"Kecelakaan?" "Iya." "Siapa pelakunya?" "Dia adalah Meta, ibu tiriku," desis Rival. "Hah, kenapa bisa papamu menikah dengan orang yang mencelakai istrinya?!" Hani terbelalak, tak menyangka bahwa Meta senekad itu. "Itulah, aku berharap kamu bisa bermain cantik, tidak seperti tadi, mereka itu ular berbisa, sayangnya aku telat menyadari." "Jadi, sebenarnya apa maksudmu menikahiku?" tanya Hani penasaran. "Syarat untuk mendapat harta warisan papa adalah ketika anaknya sudah menikah." Rival menarik nafas panjang. "Jadi, kamu memanfaatkanku! Menikahi seorang gadis tanpa sepengetahuannya hanya untuk mendapat status 'suami', begitu?!" Hani mulai marah. "Mungkin yang kau katakan ada benarnya, tapi tak seluruhnya, aku menikahiku karena aku harap kau akan membantuku memecahkan masalah ini, bukankah seorang wanita bisa lebih mudah menyusup dengan wanita lainnya?" "Ah, bodohnya aku, mau saja jadi umpan untuk menangkap ular!" Hani merutuk dirinya sendiri. "Kenapa kau tak menjadikan pacarmu saja untuk jadi umpan?! Kau tampan dan kaya pasti banyak yang mau denganmu, oh, pasti kau tak tega kalau menjadikan kekasih kesayanganmu umpan, iya kan?!" Hani bertanya sarkas. "Aku tak percaya cinta, aku tak punya pacar dan aku benci pernikahan," ujar Rival. "Bagus, bersandiwara agar aku iba dan bisa memuluskan rencanamu." Hani tersenyum miring, baru mengerti kalau hadirnya hanya untuk jadi umpan para ular berbisa seperti Meta. "Sungguh, aku tak percaya cinta sejak ibuku meninggal apalagi dengan bodohnya papaku menikahi wanita yang membunuh ibuku!" Rival bicara dengan mata memerah, dendam dan kebencian menyatu di hatinya. Hani tahu ini bukan waktunya untuk melanjutkan percakapannya dengan Rival, ia memilih pergi ke balkon dengan membawa minuman dingin. Balkon kamar Rival ini menghadap langsung ke taman depan rumah, taman yang cantik dan terawat. Hani duduk di kursi yang satu set dengan meja rotan. 'Apa mungkin yang dibicarakan Rival benar, atau hanya alasan agar aku iba dan ikut rencananya?' Hani bicara dalam hati, menimbang hal terbaik yang harus dipilihnya, walaupun sebenarnya sudah terlambat, ia sudah terlalu jauh masuk dalam teka-teki ini. Gawai Hani bergetar, ada telepon masuk dari ibunya. Hani menggeser tombol hijau untuk menghubungkan panggilan. "Assalamualaikum, Ma," salam Hani, tanpa terasa air matanya menetes. Banyak hal yang ingin diceritakan tapi rasanya terdekat di tenggorokan. (Waalaikumsalam, Sayang, apa kabar? Sehat kan, Nak?) Bu Yani memberondong putrinya dengan pertanyaan, hati seorang ibu memang sangat lembut. "Alhamdulillah, baik, Mama apa kabar?" (Alhamdulillah, baik juga, Nak) "Ma," Hani mengusap air matanya, berusaha siregar mungkin di hadapan Bu Yani meski hanya tersambung melalui telepon. (Iya, Nak, kenapa?) "Bagaimana caranya agar jadi istri yang baik seperti Mama? Istri yang sabar?" Hani mengatakannya dengan bibir bergetar menahan tangis. (Kenapa bertanya seperti itu, Nak? Kamu ada masalah?) "Enggak ada, Ma, cuma aku masih kadang terbawa emosi. Mama pasti tahulah sifat burukku." (Nak, istri harus jadi air, yang dingin dan menenangkan, bukankah jika api hanya dapat dipadamkan dengan air? Jika kamu terbawa emosi wudhulah, Nak) Hani kembali mengusap air mata yang mengalir. "Iya, Ma, aku akan berusaha, ah, adzan maghrib, aku sholat dulu ya, Ma," (Iya, Nak, assalamualaikum) "Waalaikumsalam." Sambungan telepon terputus. Hani masuk ke dalam kamar. "Mas," panggil Hani, ia mencari sosok suaminya. Lampu kamar masih gelap, setelah dinyalakan Rival tak berada di kamar, entah kemana perginya. Hani ke kamar mandi kemudian sholat sendiri, kemudian berdzikir seusai sholat. Mencoba mengintrospeksi diri dan menerima takdir. Takdir yang berat, sebagai istri yang tak dianggap namun mundur pun tak baik. Apalagi suaminya yang tak percaya cinta. Ia mengingat obsesinya untuk ke Kairo, ya niat awal pernikahannya salah. Bukan ibadah, bukan ridho Allah melainkan hanya ingin kuliah ke luar negeri. Hani beristighfar, niatnya salah. Air mata mengalir deras disela tangisnya. "Maafkan, aku," suara barito seorang pria yang ia kenal. Hani menoleh, segera mengusap air matanya. Rival terduduk di kasur, kepalanya menunduk dalam. "Mas, tidak salah," desis Hani pelan. "Aku mungkin menghancurkan hidupmu, demi ambisiku." Rival nampak menyesal. Hani menggeleng, ia memegang tangan Rival. "Mas, aku mungkin anak pondok, tapi rupanya imanku masih setipis kertas, aku masih belum bisa mempraktekan penerimaan takdir sepenuhnya, aku juga terlupa akan niat saat aku menerima, Mas jadi suamiku," tutur Hani pelan. "Kamu tidak pernah menerimaku jadi suami, kamu hanya terjebak dalam ikatan ini, jika kamu merasa tak sanggup, kamu berhak mundur," desis Rival. "Mas, istighfar, Mas, pernikahan itu janji suci yang dipertanggung jawabkan hingga akhirat!" Hani kaget rupanya sejauh itu Rival berpikir. ****** Kejadian delapan tahun lalu. "Ma, aku pergi eskul, ya," izin Rival, usianya baru 18 tahun, kelas sebelas Sekolah Menengah Atas. "Mama, anter, Sayang," ucap Sani, ibunya. "Enggak, usahlah, Ma," tolak Rival. "Mungkin ini terakhir kalinya, loh, Mama nganter kamu," Sani menggandeng lengan Rival seakan tak akan bertemu lagi. Rival hanya diam mengikuti kemauan ibunya, walaupun gelagatnya tidak seperti biasanya. "Kamu duduk di belakang." Sani membuka pintu mobil belakang. Untuk jarak dekat, Sani jarang menggunakan supir. "Loh, kenapa, Ma?" "Enggak apa-apa, takut kamu kenapa-napa aja, Nak." "Ah, apa sih Mama ini." Rival menuruti juga kemauan Sani, duduk di belakang. Baru beberapa menit mobil di kendarai, ada telepon masuk kalau Sani ditunggu oleh Pak Deris dan harus secepatnya. Sani melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, tapi tiba-tiba dari arah berlawanan ada sebuah mobil juga. Kecelakaan pun tak dapat dielakan. Mobil Sani terpental jauh. Sani meninggal di tempat, sementara Rival masih selamat. Mereka dibawa ke rumah sakit. "Mohon maaf, atas kecerobohan supir saya, ya, Pak," ucap Meta kala bertemu dengan Pak Deris, ayah Rival. "Sudah takdir, tak apa." Suara Pak Deris begitu berat, kehilangan istri yang sangat dicintainya. Rival menyimpan dendam pada Meta. Tapi rasa kehilangannya masih membuat jiwanya terguncang, tak memiliki semangat hidup. Tepat 40 hari setelah kepergian Sani, tiba-tiba Pak Deris meminta izin Rival untuk menikah lagi. Ternyata Meta adalah calon istrinya. Rival yang masih remaja dan labil kehilangan arah. Ia tak peduli pada apapun dan siapapun. Sekolah pun hanya sebatas hadir, sisanya ia habiskan dengan mabuk-mabukan. Hingga akhirnya Pak Deris jatuh sakit, dan dinyatakan koma hingga sekarang. Beberapa bulan sejak Pak Deris sakik, Pak Han komisaris kepercayaannya menemui Rival. Di sebuah cafe. "Kamu, mau seperti ini terus?" tanya Pak Han pada Rival. "Apa maksud kamu?" tanya Rival bingung. "Kehilangan arah, dan membiarkan aset ibuku diambil semua oleh ibu tirimu itu, dia licik," jelas Pak Han. "Aset ibuku?" "Pak Deris menikahi Bu Sani hanya membawa selembar pakaian, ini semua milik ibumu dan kamu. Sejak ayahku sakit Meta berusaha membalik nama beberapa aset kekayaaan, dan dengan kelicikannya membuat ruko di jalan Gasibu jadi miliknya." "Apa?!" Rival tak percaya, ibu tiri yang kelihatan bodoh itu rupanya sangat licik. "Jangan diam saja," nasihat Han. "Apa yang harus kulakukan?" "Menikah, itu syarat mendapat aset keluarga Demoris." "Menikah?! Jangan bercanda." "Carilah wanita yang bisa membantumu, tidak haus harta dan punya pendirian. Jika dia haus harta dipastikan dia akan jadi kacung ibu tirimu," jelas Pak Han lagi. "Siapa? Aku harus menikahi siapa?" "Aku tak tahu, aku pergi dulu," pamit Pak Han, kemudian melenggang pergi. Setahun yang lalu Rival telah lulus kuliah, dan memegang salah satu saham perusahaaan hanya untuk bekalnya. Tapi tidak dipercayakan semua aset Demoris padanya karena belum menikah. "Aku harus menikah, tapi dengan siapa?" gumam Rival pada dirinya sendiri.
cerita nya menarik
08/07/2025
0baguss bgtt ceritanya
25/11/2024
0lanjut
31/10/2024
0ดูทั้งหมด