Sekarang di kantor terlihat seorang kakek tua yang berjalan dengan beberapa orang dibelakangnya, tak lupa setiap orang yang berpapasan dengannya menunduk hormat, karena dialah kakek Xerxes, pria terkaya nomer enam di dunia, tapi mungkin tahun ini akan menaiki posisi lebih tinggi lagi. Xerxes yang mendengar kabar kalau sang kakek akan datang, buru-buru kebawah untuk melihat pria yang sudah membesarkannya itu tapi bukannya menyapa dia, padanya teralihkan oleh Nevan yang juga kebetulan baru datang. "Cucuku!" ucap pria tua itu, yang membuat Xerxes menunjuk dirinya, kalau Nevan adalah cucunya lalu dia? Ya setelah mengenal Nevan lebih lama, kakeknya memang lebih menyukai pria itu dari pada dirinya tapi ia tak cemburu sama sekali karena dia memang tau keburukannya. "Apa kabar kek?" tanya Nevan sambil tersenyum, namun kakek Xerxes melihat tangan Nevan yang berbalut dengan perban. "Kamu kenapa, nak?" tanya pria itu, sambil memegang tangan kanan Nevan, tapi pria itu hanya tersenyum. "Gak ada kok kek, hanya masalah kecil dengan seseorang," balas Nevan disepanjang jalan, banyak yang membungkukkan badan pada mereka. "Siapa yang bikin kamu kayak gini? Bilang aja sama kakek!" ujar pria tua itu, Xerxes mendekat Nevan yang melihat gerakan mulutnya yang akan bilang sesuatu segera menutup mulutnya dengan tangan. "Orang gak dikenal," balas Nevan dengan senyuman palsu yang dia buat, Xerxes yang mencium aroma tak enak dari tangan Nevan segera menyingkirkannya. "Ajir! Tangan Lo bau terasi" ucap Xerxes yang membuat Nevan menatapnya, lalu mencium tangannya. "Tadi gue habis makan sambel," bisik Nevan, setelah memakan masakan rumah sakit, dia pun ngidam ingin makan sambel terasi warteg dekat rumahnya. Jadi dia bungkus saja dan makan di kantin kantor, padahal dia sudah cuci dengan bersih tapi seperti baunya masih semerbak. "Pantesan aja bau." Saat Xerxes sedang menggerutu, kepala tiba-tiba di pukul dengan sebuah sampul berkas yang lumayan keras, membuat pria itu semakin menggerutu. Rupanya itu ulah sang kakek, yang membuat dia bisa marah. "Xerxes! Kamu udah bikin ulah berapa kali?" "Siapa yang bikin ulah?" tanya Xerxes yang tak mengakui, padahal dalam seminggu ini dia sudah dua kali bercinta juga menghabiskan hampir 50 juta. Itu juga kalau tidak di marahi Nevan dia akan menghabiskan semua uang yang ada di atmnya. "Gak ngaku kamu ya? Lihat aja kakek akan ambil semua fasilitas kamu, supaya kamu kapok!" Mendengar hal itu Xerxes menatapnya tak percaya, mana mungkin dia tidak hidup tanpa kekayaan kakeknya. "Jangan dong kek, nanti kalau Xerxes jadi gembel gimana? Nanti Xerxes gak bisa ng--" Plak! Sebuah pukulan kembali mendarat di kepalanya membuat Xerxes kembali mengelus kepalanya sambil cemberut. "Gak bisa apa kamu? Lama-lama kakek jodohin kamu ya supaya gak main diluar lagi! Udah gila kamu ya Xerxes!" "Pukul aja kek! Pukul!" ujar Nevan yang sengaja mengimpori kakek Xerxes untuk memukul lebih banyak lagi, dia sudah capek hati menghadapi pria itu, sekarang dia merasa sangat puas melihatnya. Jarang-jarang melihat Xerxes yang terhina. "Kek! Udah dong! Iya maaf!" "Dasar cucu gak tau diri kamu ya! Kalau kakek punya penyakit jantung pasti sudah mati gara-gara kamu," ucap Kakek Xerxes. Nevan yang merasa terhibur dengan tingkah cucu dan kakek itu, tak sengaja melihat Yeona yang datang bersama kekasihnya mereka tersenyum satu sama lain lalu melayangkan tingkah mesra mereka membuat Nevan hanya menunduk. . . Sebuah mobil berjalan menuju rumah baru yang mereka akan tempati. Yeona kecil yang senang karena akan punya rumah baru sengaja mengeluarkan kepalanya karena ingin melihat tempatnya. Banyak pohon disekitar tempat itu, membuat Yeona kecil menghirupnya dengan cepat. "Kak! Nanti ada motor yang lewat!" Ucapan sang mama tak Yeona kecil dengar, dia yang kadang suka keras kepala memilih terus menikmati angin yang berhembus kearahnya, hingga pandangan terhenti pada anak laki-laki yang wajahnya lebam sedang bermain ayunan yang terbuat dari ban bekas. Karena hanya sekilas Yeona tak memikirkan itu, hingga mereka sampai di rumah baru mereka yang terlihat sangat besar dari rumah sebelumnya. Sebelum bangkrut inilah tempat terbesar milik keluarga mereka dan Raka belom lahir saat itu, karena mereka adalah orang baru dikawasan elit itu, ibunya memasak banyak untuk membaginya pada tetangga tepat besoknya. Saat memberikan makanan pada tetangga samping rumahnya, cukup terkejut kala melihat orang yang membukakan pintu. Seorang wanita cantik tapi memiliki luka lebam disudut bibirnya, tak lupa anak laki-laki yang Yeona kecil lihat saat baru datang itu ternyata adalah tetangganya. "Iya, ada apa ya Bu?" "Ah ini saya mau memberikan makanan, saya orang baru," ucap ibu Yeona, yang sekarang mengusap rambut Yeona. "Oh iya terimakasih," ucap wanita itu. Pandangan Yeona dengan anak laki-laki bersatu, tapi karena aneh Yeona memelototinya tapi dia hanya diam tanpa berekspresi membuat Yeona kecil semakin aneh. "Ma! Kita pulang yuk!" "Kak! Mama kan lagi ngobrol, sebentar ya! Kamu kenalan dulu sama Nevan!" ujar ibunya yang sudah tau nama anak aneh yang ada di depannya. "Lo gagu ya?" tanya Yeona yang mendapatkan sentilan ditelinga, tentu saja itu perbuatan sang mama. "Kak! Gak boleh ngomong gitu! Gak sopan!" "Tapi dia diem aja ma!" ucap Yeona kecil yang tak terima. Ibu Nevan tersenyum sambil mengusap rambut Nevan. "Dia memang pemalu, butuh waktu untuk bisa kenal." "Cupu!" ucap Yeona yang kembali membuat ibunya malu. "Kak! Duh maaf ya dia emang kadang suka gitu kalau kesel, tapi dia anak baik kok, ya sudah saya pulang dulu ya, mau bagiin ke yang lain juga." Ibu Nevan mengangguk, mempersilahkan wanita itu pergi. Sebenarnya ibu Yeona juga penasaran tentang luka ditubuh mereka tapi dia yang tak suka mencampuri urusan orang hanya bisa berkutat dalam hati. "Keluarga yang aneh." "Kak! Kalau kamu nakal lagi, kamu gak usah ikut!" ujar ibunya yang membuat Yeona kecil hanya diam sambil memperlihatkan wajah dongkol miliknya. Waktu kembali ke masa sekarang, dimana dia mengingat kenangan yang buruk tentang dirinya juga pria itu. Saat sedang mengenang masa lalu, Siska datang dengan membawa Snack yang banyak membuat Yeona heran melihatnya. "Abis nyolong makanan dimana Lo?" tanya Yeona yang mulai terbiasa bicara jail pada teman satu kantornya itu. "Sembarangan, gue abis di beliin pacar gue," ucap Siska, beberapa orang juga melihat tapi tak berani meminta. "Eh Lo tau gak?" "Apa?" tanya Yeona penasaran. "Pak Nevan tangannya dibalut perban gitu, dua-duanya apa dia abis berantem ya?" tanya Siska sambil memakan Snack yang membuat Yeona terdiam dibuatnya, apa mungkin karena dia?
sangat bagus
11/02/2025
0good job
28/01/2025
0bagus sekali
26/01/2025
0ดูทั้งหมด