logo text
เพิ่มลงในห้องสมุด
logo
logo-text

ดาวน์โหลดหนังสือเล่มนี้ภายในแอพ

บทที่ 2 Kematian Mama

"H-hallo, Assalamualaikum mas," sapa Adhelia terbata karena menahan tangisnya.
Adhelia menelepon Riki, untuk memberitahukan akan meninggalnya mama.
"Waallaikumsalam, kenapa dek? Kamu baik-baik saja 'kan?" Riki khawatir mendengar suara tertahan Adhelia di ujung telepon.
"Mas, Mama sudah meninggal." ujar Adhelia di ujung telepon, Adhelia mulai terisak kemudian menangis tak bisa ditahannya.
"Inalillahi wa innailaihi rojiun, kapan dek?" Tanyanya Riki kaget.
"Barusan saja."
"Kamu sekarang dimana dek? sama siapa?" tanya Riki.
"Aku sendirian, sekarang masih di rumah sakit mas. Sedang mengurus administrasi kepulangan mama." Adhelia terdiam sejenak, menarik napas dalam untuk menenangkan dirinya. Meski masih terdengar isaknya menahan tangis.
"Yang sabar ya dek. Iklasin, mama sekarang sudah tidak sakit lagi," ujar Riki.
"Iya mas, aku iklas tapi merasa belum puas ngurusin Mama. Kamu disuruh pulang segera sama Bapak," pintanya.
"Setidaknya, kamu sudah mengurusnya selama enam bulan terakhir dek. Mas langsung pesen tiket sekarang ya," ujarnya.
Riki masih di Jakarta, belum pulang ke kampung karena cuti pernikahan masih empat hari lagi. Mendengar kabar mama Adhelia meninggal, dia akan mempercepat cutinya dan langsung pulang kampung sore ini juga.
"Mas, ini soal pernikahan kita?" tanya Adhelia ragu-ragu, semua akan sangat berhubungan dengan pernikahannya nanti.
Adhelia berpikir tak mungkin mengadakan pesta pernikahan di saat berkabung begini, tabu serta tidak lumrah dengan adat kebiasaan di kampung.
"Sudah jangan dipikirkan, nanti saja kita bicarakan kalau mas sudah sampai di sana ya."
"Baik mas, hati-hati di jalan. Assalammualaikum." Adhelia menutup teleponnya.
Adhelia sudah mempersiapkan pernikahan dengan Riki kekasih hatinya satu minggu lagi, semua persiapan sudah dilakukan tinggal menunggu hari H.
Akan tetapi kalau kejadiannya begini, Adhelia pun bingung tak bisa berpikir jernih. Mama tak sanggup bertahan sampai hari H pernikahannya, padahal mama sangat ingin menyaksikan dirinya menikah dengan Riki.
"Mama, bagaimana aku bisa menikah besok, tanpa adanya mama bersamaku," gumam Adhelia, terus menangis. Terbayang mama selalu bersemangat ketika dirinya mempersiapkan pernikahan.
Adhelia sudah pulang kampung saat tahu mama kena kanker payudara stadium akhir, untuk menemaninya melakukan semua pengobatan di rumah sakit.
Enam bulan terakhir Adhelia menemani mama menjalankan berbagai treatment pengobatan kanker di rumah sakit. Dia meninggalkan kota Jakarta, demi bisa merawat dan menemani mamanya.
Adhelia merasa terlambat mempelajari penyakit yang diderita mamanya, sehingga belum begitu banyak informasi yang dapat digali tentang penyakit kanker ini.
***
Bendera kuning terpasang di depan rumah Adhelia, terlihat beberapa saudara dan tetangga sedang mempersiapkan keperluan untuk memandikan jenazah.
Gadis itu masih saja terduduk lemah dan kosong, dengan mata yang sembab karena semalaman menangis dan tidak tidur sama sekali.
"Dek," sapa Riki pelan, supaya tidak menggangu yang lain sedang mengaji di samping jenazah.
Adhelia memalingkan muka ke arah sumber suara, ternyata Riki sudah sampai dari Jakarta.
Riki sudah melakukan perjalanan jauh dari ibu kota menuju tempat kelahirannya yaitu kota Tuban. Kota yang berada di provinsi Jawa timur, sangat jauh kalau dari kota Jakarta.
"Mas, sudah sampai?" tanya Adhelia berusaha bangkit dari duduknya tetapi sempoyongan kakinya tak mampu menopang badannya.
"Dek, hati-hati." Riki langsung memegang tangan dan memapah badan Adhelia.
Adhelia belum makan dan minum dari kemarin, semalaman mengaji di depan jenazah mamanya.
"Maaf, aku lemas sekali mas. Itu Bapak," tunjuknya ke arah bapak.
Terlihat bapak sedang berbicara dengan keluarga Riki yang baru datang, tampak serius sekali.
"Adhelia, Riki," panggil bapak.
"Iya pak."
"Maafkan bapak sebelumnya, Bapak dan keluarga Riki sudah sepakat kalian akan menikah saat ini setelah jenazah mama dimandikan."
"Bapak, tidak bisakah ditunda saja. Jangan memaksakan diri, aku tidak siap," ungkap Adhelia.
"Adhelia, ini adat tidak boleh di langgar pamali. Percaya sama Bapak," pintanya.
"Kalau keluarga semua setuju, saya siap Pak," ungkap Riki.
"Mas? Aku tidak siap. Masa menikah begini," ungkap Adhelia kaget, karena Riki baru saja sampai dan mereka belum membahas soal pernikahan.
Adhelia tidak siap untuk menikah sekarang tidak ada persiapan, mandi pagi aja belum bagaimana dia bisa menikah sekarang? Pikirnya.
"Adhelia, akad nikah saja yang dipercepat. Resepsi pernikahan tidak bisa kita selenggarakan, pamali." Bapak kembali meyakinkan.
"Bapak...."
"Kita tidak bisa melanggar adat Adhelia, kamu menginginkan mama melihat kamu menikah 'kan? Bersiaplah, sebentar lagi bapak penghulu datang," ucap bapak bergegas pergi, untuk mengurus pemandian jenazah.
Menikah sekarang, di depan jenazah mama? Hal yang tak pernah terpikirkan dan ini sungguh di luar rencana pernikahannya dengan Riki.
Riki adalah laki-laki yang mampu menaklukkan hati Adhelia dan membuat harinya terasa indah. Dia adalah teman semasa sekolah dulu, yang dipertemukan di kota Jakarta saat sama-sama merantau mencari rezeki di ibu kota.
"Sudahlah dek tidak apa-apa, mungkin takdir hidup kita seperti ini dek," ucapnya.
Ditatap mata Riki, Adhelia meminta keyakinan kalau semua keputusan ini akan berjalan baik-baik saja. Ini terlalu mendadak, tak terbayangkan sebelumnya.
"Bismillah dek, aku mau menghapal sebentar."
"Mas, yakin?" Adhelia kembali bertanya.
"Sama saja 'kan, hanya dipercepat," ungkap Riki meyakinkan Adhelia dan dirinya sendiri.
Betul akad nikahnya sama tapi memorinya penuh duka bukan kebahagiaan.
Adhelia kembali bersimpuh di depan jenazah ibunya. Menatapnya sendu, bingung, tak bisa menolak keadaan dan otaknya tidak bisa berpikir jernih saat ini.
"Ayo, Adhelia kita mandikan jenazah."
Ajak bapak menyadarkan Adhelia yang bingung akan hidupnya, tetapi dia tak ingin menyia-nyiakan waktu terakhir bersama mamanya.
"Iya Pak."
Adhelia bangkit, lalu mengikuti bapak ke tempat pemandian jenazah. Kemudian Adhelia ikut memandikan jenazah mamanya bersama keluarga.
Riki tampak sedang menatap layar ponselnya dengan serius dengan mulut komat kamit, dia harus mampu menghapal dalam waktu kurang dari tiga puluh menit.
Jenazah mama sudah dikafani, siap untuk dikebumikan. Akan tetapi masih menunggu pak penghulu datang.
Tak lama pak penghulu datang, langsung duduk di dekat jenazah mendoakan kemudian bertanya kepada Riki.
"Sudah siap?" Tanyanya.
"Iya," jawab Riki pendek.
Sedangkan Adhelia hanya berganti baju biasa karena baju yang dipakai tadi basah setelah ikut memandikan jenazah. Lalu, Adhelia duduk di samping Riki, di dekat jenazah mama yang telah siap dimakamkan.
Semua orang hadir untuk menyaksikan dirinya menikah sekaligus melayat atas meninggalnya mama.
***

หนังสือแสดงความคิดเห็น (89)

  • avatar
    HendartoFarid

    tegar. ini kisah pilu tetapi meninggalkan pesan moral yang berarti. sang pencipta memiliki janji yang lebih baik.

    06/02/2022

      1
  • avatar
    Herofah

    judulnya menarik, mengecoh pembaca saat membaca blurbnya... kisah yang pasti dipenuhi dengan bawang... semangat kakak...

    06/02/2022

      1
  • avatar
    umi kalsum

    Suku bangetttttt😍

    01/09/2024

      0
  • ดูทั้งหมด

บทที่เกี่ยวข้อง

บทล่าสุด