logo text
เพิ่มลงในห้องสมุด
logo
logo-text

ดาวน์โหลดหนังสือเล่มนี้ภายในแอพ

บทที่ 7 Merasa Jadi Istri?

Molly terdiam sejenak memikirkan apa yang Gandhi ucapkan.
"Apa ini yang disebut dilamar?" tanya Molly dengan lugunya.
"Pertangung jawaban." ucap Gandhi.
"Aku sudah mempersiapkan semuanya, kamu hanya perlu menyetujui saja." lanjut Gandhi memberikan sebuah map kepada Molly.
"Apa ini?" tanya Molly.
"Baca saja dulu, kalau ada hal yang tidak jelas kamu bisa tanyakan." ucap Gandhi.
Molly mulai membuka map tersebut dan membaca isinya, ternyata Gandhi membuat kontrak perjanjian pernikahan dalam waktu dua tahun.Dalam kontrak tersebut tertulis,bahwa Molly akan mendapat fasilitas tempat tinggal, kendaraan, pelayan, semua kebutuhan apapun itu akan Gandhi cukupkan.Hanya saja disana tertulis bahwa Gandhi meminta Molly untuk tidak menuntutnya menjalankan peran sebagai suami sungguhan, mereka hanya akan tinggal bersama terikat pernikahan yang sah namun dalam kontrak.
"Boleh aku meminta satu keinginan?" tanya Molly sedikit takut.
"Boleh," jawab Gandhi.
"Ternyata itu masih kurang? aku kira dia perempuan yang berbeda, ternyata sama saja." pikir Gandhi yang mengira Molly akan meminta sesuatu hal yang lebih lagi.
"Aku ingin meminta perlindunganmu." ucap Molly membuat Gandhi tak habis pikir, Molly hanya meminta perlindungan bukan hal yang lain.
"Hanya itu?" ucap Gandhi.
"Iya, aku setuju untuk melakukan pernikahan kontrak ini.Aku hanya akan selalu disekitarmu saja kan?" ucap Molly.
"Iya," jawab Gandhi.
Molly langsung mendatangani surat perjanjian kontrak pernikahan tersebut, tanpa berpikir ulang karena menurutnya ini adalah pertolongan dari Tuhan untuknya.Gandhi adalah penyelamat hidupnya menurut Molly, kalau tidak mengajak nikah kontrak seperti ini.Molly hanya berpkir untuk mati saja, tidak ada lagi orang yang peduli dan membutuhkannya.Tapi sekarang Gandhi membutuhkannya, Molly merasa hidupnya berguna.
"Kamu tidak butuh waktu untuk memikirkan ulang?" tanya Gandhi yang heran melihat Molly langsung menyetujuinya.
"Tidak,aku setuju." ucap Molly dengan senyumnya.
"Tapi pernikahan akan aku lakukan secara tertutup, apa kamu tidak masalah?" tanya Gandhi.
"Tidak apa-apa, ini juga pernikahan kontrak apapun itu aku akan mengikuti apa yang kamu mau, oh iya Gandhi kita hanya boleh sentuhan tangan saja kan?" ucap Molly membuat Gandhi tersedak saat minum.
"Ehm, iya hanya tangan saja. Memangnya kamu memikirkan apa,aku tidak tertarik denganmu." ucap Gandhi seolah salah tingkah dengan obrolan mereka.
"Oke setuju," ucap Molly dengan bersemangat.
Satu minggu kemudian...
Gandhi dan Molly resmi menjadi suami istri, orangtua Gandhi sangat bahagia dan menerima Molly sangat baik.Membuat Molly juga jadi bahagia mendapat figur orangtua dari mertuanya, walau yang dia dan Gandhi sepakati ini pernikahan kontrak tetapi perhatian dan kasih sayang orang tua Gandhi terhadap Molly itu nyata.
"Kita tetap satu kamar, karena pelayan di rumah ini adalah orang suruhan mama papa, kalau mereka tau kita berbeda kamar.Pasti akan membuat mereka curiga." ucap Gandhi.
"Iya tidak apa-apa, aku bisa tidur di sofa ini empuk sekali." ucap Molly duduk di sofa dengan senangnya.
"Ya memang seharusnya seperti itu, mana mungkin aku yang disana." ucap Gandhi.
"Kita juga harus tetap menjalani bulan madu, agar pernikahan ini terlihat sungguhan." ucap Gandhi.
"Eh bulan madu?" ucap Molly yang tadinya sedang tiduran di sofa langsung bangkit dari tidurnya karena sedikit terkejut mendengar pernyataan Gandhi.
"Hanya berjalan keluar negri saja seperti liburan, kamu mikir apa lagi Mollly?" tanya Gandhi.
"Oh begitu, yeay kita bisa liburan lagi." ucap Molly dengan bersemangat membuat Gandhi sedikit mengukir senyum tipis di bibirnya mendengar sorak semangat dari Molly yang sangat ceria.Semenjak bersama Molly dia menjadi sering tersenyum karena tingkah Molly yang ceria dan cerah.
"Dia benar-benat mematahkan kutukan itu, selama hampir dua minggu kami berdekatan tidak ada hal buruk terjadi, bahkan perempuan lain yang dekat denganku menjadi aman dan tidak terjadi hal buruk." batin Gandhi.
Saat sedang tidur tiba-tiba tubuh Gandhi ditepuk-tepuk oleh Molly, dia dari tadi membangunkan Gandhi.
"Kenapa Molly?"tanya Gandhi yang masih mengantuk.
"Gandhi aku tiba-tiba lapar sekali, tapi aku takut untuk turun kebawah, rumahmu terlalu besar.Ayo temani aku." ucap Molly membuat Gandhi dengan terpaksa bangkit dari tidurnya.
"Kamu lapar?" tanya Gandhi yang dibalas angukan yang mengemaskan dari Molly.
"Ayo," ucap Gandhi melangkah ke luar padahal dia sangat mengantuk sekali tapi tidak tega melihat wajah Molly yang mengemaskan sedang kelaparan.
Saat turun Gandhi ingin membangunkan pelayan untuk menyiapkan makanan,tapi langsung dihalangi oleh Molly.
"Gandhi mau ngapain? membangunkan mereka?" tanya Molly.
"Iya, kamu mau makan kan?" ucap Gandhi.
"Tidak perlu membangunkan mereka, aku bisa masak sendiri." ucap Molly.
"Oh yasudah." ucap Gandhi langsung duduk dimeja makan sambil melihat Molly menyiapkan makanan, padahal sebenarnya Molly tidak bisa memasak.
PRANG
Panci berisikan air panas tak sengaja tersengol oleh Molly dan terkena lengannya, membuat Gandhi yang tadi masih mengantuk langsung segera menghampiri Molly dengan rasa khawatir.
"luka?" tanyanya mengecek lengan Molly.
"Kamu bisa masak ngga sih?" tanya Gandhi lagi.
Molly mengeleng dengan wajah yang sangat takut, karena dia melihat Gandhi seperti ingin marah jadi membuatnya takut.
Gandhi menarik nafasnya, lalu membawa Molly untuk duduk di kursi.
"Obati tanganmu, biar aku saja yang masak.Diam disana jangan kemana-mana." ucap Gandhi.
"Siap bos." jawab Molly dengan bersemangat karena ternyata Gandhi tidak marah kepadanya.
Tak lama kemudian sudah tersedia satu mangkok mie instan yang disambut dengan gembira oleh Molly.
"Wah Gandhi memang hebat,"ucapnya mengapresiasi Gandhi.
"Enak banget,Gandhi ngga mau coba? buka mulutnya aaa." ucap Molly mengarahkan sendok ke mulut Gandhi.
"Ngga, aku tidak makan malam." tolak Ganhi.
"Ayo satu suap saja." ucap Molly, dengan terpaksa dituruti oleh Gandhi dan membuka mulutnya.
"Gitu dong anak pintar." ucap Molly senang membuat Gandhi tersenyum tipis melihat tingkah Molly.
Selesai makan,mereka kembali ke kamar lagi.Karena sudah kenyang, Molly langsung merasa mengantuk dan bersiap untuk tidur.Sementara itu Gandhi malah mengambil laptop untuk mengerjakan pekerjaanya.
"Gandhi kok buka laptop?" tanya Molly.
"Gara-gara kamu rasa mengantukku jadi hilang." ucap Gandhi.
"Aduh, maaf banget Gandhi." ucap Molly jadi merasa tidak enak.
"Kamu tidur sana jangan berisik," ucap Gandhi.
"Siap, semangat kerjanya Gandhi."ucap Molly langsung memejamkan matanya.
"Dia memang sangat berani, sudah membangunkanku, menyuruhku masak, dan sekarang ditinggal tidur.Cuma Molly lah yang bisa seperti ini." batin Gandhi sambil tersenyum memandangi wajah polos Molly yang sedang tertidur dengan pulasnya tanpa merasa bersalah sama sekali telah menganggunya.
Paginya Molly yang terbiasa bangun pagi, keluar dari kamar mencari kegiatan apa yang bisa dia lakukan, mulai dari menyiram taman sampai membantu menyiapkan sarapan untuk Gandhi, tentu saja hal ini membuat pelayan di rumah Gandhi merasa tidak enak karena membiarkan nyonya mereka membantu.
"Molly kamu sedang apa?" tanya Gandhi saat melihat Molly membantu pelayan masak, padahal tangannya yang terluka tadi malam belum juga sembuh.
"Masak," jawabnya dengan santai.
Para pelayan sudah sangat ketakutan melihat ekspresi Gandhi, mereka tau pasti Gandhi akan marah besar melihat istrinya melakukan pekerjaan mereka.
"Pak Gandhi maaf sekali, saya dari tadi sudah melarangnya tapi ibu Molly bersikeras ingin membantu." ucap pelayan itu sangat ketakutan.
Gandhi menarik Molly jauh dari dapur.
"Ada apa Gandhi? aku masih mau masak." ucap Molly dengan polosnya masih ingin berjalan menuju dapur, tapi di tarik lagi oleh Gandhi.
"Ķamu itu lagi ngapain ha? merasa jadi istri sungguhan?" ucap Gandhi marah.

หนังสือแสดงความคิดเห็น (629)

  • avatar
    HasanIstiqomah

    cerita yang sangat menyentuh dan menyenangkan terima kasih

    16/07/2025

      0
  • avatar
    DjodjoboTesalonika

    good

    05/06/2025

      0
  • avatar
    Cakep21Faris

    baguss banget kak

    24/04/2025

      0
  • ดูทั้งหมด

บทที่เกี่ยวข้อง

บทล่าสุด