logo text
เพิ่มลงในห้องสมุด
logo
logo-text

ดาวน์โหลดหนังสือเล่มนี้ภายในแอพ

บทที่ 2 next story

~^_^°^_^~
Langkahku terhenti di tengah jalan. Sampai suara klakson itu
menyentakku.
Tin
Tin
Dengan tertatih aku menuju ke trotoar untuk mengindar. Aku
mendengar pengemudi itu berteriak mengumpat. Tetapi aku kembali
tidak peduli.
Sepertinya semua organ tubuhku mati fungsi kecuali kaki-ku.
Dan sepertinya dewi fortuna masih memihak padaku. Sebuah bis kota
yang rutenya melewati rumahku, tiba-tiba muncul.
Kesempatan ini langsung aku pergunakan. Bis itu berhenti dan aku
segera naik. Kemudian aku duduk di barisan paling belakang.
Semua penumpang melihatku dengan tatapan bingung. Mungkin
karena tampilanku yang kacau. Tetapi aku kembali tidak peduli.
Sialnya mataku masih melirik sekolah sialan itu. Dari tempatku duduk,
aku bisa melihat sosok itu melambai ke arahku dengan kelima jarinya.
Mulanya aku tidak melihat sesuatu yang aneh tentang dia. Kakinya
masih menapak di tanah. Namun saat dia akan menampilkan
smirk-nya, aku bisa melihat dengan samar dari kaca angkutan ini
bahwa ada taring yang tampak di sana.
TARINGNYA!
Dia VAMPIR!
Dan dengan ingatan yang aku punya, aku tahu bahwa aku mengenal
wajah itu. Dia adalah OBELIX.
Fix, AIUEO BOYS adalah VAMPIR!
_*_*_*_
"Mom! Dad!" seru-ku panik sembari menggedor kuat pintu rumah.
"Mom! Dad!" Aku mulai berpikir kemungkinan para vampir itu akan
mendatangi rumahku.
"lya sayang. Sabar!" Aku bisa mendengar ibu yang memprotes
tingkah—ku dari dalam sana.
Cklek
Aku segera menyerobot masuk ke dalam. Lalu pintu rumah aku tutup
rapat-rapat. Ibuku menampilkan ekspresi terkejut.
"Astaga! Kau kenapa, Michel?" tanyanya panik. Aku segera berlari
ke pelukannya yang hangat. Karena perasaan aman ini, aku mulai
mengeluarkan air mata.
"Hey! Tell Mommy what happened? Don't make me worry,' panik
ibu. Namun aku tidak ingin mengatakan apa-apa. Aku hanya ingin
menangis dan memeluk ibu.
"Honey!" Ibu berteriak memanggil ayahku.
"Oh My God Bee! Kamu sangat berisik;' kesal ayah ketika mendengar
ibuku berteriak.
Namun saat ia melihatku, seketika ia juga panik. "Hey? Why Darl? Why
BT E RV TR
Tetapi aku hanya diam dan segera memeluknya erat.
Tetapi ayahku yang tegas langsung melepas paksa pelukanku dan
menghapus air mataku. Dia bertanya secara perlahan dan menatap
mataku dalam. Ada kekhawatiran disana.
"So tell me why?' dia menanyakan hal yang sama namun aku hanya
bisa menggeleng.
Kembali teringat kejadian tadi pagi ketika aku menceritakan tentang
vampir yang menghadangku. Mereka justru berpikir aku hanya
bercanda. Jadi jika aku menceritakan apa yang terjadi hari ini pasti
mereka berpikir bahwa aku gila.
Aku harus apa?
"Bee, tolong ambilkan air putih!" perintah ayah dan ibuku langsung
melakukannya. Lalu ibu memberikan air itu padaku.
"Tell me" perintah ayahku.
Berpikirlah Michaela.
"Aku--, aku hanya bertemu orang jahat ketika pulang hiks,' ucapku
berantakan disertai isak tangis. "Aku tidak apa-apa, hanya sedikit
terkejut. Sekarang aku ingin masuk ke kamar."
Dengan terseok—-seok aku berjalan ke kamar. Mereka tidak mengejarku
yang artinya mereka percaya dengan kata-kataku.
Kala aku menutup pintu kamar, disitulah pertahananku hancur
untuk tetap berdiri. Aku terduduk di lantai kamar dan menyandarkan
punggung di pintu kamar sembari menangis. Wajahku tenggelam pada
lipatan lutut untuk menyalurkan rasa takut.
Aku terus menangis. Walaupun aku tahu menangis tidak menghasilkan
apa-apa. Tetapi setidaknya menangis membuatku merasa lebih baik.
Beban ini terlalu berat untuk kutanggung sendirian. Hingga kelelahan
menangis membuatku terseret dibawa oleh kegelapan. Tetapi tidak
apa apa. Setidaknya kegelapan dapat membuatku lebih tenang.
^_^*^_^
"Don't cry. i hate it, you know?" suara itu terdengar sedih di dalam
mimpiku.
Lalu sebuah tangan terasa mengelus puncak kepalaku penuh sayang.
Aku terusik dalam mimpi. Aku berusaha untuk mengangkat kepala.
Namun dia seperti menahan kepalaku untuk tetap tertunduk. Kepala
sialan ini juga terasa sangat berat.
"Sleep night princess. Your prince is here," bisiknya padaku.
Seperti mantra, aku tertidur begitu lelap.

Malam semakin gelap. Suara jangkrik bersahutan seperti alunan musik
di keheningan malam. Aku terusik dari tidurku lalu meringis kesakitan.
"Issh, punggungku sakit."
Jelas saja! Aku tertidur sembari bersandar di pintu kamar yang kokoh
itu. Apalagi posisi tidurku yang jauh dari kata nyaman. Kepalaku
berkunang-kunang, semua kelihatan berputar dan aku tidak sanggup
berdiri. Mungkin karena terlalu banyak menangis.

Sial! Aku cengeng sekali.
Seharusnya aku tetap kuat dan bisa menghadapi semua
masalah-masalah ini, meski sulit sekalipun. Jika memang vampir
itu ada, aku cukup mengabaikannya saja dan bersikap seolah tidak
mengetahui apa pun. Mungkin saja nanti dia akan bosan menerorku.
"Come on Michaela. Be brave! semangatku pada diri sendiri dan
mencoba untuk berdiri. Ketika kaki—ku sudah berdiri kokoh, aku
langsung melompat-lompat. Hal ini biasa aku lakukan saat memberi
semangat pada diri sendiri.
Ah, aku harus membersihkan diri. Aku terlihat menjijikkan dengan
pakaian sekolah yang kusut, rambut yang berantakan, dan wajah yang
bengkak terutama di sekitar mata.
Aku berjalan menuju kamar mandi yang ada di kamar tidurku.
Ketika berkaca di cermin, aku berjingkat Penampilanku sangat
mengenaskan.
Aku lalu membasuh wajah beberapa kali. Kemudian aku bercermin lagi
dan-,
"Hai;' sapanya.
Aku membeku. Fokusku tertuju pada cermin, karena benda itu tidak
hanya menampilkan diriku di sana. Ada orang lain disana. Bukan orang!
Aku yakin dia bukan manusia.
"Siapa kau?" tanyaku dengan suara tercekat. Aku sama sekali tidak
berani menatap ke arah lain. Dengan tangan bergetar, aku memegang
pinggiran wastafel sebagai penopang.
Sosok itu mengecup pelipisku lembut. Lalu berkata, "aku yakin kau
tahu, dear"
Otakku memutar. Apakah ini ilusi? Tetapi dia begitu jelas.
"Vampir,' cicitku pelan.
"Pintar; bisiknya di telingaku. Lalu dia melingkari pinggangku dengan
tangan dinginnya.
Dia vampir.
Tetapi vampir yang mana? Jelas sekali dia bukan Obelix yang
menerorku di sekolah. Dia juga bukan tiga saudara Obelix yang aku
lihat ketika bersama Helena.
Wait. Apa mungkin ini saudaranya yang bernama Esteve? Tetapi
Helena berkata, Esteve tidak suka bersinggungan dengan orang lain.
Jadi dia siapa?
"Jangan terlalu banyak berfikir dear,’ ucap vampir ~yang sungguh
sialnya- tampan itu.
HELP ME! SOMEONE HELP ME! Aku tidak ingin mati hari ini.
"What you want?'
"Always you," bisiknya.
Lalu dia menyembunyikan wajahnya di sekitar leherku. Seperkian detik
kemudian, ia mengangkat wajahnya dan dari cermin ini aku dapat
melihat dia menampilkan taring miliknya.
Oh God!
"Ada kata kata terakhir?" tanyanya
.
Dengan spontanitas aku berteriak kuat, "MOMMY! DADDY! HELP ME!
Kegelapan kembali menelanku.
"Bagaimana ini Damian?" suara ibu terdengar khawatir.
"Tenanglah sayang. Dia akan baik baik saja. Percayalah,' kini suara
ayah terdengar menenangkan.
Siapa yang akan baik baik saja? Aku? Jadi aku belum mati?
"Aku tidak bisa,' kata ibu dengan nada menyedihkan. Lalu ibuku kembali
berkata, "dasar-,' tetapi aku tidak lagi mendengar perkataannya karena
kegelapan kembali menarikku.
Vampir sialan
Aku menggeliat terusik karena cahaya matahari yang menusuk
mata. Aku berusaha menggapai selimut, tetapi aku sama sekali tidak
menemukannya. Sampai akhirnya aku mencoba membuka mata yang
seperti diberi lem perekat ini, untuk mencari keberadaan selimutku.
Hal pertama yang aku lihat adalah sinar yang menyilaukan. Lalu
bayangan ayah dan ibuku yang tertidur di sofa kamar terlihat samar
samar.
Mengapa mereka tidur disini?
"Mommy. Daddy." panggilku dengan suara serak yang terdengar tidak
jelas.
Namun seolah mereka memang sedang menunggu suaraku bahkan di
dalam mimpi sekalipun. Sehingga keduanya langsung terbangun dari
tidur.
"Hai darling. Kau sudah bangun?" suara ibuku terdengar khawatir. Oh
aku benar-benar merasa bersalah.
Lalu ibu memelukku erat-erat dan membuatku bingung karena masih
mencerna semuanya.
"Kami benar benar panik mendengarmu berteriak. Kemudian kami
menemukanmu pingsan di kamar mandi. Ada apa sayang?" tanya ibu
dengan mengusap kepalaku.
Dan saat itu aku mengingat semuanya.
Vampir. Cermin. Kamar mandi.
"Aku-, aku-" ujarku kebingungan.
"Daripada kau berbohong Michel. Lebih baik kau berkata jujur. Sebelum
aku memusnahkan orang yang melakukan ini padamu,’ geram ayah.
Kau tidak akan bisa Dad. Kau tidak akan bisa, karena mereka bukan
manusia seperti kita.
"Aku hanya takut kalian tidak mempercayaiku."
"Katakan saja yang sesungguhnya Michel,' paksa ibuku.
"Aku bertemu vampir, cicitku sambil menunduk.
Hening.
Tidak ada respon dari mereka. Aku berusaha mengangkat wajah
dan melihat mata mereka. Mereka tidak memberikan tatapan tidak
percaya, bahkan tidak ada kata tidak mungkin yang keluar dari mulut
mereka
"Salah satu vampir itu adalah teman sekolahku. Dia yang membuatku
pulang ketakutan semalam;’ jujurku. Wajah mereka tidak terlihat
terkejut.
"Tetapi vampir yang lain menerobos masuk ke kamar mandi kamarku.
Aku tidak pernah melihatnya. Dla mengatakan bahwa ia ingin darahku,'
ujarku penuh rasa takut.
Dan disaat itulah aku melihat pancaran kemarahan di mata ayahku.
Dia pergi dan membanting pintu dengan kuat. Dan dengan jelas
aku mendengar ayah mengumpat. Padahal biasanya ayahku tidak
melakukan hal itu.
"Mom, kalian mempercayaiku kan?" tanyaku namun ibu hanya diam.
Hal itu membuatku takut. Mereka tidak berfikir bahwa aku gila kan?
“Lebih baik kau tidak perlu sekolah hari ini.' Setelah mengatakan hal itu,
ibu pergi keluar dari kamarku.
Aku bingung. Itu jelas sekali. Tetapi selalu ada kebaikan dari setiap
masalah.
Aku tidak sekolah! Yeay!
Aku berpikir sehari dalam hidupku itu sama dengan 24 jam. Namun
sehari versi ibuku sama dengan satu minggu.
sial!!
Awalnya aku memang senang berada di rumah. Tetapi jika harus
sampai seminggu? Ah aku benar-benar mati kebosanan di rumah. Aku
bahkan ragu akan diizinkan kembali ke sekolah.
Apa mereka berfikir bahwa aku gila?
Tetapi mengapa mereka tidak mengirimku saja ke rumah sakit jiwa
terdekat. Bukannya aku berharap mereka berpikir bahwa aku gila. Aku
hanya bingung karena setiap hari mereka melarangku ke sekolah.
Setiap aku bertanya alasannya, mereka hanya diam. Atau mereka
hanya mengatakan 'lakukan saja apa yang kami katakan Michel'.
Saat ini aku sedang duduk di taman dekat rumah. Sebelum ke tempat
ini, aku membeli makanan di minimarket terdekat. Aku hanya bisa
berkeliaran di sekitar rumahku. Aku tidak diizinkan pergi lebih jauh dari
ini, perintah ayahku.
Sembari memakan makanan ringan yang baru aku beli, aku membalas
beberapa chat dari Helena yang menanyakan keadaanku dan juga
bercerita tentang bagaimana marahnya Lily karena aku meninggalkan
map-map itu di ruang kelasnya.
Persetan dengan itu semua! Nyawaku lebih penting.
By the way, ternyata ayah mengirim izinku ke sekolah dengan alasan
sakit. Padahal sebenarnya aku sehat-sehat saja disini. Aku masih
tidak mengerti dengan sikap mereka.
Ah, akhirnya semua makanan ringan yang aku beli sudah habis. Aku
harus kembali ke rumahku yang sekarang menjadi membosankan itu.
Sepertinya, aku harus memaksa ayah dan ibu untuk membiarkanku
bersekolah di minggu depan.
Sesampainya di halaman rumah, aku mengernyit heran. Ada dua mobil
asing yang terparkir disana.
Mobil siapa? Teman kerja ayah atau ibu?
Ah aku bahkan tidak ingat, pernah ada orang yang datang ke rumahku
selain paman Dimitri yang mengaku sebagai saudara ayah.
Itu juga sekitar enam bulan yang lalu, setelahnya dia tidak pernah
datang lagi. Lalu yang pernah datang ke rumahku hanya Helena.
Wait! Mengapa aku tidak pernah menyadari hal itu. Mengapa aku tidak
sadar bahwa keluargaku termasuk keluarga yang aneh? Aku bahkan
tidak punya kakek atau nenek atau bibi, atau siapa saja yang bisa
dianggap saudara dekat.
Mungkin aku akan menanyakannya nanti pada orang tuaku.
Aku membuka sepatu yang sebelumnya kupakai untuk olahraga di
taman kompleks. Lalu membuka pintu dan mengucapkan salam, "i'm
home."
Mereka semua melihat ke arahku. Namun hanya satu yang jelas, ayah
dan ibuku ditemani lima orang yang sangat-sangat menakutkan dan
dua orang yang tidak aku kenal.
Ya! Lima vampir itu ada disini.
Aku shock!
Kegelapan kembali menarikku dengan cepat. Namun mata indah, mata
hitam itu, kembali terlihat sebelum aku tertarik oleh lubang hitam. Mata
hitam itu membuatku tersenyum. Setidaknya dia menenangkanku.
I love you, Black eyes!
"Hai Darling! Wake up!
Suara ibu terdengar sayup-sayup menarik kesadaranku. Sinar
terang yang menyilaukan, membuat mataku sedikit mengecil untuk
menyesuaikan sinar yang masuk.
"Mommy? Daddy?" ucapku pertama kali dengan nada kebingungan.
Lalu saat nyawa dan otakku sudah mulai terkumpul dan bekerja. Aku
baru menyadari penyebab aku pingsan.
Aku panik. Segera saja aku memeriksa setiap sisi tubuh mereka.
"Kalian tidak apa—apa? Kalian tidak disakiti oleh mereka? Kalian tidak
digigit?" seruku sembari memeriksa setiap leher mereka yang menjadi
spot terbaik untuk digigit vampir.
"Calm down, Michel;' ujar ibuku.
"Bagaimana aku bisa tenang? Mereka yang datang ke rumah ini adalah
vampir!" seruku memberitahu.
"l know."
what??
"Apa maksudmu, Mom?"
"Kami tahu mereka adalah vampir, Michel. Mereka adalah sahabat
kami;' ujarnya santai.
"Lalu mengapa kau tidak percaya saat pertama kali aku
memberitahumu bahwa vampir itu ada?" heranku hampir marah.
"Kami hanya tidak ingin kau ketakutan berlebihan, Chel"
"Tetapi mereka vampir jahat, Mom!" seruku. Aku tidak setuju jika kedua
orang tua-ku berteman dengan mereka.
"Oh, oke. Kami tahu kesan pertamamu dengan Obelix tidak terlalu baik.
Dia tidak jahat, hanya saja dia sangat jahil. Dan mereka adalah sahabat
kami, Chel. Tolong hargai itu!" Ibuku tetap membelanya.
"Terserah. Walaupun kalian bersahabat dengan kedua orang tuanya.
Bukan berarti aku harus bersahabat dengan anak-anaknya, kekeuhku
dan membuat orang tua-ku menghela napas pasrah.
Tiba-tiba keadaan kamarku hening. Lalu ibu mulai membuka
pembicaraan dengan nada sendu, "Michel."
"Ya?" tanyaku tanpa minat. Aku masih kesal.
"Mom dan Dad harus pergi."
Seluruh atensiku tertuju pada mereka. "Kemana? Apakah ada tugas
dari kantor?"
Sesaat aku melihat ibu menatap ayah dengan pancaran mata yang
berbeda lalu kembali menatapku dan mengangguk, "iya, sayang."
"Berapa lama? Apakah aku akan ikut? Ini bukan pertama kalinya kita
pindah,' jelasku.
"Tidak. Kau tidak bisa ikut,' ujar ayahku datar.
Aku menghela napas dan berkata, " baiklah, tidak apa-apa. Aku akan
menjaga diri baik-baik di sini"
Ayahku langsung menjawab, "kau tidak akan tinggal disini, Michel."
Dahiku mengernyit.
jadi?
"Kau akan tinggal dengan keluarga Walcott."
Aku semakin heran, aku tidak mengenal mereka.
"Siapa mereka?"
"Mereka yang kau lihat di bawah tadi,' jelas ayahku.
what the hell!!?
"Ma-~-, maksudmu dengan keluarga vampir itu?" tanyaku terbata-bata
dan sialnya, hal itu dibalas anggukan oleh orang tua-ku.
"Nama keluarga mereka Walcott, Michel."
"Aku tidak peduli!” bentak-ku. "Aku tidak ingin tinggal dengan mereka.
Mengapa kalian tidak menitipkan aku pada paman Damitri? Aku berjanji
tidak akan menjadi anak nakal;' balasku sungguh-sungguh.
Namun, justru luka yang terlihat di mata mereka.
"Tidak bisa Michel"
"Atau biarkan aku tinggal dengan keluarga Helena,' usulku lagi,
berharap ayah dapat menyetujuinya. Tetapi ia masih menggeleng tidak
setuju.
"Kau harus tinggal dengan mereka Michel;' kekeuh ayah.
Aku tidak mau!
"Mengapa? Mengapa aku harus tinggal dengan keluarga vampir itu?"
tuntutku pada mereka.
Kedua orang tua—ku diam selama beberapa saat lalu berkata, "kami
tidak bisa memberitahumu Michel. Dan sekali lagi Daddy ingatkan,
nama mereka adalah Walcott bukan keluarga vampir.'
"I don't care!! Just tell me what is the reason!"
"Kami tidak bisa memberitahumu,’ tekan ayahku lagi.
"Mengapa? Mengapa tidak bisa?!" tanyaku dengan nada tinggi
kepada mereka. "Ah, atau kalian memang ingin menyerahkanku pada
vampir-vampir itu? Kalian ingin aku mati di tangan mereka? --'
ucapku terputus saat melihat tangan ayah sudah akan melayang
padaku.


Untung saja ibu langsung menahannya.
Tidak pernah sebelumnya aku melihat ayah semarah itu padaku.
Aku rasa ucapanku benar. Aku hanya takut. Mengapa mereka tidak
mengerti?
Ayah dan ibuku terlihat berbicara dari pandangan mata mereka. Lalu
ayah menghela napas dan menenangkan hatinya.
"Kau harus tetap pergi Michel!" perintah ayah.
"Tidak akan."
"Kau harus pergi;' bentaknya kuat.
"Daddy jahat,' lirihku hampir menangis. Ayah tak pernah
membentak-ku seperti ini karena dia tahu aku adalah jenis anak
yang tidak bisa dibentak. "Bagaimana jika vampir-vampir sialan itu
menggigitku lalu membunu--"
"Your language Michel!" teriak ayah. Lutut-lutut yang menopang
tubuhku begetar ketakutan. Air mata telah berlomba-lomba
berjatuhan.
"Kau akan tetap tinggal dengan mereka Michel. Kami tidak peduli
semua alasanmu,’ ujarnya tidak terbantahkan.
Air mataku semakin deras mengaliri pipi. Perasaanku tercampur
aduk di hati, rasa marah, kesal, takut, kecewa. Perkataan ayahku
benar-benar sudah tidak bisa dibantah.
"Baik aku akan pergi;' ucapku sembari mengambil koper yang memang
sudah disiapkan oleh ibu.
Oh mereka benar-benar ingin membuangku!
"Aku benci kalian;' ujarku sebelum menutup pintu kamar ini.
Dan hari ini berakhir dengan sangat buruk.
"Sshh princess, calm down. Have a beauty dream sweetheart.i| love
you." Lalu kecupan lembut mampir di dahi-ku
"your prince"
Aku mulai terusik ketika merasakan sensasi yang berbeda dari
ranjangku. Memang nyaman tetapi juga terasa asing secara
bersamaan.
"Morning Beauty!" sapa seseorang yang berdiri di depan tirai jendela.
Wajahnya tidak tampak jelas, karena ia berdiri membelakangi sinar
matahari.
"Dimana aku?" tanyaku saat memindai keadaan yang begitu asing.
Wanita itu berjalan mendekat dengan perlahan, membuat wajahnya
terlihat semakin jelas. Satu kata yang menggambarkan dia.
Cantik.
Kulit dan wajahnya bersih dan tanpa cela, aura keibuan menguar dari
dirinya namun wanita itu masih terbilang sangat muda.
"Tidurmu nyenyak sayang?" tanyanya lembut.
"Yah, sedikit lebih baik. Tetapi dimana aku ini?" ujarku bingung.
"Kau ada dirumah kami, keluarga Walcott,' jelasnya.
Satu kalimat itu membuatku mengingat semuanya. Aku, ayah, ibu,
pergi, ditinggal, dititipkan dan bertengkar. Itu rangkaiannya.
"Kau tidak merasa takut pada kami?" tanyanya.
Takut?
Tentu masih ada.
Namun penyesalan yang lebih mendominasi sekarang. Bagaimana bisa
aku bertengkar sehebat itu dengan orangtuaku?
For God's sake! Dimana pikiranku saat mengatakan bahwa mereka
ingin aku mati ngan vampir-vampir itu? Bagaimana bisa aku sekeji
itu, mengatakan aku membenci mereka?

What the hell Michel!
Where is your brain?
Jika mereka tidak sayang padaku, mungkin mereka sudah
membuangku sejak masih dalam kandungan. Untuk apa mereka
dengan susah payah membesarkan anak yang tidak tahu terimakasih
ini?
Kenapa semua menjadi begitu jelas jika pikiranku tenang?
"Michel?" panggil wanita dihadapanku.
"Nyonya, sebelumnya aku ingin meminta maaf atas kata-kataku
semalam,’ ujarku tulus sembari menggenggam tangannya.
Aku tahu vampir-vampir keluarga ini pasti mendengar kata-kataku
semalam. Mereka pasti punya pendengaran yang sangat tajam.
Dia membalas genggamanku, "jangan panggil aku nyonya, Michel.
Panggil saja aku ibu atau mama, atau jika kau tidak suka, kau juga bisa
memanggilku bibi. Kau tidak perlu meminta maaf, karena sejujurnya
aku tidak mendengar apapun semalam.”
Aku mengernyit kebingungan.
"Bukankah pendengaran seorang vampir sangat tajam?" D
Dia tersenyum.
"Benar. Sayangnya aku bukan vampir, aku manusia sepertimu."
Tentunya aku tambah bingung.
"Kau tidak perlu bingung sayang. Nanti kita akan lebih saling mengenal.
Sekarang kau harus lekas mandi dan makan sarapanmu;’ ujarnya
sambil melirik makanan yang berada di atas nakas.
Saat ia beranjak pergi aku teringat sesuatu.
"Ah, maaf;' panggilku.
"Bisakah kau menunjukkan letak ponselku? Aku ingin menghubungi
kedua orangtuaku.'
"Ponselmu ada di dalam laci meja rias itu. Tetapi, untuk saat ini
sepertinya kau tidak bisa menghubungi mereka. Mungkin mereka
sedang sibuk atau berada dalam perjalanan.”
"Terimakasih,' ucapku sembari tersenyum tipis. Lalu ia pergi keluar dari
kamar ini.
Segera saja aku mengambil ponsel yang ada di laci meja itu. Lalu
menghubungi kedua orang tua-ku secara bergantian. Namun tidak ada
satu pun dari mereka yang menjawabnya.
Segera saja aku mengambil ponsel yang ada di laci meja itu. Lalu
menghubungi kedua orang tua-ku secara bergantian. Namun tidak ada
satu pun dari mereka yang menjawabnya.
Aku sedih, teramat sedih. Kami akan berpisah untuk waktu yang entah
sampai kapan. Namun aku yakin itu akan lama. Dan kejadian semalam
bukanlah perpisahan yang tepat. Dan yang menjadi perusak semuanya
adalah aku.
Poor you, Michel
^_^*^_^
Makanan yang diberikan oleh perempuan cantik itu telah habis.
Tubuhku juga sudah bersih seperti pesannya.
Tetapi aku masih tidak beranjak dari ruangan ini. Meski sebenarnya
aku telah benar-benar bosan berada dalam kamar ini tanpa melakukan
apa pun. Ponsel-ku sudah kehabisan energi dan tidak ada televisi atau
semacamnya di ruangan ini. Kamar ini hanya berisi tempat tidur, meja
rias, walk closet dan kamar mandi yang cukup besar.
Aku sangat ingin beranjak dari sini. Tetapi aku belum siap untuk
bertemu keluarga ini. Aku benar-benar bingung memasang raut wajah
yang tepat kepada mereka.
Aku merasa bersalah. Jelas sekali aku mengucapkan kata yang
sangat kasar untuk mereka kemarin. Dan aku yakin mereka dapat
mendengarnya.
How stupid am I!
Aku mengacak rambut dengan frustasi. Bayangan di cermin
menunjukkan wajah depresi-ku.
Ewh. Aku terlihat tua.
Apa yang harus aku lakukan?
Aku harus berekspresi bagaimana di hadapan mereka? Dan bagaimana
jika mereka tidak mau memaafkan aku?
Astaga! Aku bisa gila dengan semua dugaan ini.
Oke! Aku tidak akan tahu hasilnya jika aku tidak mencoba.
Baiklah aku akan keluar dari kamar ini dan apa pun respon mereka
maka aku akan menerimanya.
Dengan langkah pelan aku menuju pintu kamar dan membukanya.
Seketika aku memindai sekeliling. Ada pintu yang tertutup di bagian
depan dan samping kamar-ku tadi.
Lalu aku harus kemana?
Aku kebingungan untuk melangkah.
Kanan atau kiri?
Setelah menutup pintu kamar, aku memutuskan mengambil arah
kanan.
Gambar dan lukisan terpajang di sepanjang lorong aku lewati.
Sesampainya di ujung lorong, aku mendapati sebuah tangga. Aku
bimbang memilih antara turun atau balik lagi ke kamar.
Setelah lama terdiam, akhirnya aku tetap turun dan menuruti
keberanian sementara—ku. Tangga ini melingkar turun dan terkesan
mewah.
Akan sangat sulit mengurus rumah ini tanpa bantuan maid.
Aku sampai di ujung tangga, namun kaki-ku tetap maju tanpa
menentukan arahnya.
Sampai akhirnya sebuah suara menghentikan langkahku.
"Michel,' panggilnya dan aku berbalik. Itu perempuan cantik yang
mengaku manusia tadi.
"Y-y-ya?" jawabku gugup.
"Kemarilah bergabung;' ajaknya.
Aku semakin gugup.
Saat ini wanita itu berdiri menyapaku dari ruang keluarga, dengan
beberapa laki-laki yang juga ada di sana tetapi dalam posisi
membelakangi aku.
"Eum..;" sejujurnya aku ingin menolak dan kembali ke kamar.
Belum selesai aku mengutarakan penolakan, wanita itu segera
menghampiriku.
"Tidak perlu takut sayang. Tidak akan ada yang melukaimu."
Oh, dia salah paham.
Dia menuntun-ku dan aku hanya bisa menunduk dengan rasa takut.
Sial kaki-ku bergetar!
For God's sake, bagaimana jika para vampir ini sama seperti vampir
yang ada di drama televisi? Apa mereka mengenakan jubah-jubah
yang menakutkan?
"Apa aku sangat menyeramkan, gir?" suara bass itu menarik
kesadaranku.
"Tidak tuan,' ujarku berbohong.

Aku takut! Padahal aku belum melihat sosok itu.
Rasanya, aku telah kalah sebelum berperang.
"Bohong!" suara lain bergabung dalam percakapan kami.
"Bukankah pak tua ini justru seperti monster?" tanya yang lain dengan
nada heran padaku.
"Diamlah kalian bocah sialan. Aku tidak berbicara dengan kalian!"
balasnya ketus.
"Hei hilangkan umpatan dari rumah ini!" perintah wanita tadi dengan
marah.
"Baiklah Nyonya Besar;' ujar lelaki itu lagi dengan nada seolah takut.
"Lalu kenapa kakimu bergetar?" Lelaki ini kembali fokus padaku. Aku
dapat mendengar tawa yang menguar dari beberapa makhluk di sini.
"Aku-aku—-aku;' ucapanku berhenti kala dia mengangkat daguku agar
menatap matanya.
"Aku apa?" tanyanya sambil menaikkan alis. Mataku membola terkejut.
Pasti wajahku tengah menampilkan eskpresi bodoh karena terpukau.
Tiba-tiba seorang lelaki lain merangkul bahuku dengan erat, "Dad
jangan membuatnya terpesona dengan kejelekanmu."

Lelaki ini juga tampan, astaga!
Dia sepertinya salah satu dari anggota AIUEO boys yang digilai itu.
Dalam radius sedekat ini, aku dapat melihat adanya darah Yunani dari
gurat wajahnya.
Lelaki yang dipanggil dad itu mendelik kesal pada lelaki yang
merangkul-ku. Setelah itu ia melempar senyum geli pada-ku hingga
membuat kadar ketampanannya bertambah. "Aku tahu. Aku tau kalau
aku ini sangat tampan. Tetapi sayang sekali, dear. Aku sudah memiliki
belahan jiwa,' ujarnya sambil merangkul pinggang wanita cantik itu
hingga terduduk di lengan sofa dan membuatnya bersemu merah.
"Ah, sudahlah berhenti! Kalian tidak perlu menampilkan adegan
romantis yang menijijikan itu,’ seru lelaki lainnya. Dengan gaya bodoh ia
menutup mata menggunakan bantal sofa.
Seperti inikah kelakuan para most wanted itu? Apa kata Helena dan
para fansnya jika melihat ini?
Semuanya tertawa melihat tingkah lelaki itu, hanya satu yang tidak
menanggapi sama sekali.
Dia masih saja fokus dengan buku di tangannya. Padahal suara di
ruangan ini sudah cukup besar. Apa ini si lelaki dingin yang diceritakan
Helena?
"Tetapi aku ini memang vampir.'
Aku menatap kepala keluarga Walcott penuh rasa bersalah. "Aku minta
maaf Tuan;' ujarku sungguh-sungguh.
"Aku tidak akan memaafkanmu,' ucapannya seperti ledakan bom
di kepalaku. "Jika kau masih memanggilku dengan sebutan Tuan;
lanjutnya.
"Kau bisa memanggilku dengan Papa, mungkin. Aku benar-benar
menginginkan seorang anak perempuan,' jelasnya.
Maka aku menuruti keinginannya, "maafkan aku Papa. Aku tahu
ucapanku semalam benar-benar kasar. Aku hanya merasa takut."
"Aku sudah memaafkanmu. Aku juga bisa merasakan ketakutanmu
itu. Kami di sini tidak akan menyakitimu tetapi menjagamu. Pegang
kata-kataku;' ujarnya meyakinkan dan membuatku tidak bisa untuk
tidak menganggukkan kepala.
"Lagipula dulu seseorang pernah mengatakan sesuatu yang lebih
mengerikan daripada yang kau ucapkan," katanya. Lalu War;ita di
sebelahnya bersemu malu dan mencubit perut lelaki ini dengan keras
hingga ia mengaduh kesakitan.
"Menijijikkan,' gerutu lelaki di sampingku.
"By the way, kita belum berkenalan. Aku Edmund Walcott dan wanita
disampingku adalah istriku, Lucy Angeline Walcott. Ya, aku vampir dan
istriku seorang manusia hingga saat ini;' ujarnya sembari mengulurkan
tangan.
"Aku Michaela Everlyn Collins, kau bisa memanggil Michel; jawabku
dan membalas jabatan tangannya.
Lalu sebuah tangan menarik tanganku dan berkata, "hai aku Urien
Xavier Collins, aku yang paling tampan diantara mereka,' ujarnya
percaya diri.
"Salam kenal Kak len;' balasku pada lelaki dengan manik biru itu.
"len? Really? Itu panggilan-mu untukku? Tidak ada yang lebih baik
lagi?" tanyanya.
Dahi-ku mengernyit bingung, hanya itu panggilan yang paling keren.
Tidak mungkin aku memanggilnya 'urin' kan?

"Oke, baiklah. Tidak apa untuk gadis secantik-mu. Tetapi tidak untuk
yang lain;' ujarnya membuatku merona karna dipuji.
Tiba-tiba lelaki bergaya bodoh dengan menutup matanya
menggunakan bantal itu, menggeser lelaki yang berkenalan denganku
secara kasar.
"Hi aku Ireneo Bel ujarnya. "Aku yang paling sexy di sini."
Aku tesenyum geli, "hai juga Kak Neo!"
Lelaki yang satu lagi terlihat berwibawa dengan jiwa pemimpin.
Auranya dewasa namun memandangku dengan tatapan bersahabat
dan aku merasa terlindungi. Dia mengulurkan tangan padaku.
"Hai Michel. Aku Alaric Kalfani Walcott panggil aku Al,' katanya.
"Sure!
Aku menatap lelaki di samping Alaric dengan sedikit takut. Ketika
aku ingin mendekatinya entah mengapa suhu seperti menurun dan
membuatku menggigil kedinginan.
Aku berdeham untuk mengatasi kegugupan sekaligus menyadarkannya
akan keberadaanku.
"Hi! Aku Michel,' ujarku singkat. Tetapi dia masih belum mengalihkan
pandangannya dari buku sialan itu. Mengapa susah sekali untuk
mengalihkan pandangannya sebentar saja? Apa keberadaanku
tidak terasa? Berkenalan tidak akan membuat satu abad umurnya
berkurang.
blam!
Dia menutup bukunya dengan kuat, mungkin merasa terganggu. Lalu ia
mengalihkan pandangannya tepat di mataku.
Deg
Mata itu? Hitam?
Rasanya seperti beribu kupu-kupu berterbangan di perutku kala mata
hitam itu menatapku tajam. Entahlah? Aku bingung mendeskripsikan
rasa ini. Hanya dengan menatap matanya aku bisa merasakan
sengatan-sengatan aneh di tubuhku.
Aku kedinginan dan menggigil namun ada kehangatan yang
menenangkan. Ini terasa berbeda saat bersentuhan dengan saudara
yang lain. Apa yang salah denganku? Atau apa yang salah dengannya?
Dia masih menatapku tajam kemudian berujar, "Esteve Graffielo
Walcott" Setelahnya ia meninggalkan-ku dengan tubuh yang begetar
karena mendengar suaranya.
Lelaki bermata hitam itu penuh dengan misteri.
Mata hitam?
"Michel? Michel?" suara itu menyadarkan—-ku.
"ya-ya?"
"Tidak perlu peduli padanya. Dia memang seperti itu, bahkan pada
kami. Lelaki itu menyebalkan;' jelas Ireneo.
Bagaimana jika kami menemanimu berjalan—jalan di sekitar rumah ini.
Aku takut kau tersesat;' tawarnya dan aku setuju. Kami sudah akan
beranjak, jika sebuah suara tidak menghentikan kami.
"Hail Hai! Ada yang aku lewatkan?"
Kedatangannya membuatku membeku.
Dia mendekatiku dan aku mundur selangkah. Aku ketakutan.
"Hai cantik. Ada apa? Apa aku semengerikan itu?" tanyanya bercanda.
Aku yakin mataku telah berkaca-kaca. Semua kejadian buruk yang
menimpa diriku itu karena dia. Aku takut ia melakukan hal yang sama
lagi
"Hei jangan menangis;’ ujarnya sedikit takut. "Maafkan aku tentang
yang waktu itu. Aku hanya bercanda, kau tahu?" la tertawa. Rasa kesal
dan amarahku meninggi.
Aku mengusap kasar air mata yang hampir terjatuh. "Kau pikir itu lucu,
hah? Semua teror itu lucu?! Apa yang lucu dari membuatku ketakutan,
terjatuh dari tangga, kemudian hampir tertabrak mobil. Dimana letak
leluconnya? Kau juga tidak berpikir bagaimana depresinya aku saat
itu?" bentak-ku.
Lalu sebuah tangan mendekapku dan membawaku pergi dari hadapan
si vampir jahat, Obelix. Setelahnya, yang kudengar hanyalah luapan
amarah dari Papa untuk dia.
Eat that, bastard!
^_^*^_^
"Dan ini adalah bagian favorit-ku di rumah. Udara di sini segar dan
suasananya damai.'
"Ini akan membuat pikiranmu lebih tenang."
Itu adalah penjelasan kedua pemandu-ku ketika kami tiba di halaman
belakang mansion ini. Mansion keluarga Walcott memang besar. Aku
saja lelah mengelilinginya. Mansion ini memiliki tiga tingkat dan setiap
tingkatannya begitu menakjubkan dan luas.

Pada lantai dasar terdapat ruang keluarga, ruang tamu, dapur, ruang
makan, dan satu kamar utama. Of course, semua ruangan berukuran
luas dan diisi dengan perabot yang indah. Di tingkat kedua, terdapat
kamar-ku dan dua kamar lainnya yang entah milik siapa, serta sebuah
ruangan santai yang benar-benar besar di sana. Pada tingkat terakhir,
Urien dan Ireneo menunjukkan kamar mereka secara bergantian.
Terdapat pula satu kamar lainnya di sana.
Dan terakhir, mereka mengajak-ku ke halaman belakang ini. Mereka
berkata bahwa sebenarnya masih banyak tempat yang belum mereka
tunjukan padaku, tetapi mereka takut aku akan kelelahan.
Mansion ini sebenarnya cukup kecil jika dibandingkan dengan
halamannya. Mungkin jika ada labirin di sini, aku bisa tersesat dan
kesulitan untuk kembali. Syukurnya halaman ini bukan diciptakan
sebagai labirin, namun menjadi sebuah kebun yang cukup luas dengan
beberapa lapangan outdoor. Sepertinya Mama Lucy begitu menyukai
kegiatan berkebun sehingga Papa Edmund menciptakan kebun seluas
ini.
Di tengah taman terdapat pula gazebo yang indah. Dan dua bersaudara
ini mengajak-ku duduk di sana. Beberapa meter dari kebun bunga
terdapat kolam renang yang cukup besar dengan gazebo berbeda di
sampingnya. Airnya terlihat jernih. Tetapi siapa yang ingin berendam
pada cuaca dingin ini?
"Kak, apa di sana hutan?" tanyaku sembari menunjuk area yang ditutupi
pohon-pohon tinggi tepat di samping mansion ini. Tembok-tembok
yang cukup besar menjadi pembatas antara mansion dan tempat
itu. Namun pembatas tersebut tetap tidak dapat menutup puncak
pohon-pohon tegak yang berdiri kokoh disana.
"Ya, dan jangan coba-coba ke sana! Di sana banyak hewan buas dan
juga makhluk-makhluk yang belum pernah kau lihat sebelumnya. Dan
aku yakin kau tidak ingin bertemu dengan mereka, penjelasan Ireneo
membuat tubuhku bergidik ngeri.
"Di sini sunggguh indah bukan?" Urien sepertinya berusaha
mengalihkan pembicaraan menyeramkan tadi.
Aku tersenyum dan mengangguk. "Ya, indah dan membuatku nyaman."
Aku mengedarkan pandangan menjelajahi setiap sudut tempat ini. Ada
taman buatan yang cukup besar dengan tanaman yang tumbuh disana.
Sekalipun aku tidak suka berkebun, tetapi aku tahu taman itu indah.
Mataku tetap menjelajahi tempat itu hingga sampai pada bagian
belakang mansion. Aku menemukan dia di sana. Wajahnya tertimpa
dengan sinar matahari yang muncul malu-malu di antara gumpalan
abu-abu, tubuhnya berkilau seperti berlian. Dia terlihat indah, seperti
gambaran Dewa Yunani kesukaanku.
Dia Esteve Graffielo Walcott, anak keempat di keluarga ini. Lelaki yang
memiliki mata hitam, mirip dengan seseorang yang merebut ciuman
pertamaku. Atau mungkin memang dia? Tetapi mengapa ia bersikap
seolah tidak mengenal diriku?
Astaga! Apa yang kau pikirkan Michaela? Mana mungkin tiba-tiba
dia menyapa diriku dan berkata, 'hey kau, kau yang kuambil ciuman
pertamanya kan?' Hah, gila saja!
Tetapi perkataan Helena tentang dirinya memang benar. Dia dingin dan
terlihat seperti tidak tersentuh. Bahkan berada di dekatnya membuatku
menggigil karna aura intimidasi yang begitu dominan keluar dari
tubuhnya. Belum lagi jika diberi tatapan dari mata hitam yang menusuk
itu. Dan pesonanya?! Astaga, aku bersyukur tidak meneteskan air liurku
karena itu.
Tiba-tiba saja dia mengalihkan pandangannya dari buku -sialan- itu
kepadaku. Bagaimana dia bisa-~?
deg!
sial!!
Mata hitamnya menatap tajam mataku penuh misteri dan aku tersesat dalam kegelapan matanya, pandangan yang tidak terbaca membiusku dalam pesonanya.
^-^ * ^-^

หนังสือแสดงความคิดเห็น (71)

  • avatar
    Sinta Queena Reborn

    aku suka alur ceritanya... bikin kesel, greget sekaligus gemes sm es batu nya esteve..

    04/07/2022

      2
  • avatar
    Rada Dan Yasir

    kenapa lama bnget ceritanya kk ... sya sudh chek setiap hri tapi masih lom dilanjut lanjut kak . ayo dong semngat kak .. lanjutin lagi kak .

    21/06/2022

      0
  • avatar
    AzuzaYui

    ceritanya bagus dan banyak pembelajarannya dan mohon untuk autor jangan lama2 rehatnya kasihan yang sudah menunggu termasuk saya 😁

    09/06/2025

      0
  • ดูทั้งหมด

บทที่เกี่ยวข้อง

บทล่าสุด