“Tuhan, maafkan aku telah mendahului malaikat mautmu!” -Andrea Karin Tirto Wahyudiningsih (Arin)- *** Kota Semarang pukul 21.00 Suasana di pasar malam nan ramai ini seharusnya menjadi pusat kebahagiaan. Namun yang terjadi adalah peristiwa kejar mengejar antara seorang perempuan dengan satu orang laki-laki. “Berhentii! Tolooooong! Ada copet tolooong!” Seolah tak ada yang peduli pada perempuan ini. Orang lebih memilih menghindar daripada menolongnya. Sehingga jalan bagi pencopet itu menjadi lebih leluasa tanpa hambatan. Sementara korbannya terus mengejar sang perampas tas dengan napas tersengal. Tenaganya sudah nyaris habis. Pencopet itu melempar hasil rampasannya kearah lain. Nampak seseorang yang tengah menyalakan rokok menangkapnya dengan santai. Kini ia yang ganti berlari, sementara temannya tadi berbelok arah entah kemana. Nyaris saja menyerah, tiba-tiba muncul seseorang dihadapan perempuan tadi. “Minggir, biar aku saja yang mengejarnya!” “Eh, makasih mbak!” “Kamu tunggu saja disitu ya!” Berpikir bahwa dirinya sudah aman, ternyata kini gantian perempuan lain yang mengejar teman sang pencopet. Kecepatan larinya pun ditambah. Dia berbelok arah untuk mengelabui si pengejar. Tak disangka, sebuah hantaman keras mengenai dirinya. “Dhuaaak!” “Guaarkh!” Langkahnya terhenti, rokok yang dihisapnya jadi terlempar. Dia sedikit terhuyung namun tetap memegang erat tas tadi. Perempuan yang memukulnya tadi hanya diam dihadapannya. Sorot matanya setajam elang. “Asem! Sopo kowe? Wani men mbek aku!” (Asem! Siapa kamu? Berani bener sama aku!) “Kamu tidak pernah mendengar julukan ‘Angin Pembunuh’?” “Arrgh...! Rak urusan mbek koyok ngono! Memang kowe meh dadi pahlawan? Haah!” (Arrgh...! Nggak urusan sama kayak begitu! Memangnya kamu mau jadi pahlawan? Haah!) Pertanyaan itu ditanggapi dengan gerakan pukulan serta tendangan bertubi-tubi. Tentu saja laki-laki ini kalah telak. Kini dirinya telah babak belur, bahkan untuk berdiri pun tak sanggup. Perempuan yang menyerangnya itu hendak menghabisinya. “Berhenti!” Muncul segerombolan laki-laki yang berjalan menghampiri mereka bedua. Ia yang tadi babak belur pun dibawa oleh mereka. Kini menyisakan lima orang laki-laki dengan tattoo khusus pada lengan mereka. “Sepertinya kamu bukan cewek sembarangan hehe....” “Bos, hati-hati dengannya! Wandri saja tadi babak belur dihajarnya.” “Diam kau Robby!” Tas milik perempuan tadi tergeletak di tanah. Laki-laki yang dipanggil “Bos” itu pun mengambilnya. Memainkannya sesaat dihadapan perempuan tadi. Namun ia tetap diam diposisinya. “Huh! Mau sok jadi pahlawan? Hajar dia!” Empat orang laki-laki mengerubung satu orang perempuan. Seharusnya dia kalah! Namun secepat kilat dia menghindar. Gerakan perempuan ini memang selayaknya angin. Tidak mudah untuk ditebak, tiba-tiba mereka sudah kena hajar. Tiga orang pingsan dan dua lainnya memilih kabur. “Sialan! Siapa kamu sebenarnya?” “Perlu perkenalan lagi? Aku adalah Angin Pembunuh.” Ternyata pertanyaan itu hanya untuk mengulur waktu saja. Laki-laki yang disebut “Bos” tadi langsung mengeluarkan pistol dari saku celananya. Dia mengacungkan senjata api itu pada lawannya. Rupanya perempuan tadi sudah hilang dalam kegelapan. “Hah! Kemana dia menghilang? Heegh!” Tubuh laki-laki itu ambruk seketika. Ternyata ada peluru lain yang sudah bersarang pada tubuhnya. Perempuan tadi menembak dirinya lebih dulu dari belakang. Pistolnya bahkan tak mengeluarkan suara sama sekali. Kini hanya menyisakan mayat sang Bos yang tergeletak diantara tubuh anak buahnya. “Tuhan, Maafkan aku yang telah mendahului malaikat mautmu!” Ia berjalan santai sambil mengambil tas yang diambil oleh copet di pasar malam. Kembali ke tempat dimana sang pemilik lama menunggunya. “Eh, mbak yang tadi kan?” “Ini tas milikmu. Lain kali berhati-hatilah!” “Ya, makasih mbak! Eh, kok pergi? Mbak namanya siapa?” Langkah perempuan itu terhenti. Dia memberikan senyuman sinis pada perempuan yang ditolongnya itu. “Panggil saja aku, Arin!” “Eh, ya makasih Mbak Arin!” Dalam hatinya terbesit rasa kesal. Arin tak suka dipanggil dengan sebutan “Mbak” cukup “Kak” saja. Meski ia lahir dan besar di Kota Atlas ini, namun dirinya merasa tak suka dengan sebutan kedaerahan itu. Ponselnya pun bergetar, dia segera mengambil dari tas pinggang. Satu pesan chat masuk di notifikasi layar smartphone miliknya.
Senyuman dingin ia sunggingkan sambil membalas pesan itu. Lalu berjalan kembali menuju ke parkiran motor. Menyerahkan dua lembar uang seribuan pada petugas parkir dan bergegas pergi dari sana. *** “Selamat malam, ada yang bisa saya bantu kakak?” “Dimana kamar atas nama Dharma Wilangga?” “Maaf, tapi anda siapanya Pak Dharma? Bisa disebutkan namanya, Kak?” Bertanya nama pada Arin adalah sebuah hal buruk. Dia sangat membenci, seolah privasinya dikulik habis-habisan. Setidaknya dia masih bisa menahan emosi saat aromaterapi pengharum ruangan dibagian resepsionis hotel ini tercium olehnya. “Arin!” “Ah, iya! Pak Dharma tadi berpesan untuk mengijinkan orang bernama Arin, masuk ke dalam ruangannya langsung. Baiklah, kakak bisa menuju ke lantai tujuh kamar suite nomor 732.” “Terima kasih kembali.” Petugas resepsionis hotel memperhatikan Arin saat dia berjalan menuju ke lift. Namun ternyata Arin sangat sensitif. Dia segera menengok kearah cewek itu. “Ada apa kak?” “Eh, ah, tidak apa-apa! Lift yang itu sengaja dimatikan. Silahkan kakak pakai yang sebelahnya!” Arin hanya mengangguk dan menekan tombol di dekat lift. Pintunya cepat terbuka. Dia pun masuk ke dalam, kini dirinya menuju ke lantai tujuh yang dimaksud. Nomor pada setiap kamar diperhatikannya dengan baik. Langkah kakinya tepat berhenti di depan pintu kamar nomor 732. “Hm...ini ya?” Ia meraih gagang pintu dan membukanya. Pemandangan sebuah ruang kamar teramat luas lengkap dengan dapur kecil serta kasur dan televisi layar datar. Bagian balkonnya terbuka dan tercium aroma kopi. Ia menutup kembali pintunya sambil terus melangkah menuju ke balkon. “Om Dharma?” Sapaan itu membuat seorang laki-laki yang tengah dalam posisi meditasi di balkon membuka matanya. Ia pun berdiri dan menghampiri Arin. Senyuman hangat diberikan pada perempuan itu. “Akhirnya kamu datang juga, Andrea Karin Tirto Wahyudiningsih!”
bagus
10/02/2025
0cerita menarik
03/01/2025
0bagus
18/12/2024
0ดูทั้งหมด