logo text
เพิ่มลงในห้องสมุด
logo
logo-text

ดาวน์โหลดหนังสือเล่มนี้ภายในแอพ

บทที่ 6 TANDA KEBAHAGIAAN

Brak! Pintu terbuka memperlihatkan Xerxes yang berkeringat dingin dengan tatapan khawatir, sedangkan orang yang dia khawatir hanya duduk sambil menonton tv yang layarnya sudah retak, hanya gambar tak jelas yang terlihat disana.
Satu rumah itu gelap, dan hanya ada cahaya dari tv saja. Xerxes menyalakan saklar lampu, dan dia kaget dengan bercak darah dilantai.
Pria itu mendekati sahabat, yang sudah dia anggap sebagai saudaranya sendiri. Sekarang terlihat kedua tangannya yang berdarah, bahkan sekarang ia baru sadar kalau satu rumah itu seperti kapal pecah.
"Nevan!"
Pria itu menatap Xerxes dengan raut seperti biasa seakan tak terjadi apapun, hanya saja kondisi seperti tak ada tujuan hidup lagi. "Apa?"
"Kita ke rumah sakit sekarang!" ujar Xerxes yang membuat Nevan kembali melihat pemandangan, yang tv rusak didepannya. Jika ada yang melihat itu mungkin sudah berpikir kalau pria itu gila.
"Ngapain?"
"Sebenarnya apa yang terjadi sih? Sampai kayak gini?" tanya Xerxes, dia yang merancang semuanya berharap wanita itu mau memutuskan hubungannya lalu kembali bersama Nevan.
Semua yang dia lakukan agar pria itu bahagia, tapi yang terjadi malah sebaliknya. Dia juga buru-buru kemari takut terjadi sesuatu pada pria itu, seperti yang terjadi terakhir kali.
Dimana dia hampir bunuh diri, memikirkan itu dia pusing sendiri.
"Gak ada kok," balas Nevan yang tak memperdulikan rasa sakitnya, seakan darah dan goresan itu hanya membuat hatinya menjadi tenang. "Oh iya sorry buat kantor, apa laptopnya rusak?"
"Gak usah perduliin itu! Yang penting Lo dulu!" ujar Xerxes, tak lama dia mematikan tv itu yang membuat Nevan menatapnya heran. "Dunia Lo bukan cuma cewek itu! Apa yang gak dimiliki cewek lain sampai cuma Yeona yang buat Lo kayak gini?"
Nevan tertawa kencang dengan air mata yang mengalir, tentu saja Xerxes yang melihat itu hanya menghembuskan nafas kasar, dia terlihat sangat buruk saat ini.
Tak lama Xerxes memegang kedua bahunya karena tak tau lagi harus apa. "Nevan! Sadar! Lo harus terima kalau dia bukan takdir Lo! Lo pantas dapet yang lebih baik dari dia?"
"Lo gak pernah tau saat dunia Lo hancur, dan cuma ada cewek itu di hidup Lo! Lo ada saat gue kecil? Lo ada?" tanya Nevan yang membuat Xerxes terdiam, mereka baru mengenal Nevan saat SMP
"Jadi karena dia tumbuh bareng sama Lo? Lo kayak gini? Walau gue gak sama Lo dari lama tapi gue perduli sama Lo, Lo gak sendiri!"
"Gue benci hidup gue! Gue capek Xer!" ucap Nevan yang terlihat sangat kacau.
Bugh! Sebuah tinjuan keras membuat Nevan tersungkur hingga menabrak sofa, sedangkan Xerxes melakukan semua itu agar dia sadar!
"Kita ke rumah sakit! Awas aja Lo macem-macem gue yang akan bunuh Lo di tempat itu juga!" ujar Xerxes yang mengangkat tubuh Nevan, yang sekarang lemas karena mengeluarkan semua tenaga untuk membuat seisi rumah berantakan.
Mungkin setelah ini akan ada pihak bersih-bersih yang di suruh Xerxes, karena hari sudah malam Xerxes menyuruh Nevan untuk menginap di rumah sakit sambil mendapatkan penanganan serius.
.
.
Fajar sudah muncul, sekarang dirumah Yeona semuanya berkumpul di depan tv sambil memakan nasi goreng buatan ibunda yang baru saja pulang dari pasar. Setelah jam 2 dini hari berjualan, mereka pulang karena dagangan sudah habis pikir 5 tadi.
Biasanya yang berbelanja subuh-subuh agar siangnya tidak repot, ya ibu-ibu memang paling rajin kalau untuk keluarga. Ketika ketiga orang itu lahap makan, cuma Yeona saja yang memperhatikan nasi goreng itu.
"Makan kak! Gak bakal jadi emas juga itu nasi!" ujar Raka-adiknya.
Tentu saja mendengar hal itu, semuanya menatap kearah Yeona. "Iya."
"Kamu kenapa sih kak? Kayaknya lagi tertekan banget?" tanya ibunya, satu keluarga memang memanggil dengan sebutan kakak, karena dia yang tertua jadi mereka memanggilnya seperti itu. "Berantem sama Ravin?"
Yeona menggeleng, dia tak mau kalau ibunya ini tau kalau Nevan ada di perusahaannya bekerja, bisa-bisa dia ember dan menceritakannya pada siapa saja lalu semua itu akan terdengar ditelinga Ravin. Bisa perang dunia ketiga jika begitu.
"Gak mah."
"Terus?" tanya ibunya lagi yang heran.
"Ah biasa itu mah! Kalau mau ada apa-apa tuh pasti banyak cobaannya, udah biarin aja!" ujar sang ayah yang membuat Raka juga ibu Yeona menatapnya, tapi tidak dengan Yeona.
Pikirannya melayang pada ucapan Nevan kemarin, dia tak bisa membohongi hatinya tapi dia juga tak mungkin mengkhianati Ravin, apalagi pria itu ingin melamarnya.
"Kak! Kalau ada masalah itu jangan di Pendem sendiri!" ujar ibunya yang membuat Yeona tersenyum tipis, ini bukan masalah yang rumit juga bukan hal yang dianggap remeh.
Lagipula setelah apa yang dia lakukan, pria itu tetap memiliki rasa padanya? Mengingat semua itu Yeona menjadi merasa sangat bersalah.
Saat sedang berpikir keras, sebuah ketukan pintu membuat semua orang menatap kearah sana.
"Siapa itu?" tanya ayah Yeona yang membuat semuanya menggeleng. Tak lama Yeona berjalan menuju pintu, karena dia tak nafsu makan jadi dia memutuskan untuk tidak sarapan.
Saat pintu terbuka terlihat sebuket uang yang mengejutkan Yeona, tidak semua orang yang tadi sedang menonton tv sambil makan juga kaget.
Buket itu bergeser, berubah menjadi Ravin yang tersenyum cerah padanya. "Good morning, my princess."
Raka yang melihat itu hanya mengabaikan sambil menatap ke tv lagi, sejak dulu kakaknya selalu banyak yang suka, berbeda dengannya.
"Ravin! Makan! Masih ada nasi goreng tuh!" ujar ibu Yeona yang membuat keduanya menatap kearah wanita itu.
Ravin tersenyum canggung, ia kira mereka semua sudah pergi tapi ternyata dia yang tidak sadar. "Eh iya mah! Udah sarapan tadi di rumah."
"Ibu sama ayah kamu sehat?" tanya ayah Yeona.
"Alhamdulillah, yah sehat semua kok. Oh iya kalian semua tau kan, hari Minggu Ravin mau lamar Yeona?"
"Udah kok, nanti hari Jumat mama mau siap-siap, tapi kalian gak ada masalah?"
Tentu saja keduanya menatap heran pada ibu Yeona terutama anaknya. "Maksud mama apa?"
"Dari tadi Yeona diam aja, bahkan tadi makanan gak dia makan."
"Kamu kenapa sayang? Sakit?" tanya Ravin yang khawatir pada kondisi kekasihnya itu, padahal di WhatsApp dia tidak bilang apapun.
"Enggak, aku cuma rada capek aja kok! Mama gak usah di denger!" ujar Yeona yang berusaha agar tak terlihat masalah apapun, lagipula dia tak mau kalau bibirnya ini keceplosan.
"Baru sehari kerja udah capek, lemah," ucap Raka yang menyindir sang Kakak, membuat Yeona menatapnya tajam.
"Awas aja ya Lo, liatin nanti kalau udah kerja!" ujar Yeona yang kesal.
Tak lama buket yang 10 RB itu diberikan pada Yeona yang membuat wanita itu tak paham. "Ini buat kamu!"
"Ini uang?"
"Bukan daun," balas Ravin yang heran.
"Ih, dasar."
"Iya uang, anggep aja sebagai tanda bahagia aku, karena kamu mau jadi istri aku."

หนังสือแสดงความคิดเห็น (420)

  • avatar
    LadjupaJuhadi

    sangat bagus

    11/02/2025

      0
  • avatar

    good job

    28/01/2025

      0
  • avatar
    NaneakKuyuk

    bagus sekali

    26/01/2025

      0
  • ดูทั้งหมด

บทที่เกี่ยวข้อง

บทล่าสุด