Setelah selesai, Dita segera masuk ke ruangan Diko lagi menunggu tugas selanjutnya yang akan ia kerjakan. Diko masih fokus dengan tumpukan file yang sedang ia tanda tangani, sambil ia berpikir tentang tugas apa yang akan ia berikan untuk Dita. Mengingat hari ini tidak ada rapat atau pertemuan dengan klien untuk itu Diko hanya menyuruh Dita mempelajari catatan yang ditinggalkan sekretaris pendahulunya agar ia memahami tugas apa saja yang harus ia kerjakan selama menjadi sekretaris CEO. Selama Dita membaca dan mempelajari tugas-tugas yang akan ia kerjakan, sesekali Diko mencuri pandang ke arahnya. Meski pun begitu keduanya berusaha untuk tetap fokus pada pekerjaan masing-masing hingga tak terasa waktu menunjukkan pukul lima sore yang berarti jam kantor telah berakhir. “Sudah waktunya pulang, kamu boleh meninggalkan tempat ini,” ujar Diko memecah keheningan di antara mereka. “Apa sudah tidak ada yang perlu saya kerjakan lagi Pak?” tanya Dita memastikan. Diko menggeleng, “Cukup untuk hari ini, persiapkan saja diri kamu besok untuk menyusun jadwal rapat dan pertemuan saya dengan klien selama 1 bulan ke depan.” Dita mengangguk paham, “Baiklah kalau begitu saya permisi pulang dulu ya Pak,” pamit Dita seraya menenteng tasnya. Dika mengangguk, “Terima kasih untuk hari ini dan hati-hati di jalan.” “Baik pak, selamat sore,” pamit Dita lalu segera keluar dari ruangan Diko, “Akhirnya, hari ini berakhir juga,” katanya lega. “Hah, apa yang aku lakukan sih lagi lagi aku bersikap baik padanya. Kenapa sulit sekali rasanya untuk berbuat jahat kepada wanita itu,” keluh Diko pada dirinya. Flashback OFF... * * * “Kamu melihatnya?” tanya Diko pada orang kesekian dan masih mendapat jawaban yang sama, tidak ada yang melihat Dita padahal 5 menit lagi pesta ulang tahun Diko akan di mulai namun Dita belum juga menampakkan dirinya. Diko mencoba menelepon Dita untuk kesekian kalinya namun masih sama, tidak ada jawaban, “Hufft!! Kamu kemana sih sebenarnya,” desah Diko merasa kesal sendiri. Semua karyawan menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk Diko, namun Diko merasa aneh karena kue ulang tahunnya pun tidak berada di tempatnya. Tanpa Diko ketahui ternyata ini semua adalah bagian rencana untuk memberi kejutan padanya. Dita tidak menampakkan dirinya hingga tiba saat Diko akan meniup kue ulang tahunnya barulah Dita muncul dengan membawa kue ulang tahun untuk Diko. “Selamat ulang tahun ya Pak Diko...,” seru Dita ditengah keramaian seraya membawa kue ulang tahun Diko. “Terima kasih ya Ta... Saya kira kamu tidak datang,” ujar Diko dengan wajah bahagia yang tidak bisa ia bendung lagi. “Sama-sama Pak, sekarang Bapak make a wish dulu ya,” sahut Dita dengan menyodorkan kue ulang tahun untuk di tiup Diko. Diko mulai memejamkan matanya dan berdoa dalam hati, “Tuhan, tidak banyak inginku kali ini aku hanya ingin Kau jatuhkan hatiku pada orang yang tepat. Dan tolong bantu aku untuk membalas sakit hatiku pada mereka, Aamiin,” doanya dalam hati seraya meniup lilin di kue ulang tahunnya. Semua karyawan larut dalam kesenangan menyambut bertambahnya usia CEO mereka, Diko Argawinata kini telah resmi berusia 27 tahun. Di usia nya yang sudah terbilang cukup matang untuk membina sebuah rumah tangga, namun Diko sama sekali belum memikirkan hal tersebut meskipun kedua orang tuanya selalu menanyakan kapan anak kesayangan mereka segera membawa seorang wanita ke rumah untuk diperkenalkan sebagai calon istri. “Pak Diko, ini ada kado dari beberapa karyawan dan klien DND Advertising mau di letakkan dimana ya?” tanya seorang office boy. “Oh ya kamu letakkan saja di ruangan saya, kamu tata serapi mungkin nanti saya akan kesana,” perintah Diko. “Baik Pak Diko, saya permisi,” sahut seorang office boy seraya berlalu membawa kado-kado untuk di letakkan di ruangan Diko. Diko mencari keberadaan Dita, lagi-lagi ia kehilangan keberadaan wanita itu. Mata hazelnya memutari seluruh ruangan hingga berhenti pada satu tempat ia melihat Dita sedang bersama seorang pria serta beberapa rekan kerja lainnya dan terlihat cukup akrab. Namun dengan orang yang di sampingnya, Dita dan pria itu seperti seorang kekasih yang sedang bersenda gurau. Karena rasa penasaran dengan pembicaraan mereka, Diko berjalan menghampiri mereka. “Benar ya kan Nik, Dita sama Joe itu udah serasi banget deh pokoknya. Tinggal tunggu peresmiannya aja nih, hehe” goda Cya pada Dita dan Joe. “Bener banget tuh, masa kalah sama kita yang udah go public duluan ya kan sayang,” sahut Niko, kekasih Cya menimpali. “Kalian ini bicara apa sih, aku sama Joe udah nyaman gini aja yakan Joe?” tanya Dita meminta persetujuan pada Joe. “I..iya Ta. Tapi kalau mau lebih ya nggak apa apa sih aku siap hehe,” jawab Joe dengan terkekeh. “Apa sih kamu ini, nggak lucu ah...,” ujar Dita seraya menepuk pelan lengan Joe. Mendengar jawaban Dita semuanya tertawa karena gemas dengan tingkah kedua pasangan ini. Sebenarnya Joe memang memendam perasaan pada Dita, dan Dita jelas tahu benar akan hal itu. Namun ia sudah menegaskan pada dirinya bahwa ia tidak ingin memiliki kekasih untuk saat ini, ia hanya ingin fokus bekerja untuk membantu kakaknya membiayai pengobatan Papi mereka yang mengidap penyakit jantung. Samar-samar Diko mendengar pembicaraan mereka, meski dari jarak yang cukup jauh Diko cukup mengerti kemana arah pembicaraan mereka. Akhirnya ia mengurungkan niatnya untuk menghampiri Dita dan memilih kembali ke ruangannya. * * * Next...
suka banget sama cerita roman seperti ini, bikin gemes sama tokohnya. 😁
20/01/2022
1CERITA BAGUS SANANG BAGUS
16/05/2025
1bagusssss
05/05/2025
0ดูทั้งหมด