logo text
เพิ่มลงในห้องสมุด
logo
logo-text

ดาวน์โหลดหนังสือเล่มนี้ภายในแอพ

บทที่ 3 Bulan Madu yang Tertunda

Acara bulan madu Adhelia tertunda, tidak seperti pengantin baru yang lain bisa langsung bulan madu. Kemarin boro-boro bisa belah duren, seperti lagu dangdut atau memadu kasih dengan kekasih halal, yang ada sibuk mempersiapkan tahlilan setiap malam.
Adhelia dan suami setiap hari sibuk mempersiapkan acara untuk tahlilan mamanya. Sudah menjadi kebiasaan di kampung Adhelia mengaji untuk orang meninggal itu dilakukan semalam suntuk tanpa berhenti, saling bergantian makanya selalu sedia minuman dan makanan.
Setelah kesibukan dengan tahlilan untuk almarhum mama selesai, Adhelia segera pulang ke Jakarta untuk menyusul suaminya yang telah lebih dulu pulang karena masa cutinya cuma seminggu.
Setelah menikah Adhelia langsung ikut Riki, menyewa rumah susun dekat dengan tempat kerjanya.
*
Malam ini Adhelia dan Riki sedang berada di peraduan, setelah melakukan ritual bulan madu yang tertunda.
"Dek, kayanya kamu harus cek ke Dokter deh," ujar Riki membuka percakapan setelah bercengkerama di peraduan.
"Kenapa mas?" tanya Adhelia bingung, siapa yang sakit.
"Kita harus waspada, hari ini kamu tidak ada benjolan. Besok lusa kita tidak tahu," jawab Riki tegas.
"Tapi aku baik-baik saja mas," elak Adhelia, tidak ingin mempermasalahkan dirinya
"Iya, mas hanya menyarankan. Supaya kita tenang dek," ungkapnya lembut, agar Adhelia tidak tersinggung.
"Mas, aku ini sehat. Tadi kamu cek tidak ada benjolan 'kan? Berarti aku aman," ucapnya mulai emosi, karena Adhelia merasa baik-baik saja.
"Yang bilang kamu sakit siapa dek?" Kilah Riki suaminya, melihat Adhelia sudah mulai emosi.
"Itu mas menyarankan, supaya aku ke dokter. Sama aja 'kan? Kamu berpikir aku sakit?" Adhelia tidak terima dengan sarannya.
"Mengecek itu bukan berarti kita sakit dek, kamu hanya perlu waspada karena mama sakit kanker payudara. Bukankah kamu harus lebih berhati-hati?" tandas Riki.
"Aku tidak mau mas, takut. Aku takut...." Adhelia menggantungkan ucapannya.
Adhelia langsung terlihat sendu, teringat kembali semua kenangan bersama mama berjuang melawan kanker payudara yang menyeramkan.
Dia melihat langsung kondisi mama setelah kemoterapi meski tidak semua, belum sempat mama melakukan operasi pengangkatan dan akhirnya mama tak sanggup bertahan dengan ganasnya kanker payudara.
"Ya sudah, yakinkan dulu hatimu."
"Kasih aku waktu mas, buat berpikir," pinta Adhelia.
Suaminya kemudian memeluk Adhelia untuk menenangkan, Riki tahu Adhelia pasti ketakutan akan semua resiko yang terjadi jika di cek oleh dokter.
"Jangan takut. Apapun yang terjadi, kita hadapi bersama dek."
Adhelia hanya mengangguk, tak menjawab lagi kata-kata suaminya. Dirinya tenggelam dengan rasanya sendiri, kanker payudara menghantuinya seperti terus dikelilingi awan gelap.
***
Setelah malam pengantin itu Riki berkomitmen untuk mengecek kondisi Adhelia ke dokter. Riki berpikir lebih baik terdeteksi dari awal, supaya lebih cepat ditangani dan tidak menyebar kemana-mana serta kemungkinan sembuhnya jauh lebih besar.
"Dek. Kayanya ini ada benjolan deh, tapi masih kecil banget ko," ucap suaminya mulai cemas.
Meski Riki deg-degan, ketika teraba adanya benjolan, tetapi berusaha tenang. Dia berharap salah awalnya, tetapi semua resiko harus dihadapi bersama karena dua kali pengecekan hasilnya tetap ada benjolan.
"Apa! Mas, kamu yakin?" ungkap Adhelia setengah berteriak dan cemas.
"Iya dek, sudah mas pastikan dua kali," ucapnya.
“Ya Allah,” isak Adhelia tiba-tiba lemas tak berdaya.
“Jangan takut dek. Mas akan selalu bersamamu."
"Aku takut mas. Takut seperti mama,” Air mata Adhelia tak bisa dibendung seperti air di musim penghujan tiba-tiba turun deras.
"Tenang, nanti kita pastikan dan kamu harus cek ke dokter.”
Riki menggenggam tangan Adhelia yang terasa dingin.
“Tidak mungkin! Pasti tadi kamu salah, ngeceknya mas." Adhelia mulai panik, jantungnya mulai berpacu kencang seperti habis berlari.
Riki paham betul dengan karakter Adhelia, hanya bisa geleng-geleng kepala.
“Belum tentu ini berbahaya dek. Tenanglah, kamu akan baik-baik saja." Saran suaminya tenang, terlihat muka Adhelia mulai pucat.
"Kemarin aku juga ngecek, tidak ada mas. Masa sekarang ada?" tandas Adhelia panik dan tidak percaya.
Kembali bayangan mamanya melintas begitu saja. Adhelia terus ketakutan dan sangat mengerikan jika mengingat mama.
"Seperti yang mas baca di internet, melakukan pengecek ada tidaknya benjolan, waktu paling bagus setelah haid Dek. Nah sekarang kamu ‘kan selesai haid," jelas suaminya.
Bisa jadi kemarin-kemarin tidak teraba karena Adhelia mengecek sebelum haid, dan setelah haid malah baru teraba ada benjolan.
Bagaimanapun, benjolan yang ditemukan hari ini oleh suaminya membuat Adhelia merasa ketakutan. Takut yang pada akhirnya akan sama dengan apa yang mamanya alami.
"Tenang, tenang, jangan panik. Ini belum tentu bahaya dek, besok kita cek ke dokter." ucap suaminya kemudian memeluk Adhelia agar tenang.
"Aku belum siap kalau harus cek sekarang Mas. Aku takut!”
"Harus cek ke Dokter dek, biar jelas bahaya atau tidaknya?” Riki terus meyakinkan Adhelia agar mau pergi ke dokter.
"Mas... Aku belum siap! Kalau hasilnya aku kanker bagaimana! Aku takut itu," elak Adhelia ketakutan, keringat dingin mulai bercucuran.
Adhelia berusaha mengatur napas dan membuang pikiran-pikiran negatif. Akan tetapi hatinya tetap saja kalut semua kenangan bersama mama melintas di pelukan matanya.
"Ya sudah, besok kita cek lagi."
Riki tahu kalau Adhelia pasti ketakutan dan merasa belum siap dengan hasilnya nanti. Percuma memaksa kalau Adhelia belum siap dan tidak ingin pergi ke dokter.
Adhelia hanya diam, belum memberikan jawaban. Rasa ketakutan itu lebih besar, luka kehilangan aja belum sembuh benar. Sekarang harus memastikan diri untuk mengecek benjolan di payudaranya.
Adhelia menutup matanya, ingin berdamai dengan dirinya. Kini dirinya menjadi sedikit penakut setelah kehilangan mama.
“Adek yakinkan dulu mentalnya. Mas tidak maksa sekarang ko," imbuh suaminya.
Adhelia butuh waktu untuk meyakinkan dirinya, bahwa kenyataan pahit adalah Adhelia memiliki bakat yang sama dengan mamanya.
Suaminya terus meyakinkan akan selalu menemani dan selalu berjuang bersama apapun hasilnya besok.
Mereka butuh meyakinkan dirinya tidak hanya Adhelia bahkan suaminya juga harus siap apapun hasilnya nanti. Siap menerima dan selalu menjadi team penyemangat untuk Adhelia, ketika vonis sudah diterima.

หนังสือแสดงความคิดเห็น (89)

  • avatar
    HendartoFarid

    tegar. ini kisah pilu tetapi meninggalkan pesan moral yang berarti. sang pencipta memiliki janji yang lebih baik.

    06/02/2022

      1
  • avatar
    Herofah

    judulnya menarik, mengecoh pembaca saat membaca blurbnya... kisah yang pasti dipenuhi dengan bawang... semangat kakak...

    06/02/2022

      1
  • avatar
    umi kalsum

    Suku bangetttttt😍

    01/09/2024

      0
  • ดูทั้งหมด

บทที่เกี่ยวข้อง

บทล่าสุด