logo text
เพิ่มลงในห้องสมุด
logo
logo-text

ดาวน์โหลดหนังสือเล่มนี้ภายในแอพ

บทที่ 2 Menuju Rumah Rivaldi

"Tidak mungkin, satu tahun, aku butuh bantuanmu, aku pinjam waktumu satu tahun, lalu apapun yang kamu mau aku turuti, kuliah di Kairo Mesir, kan?"
Tawaran yang sangat menggiurkan, tapi sebenarnya apa yang terjadi dibalik pernikahan dadakan ini?
Hani tersenyum miring, ia berdecih mengingat kebodohannya.
"Ya, aku ingin kuliah di Kairo, tapi apa mungkin jika diawali dengan hal haram?" tanya Hani dengan wajah serius, rupanya emosinya kembali stabil setelah dari siang menangis dan marah-marah.
Usianya baru memasuki 19 tahun, kadang masih sangat emosional, sifat pemberani dan mengaturnya sebenarnya sangat terpakai kala menjadi seksi keamanan pondok, tapi beginilah jika tak diarahkan dengan benar.
"Apa maksudmu? Jangan bertele-tele," ucap Rivaldi masih dengan dingin, manik mata hitam miliknya seakan tak ada kehangatan di sana.
"Jangan tentukan waktunya, aku tak mau terjebak nikah kontrak, itu haram bukan?"
"Baik, apa maumu?"
Hani tersenyum mendengar pertanyaan itu, meski sebenarnya ia bisa mencari beasiswa sendiri. Tapi sudah kadung basah menikah, ya sudahlah jalani saja dulu.
"Seperti yang kau katakan, aku ingin menggapai impianmu kuliah di Kairo."
"Itu mudah, ikuti permainan nanti, besok kita ke rumahku."
"Secepat itu?"
"Tak ada waktu lagi!"
"Okay."
Tok... tok...
Pintu diketuk dari luar.
"Iya, ma?" tanya Hani dari dalam.
"Makan malam dulu, yuk, sayang!" ajak Bu Yani.
"Iya, ma, bentar lagi aku nyusul, mama duluan aja," sahut Hani, terdengar serap langkah kaki menjauh, Bu Yani pergi.
"Yuk, makan, lapar juga rupanya, hehe," ajak Hani, nada suaranya mulai ceria, bukan karena bahagia dengan pernikahannya melainkan dengan tawarannya.
"Buat ini terlihat sealami mungkin." Rivaldi mengingatkan.
"Aku mengerti." Hani kemudian berjalan keluar untuk ikut makan di meja makan.
Rivaldi mengekor di belakang.
Sesampainya di meja makan, rupanya telah ada bapak dan ibunya. Hani mengambil tempat duduk di samping Bu Yani.
"Ma, Pak, maafkan sikap Hani tadi, ya, aku janji bakal menuruti kemauan bapak sama mama dengan ikhlas," tutur Yani saat telah duduk.
"Bapak tak apa-apa, kok, semoga kamu bahagia, Nak," ucap Pak Jajang sendu.
Bu Yani memeluk Hani erat seakan takut sekali kehilangan, air mata menetes. Ah, begitu lembut hati seorang ibu.
"Sudah, Ma, aku gak apa-apa, makan dulu, yuk," ucap Hani sambil mengurai pelukan Bu Yani.
Mereka makan dalam diam, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Tak lama acara makan selesai.
"Oh ya, Ma, Pak, besok aku harus ikut ke rumah Mas Rivaldi," ucap Hani lembut.
"Kamu sudah jadi miliknya, Nak, berbaktilah seperti kamu berbakti pada kami," nasehat Pak Jajang.
"I .... iya, Pak." Hani tergagap, dalam pikirannya pernikahan ini hanyalah batu lompatan untuk menggapai keinginannya, bukan pernikahan yang sesungguhnya.
*****
Keesokan harinya, sejak subuh Hani telah membereskan semua pakaian yang akan dibawa, dan menyisakan beberapa potong jika sewaktu-waktu ia berkunjung kemari.
"Hani, sebelum berangkat sarapan dulu, Nak," ucap Bu Yani lembut, matanya memerah menahan tangis, melepas anak semata wayang bersama suaminya rasanya lebih berat dibanding melepasnya untuk menimba ilmu di pondok.
"Iya, Mamaku sayang." Hani memeluk Bu Yani.
Rivaldi tengah menanti persiapan berangkat, sambil menonton tv di ruang tengah bersama Pak Jajang.
Setelah mengurai pelukan, Hani dan Bu Yani pun berjalan menuju meja makan.
"Pak, Mas, ayo sarapan!" ajak Hani ketika melewati ruang tengah.
Pak Jajang dan Rival mengekor di belakang, mereka pun sarapan bersama.
"Apa semuanya sudah siap?" tanya Rivaldi setelah selesai makan.
"Sudah." Hani menganggukan kepalanya pasti.
"Mana? Biar kubawa." Rivaldi masuk ke dalam kamar ada satu tas besar, berisi pakaian dan barang pribadi Hani.
"Hanya ini." Tunjuk Hani pada tas itu.
Tanpa banyak bicara, Rival membawa tas besar itu ke bagasi mobil.
Setelah itu mereka pamit pada Pak Jajang dan Bu Yani. Rivaldi lebih dulu menyalami mertuanya kemudian masuk kedalam mobil.
"Ma, Pak, aku pamit ya." Hani menyalami Pak Jajang kemudian Bu Yani dan memeluknya, tak kuasa menahan tangis ibu dan anak itu berderai air mata.
Akhirnya, Hani masuk kedalam mobil dan duduk di samping Rivaldi, suaminya saat ini.
Mobil melaju membelah jalanan yang cukup lengang, di sisi-sisi jalan nampak perkebunan warga yang tumbuh subur.
"Kita kemana?" tanya Hani.
"Bandung," jawab Rivaldi singkat, benar-benar irit bicara.
'Ah, pernikahan macam apa ini? Aku harus terjebak dalam sebuah ikatan bersama orang sedingin es, huh!' Hani menggerutu dalam hati.
Perjalanan menuju kota Bandung dari desa Hani cukup jauh, membutuhkan waktu sekitar delapan jam perjalanan.
Pukul satu siang, mereka masih dalam perjalanan. Hani tertidur dalam mobil. Rivaldi hanya meliriknya sekilas tanpa ekspresi.
Kriuk...
Hani terbangun karena rasa lapar menderanya.
"Kita makan dulu," ucap Rival sambil memarkirkan mobil di sebuah rumah makan padang yang cukup besar.
'Duh, enggak bisa diajak kompromi banget, sih, ini perut, jadi malu, kan,' gerutu Hani dalam hati, sebagai gadis biasa tentunya ia malu saat bunyi perutnya ketika lapar terdengar.
Mereka turun dari mobil, dan masuk ke rumah makan padang tersebut. Selesai makan tanpa basa-basi Rivaldi mengajak Hani melanjutkan perjalanan.
Setelah lima jam perjalanan dari tempat istirahat, barulah mereka sampai di sebuah rumah mewah di perumahan elit.
Saat mobil berada di depan pagar, dengan otomatis pagar terbuka.
Taman yang luas dengan berbagai tanaman bunga yang indah, juga kolam ikan berada di hadapan rumah mewah tersebut.
Hani dan Rival turun di tepat di depan rumah megah itu, kemudian pintu dibuka oleh seorang asisten rumah tangga paruh baya.
"Tuan muda, hmm .... apa ini asisten rumah tangga baru?" Wajah Bi Ijah memperhatikan Hani dari atas kebawah.
Hani yang memang santri pondok, terbiasa berpakaian sederhana dengan jilbab panjang menutupi dada.
"Bi, ini istri saya," jawab Rivaldi dingin.
"Hah, maaf, maaf , Non, bibi gak tahu!" Bi Imah kaget sekali, dan langsung membungkuk pada Hani.
"Tak apa, Bi." Hani tersenyum hangat.
Mereka kemudian masuk, dan langsung menuju kamar Rival di lantai dua.
Kamar yang jauh berbeda dengan milik Hani, sangat luas dan bahkan seperti setengah rumahnya.
"Kamu boleh tidur di ranjang, istirahatlah! Aku akan tidur di sofa," titah Rival pada istrinya.
Fasilitas di kamar ini saja sangat komplit, mulai dari sofa, tv, ranjang, kamar mandi, bahkan kulkas kecil tempat minuman pun ada.
"Boleh aku menyentuh barangmu?" tanya Hani spontan saat melihat kulkas kecil di sisi bufet tv.
"Barangku?" Rival bertanya tak percaya.
"Iya seperti kulkas kecil itu, aku haus," jawab Hani santai sambil berjalan menuju kulkas kecil tersebut.
'Ah, sial, aku benci pikiranku!' gerutu Rival dalam hati.
Saat kulkas dibuka, rupanya banyak susu kaleng berjajar, hanya ada beberapa kaleng minuman bersoda.
Dengan cepat Hani mengambil satu kaleng minuman bersoda, untuk menghilangkan dahaga.
"Di rumah ini, ada berapa orang? Kelihatannya sepi." Hani bertanya sambil menikmati minumannya.
"Hanya aku, Bi Imah dan beberapa ART yang tak kukenal."
Rival merebahkan dirinya di sofa besar, matanya terpejam tapi dia belum tidur.
"Jika nanti ibu tiriku datang bersikaplah seperti istriku sebenarnya."
"Ibu tiri?"
"Hmm ...."
"Memangnya mereka kemana?" tanya Hani penasaran.
"Ah, cerewet sekali kau ini, aku ingin istirahat."
"Baiklah." Hani kemudian keluar kamar, menuju balkon kamar itu.
Dari atas, taman di depan rumah terlihat sangat indah.
"Siapa itu?" gumam Hani, melihat mobil berhenti di halaman rumah dan keluarlah dua orang wanita, satu lelaki dari dalam mobil, kemudian supir.
"Mas, siapa itu? Tamu?" tanya Hani sambil masuk kembali ke kamar.
"Siapa?" tanya Rivaldi cuek.
"Mana aku tahu, dua perempuan dan satu laki-laki, kelihatannya mereka akan masuk ke rumah ini."
"Sialan! Mereka datang."
Rival langsung terduduk di sofa, gurat lelah terlihat jelas di wajahnya.
"Siapkan mentalmu."
"Hah, memangnya siapa mereka?"
"Mereka....

หนังสือแสดงความคิดเห็น (606)

  • avatar
    Sabattinielkana

    cerita nya menarik

    08/07/2025

      0
  • avatar
    Delima muhtarAdel

    baguss bgtt ceritanya

    25/11/2024

      0
  • avatar
    CaturMahmudah

    lanjut

    31/10/2024

      0
  • ดูทั้งหมด

บทที่เกี่ยวข้อง

บทล่าสุด