logo text
เพิ่มลงในห้องสมุด
logo
logo-text

ดาวน์โหลดหนังสือเล่มนี้ภายในแอพ

Bertemu Dia

Ryan mencengkeram lengan kiri Alvin. Menariknya dengan sangat keras, berusaha menyeret Alvin ke dalam toilet. Satu tangan Alvin yang masih bebas mati-matian menggapai dinding tepi pintu untuk pegangan. Berusaha keras agar tidak terseret masuk.
"Sialan kau! Kenapa keras kepala sekali!" Ryan mulai tidak sabar. Kekuatan nya besar dan dia sangat kasar. Tapi Alvin juga tidak mengalah. Dia masih berjuang sekuat tenaga.
Alvin hampir putus asa. Tarikan orang itu begitu kuat hingga dia merasa seolah tulang sendinya meregang. Air matanya keluar seiring dengan rasa sakitnya.
Ryan mengerutkan kening. Melihat kearah siswa gemuk yang mati-matian bertahan itu, dia agak merasa lucu. Anak ini sangat mirip dengan babi yang tidak rela disembelih. Ryan tertawa kecil. Karena mood nya tiba-tiba menjadi bagus, dia mengendurkan pegangannya dan melepaskan babi yang berjuang itu. Setelah lepas, dia segera berlari sangat kencang tanpa menoleh kebelakang.
"Apa itu barusan?" Tanya Chris.
Ryan melihat kearah bocah berdarah dilantai. Wajahnya menjadi dingin. "Bukan apa-apa. Selesaikan saja dengan cepat."
Lalu Ryan keluar dengan langkah besar. Anak laki-laki yang terbaring dilantai menatap Chris yang berjongkok didekat kepalanya.
"Tolong ... maafkan aku ... lepaskan ...."
Chris tidak sabar mendengar ucapan terbata-bata anak itu. Dia mengetuk kepala anak itu sambil bergumam tidak jelas.
-
Akhirnya Alvin tidak ingat bagaimana dia berhasil melepaskan diri. Yang dia tahu hanyalah terus maju dan berlari.
Derap langkahnya menggema di koridor. Dia bahkan tidak memikirkan kenapa koridor bisa menjadi sesepi ini disaat seperti ini. Meskipun dia tidak mendengar siapapun mengejar dibelakangnya, Alvin tetap tidak berhenti berlari. Sampai di persimpangan koridor dia menabrak seseorang. Alvin langsung jatuh tersungkur ke lantai dan jatuh dengan begitu menyakitkan.
"Bangsat kecil! Berani sekali kau merusak moodku!" Suara seorang gadis. Tapi tidak terdengar lembut sama sekali. Sebaliknya, suara itu menyakiti telinga. Bukan jelek, suara nya sangat kasar, seperti tenggorokan sangat kering dan tidak berbicara dalam waktu yang lama.
Alvin mengangkat wajahku dari lantai. Didepannya, ada seorang gadis yang sibuk mengibaskan debu tak terlihat dari badannya. Sadar Alvin mengawasi nya, dia balas menatap. Dia memelototi Alvin dengan penuh kemarahan.
Alvin terkejut. Ternyata orang ini adalah siswa, sama sepertinya. Tapi ada perasaan yang sangat berbeda tentang gadis ini. Gadis ini tinggi, bahkan mungkin lebih tinggi dari Alvin. Dia mengenakan riasan smokey tebal. Rambutnya panjang, diikat menjadi ekor kuda, dengan sulur menggantung di kedua sisi wajahnya. Alvin bisa melihat ditelinga nya ada lebih dari satu anting. Dia juga memiliki tindik dibawah bibirnya.
Gadis itu mengerutkan kening. Tampak kesal, dia berkata, "sudah cukup melihat,brengsek?! Lihat lagi maka aku akan mencongkel kedua bola matamu!"
Suaranya tidak keras, tapi Alvin merasa takut karena nya. Gadis ini sungguh memiliki getaran yang berbeda.
Alvin menyadari bahwa sikapnya barusan memang tidak sopan. Jadi dia buru-buru berdiri dengan susah payah dan meminta maaf dan membungkuk sopan padanya.
"Tolong maafkan aku."
Selesai mengatakan itu, Alvin berlari lagi.
Setelah melalui tikungan dan belokan yang terasa agak rumit karena berlari secara membabi buta, akhirnya Alvin tiba di taman yang sama yang selalu dia tuju saat makan siang.
Alvin menjatuhkan tubuh di hamparan rumput di bawah pohon rindang. Rasanya nyaman, lembut dan sejuk. Tapi rasa nyaman ini membuatnya ingin menangis.
Setelah menangis beberapa saat, hatinya mulai tenang. Debaran jantung juga sudah berkurang. Pelan-pelan dia mencoba memikirkan kejadian hari ini. Hal-hal yang berbeda terjadi dalam waktu singkat. Semuanya mengejutkan. Bagaimanapun Alvin belum siap oleh pergantian peristiwa ini. Faktanya, selain diabaikan, Alvin sebenarnya juga dirundung disekolah sebelumnya. Wajar jika dia lelah dan sangat merindukan hari damai tanpa gangguan.
Memikirkan penderitaannya, dia menangis lagi.
"Beritahu aku apa yang salah," Alvin berkata pada dirinya sendiri.
"Kau tidak melakukan sesuatu yang salah. Sungguh."
"Lalu mengapa aku harus ditempatkan di posisi ini? Bukankah aku tidak akan sanggup menahannya?"
"Tidak tahu."
"Baru seminggu dan aku sudah menemui peristiwa seperti ini lagi. Bukankah ini terlalu banyak?"
"Kau benar."
"Aku tidak ingin di bully lagi."
"Kau pikir ada orang di dunia ini yang menginginkan nya?"
"Seharusnya ... tidak."
"Lalu apa-"
"BAJINGAN MANA YANG BERANI MENGGANGGU TIDUR SIANG KU?!!"
"Hah?" Alvin terkejut. Seketika dia menegakkan tubuh dan menghentikan tangis, oh, dan percakapan konyol itu juga.
Alvin melihat sekeliling. Tidak ada siapapun. Dia bertanya-tanya apakah itu manusia atau hantu.
"Katakan siapa namamu!"
Suara itu lagi.
Wajah Alvin memucat. Sekolah ini benar-benar sesuatu. Tidak hanya ada banyak siswa jahat, bahkan ada hantu yang marah disiang hari.
"Siapa ... siapa kamu?" Suara mencicit keluar dari mulut Alvin, agak khawatir hantu itu tidak dapat mendengar nya.
Setelah itu Alvin mendengar gerakan dibelakangnya. "Sepertinya aku pernah melihat mu. Dari kelas mana kamu berasal?"
Ah!
Alvin berbalik. Dibelakangnya, Michael menatap dengan ekspresi malas diwajahnya. Dia hanya mengenakan kemeja, tanpa dasi dan jas sekolah. Alvin tidak menyangka akan bertemu Michael disini. Dia ragu-ragu apakah harus menyapa atau tidak.
"Singkirkan wajah tolol mu itu. Jawab saja pertanyaan ku." Suaranya mengagetkan lagi. Michael terlihat agak kesal. "Aku ingin tahu berapa banyak keberanian mu untuk mengganggu tidur ku dengan tangisan aneh mu itu."
Jadi Michael sejak awal berada disisi lain pohon ini, tidur. Dan Alvin, tiba-tiba datang lalu menangis kencang. Tidak heran dia marah.
"Kau bahkan mengobrol dengan dirimu sendiri," dia menambahkan. Michael berdecak sambil menggeleng penuh penghinaan.
Sekali lagi Alvin merasa malu.
"Itu ... Aku minta maaf. Aku tidak tahu kau ada disana sebelumnya." Dari sekian banyak kata untuk diucapkan, Alvin hanya mengatakan kalimat ini. Sangat pengecut.
Michael tidak berbicara kembali. Dia hanya menatap Alvin sambil mengerutkan keningnya.
"Kau adalah murid baru pemberani, yang duduk di kursi ku hari itu, bukan?" Dia berbicara setelah beberapa saat.
"Itu kursi mu?"
"Haruskah aku ulangi?"
Jadi, selama ini Alvin duduk di kursinya. Jika begitu, dia pasti marah. Apa itu sebabnya dia tidak masuk seminggu ini?
"Maafkan aku. Aku benar-benar tidak tahu kursi itu milikmu. Guru hanya menunjuk dua kursi itu tanpa memberi tahu mana yang kosong. Tolong jangan marah, aku akan melakukan apapun untuk menebus nya." Kata Alvin dengan serius. Dia sungguh tidak ingin membuat Michael marah. Tiba-tiba dia teringat siswa yang menariknya ke toilet sebelumnya. Lalu membandingkan dengan Michael, meskipun Michael tampak nakal juga, tetapi dia terlihat jauh lebih baik.
Michael tidak menjawab. Dia berbalik kembali ke tempatnya semula, berbaring di sisi lain pohon menggunakan tas nya sebagai bantal.
Alvin khawatir, ingin memastikan bahwa dia tidak marah, tapi melihat dia menutup mata nya, tidak berani bersuara.
Beberapa menit berlalu. Alvin tetap duduk disana dan Michael tetap berbaring disana. Perut Alvin tiba-tiba berbunyi. Suaranya begitu keras. Sekali lagi dia diperas oleh rasa malu. Dia takut Michael akan mendengar nya jadi dia membungkukkan badan dan menjauh diam-diam.
"Tunggu dulu,"
Michael merogoh tas miliknya, mencari-cari sesuatu didalamnya. Kemudian melemparkannya kearah Alvin. Alvin terkejut tapi berhasil menangkapnya. Itu sebungkus roti.
Alvin menatap Michael, tidak mengerti.
"Ambil saja."
"Oh, terima kasih," Alvin menerima dengan kedua tangannya.
Michael kembali berbaring dan menutup matanya. Sementara Alvin diam-diam memakan roti yang dia berikan.
***

หนังสือแสดงความคิดเห็น (210)

  • avatar
    Istianah01*Siti

    sangat baguss,,sukses selalu untuk penulisnya 😘😚😘😗

    04/06/2022

      3
  • avatar
    ValentinaRensi

    bagus banget kak

    13/06/2025

      0
  • avatar
    DaliahKeukeu

    bagus bnget novel nyaa KA hhuu🥲

    03/06/2025

      0
  • ดูทั้งหมด

บทที่เกี่ยวข้อง

บทล่าสุด