logo text
เพิ่มลงในห้องสมุด
logo
logo-text

ดาวน์โหลดหนังสือเล่มนี้ภายในแอพ

บทที่ 2 Pertemuan pertama

Dengan berat hati Dita mencoba menerima nasibnya untuk menjadi sekretaris CEO, ia hanya dapat berdoa agar ia dapat bertahan dengan segala tekanan kerja yang di berikan nanti atau kalau tidak ia terpaksa harus mengikuti jejak rekan lainnya yang mengundurkan diri dan mencari pekerjaan lainnya. Ia tidak mau jika sampai melakukan itu, karena mencari pekerjaan di saat ini sangatlah susah. Untuk itu ia akan berusaha agar ia bisa menjadi sekretaris yang baik nantinya.
Dita tidak habis pikir, kenapa CEO nya lebih memilih ia dibanding karyawan lain yang sudah senior dan lebih berpengaman darinya. Tak ingin ambil pusing, ia mencoba menerima dan menjalani takdirnya berharap hidupnya akan berubah lebih baik kelak.
“Jadi bagaimana kamu mau kan menerima jabatan ini?” tanya Kevin memastikan.
Dita mengangguk setuju, “Iya pak, saya akan mencoba menerima amanah ini. Semoga saya bisa menjadi sekretaris yang baik untuk bapak CEO,” ujarnya penuh keyakinan.
“Nah begitu dong dari tadi, yasudah saya mau beri tahu bapak CEO dulu kalau kamu bersedia menjadi sekretaris Beliau ya,” kata Kevin dan di jawab dengan anggukan oleh Dita.
*
Seorang pria dengan mata yang berwarna hazel dan tinggi 180 cm tengah sibuk memeriksa beberapa tumpukan file di meja kerjanya. Beberapa kali ia melirik ke arah jam di tangan kirinya seperti menanti kedatangan seseorang. Selang lima menit kemudian pintu ruangannya di ketuk oleh seseorang dari luar, ia merapikan sedikit penampilan serta duduknya sebelum mempersilakan orang tersebut untuk masuk.
“Permisi Pak, saya datang dengan seseorang yang akan menjadi sekretaris anda,” ujar Kevin begitu ia dipersilakan untuk masuk.
“Oh ya silakan masuk,” sahut Diko seraya meminum kopinya.
Kevin masuk beserta Dita yang sedari tadi hanya menunduk, sesekali ia mencuri pandang ke arah sang CEO tak berani menatap secara langsung. Bukan karena malu, hanya saja ia belum terbiasa bertemu dengan Bos di kantornya yang terkenal galak itu. Apalagi jika ia menjadi sekretarisnya nanti, maka tak bisa dihindari lagi mereka akan bertemu setiap hari.
Diko bukan tak memperhatikan sikap karyawan yang sebentar lagi akan menjadi sekretarisnya itu, ia masih tidak menyangka saja akan dipertemukan dengan adik ipar mantan kekasih yang sudah mengkhianati dirinya. Setelah menyewa orang untuk menyelidiki Dina mantan kekasihnya, akhirnya Ia tahu bahwa mantan kekasihnya itu telah menikah dengan Dino kakak dari Dita.
Oleh sebab itu, untuk melampiaskan rasa sakit hatinya ia ingin membuat orang-orang terdekat Dina dan Dino menderita. Dan seperti kebetulan atau takdir, adik mereka Dita bekerja di perusahaanya selama 5 bulan terakhir karenanya ia mencoba untuk lebih dekat dengan menjadikan Dita sekretarisnya.
“Jadi ini adik dari lelaki yang sudah membuat wanita yang aku cintai berkhianat. Mungkin ini cara Tuhan untuk aku bisa membalas sakit hatiku, mempertemukan aku dengan adik kalian. Tunggu saja kalian akan menerima balasan yang sepadan dariku melalui adik tersayang kalian,” batin Diko tersenyum sengit seraya menatap tajam ke arah Dita.
“Maaf Pak Diko, jadi kapan Dita bisa mulai bekerja sebagai sekretaris bapak?” tanya Kevin membuyarkan lamunan Diko tentang rencana jahatnya.
“Ah ya, hari ini juga bisa dimulai ya. Jadi kamu tinggalkan saja dia disini karena saya mau dia bekerja untuk saya mulai sekarang juga,” perintah Diko tegas.
Dita hanya bisa menunduk pasrah akan nasibnya, ia pun tak berani membantah dan memilih untuk tetap diam di tempatnya.
“Baik Pak, kalau begitu saya permisi kembali ke ruangan saya,” pamit Kevin seraya keluar dari ruangan Diko dan kembali ke ruangannya.
Setelah kepergian Kevin, Diko beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan ke arah Dita dengan ekspresi wajah yang tak terbaca.
“Jadi nama kamu Dita?” tanya Diko sambil berjalan memutari Dita yang sedang berdiri di tengah ruang kerjanya seraya meneliti penampilannya dari kepala hingga ujung kaki, “Cukup manis,” batinnya.
“I..iya Pak,” sahut Dita dengan sedikit terbata.
“Hmmm…,” gumam Diko seraya menganggukkan kepalanya, “Sudah berapa lama bekerja disini?” tanya Diko lagi.
“Lima bulan Pak,” sahut Dita singkat.
“Kamu pasti bertanya tanya kan, apa alasan saya memilih kamu sebagai sekretaris saya?” tanya Diko dan Dita hanya mengangguk.
”Tidak penting saya beri tahu kamu alasan itu sekarang, yang jelas sekarang banyak file di meja saya yang harus kamu cek dan jika sudah benar semua segera berikan ke saya untuk saya tanda tangani. Tapi jika masih ada yang salah kamu kembalikan pada bagian editing, kamu pastikan setiap file yang akan saya tanda tangan sudah benar semua kalau sampai ada yang terlewat kita lihat saja nanti hukuman apa yang pantas untuk kamu. Kamu paham?” perintah Diko dengan tegas.
“I..Iya saya paham Pak, akan segera saya kerjakan,” sahut Dita segera berlari kecil ke meja Diko untuk mengambil tumpukan file yang akan ia kerjakan.
“Kamu kerjakan di ruangan ini saja, saya tidak mau kamu membuang buang waktu jika tidak saya awasi,” ujar Diko dengan ketus.
Dita memilih diam dan tidak ingin berdebat. Segera ia mengambil duduk di sofa depan meja kerja Diko dan memeriksa file yang ada di depannya satu persatu dengan teliti. Tak butuh waktu lama untuk memeriksa tumpukan file yang di berikan Diko, karena sebelum di bagian desain Dita pernah di tempatkan di bagian editing selama 1 bulan untuk itu ia sudah tidak asing lagi dengan dokumen dokumen di dalam file tersebut.
“Ini sudah saya periksa dan semuanya sudah benar Pak, jadi bisa segera Bapak tanda tangani,” ucap Dita seraya memberikan tumpukan file kepada Diko.
Diko melirik jam tangannya, “Cepat sekali, kamu yakin ini sudah benar semua?” tanya Diko meragukan kemampuan Dita.
Dita mengangguk yakin, “Iya pak, semua sudah saya periksa dan sudah sesuai dengan standart perusahaan kita,” sahutnya.
Diko membuka beberapa file dan mencoba membuktikan ucapan Dita, dan memang benar yang Dita ucapkan bahwa semuanya sudah sesuai dengan standart yang ia inginkan.
“Lumayan juga untuk pemula, sayang sekali aku tidak bisa mengambil celah untuk menghukumnya,” batin Diko kecewa.
“Apa ada yang perlu saya kerjakan lagi untuk Bapak?” tanya Dita sopan, berusaha memberanikan dirinya menatap ke dalam mata Diko.
Beberapa detik mereka saling bertatapan, karena jarak yang tidak terlalu jauh memungkinkan keduanya bisa melihat satu sama lain dengan lebih jelas.
“Benar yang dikatakan para karyawan wanita, dia memang tampan. Matanya yang berwarna hazel, wajahnya yang tegas, dan...,” batin Dita seraya menatap erat ke dalam mata hazel Diko.
“Apa yang kamu lihat?” tanya Diko membuyarkan lamunan Dita.
Seketika Dita langsung mengalihkan pandangannya dari Diko, “Maaf... Maaf... Pak, saya tidak bermaksud...”
“Saya tahu saya tampan, tapi kamu tidak perlu seperti itu jika ingin mengagumi wajah saya,” ujar Diko dengan percaya diri.
“Maaf ya Pak, saya sama sekali tidak bermaksud mengagumi wajah anda. Saya hanya... Saya hanya mau permisi ke kamar mandi,” pamitnya seraya pergi setelah Diko mengangguk setuju.
“Apa yang aku katakan sih, kenapa aku bisa bersikap seperti itu padanya. Biasanya jika ada karyawan yang seperti itu padaku langsung kupecat, tapi kenapa dengan dia aku malah bersikap seperti tadi,” gumam Diko tidak mengerti dengan sikapnya sendiri, “Diko, kamu harus ingat dia itu musuh kamu. Kamu harus tegas dan tidak boleh lemah oke,” bicaranya pada diri sendiri.
Di kamar mandi, Dita juga tidak habis pikir dengan yang ia lakukan kenapa ia bisa bersikap demikian pada Bosnya. Akhirnya ia memilih untuk mencuci mukanya dan mencoba menghilangkan pikiran kagum itu.
“Dita, kamu disini harus fokus kerja. Ingat dia itu Bos yang galak kamu tidak boleh suka padanya, cukup kerjakan yang ia perintahkan dan jangan pernah menatap terlalu lama lagi,” gumam Dita pada dirinya.
*
*
*
Next....

หนังสือแสดงความคิดเห็น (102)

  • avatar
    salmasani

    suka banget sama cerita roman seperti ini, bikin gemes sama tokohnya. 😁

    20/01/2022

      1
  • avatar
    PonselXiaomi

    CERITA BAGUS SANANG BAGUS

    16/05/2025

      1
  • avatar
    SaebahIneu

    bagusssss

    05/05/2025

      0
  • ดูทั้งหมด

บทที่เกี่ยวข้อง

บทล่าสุด