logo text
เพิ่มลงในห้องสมุด
logo
logo-text

ดาวน์โหลดหนังสือเล่มนี้ภายในแอพ

บทที่ 4 Sakit

“Apa sebenarnya hubungan Dita dengan pria itu, Dita tidak boleh sampai jatuh cinta pada pria mana pun karena itu dapat merusak semua rencanaku,” geram Diko seraya mengepalkan kedua tangannya.
*
Setelah pesta usai dan semua kembali pada pekerjaan masing-masing, Dita segera memasuki ruangan Diko untuk meminta tanda tangan pada dokumen yang telah selesai ia kerjakan.
“Selamat siang Pak, saya mau meminta tanda tangan Bapak di sebelah sini,” tunjuk Dita pada dokumen yang harus di tanda tangani Diko.
Diko termenung menatap wajah Dita, ia terdiam beberapa saat sampai Dita membuyarkan lamunannya dengan memanggil nama Diko beberapa kali.
“Pak Diko... Pak... Pak Diko...,” panggil Dita dengan meninggikan sedikit suaranya seraya melambaikan tangannya di depan wajah Diko.
“Ah ya, Maaf.. Maaf... Siapa pria tadi?” tanya Diko spontan mengutarakan pertanyaan yang sejak tadi berputar di kepalanya.
“Maksud Pak Diko, pria yang mana?” tanya Dita balik karena tidak mengerti dengan yang dimaksud Diko.
“Pria yang mengobrol dengan kamu tadi, tampaknya kalian akrab sekali. Apa kalian memiliki hubungan?” tanya Diko dengan rasa ingin tahu yang semakin tidak terkontrol, “Apa yang kamu lakuin sih Diko, duh nih mulut nggak bisa di rem,” batinnya.
“Maaf Pak Diko, saya rasa saya tidak perlu menjawab pertanyaan Bapak karena itu menyangkut privasi saya,” jawab Dita tegas.
“Saya tidak mencampuri privasi kamu, saya hanya tidak ingin karyawan saya tidak fokus bekerja karena terlalu asik berpacaran,” kilah Diko.
“Tapi saya dan Joe tidak berpacaran Pak Diko,” sahut Dita membela dirinya.
“Ya baguslah kalau memang kalian tidak berpacaran, ingat ya pesan saya tadi saya tidak mau kalian sampai hilang fokus dan membuat pekerjaan jadi berantakan,” tutur Diko, “Baguslah, kamu tidak boleh dimiliki siapa pun Dita,” batinnya.
“Maaf sekali lagi ya Pak Diko, saya kesini mau meminta tanda tangan bukan untuk berdebat hal yang tidak penting seperti ini. Masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan, jadi saya minta tolong sekali Bapak tidak membahas hal itu lagi.”
“Saya juga tidak mau membahas hal tidak penting seperti ini, pekerjaan saya jauh lebih sibuk di banding kamu. Jadi kamu tinggalkan saja berkas itu disini, nanti akan saya panggil kamu lagi kalau sudah selesai saya tanda tangani,” perintah Diko.
“Baik Bapak Diko, kalau begitu saya permisi. Selamat siang dan... selamat bekerja,” sahut Dita mencoba bersikap sesopan mungkin meski bosnya itu membuat kesal hatinya seraya keluar dari ruangan Diko.
“Diko... lagi-lagi kamu bersikap bodoh di depan wanita itu. Tetap tenang kamu harus kembali jadi CEO yang berwibawa,” kata Diko penuh semangat pada dirinya sendiri.
“Apa sih maunya, nggak jelas banget bahas-bahas privasi orang huuuft,” batin Dita merasa kesal dengan tingkah bosnya.
*
“Dita, kamu ke ruangan saya sekarang, saya tunggu,” ujar Diko begitu Dita baru mengangkat teleponnya, dan ia langsung mematikannya saat itu juga.
Belum sempat menjawab, Dita hanya bisa mengelus dada dengan tingkah bosnya, “Sabar Dita, tenang... kamu harus memaklumi sikap bos kamu, hampir satu tahun harusnya sudah mulai terbiasa jadi aku harus bisa menghadapi dan memenuhi permintaannya,” ujarnya memberi semangat pada diri sendiri.
*
Dita mengetuk pintu dengan sopan sebelum dipersilakan masuk ke ruangan Diko. Merasa tidak ada jawaban dari dalam, ia mencoba mengetuk lagi kali ini dengan sedikit agak kencang. Karena tak kunjung ada jawaban juga, Dita memberanikan diri untuk masuk ke ruangan Diko.
Begitu memasuki ruangan, ia mendapati Diko tengah tertidur lelap di atas meja kerjanya dengan beralaskan kedua tangannya yang dilipat. Dita pun mendekat ke arah Diko bermaksud untuk membangunkan bosnya tersebut.
“Pak Diko, Pak...,” panggil Dita lirih sambil menepuk pelan lengan Diko.
“Hmmm...,” gumam Diko masih dengan mata yang terpejam, keringat mulai bercucuran dari dahinya meski ruangannya telah di pasang pendingin AC.
Dita merasa ada sesuatu yang tidak beres, ia memberanikan diri menyentuh kening Diko. Dan benar saja Diko mengalami demam, hingga membuat badannya lemas tak bertenaga.
“Ya ampun, Pak Diko!” seru Dita panik, “Anda demam ya, panas sekali keningnya. Sini saya bantu,” ujarnya seraya memapah Diko.
Mencoba tetap setenang mungkin, Dita memapah Diko untuk membantunya berbaring di sofa ruang kerjanya. Dita melonggarkan sedikit dasi Diko dan membuka satu kancing atas kemejanya agar tidak merasa sesak.
Kemudian ia pergi ke pantry untuk membuatkan Diko minuman hangat, serta kompres dan obat penurun demam. Tak lama berselang, ia kembali ke ruangan Diko dengan membawa semua yang ia ambil dari pantry tadi.
“Mari pak, saya bantu minum obatnya ya.” Dita meletakkan peralatan yang ia bawa, lalu duduk di samping Diko untuk membantunya bangun.
Diko menggeleng lemah seraya menutup mulut dengan kedua tangannya, “Saya tidak mau minum obat, tolong jangan paksa.”
“Pak Diko, kalau Bapak tidak minum obatnya bagaimana nanti bisa sembuh. Tenang saja tidak pahit kok, setelah minum obat nanti saya kompres biar panasnya segera turun ya. Apa Bapak mau saya panggilkan dokter?” tanya Dita selembut mungkin berusaha meyakinkan Diko untuk mau meminum obatnya.
Dengan cepat Diko menggeleng, “Tapi janji ya kamu tetap temani saya di sini sampai saya sembuh?” tanya Diko meminta kepastian.
*
*
*
Next...

หนังสือแสดงความคิดเห็น (102)

  • avatar
    salmasani

    suka banget sama cerita roman seperti ini, bikin gemes sama tokohnya. 😁

    20/01/2022

      1
  • avatar
    PonselXiaomi

    CERITA BAGUS SANANG BAGUS

    16/05/2025

      1
  • avatar
    SaebahIneu

    bagusssss

    05/05/2025

      0
  • ดูทั้งหมด

บทที่เกี่ยวข้อง

บทล่าสุด