prolog Dunia terasa runtuh kenapa harus dirinya? Sekejam itukah takdir padanya? Mama meninggal karena kanker payudara, sekarang dirinya pun divonis dengan penyakit yang sama. Jika membuat alis mata adalah harga diri bagi seorang MUA, bagi Adhelia berjuang membuat alis mata agar dirinya tidak terlihat seperti tuyul karena kepalanya tanpa rambut dan alis mata serta wajahnya yang pucat. Tanpa alis mata terbentang sekarang Adhelia tidak percaya diri, kalau keluar rumah. Enam tahun sudah dengan tiga sesi kemoterapi membuatnya sudah terbiasa membuat alis mata, meski awalnya adalah perjuangan yang sangat berat karena Adhelia wanita yang jarang bersolek. Kemoterapi merupakan salah satu tahap pengobatan yang berat bagi semua penderita kanker, karena efek samping kemoterapi itu membuat semua rambut dan bulu di tubuh rontok, muntah-muntah, demam, sariawan, kulit dan kuku menghitam. Perjuangannya melawan kanker terus berlanjut, sampai kanker itu sendiri sudah merasa bosan menjelajahi dirinya atau dirinya yang sudah tak sanggup bertahan melawannya karena jenis kanker payudara Adhelia ganas dan aktif. *** Tahun 2015 bulan November.
Takdir seseorang itu benar-benar rahasia, kita tak pernah tahu. Pagi ini cuaca cerah, tetapi di rumah Adhelia seperti mendung penuh dengan awan gelap, mendung penuh duka dan air mata. Terasa lebih senyap dengan aroma kebekuan. "Saya terima nikah dan kawinnya, Adhelia Kuswara putri kandung Bapak Teguh Prawira dengan mas kawin emas lima gram dibayar tunai!" Riki Jamaludin lantang mengucapkan akad pernikahan di depan penghulu. "Sah, bagaimana sah para saksi?" tanya bapak penghulu kepada para saksi pernikahan dadakan di depan jenazah mama Adhelia. "Sah," jawab para saksi kompak. Kemudian terdengar gema ucapan alhamdulillah dan doa yang mengiringi berakhirnya prosesi pernikahan yang tidak diharapkan. Berkumpulnya saudara dan sanak keluarga, yang datang untuk menyaksikan pernikahan sekaligus melayat jenazah mama Adhelia yang sebentar lagi akan dimakamkan. “Alhamdulillah,” ucap Adhelia datar, lalu mengusapkan kedua tanganya. Bergetar hatinya, akan tetapi terasa nyeri seperti tertusuk duri. Prosesi akad nikah yang tidak biasa bagi Adhelia, meski ini juga adat istiadat di kampung. Sekejam inikah takdir padanya? Akad nikah tanpa persiapan, tanpa mandi, tanpa mekap, dan tanpa kebaya. Hati Adhelia kosong, seperti mentari pagi tertutup awan gelap hampa yang dirasa. Tidak ada kebahagiaan yang terpancar di raut wajah Adhelia atau Riki, mereka bingung, kaget, dan syok. Gadis manis berlesung pipi itu menangis tersedu di depan jenazah mamanya. Bukan pernikahan seperti ini yang direncanakan, tetapi mau bagaimana? Mamanya sudah mulai drop sejak beberapa hari belakangan, dan akhirnya menikah tanpa persiapan. "Mah, aku sudah menikah," ucap Adhelia lirih. "Mama menyaksikan akad nikahku ‘kan, pulanglah dengan tenang Mah. Sekarang aku sudah sah menjadi istri Riki," gumam Adhelia pelan, sambil memandang jenazah mamanya. Wanita yang telah melahirkannya telah berpulang, mama tidak sanggup menunggu sampai hari H pernikahan dirinya. Semua sudah menjadi takdir hidup Adhelia. Bapak memeluk Adhelia, menguatkan meski dirinya pun lemah tak berdaya, tetapi bapak harus kuat demi anaknya Adhelia. Bapak tahu Adhelia jauh lebih terluka. "Yang kuat ya Adhelia, Mama sudah tenang tidak merasakan sakit lagi," ucap bapak sendu sambil mengelus punggung putrinya. Adhelia tak memberikan jawaban hanya anggukan pelan dan isak tangis yang tertahan. Setelah memeluk Adhelia, bapak langsung memberikan perintah untuk mengangkat jenazah istrinya dan segera dimakamkan. "Ayo, kita angkat jenazahnya," ajak bapak. Lalu, bapak mengambil bagian di depan untuk mengusung keranda istrinya. Semua orang mengikuti keranda jenazah dari belakang untuk mengantarkan mama Adhelia keperistirahatan terakhir. Adhelia dipeluk suaminya sambil terus mengikuti keranda jenazah. Adhelia sedih dan berduka atas kehilangan mama dan resepsi pernikahannya yang gagal total. Sudah menjadi takdir hidupnya menikah dengan cara seperti ini siapa yang bisa menolaknya? Adhelia hanya bisa pasrah. Adhelia memandang keranda jenazah dengan tatapan kosong, hampa dan sunyi dihatinya. Ini saat-saat yang terakhir kali Adhelia melihat mamanya sebelum di kebumikan. Masih teringat dengan jelas, bagaimana mama dan dia berjuang di rumah sakit untuk mengalahkan kanker payudara. Setelah jenazah di kebumikan, papan nisan telah ditancapkan dan orang-orang sudah mulai beranjak pulang. Tinggal Adhelia dan keluarga yang masih bertahan di depan kuburan mamanya. Bapak masih berdoa dengan khusuk dan adiknya terlihat tertunduk menatap gundukan tanah merah itu. Lalu, Adhelia menangis histeris tak kuat menahan duka, kemudian pingsan dipelukan suaminya. *** Sehari sebelumnya. "Dhel," rintih mamanya lemas. "Iya Mah," jawab Adhelia memegang tangan mamanya, yang sudah dingin sekali. "M-mama, ga kuat," ucap mama terbata dengan napas yang sangat berat dan pendek. "Mama bertahanlah, aku panggilkan suster," teriak Adhelia panik. "Ja-jangan." Gadis itu terus berlari keluar ruangan mencari suster untuk meminta pertolongan, tak lagi mendengarkan permintaan mamanya. "Suster, tolong mamaku," teriaknya di lorong rumah sakit yang sepi. Suster segera berlari mendekat, lalu bergegas masuk kamar mama Adhelia untuk melihat apa yang terjadi. "Kenapa mba?" tanya suster. "Tolong Mama napasnya sesak," isak Adhelia, air mata sudah tak terbendung takut terjadi hal buruk sama mamanya. Suster langsung mengecek kondisi mamanya, kemudian segera menekan tombol darurat. Adhelia semakin ketakutan, mendengar bunyi tombol darurat yang seperti sirine bergema di kamarnya. Bunyi itu tanda seseorang sedang dalam anfal. "Ya Allah Mama, bertahanlah." Teriaknya. Tak lama berselang dokter dan suster datang, membawa meja dorong isinya peralatan yang Adhelia sendiri tidak tahu apa namanya. "Dokter tolonglah mama," pinta Adhelia sambil terus menangis. "Tenang mba, biar ditangani dokter. Mba boleh keluar dulu," perintah suster, terlihat tegang. "Suster tolong, selamatkan mamaku," ungkap Adhelia memohon dengan mendekapkan tangan di dada. "Dokter akan berusaha mba, berdoa saja," ucapnya menutup pintu. Adhelia menangis di depan pintu sendirian, bapak dan adiknya baru saja pulang bergantian jaga dengan Adhelia. Dia tidak peduli semua orang memandangnya heran, tapi semua tahu dengan bunyi gawat darurat tadi. "Suster, bagaimana?" tanyanya. "Ayo, masuk mba," ajak suster. Adhelia bergegas masuk untuk Melihat, terlihat napas mama sudah sangat pendek. "Mama, bertahanlah." Adhelia memeluk mamanya. "Mba Adhelia, harus diiklaskan. Ini sudah dibantu dengan peralatan maksimal." "Maksudnya bagaimana Dokter?" Adhelia tidak paham akan perkataan dokter. "Ini kondisi anfal, menjelang sakaratul maut. Teruslah berdoa, kita hanya bisa menunggu." "Ya Allah Mama." Kembali Adhelia memeluk mamanya, tak ingin rasanya berpisah. "Ikhlaskan, kasian dia sudah berjuang bertahun-tahun melawan kanker." Adhelia paham sekali akan perjuangan mama, sudah bertahun-tahun dia melawan kanker payudara ini. Berbagai pengobatan telah dilakukan yaitu menggunakan pengobatan alternatif dan terakhir pengobatan medis. "Mama, Adhelia iklas," ungkapnya, kemudian membisikkan syahadat di telinga mama. Tit.... Suara mesin itu berbunyi panjang. Dokter dan suster sibuk mengecek kondisi mama Adhelia. "Mba Adhelia, mamanya sudah berpulang." "Mama," isak Adhelia. ***
tegar. ini kisah pilu tetapi meninggalkan pesan moral yang berarti. sang pencipta memiliki janji yang lebih baik.
06/02/2022
1judulnya menarik, mengecoh pembaca saat membaca blurbnya... kisah yang pasti dipenuhi dengan bawang... semangat kakak...
06/02/2022
1Suku bangetttttt😍
01/09/2024
0ดูทั้งหมด