Terik matahari yang sedang panasnya mendadak pergi, terhalang selimut tebal awan hitam. Langit gelap, segelap wajah anak manusia yang duduk menyendiri di bawah atap bangunan pos ronda. Di sisi pos ronda ada sepeda terparkir, bukan sembarang sepeda, karena sepeda itu menjadi alat menyambung hidup bagi si pria berwajah kusam yang duduk, tukang kopi keliling. "Kusut amat itu muka, Kang Nus! Masa sama kayak langit, gelap bin mendung!" Nus si penjual kopi kaget dan melihat siapa yang datang, dia paksakan ketawa. "Ya, tambah suram deh awan, eh kantongku kedatangan dirimu, Wan! Awan oh Awan, kenapa sih harus kamu yang datang? Pasti mau utang lagi kan?" cerocos Nus. "Oh, tentu tidak Kang! Ada waktunya utang, ada waktunya bayar. Aku mau bayar utang yang kemarin minum kopi, tapi habis itu utang lagi!" Awan nyengir. Nus kenal Awan sebagai salah satu pemuda yang tidak seberapa jauh tinggal dari pos ronda tempatnya mangkal. Hanya berbeda dua rumah. Nus sendiri tinggal di gang belakang bersama istrinya yang sudah tiga tahun setia bersamanya. Mereka satu berasal dari desa yang sama, desa Ciparuk. Sementara Nus tercatat sebagai perantau bersama Yanti, Awan bukan. Keluarga Awan termasuk penghuni lama dari sekian banyak yang tersisa, selebihnya sudah pindah menyebar. Bisa dibilang tempat mereka tinggal itu dikelilingi hutan beton ibu kota. "Ada punya uang Wan? Apa sudah kerja?" tanya Nus. "Uang sih ada, kerja doang yang belum dapat Kang. Tapi sebentar lagi kayaknya, deh!" "Oya, kerja di mana?" "Mau tahu ya? Apa mau tahu banget?" canda Awan. "Waduh, kamu ini senang banget sih godain orang tua," sungut Nus. "Eh, ini dia nih yang nggak enak! Kang, kita ini cuma beda lima tahun. Kang Nus aja belum sampai usia tiga puluh, baru dua tujuh kan? Ayo, ngaku! Mana bisa dibilang orang tua, kalau lebih tua itu betul!" ucap Awan cepat seakan tanpa rem. "Iya, deh. Aku selalu kalah kalau ngomong sama kamu. Masalah kerjamu nggak perlu dibahas. Yang penting, jadi apa nggak bayar utang kopimu?" "Jadi dong, Kang! Kalau kelamaan takut itu utang jadi bisul, bikin gatal perih dan pusing. Pas meledak itu bisul, wuih sakit nian. Nah, hitung berapa utangku!" Awan tepuk kantong celananya. "Mana ingat hitung utangmu berapa, tapi kalau buku catatan utang sih ada!" "Ya, ampun Kang! Siapa juga yang suruh ingat berapa banyak aku ngopi. Bawa sini deh bukunya, biar aku utang lagi!" Nus yang semangat mau ambil buku catatan utang Awan, mendadak bengong dan tidak jadi menarik buku utang keluar. "Mau bayar apa utang lagi, yang bener yang mana?" "Ya bayar dan ya utang!" Awan nyengir kuda. Nus hela napas. Kalau begini caranya kapan dia bisa beli rumah atau minimal pindah ke apartemen, kalau sering-sering jualannya dibayar tar sok tar sok terus alias utang. Mana cukup banyak yang kredit macet. Karena itu Nus kapok jualan di belakang salah satu gedung, karena cukup banyak karyawan yang bayar pakai tempo. Malah sampai ada yang kabur, bayar macet dan ada yang mohon-mohon utangnya dihapus karena mengaku pailit. Pilihan Nus jualan di pos ronda dan berharap dari pejalan kaki maupun penduduk sekitar belanja padanya. Lumayan hasilnya meski tidak sebesar waktu mangkal di tempat lama. Terus yang hobi utang pun cuma Awan seorang. "Utangmu lumayan banyak nih, Wan. Ada tiga puluh tiga ribu." Nus sodorkan buku catatan utang pada Awan. Awan sama sekali tidak melirik buku utangnya, dia bermodal percaya pada Nus saja. Lagipula Nus sudah berbaik hati memberikan kesempatannya untuk utang. Walau sebenarnya bisa saja Awan minum kopi di rumah dan tidak perlu utang pada Nus. Tapi kadang saat melihat Nus duduk sekian lama tanpa ada yang beli, membuat Awan kasihan dan putuskan untuk utang kopi. "Bayar dua puluh lima dulu ya Kang. Tinggal dikurangi dan ditambah harga kopi yang sekarang!" Nus ambil uang dua puluh lima dari Awan. Saat itulah hujan turun mendadak. "Wah, hujan!" desis Awan. "Gimana, jadi kopinya nggak?" tanya Nus yang sudah siap merobek sachet kopi. "Jadi dong Kang!" Awan lantas duduk di pos. Nus olah kopi pesanan Awan lebih dulu, baru setelah selesai dia bawa dua gelas kopi ke hadapan Awan. "Lah, aku pesen satu Kang, bukan dua!" "Lah, aku kan juga mau minum kopi Wan. Hujan gini ya enak ngopi!" "Lah, kok bener ya! Hehehe. Tapi apa nggak rugi, kopi yang dijual malah diminum sendiri?" "Lah, kamu saja secara tidak langsung bikin usahaku sedikit tersendat dengan utang. Tapi nyatanya aku masih bisa jualan, walau nggak bisa beli banyak buat dijual lagi!" "Lah, kok dari tadi Kang Nus ikut-ikutan ngomong 'lah' juga?" tanya Awan geregetan. "Hehehe, nggak boleh ya?" Nus nyengir. "Bukan nggak boleh, malah aku senang karena Kang Nus sudah nggak sekusam tadi!" Diingatkan kata kusam, membuat Nus terdiam. Wajahnya yang sudah terbawa keceriaan Awan, kini kembali hitam legam, membuat kulitnya semakin gelap. Suara napas panjang dan berat Nus terdengar di telinga Awan. Padahal hujan turun deras dan suara rintiknya yang jatuh menimpa atap pos ronda terdengar bising, tapi Awan tetap bisa mendengar keluhan kecewa Nus. "Kenapa Kang?" "Ada sedikit masalah saja." "Anak lagi, ya?" tebak Awan. Nus mengiyakan. Awan bukan sekali ini jadi teman curhat bagi Nus. Cukup sering dan selalu topik yang sama. Sampai dibilang bosan. Yang lucunya, Awan tidak bisa berikan saran dan jalan keluar terbaik buat Nus, lah dia saja belum menikah, mana bisa disebut ahli. Walhasil Awan hanya pasang telinga dan berkata.... "Sabar, Kang! Belum waktunya dan juga usia pernikahan baru tiga tahun. Teh Yanti juga usianya masih muda, dua empat usianya kan?" ucap Awan yang entah ke berapa kali sebulan ini. "Dua lima. Tapi bukan masalah anak dari rahim Yanti yang jadi persoalan sekarang, Wan!" "Lah, terus anak siapa dong? Eh, jangan bilang anak hasil selingkuh Kang Nus, ya!" Awan yang mau seruput kopi sampai tidak jadi. "Yanti itu cintaku satu-satunya Wan. Kan kami sudah tekan tanda tangan setia di buku nikah. Aku juga nggak ada bakat selingkuh." "Sekarang bisa bilang begitu, nanti kalau berubah kaya dan punya duit banyak, bukan lagi selingkuh, bisa jadi punya bini lagi!" "Lah, main tuduh aja! Nggak semua begitu Wan. Banyak juga kok wong sugih yang istrinya cuma satu dan setia sampai mati. Aku sih sadar diri Wan, tidak bisa berlaku adil. Yang ada bukannya senang malah rugi di akhirat, kena cambuk kurang adil!" Awan kasih dua jempol. Nus tersenyum malu. "Terus, apa dong masalahnya? Kalau itu bukan anak Kang Nus, jadi anak siapa? Anak orang kan?" "Ya, iya. Masa anak kambing. Kalau anak kambing sih tinggal pelihara, gede dan gemuk terus jual. Ini anak orang, anak dari adiknya Yanti." "Oh, aku paham. Jadi Kang Nus sama Teh Yanti disuruh rawat anak itu! Ya, rawat saja apa susahnya?" "Bukan masalah susah atau tidak merawat anak itu Wan. Tapi...." "Apa Kang? Apa orang tua itu anak masih ragu? Takut kalau anaknya tidak bisa dirawat Kang Nus yang cuma pedagang kopi keliling? Bilang aja Kang, masa depan itu tidak ada yang tahu. Kalau nanti Kang Nus bisa jadi kaya raya, nanti nyesel lagi!" saran Awan. "Kamu salah kira, yang bikin bingung apa anak itu bakal diikuti setan atau tidak?" ucap Nus yang seperti bertanya pada dirinya sendiri. "Setan?" Awan terlihat bingung.
Ceritanya bagus, penasaran dengan ending nya gimana, masih menunggu sambungan 😌
21/05/2025
1bagus banget
20/02/2025
0sukaaa bgtttt😋🔥
25/11/2024
0ดูทั้งหมด