Cinta mungkin kalian sering mendengar kata itu. Cinta yang membuat orang bahagia, cinta yang membuat orang berarti, namun terkadang cinta yang membuat orang sengsara. Masa remaja adalah masa yang membuat orang merasakan jatuh cinta. Ya... jatuh cinta, semua orang mengalaminya. Mereka yang jatuh cinta pastilah bahagia, namun terkadang dia akan kecewa, sebab orang yang dicintainya lebih mencintai orang lain. Cinta adalah anugrah terindah yang kita rasakan, namun terkadang karena cintalah kita merana, menderita dan sakit hati. Cinta inilah yang aku rasakan sejak masih duduk di bangku SMP hingga sekarang. Semua orang memanggilku Lili, lebih tepatnya Liliana Almahera. Namanya yang cantik bukan, namun kenyataannya tak secantik wajah pemiliknya. Dilahirkan dari keluarga sederhana membuatnya sengsara??? Tentu tidak walaupun sederhana keluarganya setidaknya berkecukupan. Semenjak pertengkaran antara dua saudara kehidupannya berubah drastis. Kalian pasti bertanya-tanya perubahan apa yang terjadi??? Lain kali aku akan menceritakannya. Seorang anak kecil sedang bermain dengan teman-temannya di dalam ruangan yang begitu bersih dan rapi. Dilengkapi dengan berbagai meja dan kursi serta sebuah papan tulis hitam. Apa yang terlintas dipikiran kalian??? Kelas yang anak tersebut berada dalam kelas, lebih tepatnya kelas 5 SD. Suasana kelas yang begitu kacau oleh ulah murid tersebut. Biasanya waktu istirahat diisi dengan ke kantin namun kali ini mereka memilih bermain. Permainan mereka pun sangat beragam. Di sudut kanan kelas berkumpul 4 orang anak yang sedang bermain Monopoli termasuk seorang gadis mungil dengan potongan rambut model bob yang menjadi ciri khasnya. “Lili... ayo sekarang giliran kamu” teriak salah satu anak. “Hmm... baiklah” balasnya. Lemparan dadu menjadi saksi permainan mereka, waktupun begitu cepat berlalu. Waktu istirahat selesai. Pembelajaran berlangsung seperti biasanya. “Baiklah anak-anak silahkan buka buku paket matematika kalian, kerjakan halaman 20. Setelah itu kumpulkan di meja ibu” ucap Bu Nadia. “Iya bu” balas mereka serentak. Suara grasak-grusukpun terjadi, suara kertas yang dicoret-coretpun terdengar nyaring bagaikan nyanyian kala itu. “Eh... Lili, nomor 5 jawabannya apaan. Dari tadi salah terus” tanya Rara teman sebangkunya. “Hmm... tunggu sebentar ya. Aku selesaikan tugas aku dulu setelahnya aku ajarin kamu” balasnya. “Ok deh” jawab Rara. Lili menyelesaikan tugasnya dengan cepat, lalu menepati janjinya. “Ok sudah. Yang nomor 5 kan” tanyanya. “Iya” balas Rara. “Ini pemfaktoran, akan lebih mudah kalau kamu menggunakan pohon faktor untuk mendapatkan jawabannya” ucapnya. “Iya ya. Kok aku nggak kepikiran sampai kesitu. Makasih ya Lili” balas Rara. “Ya sama-sama, santai saja” balasnya. Tak lama kemudian bel pulang pun berbunyi... “Tugasnya sudah di kumpul semua ya, kalau begitu silahkan rapikan tempat duduk kalian. Ketua kelas silahkan pimpin doanya” ucap Bu Nadia. “Baik bu. Semuanya berdiri, sebelum kita pulang marilah kita berdoa menurut kepercayaan kita masing-masing. Berdoa dimulai” ucap Alansyah selaku ketua kelas. “Bismillaahir-rohmaanir-rohiim. Al-hamdu lillahi robbil-aalamiin. Ar-rohmaanir-rohiim. Maaliki yaumid-diin. Iyyaaka nabudu wa iyyaakanastaiin. Ihdinash-shiroothol-mustaqiim. Shiroothollaziina anamta alaihim ghoiril-maghdhuubi alaihim wa ladh-dhooolliin. Aamiin” doa mereka. “Aamiin... kalian boleh kembali ke rumah. Keluar dengan teratur ya” ucap bu Nadia. “Iya bu” balas mereka. Ya kebiasaan dari murid sekolah ini adalah mereka keluar sesuai urutan duduk kemudian memberi salam pada guru yang mengajar sebagai ucapan terima kasih telah mengajar mereka kala itu. Kebiasaan yang begitu baik ya... “Lili pulang dulu ya, Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh” pamitnya. “Hati-hati ya nak. Waalaikumussalam Warohmatullahi Wabarokatuh” balas bu Nadia. Lili berjalan ke tempat parkir, mengambil sepeda miliknya. Disaat teman-temannya menunggu jemputan berbeda dengannya yang lebih suka menggunakan sepeda. “Sudah mau pulang Lili” tanya Rara. “Mama kamu belum datang ya, mau ikut aku aja” balasnya. “Hmm... ya sudah deh. Mama paling sibuk di rumah” ucap Rara. Lili memutuskan mengantar Rara terlebih dahulu. Bagaimanapun rumah mereka searah alias tetanggaan. “Mau mampir dulu nggak Lili” tanya Rara. “Ndak deh Reva, mau langsung pulang saja. Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh” pamitnya. “Ya sudah... Waalaikumussalam Warohmatullahi Wabarokatuh” balas Rara. Setelah mengantar Rara, Lili melanjutkan perjalanannya... “Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh” ucapnya. “Walaikumussalam Warohmatullahi Wabarokatuh. Kamu sudah pulang nak, ganti bajumu kemudian makan” balas Hera sang bunda. “Baiklah bun” balasnya. Lili menuju kamar yang ditempatinya. Untuk anak seumuran dirinya kamar yang ditempati bukanlah ruangan yang luas. Hanya ruangan kecil namun cukup melindungi dirinya dari angin malam. Di dalam kamar tersebut hanya ada sebuah lemari dan kasur lepek tanpa ranjang. Tentu tidak mengurangi rasa syukurnya. “Bagaimana sekolahmu nak” tanya Hera. “Alhamdulillah baik kok bun” balasnya. Itulah perbincangan yang selalu menemani hari-harinya sepulang dari sekolah. Walau terlahir dari keluarga yang sederhana namun kasih sayang didapatkannya sangatlah berlimpah. Suatu kesyukuran untuknya. Waktu berlalu begitu cepat, bulan demi bulan dilewatinya kini Lili telah menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasarnya. Untuk merayakan kelulusan para murid, sekolah mengadakan rekreasi. Rekreasi dilakukan di kota Bandung lebih tepatnya Trans Studio Bandung sebuah tempat untuk menikmati berbagai wahana. “Lili masuk ke situ yuk” ucap Rara yang menunjuk ke arah Rumah Hantu yang tanpa sadar akan disesalinya. “Baiklah” balasnya. Keduanya pun masuk, beruntungnya mereka bertemu dengan bapak kepala sekolah dan anaknya. Menaiki kereta yang akan menemani mereka menjelajahi wahana itu. “Kalian siap” tanya penanggung jawab wahana tersebut. “Siap” jawab mereka serentak. Kereta bergerak secara perlahan, mata disugukan berbagai hantu. Ada sesosok perempuan yang duduk di depan gundukan tanah dengan mata merah, ada yang berjalan dengan menggunakan pakaian hitam dengan tanduk merah dikepalanya serta suara bayi menangis. Namun yang paling mengejutkan mereka adalah sesosok perempuan yang terjatuh ah... lebih tepatnya bergelantung di pohon tepat di atas mereka. Mereka berteriak... “Ahk mama” spontan Rara. “Tenang, jangan teriak” bisik Lili. “Aku kaget tahu Lili, nggak lagi deh aku masuk ke sini. Kapok” ucap Rara. “Kamu takut ya. Hantunya bohongan kok” ucapnya. “Iya aku tahu, tapi seram tahu. Sudah hawanya dingin, gelap lagi” balas Rara. Kereta pun berhenti, mereka pun keluar... Mereka melanjutkan ke wahana yang lain, wahana yang dinaiki selanjutnya adalah jejak petualang. Jangan salah disini juga nggak kala seru dengan kejadian Rumah Hantu. Penasaran ya??? Rara dan Lili duduk berdampingan, secara perlahan kereta pun bergerak. Di dalam sana keduanya disuguhkan dengan berbagai pemandangan. Terdapat banyak patung manusia purba lengkap dengan kegiatan berburu mereka. Asik-asiknya menikmati pemandangan keduanya dikejutkan dengan laju kereta yang semakin cepat. Puncaknya pada sat kereta tersebut meluncur dengan kecepatan yang begitu dasyat. “Akh... mama aku nggak mau mati” teriak Rara. Tentu saja membuat Lili kaget... “Tenang Rara, tutup mata kamu” bisiknya. Keduanya menutup mata, yang mereka rasakan hanyalah percikan air. Ya mereka mendarat d bawah kolam yang telah disediakan. Tentu saja pakaian keduanya basah. Setelah puas bermain keduanya memutuskan untuk mengganti pakaian. Nah disinilah kesialan itu bermula... penasaran lanjut saja bacanya??? Dengan semangat Lili dan Rara menaiki tangga berjalan, sesampainya di atas belum sempat Lili melangkahkan kakinya teman-teman dibelakangnya dengan sengaja mendorongnya menyebabkan dirinya melompat. Yang menyebabkan kakinya hampir terjepit tangga. Dan hal tersebutlah yang membuat trauma dalam dirinya. Setiap kali melihat tangga berjalan, keringat dingin pasti membanjiri dirinya. Hmm... kalian mau tahu bagaimana caranya Lili turun kelantai bawah, dia digendong oleh bapak kepala sekolah. Teman-teman mengejeknya, tanpa mereka sadari wajah pucat milik Lili.
bagus
15/04
0mantap
23/10
0good
17/08
0ดูทั้งหมด