Menunggu Rahman, kuperhatikan jarum jam yang melingkar di pergelangan tanganku. Sudah lewat tiga puluh menit, rasa haus mencekikku. Perjalanan panjang telah kulalui. Kubeli sebotol air mineral lalu meneguknya. Menyisir stasiun Gambir dengan penglihatanku. Tak ada makhluk pendek serupa Rahman di sini. Aku masih menunggu, mencoba kembali menelpon dan nomor Rahman tidak aktif. Apa sekarang? Aku tidak memiliki tempat tujuan lain. Entahlah, masih ada beberapa lembar uang merah di dompetku. Akan kugunakan untuk mencari rumah kontrakan, setelahnya aku bisa mencari pekerjaan. Dua jam lewat aku menunggu Rahman dan dia tidak juga tiba. Ponselnya tak bisa kuhubungi. Alamat, aku harus mulai mengandalkan diriku sendiri. **** Aku melangkah meninggalkan stasiun. Menemukan pangkalan ojek tak jauh dari sana. "Bang, tahu rumah kontrakan di sekitar sini?" tanyaku pada seorang tukang ojek berbadan kurus dengan kulit sawo matang dan berjambang tebal. "Ada, Mas. Pendatang ya? Mari saya antar." Aku mengangguk dan menurut saja. Firasat tak nyaman mulai singgah, terlebih setelah cukup lama tukang ojek sialan itu membawaku berputar-putar entah ke mana. Hingga kami tiba di sebuah jalan sepi dan bangunan yang terbengkalai di sisi kiri dan kanan jalan, laki-laki yang menyaru sebagai tukang ojek itu berhenti. Memintaku turun dari boncengannya lalu menodongkan pisau lipat ke leherku. "Harta atau nyawa?!" ucapnya dengan mata membulat garang. Aku terkecoh, orang ini tidak tampak menyerupai berandal. Aku tertipu oleh penampilannya yang biasa saja. Mengumpat dalam hati. Dasar orang kampung, ini Jakarta! Tentu saja aku tak tinggal diam, mencoba melawan tapi mata pisau itu lebih dulu menggores kulit leherku. Laki-laki itu membanting tubuhku, berusaha mengimbangi serangannya, kukepalkan tinju ke arahnya dan rupanya laki-laki itu tak bisa kuremehkan hanya karena dia lebih kurus dariku. Aku bangkit, mendorong tubuhnya sekuat tenaga dan ia terhuyung. Namun ternyata tak semudah itu ia tumbang, sepatu yang pria itu kenakan beralaskan plat besi pipih yang ujungnya runcing. Kurang ajar, bahkan hal seperti ini sudah direncanakan dan aku jadi target empuk bajingan amatir itu. Besi runcing itu beberapa kali menusuk perutku meskipun tak terlalu dalam. Entahlah, betapa aku sangat lemah sampai-sampai aku tak bisa melindungi diriku sendiri dari bajingan kelas kecoa itu. Siapa sebenarnya yang amatir? Tubuhku babak belur, untunglah laki-laki itu tak membunuhku lalu membuang mayatku ke semak-semak atau ke gedung tua tak terurus itu. Meskipun saat itu keadaanku tak kalah menyedihkan. Setelah aku tak berdaya laki-laki itu merampas tas dan ponselku. Dompetku raib, dan kini aku baru percaya bahwa ibu kota memang lebih kejam dari ibu tiri. Aku mengernyitkan dahi, nyeri di ujung pelipisku kupegangi, cairan anyir berwarna merah menetes dari sana, bibirku entah seperti apa bentuknya karena berulangkali aku mencium aspal akibat bantingan bertubi-tubi dari berandal itu. Aku meludah, pikiranku kacau. Tersenyum kecut, wajah Azhary menjelma kembali dalam ingatan. Bahkan aku masih memikirkannya saat aku bisa dipastikan akan menjadi gelandangan di ibu kota. Sakit ini tak ada apa-apanya dari pada rasa sakit tak terlihat yang menggeliat di dadaku. Sialan! Sehari semalam aku lontang lantung di jalanan, menyusuri trotoar. Darah yang menempel di sekujur tubuhku mulai mengering dan terasa kaku. Perutku sakit sekali, entah karena bekas pukulan juga tendangan yang masih menyisakan jejak cairan merah menembus kemejaku, entah karena aku kelaparan. Tubuhku lemas tak bertenaga, terik mentari mulai membakar kulitku. Meskipun telah sampai di jalan yang lebih ramai oleh lalu lalang orang-orang, tak ada satu pun yang melihatku dengan iba. Ironis, orang-orang kota rupanya lebih apatis dari pada sekawanan domba. Sampai akhirnya seorang wanita mengubah pikiranku, bahwa di antara seribu orang jahat masih ada satu orang baik, dan itu dia. Aku tersungkur, mataku gelap, kerongkonganku kering membutuhkan air untuk membasahinya. Aku menyerah jika hari itu akhir dari diriku. Namun ternyata tidak, perjalanan panjangku masih membutuhkan banyak waktu. **** Gelagapan ketika membuka mata. Kuteliti sekeliling yang terasa asing, dua wanita muda yang duduk di samping tempat tidurku, satunya berambut ikal mayang dengan sapuan make up tebal, satunya lagi rambutnya dicepol tinggi dengan wajah polos tanpa pulasan. Iris legamnya tampak teduh dengan kacamata membingkainya. "Sudah bangun?" sapa gadis bercepol tinggi itu ramah. Mataku masih berat, sepertinya bengkak karena terasa nyeri dan kaku saat kusentuh. "Di mana ini?" "Kau pingsan di jalan, aku tidak tega jadi aku membawamu kemari." Gadis di sebelahnya menyikut perlahan. "Kalau kedua orang tuamu tahu kau menyembunyikan orang asing apalagi kau sewakan dia kontrakan, habislah kau!" lirihnya. "Jangan berisik, Allana! Memangnya kau tega melihat dia babak belur seperti ini? Jahat rasanya kalau kau minta aku membiarkannya mati di jalanan," balasnya tak mau kalah. Aku berdeham, membuyarkan acara bisik-bisik mereka. "Terima kasih sudah menolongku." Aku mencoba bangun, perutku rasanya nyeri, dan ternyata telah dibalut perban tak tahu kapan. "Dokter menyarankan agar kau istirahat dulu. Tak boleh banyak bergerak. Maaf hanya bisa panggilkan dokter, kalau ke rumah sakit takut panjang urusannya jika ditanya ayah dan bunda." Gadis itu menatapku penuh perhatian. "Kau bisa memanggilku, Laras." Ia tersenyum manis. Aku masih bergeming, tetapi mataku berlarian menatap langit-langit tempat asing itu. Pikiranku tak tentu arah. Berhari-hari melewati waktu sendirian di tempat itu, Laras datang setiap hari meski tak menemaniku sepanjang waktu, tentu saja dia memiliki kesibukan entah apa. Aku tak memiliki siapa-siapa di tempat ini. Masih baik nasibku, ada Laras yang masih mau mengurus orang asing sepertiku. Panas di tubuhku menjalar hingga aku berada di ujung antara sadar dan tidak. Bibirku meracau tak jelas, tubuhku terasa terbakar. Azhary masih menamai setiap laju darahku, membekap jiwaku hingga aku terkungkung dalam delusi. "Badanmu panas, ya Tuhan!" seru Azhary terlihat cemas. Wajah itu begitu kurindukan dan kudamba hadirnya. Tak kusangka ia hadir, apa ini sungguh dia? "Azhary ... Azhary kau datang? maafkan aku." Kugenggam jemari gadis itu erat-erat, kulepaskan lalu kedua tanganku membingkai rahangnya, "Azhary, aku merindukanmu." Dia kembali memanggil dokter, kemudian mengompres dahiku dengan handuk kecil dan air hangat serta mengurusku dengan sangat sabar dan telaten. Kurangkum dengan baik perjumpaanku dengannya, pada akhirnya aku tahu dia bukan Azharyku. Namun aku menerimanya sebagai pendampingku, sebagaimana penerimaan yang dia berikan. Meskipun aku tak pernah bisa memberikan hatiku sepenuhnya, setidaknya aku telah meletakkan hidupku di tangannya, aku telah diikatnya dengan pengorbanan dan besarnya cinta yang dia berikan untukku. Tak akan kulupa bahwa hadirnya adalah bukti keadilan Tuhan atasku. **** "Aku akan menengok kampung halamanku, kau akan ikut bersamaku?" Kutatap matanya intens, mengemas beberapa potong pakaian ke dalam ransel. "Kau tak membawa koper saja? Itu lebih mudah bukan? Bawa mobil saja agar tak terlalu lama di perjalanan." "Tak perlu, sepertinya aku tak akan lama," jawabku. Ia menyeduh kopi dengan air panas di termos lalu mengaduknya perlahan, meletakkannya di atas nakas sambil tersenyum. "Aku senang kau berniat pulang, kau tentu saja tahu Azhar suka rewel akhir-akhir ini. Aku akan menyusulmu jika semuanya sudah baik-baik saja. Lagi pula, ada banyak pekerjaan yang masih harus kuurus." Jemari lentiknya membenarkan jaket yang kukenakan, bekas luka bakar di tangannya kuusap. Aku mengingat dengan baik dari mana Laras mendapatkan luka itu, dariku meskipun tak secara langsung. Karena luka itu istriku takut api, takut memasak dan membuatnya selalu merasa bersalah padaku. Angin malam bertiup begitu kencang di tengah kemarau basah. Dingin dan hening. Rumah ini terlalu kecil, pun terasa terlalu besar untuk hidup kami bertiga. "Angin malam kurang baik, sebaiknya jangan membuka jendela. Ini sudah larut, Sabta. Tidurlah!!" Ia menutup jendela kamar, menutup pula tirainya dan kembali mengambil tempat duduk di sisiku sembari aku tetap sibuk dengan laptopku. "Kau sendiri belum tidur?" Aku membuka kacamata yang membingkai wajahnya, "Laras, lihatlah matamu terlihat lelah. Tidurlah dulu, nanti setelah beres aku juga akan segera tidur," kataku lembut. "Aku sudah tidur sebelum kau pulang kerja, dan aku memang suka terbangun tengah malam begini." Laras mengusap pipiku, "kau pasti lelah," katanya. "Ada beberapa laporan keuangan yang harus kuselesaikan. Besok aku akan ambil cuti dan menyerahkan file laporan ini pada Pak Danu, jadi aku harus segera menyelesaikannya." "Sabta, apa aku akan kehilanganmu?" Kalimat itu menampar indra pendengarku, seolah Laras mengetahui isi kepalaku. Namun tidak, dia tidak benar karena aku tidak akan meninggalkannya seperti aku meninggalkan Azhary. "Kau bertanya karena aku akan pulang?" jawabku balik bertanya. "Kau tahu semua tentangku. Kau tahu ada cinta masa laluku di sana. Kau keberatan karena aku kembali dan kau memikirkan bagaimana jika aku nanti berjumpa dengannya?" Aku menjeda sejenak kalimatku, "maksudku, jika kau keberatan akan kuurungkan, aku akan pulang saat kau siap menemaniku." Kubenahi kalimatku, kutatap netra hitamnya lekat. Aku tak ingin menerka apa isi kepala istriku, yang pasti aku tak ingin membuatnya kecewa seperti aku dipaksa membuat Azharyku terluka sedalam itu. "Kau bukan laki-laki seperti itu, Sabta. Aku tahu aku bukan dia dan aku tidak akan mengganti dia di hatimu. Tapi, aku istrimu. Meski sebesar apa pun perasaanmu terhadapnya, yang kutahu akulah pemenangmu, karena tentu kau tidak akan menyia-nyiakan Azhar. Apakah aku terlalu percaya diri dengan pemikiran itu?" Aku mendaratkan ciuman hangat di keningnya. Meraih jemarinya dan menyematkan kembali ciuman singkat dipunggung tangannya. Ketulusan hati yang dia miliki tak pernah kulupa sepanjang usia. "Jika kau bertemu dengannya dan dia masih menunggumu, aku akan biarkan kau memilih aku atau dia. Meski aku tahu hati bukan untuk dipilih, atau apakah aku harus belajar menyiapkan hati jika kau masih mengharapkan dia? Belajar menguatkan hati jika kau akan menjadikan dia maduku?" Laras tersenyum saat mengucapkannya. Hatiku mencelos mendengar tuturnya, demi langit dan bintang, aku bersumpah cintaku pada Azhary tak akan kubiarkan merenggut senyum istriku. Sebanyak apa pun cintaku untuk Azhary, tidak akan pernah kujadikan alasan untuk meninggalkan malaikat tanpa sayap seperti Laras. "Kau tahu, aku tidak akan mengkhianatimu. Aku tahu sakitnya penghianatan. Dan aku tak akan jadi orang yang sama dengan pengkhianat itu. Aku tak perlu berjanji untuk meyakinkanmu. Kau hanya butuh pembuktian," kataku tegas. Laras tersenyum, membingkai wajahku lalu berkata, "aku mencintaimu, Sabta." Dalam hati aku menjawab, ah, entahlah ... jawabanku terasa skeptis bahkan untuk diriku sendiri. Aku tak pernah tahu apakah aku pun mencintainya. Karena aku telah lebih dulu menamai hatiku dengan sebuah nama, Azhary Agyata.
Alur ceritanya bagus
06/07
0bagus
07/06/2024
0baguss sihhh asik ceritanya
02/06/2024
0ดูทั้งหมด