima kasih atas cinta dan kasih sayangnya, tambah cinta aku mas," ujar Adhelia, mengeratkan pelukannya saat berkendara sepeda motor. Dia berusaha meredam rasa deg-degan dihatinya.
***
Ketika memasuki rumah sakit langsung mendaftar di dokter Onkologi tanpa melalui proses umum, karena Adhelia merasa sudah ada bakat dari mama sehingga hanya fokus pada benjolan yang ada di payudara.
Setelah melakukan rangkaian pemeriksaan di rumah sakit, tidak terlalu lama menunggu akhirnya hasil USG keluar.
"Tenanglah," ujar Riki, terlihat muka Adhelia pucat sekali.
Belum hilang rasa kehilangan mama yang sangat memukul hatinya, kalau hasil pemeriksaan hari ini baik-baik saja alhamdulillah, tetapi kalau hasilnya buruk itu yang menjadi kekalutan dirinya.
"Aku gugup mas."
Hanya suaminya yang selalu menenangkan, jika hasilnya buruk setidaknya bisa langsung ditangani oleh dokter ahli kanker itu alasan suaminya.
Suster akhirnya memanggil nama Adhelia, dengan bismillah dan dzikir Adhelia dan suaminya melangkah memasuki ruang dokter onkologi.
Genggaman tangan suaminya berusaha menguatkan dan menghilangkan ketegangan. Senyuman manis yang diberikan Riki sebelum membuka pintu seolah meyakinkan tenanglah semua akan baik-baik saja, jangan khawatir Adhelia.
"Silahkan duduk Mba Adhelia," ucap dokter onkologi itu.
Terlihat dokter onkologi sudah berumur karena rambutnya sudah memutih mungkin usianya sekitar enam puluh tahun.
"Terima kasih Dokter."
"Mba Adhelia dan ini suaminya?”
“Iya Dok.”
“Hasil USG menunjukkan ada benjolan sekitar satu koma lima centi, masih sangat kecil sebenarnya.”
"Berarti benar ya Dok, ada benjolan?" tanya suaminya meyakinkan lagi.
“Iya betul. Kita belum tahu ini tumor atau suspack kanker ya Pak.” Dokter mempelihatkan hasil USG.
“Berbahayakah Dok?”
“Harus dilakukan biopsi untuk melihatnya, jadi saran saya lakukan biopsi. Semakin cepat biopsi semakin baik.”
“Apa itu biopsi Dokter?” tanya Riki.
“Biopsi adalah salah satu tes yang dilakukan untuk mendeteksi dan memantapkan diagnosis penyakit kanker. Biopsi dilakukan sebagai prosedur mengambil jaringan atau sampel sel dari tubuh.”
“Berarti saya ada kemungkinan kanker Dokter?” ucap Adhelia.
"Iya betul. Alangkah baiknya segera lakukan biopsi untuk memastikan, maka saran saya segera lakukan biopsi.”
“Tapi saya takut Dok, mama saya juga kena kanker payudara.”
“Tenang. Belum tentu kanker ya, jangan panik. Tapi kalau punya gen kanker, harus waspada," ucap dokter tersenyum.
“Baik Dok.”
“Sekarang, kondisi Mamanya bagaimana?”
“Sudah meninggal, empat bulan yang lalu.” Adhelia tersenyum getir.
“Saya ikut berbela sungkawa, yang sabar ya mba Adhelia.”
“Terima kasih Dok, setidaknya mama sudah tidak kesakitan lagi Dok.”
Pandangan Adhelia seketika kosong, ingat bagaimana mama berjuang melawan kanker.
“Iya betul, selesai sudah perjuangannya.”
“Makanya, saya sangat takut Dok,”
“Tenang, jangan panik. Di analisis lebih awal, agar bisa langsung ditangani mba.”
“Iya Dok, saya harus meyakinkan diri dulu.”
“Ikuti saran saya. Segera lakukan biopsi. Silahkan atur jadwal selanjutnya," jelas dokter onkologi itu.
"Baik Dok, terima kasih." Adhelia dan Riki meninggalkan ruangan dokter onkologi.
"Kata dokter belum tentu kanker ‘kan Dek, jadi jangan panik."
"Iya Mas."
"Kita lihat jadwal biopsinya," ucap Riki suami Adhelia.
Setelah mengurus administrasi dan mengambil berkas tertera tanggal biopsi hanya beberapa hari ke depan pikir suaminya.
***
Sehari sebelum melakukan biopsi, Adhelia melakukan USG terlebih dahulu dan hasil USG kedua langsung keluar.
"Mba Adhelia, ukuran benjolanmu sekarang tambah besar.”
"Ha? M-membesar Dok?” Adhelia gugup saking kagetnya.
“Iya. Sudah mencapai dua koma enam centimeter, berarti nambah satu centimeter dalam waktu dua puluh hari,” papar dokter.
Dokter menunjukan hasil USG dan melingkari benjolannya.
“Ko bisa, cepet banget ya Dok?" ucap Adhelia panik, keringat dingin mulai keluar.
Bagaimana bisa cuma selang dua puluh hari dari USG pertama tapi benjolan sudah bertambah besar.
“Makanya Mba Adhelia, kamu harus waspada dengan benjolan ini. Sepertinya benjoalanmu cepat sekali membesar.”
“Dok, ini sangat mengerikan,” ujar Adhelia, bergidik dengan keadaan dirinya.
“Yupz, ikuti saran saya. Segera lakukan biopsi.”
"B-baik Dok." Pikiran Adhelia kalut, cemas, dengan dirinya sendiri.
“Tenanglah Dek.” Suaminya angkat bicara, sebenarnya diapun syok.
"Biopsi yang akan saya berikan ke Mba Adhelia dengan suntikan FNAB.”
“Apa itu Dokter? Bisa dijelaskan?” tanya suaminya.
“Suntikan FNAB (Fine Needle Aspiration Biopsy) itu menyuntikkan jarum ke jaringan yang berada di daerah benjolan, kemudian mengambil sel-selnya. Nanti langsung di analisis apakah suspack kanker atau tumor jinak," sambung dokter spesialis onkologi menjelaskan treatment-nya.
“Baik Dok.”
“Sudah dapat jadwal biopsi?” tanya dokter.
“Sesuai Jadwal, besok siang biopsi Dok,” ucap suaminya.
“Baiklah, sampai ketemu besok. Mba Adhelia semangat, selalu ada harapan.”
“Terima Kasih Dok. Sepertinya istri saya syok.” Riki yang menjawab nasehat dokter.
Adhelia terdiam tak terasa air mata menetes, mendengar hasil USG kedua. Apa iya penyakit ini akan terus menghantuinya? tidak bisakah cukup sampai mama saja.

หนังสือแสดงความคิดเห็น (89)

  • avatar
    HendartoFarid

    tegar. ini kisah pilu tetapi meninggalkan pesan moral yang berarti. sang pencipta memiliki janji yang lebih baik.

    06/02/2022

      1
  • avatar
    Herofah

    judulnya menarik, mengecoh pembaca saat membaca blurbnya... kisah yang pasti dipenuhi dengan bawang... semangat kakak...

    06/02/2022

      1
  • avatar
    umi kalsum

    Suku bangetttttt😍

    01/09/2024

      0
  • ดูทั้งหมด

บทที่เกี่ยวข้อง

บทล่าสุด