logo text
เพิ่มลงในห้องสมุด
logo
logo-text

ดาวน์โหลดหนังสือเล่มนี้ภายในแอพ

บทที่ 7 Makan siang

Dino dan Dina sudah menikah selama 1 tahun, dan mereka telah dikaruniai seorang anak lelaki berusia 5 bulan yang di beri nama Daniel.
Suara tangisan bayi menggema di seluruh ruangan, Dina bergegas ke kamar Daniel untuk menenangkannya. Belum sampai ia di kamar putranya suara tangisnya sudah reda, rupanya ada Dita yang sudah menggendong keponakannya itu lebih dulu dan membuatnya tenang hingga tertidur lagi.
“Makasih ya dek, kamu udah bantu kakak tenangin Daniel.”
“Santai aja kak, anggap aja aku lagi belajar hehe,” kata Dita seraya terkekeh.
“Kamu nih, makanya buruan kenalin calon kamu ke keluarga kita hehe,” goda Dina.
“Calon apa, pacar aja aku belum punya kak. Dan lagi prioritas aku sekarang itu kerja, biar bisa bantu kalian buat pengobatan papi,” kata Dita.
“Masa iya sih nggak ada satu pun pria yang dekatin kamu, kamu kan cantik dek. Dan soal biaya pengobatan papi, sebisa mungkin kakak sama kakak kamu Dino akan penuhin. Jadi kamu jangan terlalu mikirin itu ya, kamu juga harus bahagia dek,” ujar Dina memberi semangat.
“Iya kak, tapi saat ini aku cuma ingin papi bisa sembuh dulu. Baru nanti aku pikirin soal itu,” kata Dita dan Dina mengangguk paham tak ingin berdebat lagi dengan adik iparnya.
*
Kantor DND Advertising...
Diko merasa bimbang, ia ingin sekali melanjutkan misi balas dendamnya melalui Dita yang merupakan adik ipar Dina. Namun lagi-lagi hatinya menolak, ia tidak sampai hati jika harus menyakiti wanita sebaik Dita.
Demi memenuhi ambisinya, ia terpaksa harus melakukannya. Ia bertekad untuk membuat Dita jatuh cinta padanya, lalu ia akan meninggalkannya begitu Dita sudah masuk dalam perangkapnya. Dengan begitu, sakit hati yang ia dapat dari Dina dulu akan segera terobati.
“Nanti siang, kamu makan siang di luar ya sama saya. Saya tidak mau ada penolakan apa pun itu,” perintah Diko tegas.
“Maaf sebelumnya Pak Diko, saya sudah ada janji lebih dulu dengan teman saya. Jadi saya tidak bisa makan siang bersama Bapak,” tolak Dita dengan halus.
“Kamu tidak dengar yang saya katakan tadi? Itu tadi bukan permintaan tapi perintah, jadi kamu harus mengikuti perintah saya. Itu pun kalau kamu masih mau bekerja di sini,” ujar Diko menegaskan.
“Lalu janji dengan teman saya bagaimana Pak?”
“Ya kamu batalkan saja.”
“Kalau saya batalkan janji dengan teman saya demi bisa bersama Bapak, yang ada saya bisa jadi bahan gosip satu kantor Pak.”
“Saya tidak peduli dengan gosip, jangan kamu kira saya ajak makan siang bersama karena ada apa-apa ya. Saya hanya ingin membahas pekerjaan tapi sambil makan, karena bahasan kita nanti akan cukup berat.”
“Baiklah Pak Diko, kalau memang ada urusan pekerjaan saya akan membatalkan janji dengan teman saya. Kalau begitu saya permisi,” pamit Dita seraya keluar dari ruangan Diko.
*
“Joe, sorry ya makan siang kita hari ini harus di tunda dulu. Aku ada meeting sama Pak Diko di jam istirahat makan siang nanti,” ujar Dita begitu bertemu dengan Joe.
“Meeting di jam istirahat? Sepertinya agak aneh ya, di jam istirahat pun masih harus meeting. Tapi okelah, lain kali kita atur jadwal lagi ya. Bagaimana kalau nanti aku antar pulang?” tawar Joe.
“Apa nggak merepotkan?”
“Tentu aja nggak, anggap saja ganti makan siang kita yang batal hari ini. Bagaimana?” tanya Joe lagi.
Dita mengangguk, “Baiklah, sampai jumpa nanti.”
*
Jam makan siang di restoran dekat kantor...
“Jadi ada hal penting apa yang harus kita bahas Pak Diko?” tanya Dita begitu mereka tiba di restoran.
“Bisa tidak kita pesan makan saja dulu, kamu tahu tidak saya ini sangat lapar. Jadi jangan bahas hal lain dulu selain makanan,” ujar Diko seraya memanggil pelayan.
Dita hanya mengangguk paham, karena ia pun sebenarnya juga sudah sangat lapar. Akhirnya mereka berdua memesan makanan terlebih dahulu sebelum membahas soal pekerjaan.
Kurang lebih 15 menit, Dita dan Diko telah menghabiskan makanan yang mereka pesan. Tak ingin berlama-lama bersama bosnya, Dita segera membuka pembicaraan dengan menanyakan keperluan Diko mengajaknya kemari.
“Sudah bisa dimulai kan Pak untuk membahas pekerjaannya, jadi ada hal apa yang perlu Bapak sampaikan?” tanya Dita tanpa basa-basi.
“Tidak ada,” sahut Dito singkat.
“Lalu? Untuk apa Pak Diko mengajak saya makan siang disini, tadi kata Bapak ingin membahas soal pekerjaan,” tanya Dita lagi karena merasa tidak puas dengan jawaban singkat Diko.
“Memangnya saya tidak boleh mengajak sekretaris saya untuk makan siang bersama?” bukannya menjawab pertanyaan Dita, Diko malah balik bertanya.
Dita menggeleng pelan, tidak habis pikir dengan yang dilakukan bosnya. Ia tidak mau salah mengira, demi menghindari pembicaraan orang-orang ia memutuskan untuk segera kembali ke kantor.
“Kalau tidak ada yang perlu dibicarakan lagi tentang pekerjaan, lebih baik saya kembali ke kantor ya Pak,” pamit Dita.
Diko menggeleng cepat, “Siapa yang menyuruh kamu kembali ke kantor sekarang? Temani dulu saya di sini,” perintah Diko tak ingin di bantah.
“Tapi Pak, saya tidak enak dengan karyawan yang lain,” tolak Dita.
“Untuk apa kamu memikirkan orang lain? Yang menggaji kamu itu saya, bukan mereka,” ujar Diko tegas.
*
*
*
Next...

หนังสือแสดงความคิดเห็น (102)

  • avatar
    salmasani

    suka banget sama cerita roman seperti ini, bikin gemes sama tokohnya. 😁

    20/01/2022

      1
  • avatar
    PonselXiaomi

    CERITA BAGUS SANANG BAGUS

    16/05/2025

      1
  • avatar
    SaebahIneu

    bagusssss

    05/05/2025

      0
  • ดูทั้งหมด

บทที่เกี่ยวข้อง

บทล่าสุด